
"Maaf saya tidak sengaja. Ini buahnya..." Dinda menyodorkan beberapa buah apel yang tadi dipungutnya. Pria itu menoleh. Kedua pasang mata bersitatap penuh keterkejutan.
"Kamu Dinda kan?" Tanya sang pria memastikan. Sementara Dinda membeku di tempatnya. Pria di depannya sangat mirip Raphael suaminya. Bukan hanya mirip, sama persis bahkan tinggi, perawakan, warna kulit, selera fashion sama persis. Suasana canggung langsung menyergap pertemuan Dinda dan Ridho.
"Kamu masih ingat saya kan? Saya Ridho, putra Bu Desy." Ridho memberikan penjelasan tentang dirinya. Bagaimana Dinda tidak mengingatnya? Pria itu telah memberi kesan pada perjalanan hidupnya.
Mengapa suara Ridho sama persis dengan Raphael? Membuat Dinda sampai meragukan mereka bukan kembar tapi satu orang saja. Panggilan telepon dari Raphael masih tersambung. Terdengar Raphael mencemaskan nya.
"Hallo... Honey... apa yang terjadi?" Suara cemas Raphael seketika menyadarkannya. Di seberang telepon adalah Raphael, sementara orang yang berada di depannya saat ini adalah Ridho. Semua sudah jelas sekarang, Raphael adalah saudara kembar Ridho.
Dinda menjawab Raphael "Gak papa Mas, tadi Dinda gak sengaja menyenggol orang. Barang bawaannya terjatuh. Ini Dinda lagi bantuin memungut buah-buahan nya yang berserakan." Jawab Dinda gugup.
"Mas... nanti saja telepon lagi ya...." Dinda segera menutup panggilan telepon Raphael. Ia mengalihkan pandangnya pada Ridho yang ternyata sedang menatapnya intens.
"Dinda... mama ku sedang sakit, apakah kamu ingin mengunjunginya?" tanya Ridho penuh harap. Ia tahu Dinda adalah calon menantu harapan mamanya. Sebenarnya Dinda gadis yang sangat cantik, tidak munafik Ridho sudah tertarik padanya bahkan saat pertemuan pertama mereka. Yaitu di saat Ridho hampir menabrak gadis itu.
Kalau saja Dinda tidak tiba-tiba menghilang. Raphael tentu masih berusaha mengejar Dinda. Apapun ia akan lakukan untuk menyenangkan mamanya yang sedang sakit. Melihat penampilan Dinda saat ini membuat Ridho terpana. Ada desir aneh menyelimuti hatinya. Ya... perasaan suka pada wanita itu masih ada.
Ridho mulai membandingkan Dinda dengan Rosa pacarnya. Ternyata perbandingan dua wanita itu sangat jauh berbeda. Dinda terlihat natural, lugu, lembut, santun dan pekerja keras. Sementara Rosa gadis yang sangat agresif dan maniak belanja. Membuat Ridho kehilangan segalanya. Perusahaan papanya telah jatuh ke tangan orang lain karena ia menjual semua sahamnya.
Penyesalan selalu datang terlambat. Setelah semua hancur, Ridho baru sadar keburukan Rosa. Gadis itu pun tidak terlalu perduli dengan keadaan Bu Desy, mama nya. Ia hanya mau mengunjungi semata-mata untuk mendapatkan restu agar mereka bisa cepat menikah.
__ADS_1
Semakin ke sini, Ridho baru melihat. Mengapa mamanya sampai saat ini tidak merestui hubungannya dengan Rosa. Karena terbukti Rosa tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan Dinda pilihan mama nya.
Tenggorokan Ridho terasa kering. Ia pun berkali-kali menelan saliva nya berusaha membasahi tenggorokan nya.
"Dinda .. ayo ku ajak menemui mama ku!" ajak Ridho akhirnya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Siapa tahu Dinda adalah jodohnya, itu akan membebaskannya dari parasit yang bernama Rosa.
"Maaf... lain kali saja. Saya terburu-buru!" Tanpa pikir panjang Dinda segera bergegas meninggalkan Ridho. Jantungnya berdetak lebih kencang, ada rasa takut dan bersalah dalam hati Dinda.
Dinda sudah hampir mencapai parkiran saat seseorang tiba-tiba menahan tangannya.
"Saya buru-buru, jangan menahan saya!" Dinda menepiskan tangan orang yang memegangnya. Ia masih syok dengan pertemuannya tadi dengan Ridho. Saat ini ia tidak ingin berlama-lama dengan Ridho. Ia masih belum bisa menerima kebenaran kalau Ridho adalah saudara kembar Raphael.
"Dinda.... ini aku." Suara seorang pria yang menahan tangannya. Dinda menoleh. Pria tampan dengan tubuh atletis itu masih dengan kuat memegang tangan nya.
"Dinda ... aku hanya ingin minta maaf pada mu. Aku sangat menyesal dengan apa yang telah ku lakukan dulu! Tolong lah Dinda .. dengar kan penjelasan ku!" Kata pria itu putus asa.
Dinda tidak mengindahkan teriakan pria itu. Ia bergegas ke mobilnya. Sang sopir segera membukakan pintu mobil untuk nya. "Pak jalan cepat ya. Kita pulang ke rumah!" kata Dinda dari kursi penumpang.
Seketika air mata mengalir deras tanpa bisa ditahannya lagi. Pria itu Toni, telah membuka luka yang selama ini berusaha diobatinya. Gara-gara pria itu, ia harus kehilangan sahabat baiknya Dina. Bahkan seluruh keluarga Fariz menentangnya dan memandang rendah dirinya. Terlebih saat ia mengingat malam itu, ia menerima penganiayaan Fariz karena campur tangan Toni.
Pria itu bukan manusia. Pria itu Srigala berbulu domba. Ia tidak bisa lagi mempercayainya. Ketampanan dan tutur katanya yang lembut, menyimpan bisa yang mematikan.
__ADS_1
Pertemuan nya dengan Toni di rumah sakit, membuat Dinda harus waspada. Tadi ia lihat, Toni memakai jubah dokter. Apakah jangan-jangan, Toni seorang dokter yang bekerja di rumah sakit itu? Kalau sampai benar demikian, ia tidak akan pernah menjejakkan kaki ke sana. Agar ia tidak perlu bertemu penjahat seperti Toni.
Dinda memejamkan matanya berusaha menghapus bayang-bayang Toni yang seketika melintas dalam ingatannya. Saat ini yang ada dalam hatinya adalah sebentuk kemarahan pada Toni. Kebencian Dinda padanya sebesar rasa benci pada Fariz. Dua bersaudara itu telah sama-sama menyakiti hatinya.
Sesampainya di rumah, Dinda langsung mengunci diri di kamar. Ia tidak ingin diganggu. Bahkan ia juga tidak makan siang. Setelah mandi, Dinda memutuskan untuk berbaring. Ia ingat, tadi telepon dengan Raphael belum selesai. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya melalui Vidio call.
"Hallo Hon... " Suara Raphael dengan gembira dan senyum manisnya menyambutnya.
"Mas... kapan pulang? Cepatlah pulang. Aku kangen." Pinta Dinda manja. Saat ini ia ingin sekali dilindungi. Setidaknya keberadaan suaminya disisinya akan memberikan rasa aman padanya. Terlebih pertemuannya dengan Toni membuatnya sangat takut. Dinda tahu kalau Toni adalah tipe orang yang menghalalkan segala cara. Ia sangat pintar berpura-pura. Bagaimana kalau Toni akan kembali mengusik kehidupan rumah tangganya dengan Raphael? Tanpa sadar Dinda menghela nafas berat. Hal itu membuat Raphael penasaran.
"Honey... ada apa?" tanya Raphael cemas.
"Cuma capek saja. Mas... Dinda kangen, cepat pulang ya mas." Dinda tidak ingin membuat Raphael mencemaskan nya. Dinda akan menunggu sampai Raphael pulang, baru ia akan mengatakan tentang Toni. Ia tidak ingin menutup-nutupi apa pun, supaya kedepannya mereka bisa berhati hati menghadapi Toni.
"Iya, Mas pasti cepat pulang. Honey sudah makan siang?" tanya Raphael penuh perhatian.
"Lagi malas.... Mas cepat pulang ya." Lagi-lagi Dinda reflek meminta suaminya pulang. Tidak bisa disangkalnya kalau ia benar-benar merindukan suaminya. Dua hari tanpa suami disisinya membuatnya merasa ada sesuatu yang hilang.
"Honey... i love you." Dinda sudah tidak mendengar kata-kata manis Raphael karena ia telah tertidur lelap.
Vidio call masih menyala. Raphael sampai geleng-geleng kepala. Secepat itu Dinda tertidur? Nampak istrinya sangat cantik dengan gaun tidur sutra pink-nya. Belahan dadanya terlihat jelas. Nampak gundukan putih mulus mengintip dari balik gaun nya. Seketika, tenggorokan nya terasa kering. Sesuatu dibawah sana juga mulai menegang.
__ADS_1
Sebuah panggilan alam telah menyentuh fisik Raphael. Seketika membuatnya resah. Ia segera mematikan vc nya dengan Dinda dan segera menghubungi pak Dito.
"Pak, segera urus kepulangan kita ke Indonesia!" Katanya buru-buru.