Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Bisnis Menjanjikan


__ADS_3

Dinda tersenyum, dengan semangat ia menjawab "Bisa mbak. Menu untuk sore, nasi uduk dan ayam lalapan bagaimana?" Tanya Dinda minta pertimbangan.


"Wah...cocok itu. Ini saya bayar dimuka. Kira-kira jam berapa bisa diambil?" tanya Valentina.


"Jam empat sudah bisa mbak. Atau nanti saya kabari saat sudah siap?" Tanya balik Dinda.


"Jam limaan saja saya ambil. Sekalian pulang kantor." Valentina menyodorkan uang satu setengah juta. Ia pun berpamitan pada Dinda. Dinda sangat bahagia, rejeki yang dia dapat mengalir seperti air sungai. Ia masih tetap berharap ia bisa mengumpulkan uang sehingga operasi ibunya bisa segera dilakukan.


Dinda tidak mengulur waktu, ia segera memesan ayam pada penjual langganannya, supaya ayamnya bisa segera dikirim padanya. Bumbu-bumbu sisa masak tadi pagi masih cukup banyak. Jadi ia tinggal memblendernya.


Beruntung, ayam pesanannya segera datang. Sehingga ia bisa segera mengungkepnya dengan bumbu-bumbu. Dinda telah lupa sama sekali dengan kepedihan hidup yang baru saja dialaminya. Saat ini ia hanya fokus untuk kerja dan menghasilkan banyak uang.


***


Di sebuah ruangan kantor perusahaan, nampak seorang pria tampan sedang bersitegang dengan seorang wanita paruh baya.


"Ma... kenapa mama menjebak ku dengan seorang wanita yang gak jelas? Aku sudah menodai dan menanam benih ku padanya. Bagaimana kalau gadis itu sampai hamil anak ku?" Tanya si pria frustasi.


"Ya nikahi saja. Gampangkan?" Jawab wanita paruh baya yang dipanggil mama itu.


"Ma... kalau aku tidak mencintainya? Dan kalau kenyataannya dia hanya wanita malam yang menjajakan tubuhnya bagaimana?" Tanya si pria dengan nada semakin naik.


"Semua terserah pada mu! Kamu bisa saja gak peduli. Tapi kalau gadis itu sampai hamil, itu cucu mama, calon pewaRiz keluarga kita. Mama akan mencarinya sampai ketemu. Cucu mama tidak boleh sampai menderita. Mama akan bawa mereka di tempat yang seharusnya." Si wanita paruh baya juga tidak mau kalah.


"Ma... Mama tidak perlu berfikir sejauh itu. Tidak mungkin wanita itu hamil hanya dengan satu kali hubungan badan bukan?" Kata Ridho menolak kemungkinan sekecil apapun.

__ADS_1


Tok...tok..tok.. terdengar pintu diketuk dari luar.


"Masuk !" Jawab Ridho tidak sabar. Hatinya masih cukup kesal efek dari perdebatannya dengan sang mama.


"Selamat siang Tuan Ridho, Nyonya Desy. Ini nasi kotak yang nyonya pesan. Saya juga sudah membagikannya pada karyawan yang lain untuk makan siang. Semua menyampaikan terimakasih kepada Nyonya." Kata Valentina, sekretaRiz Ridho.


"Trimakasih Valen, kamu sudah mengerjakan tugas dengan baik. Pesanan untuk nanti sore bagaimana?" Tanya nyonya Desy antusias.


"Sudah beres Nyonya, nanti jam lima kami ambil dan langsung kami bagikan." Jawab Valentina bangga, karena telah menyelesaikan tugas dengan baik.


"Baguslah. Nanti sisain buat kami dua kotak ya." Kata nyonya Desy bersemangat.


"Kalau begitu, saya permisi Nyonya, Tuan." Pamit Valentina sambil melangkahkan kaki keluar dari ruangan kantor Presedir Ridho.


Ridho menatap keheranan pada dua kotak nasi yang barusan diletakkan sekretaRiznya di atas meja.


"Ayo Ridho... kita makan siang dulu!" Kata Desy seraya mengambilkan satu kotak nasi untuk anaknya.


"Ma... dari mana mama beli nasi kotak ini? Gimana kalau tidak higienis? Ridho gak mau Ma makan makanan kayak ini. Kita pesan makanan dari restoran langganan kita saja ya Ma?" Kata Ridho.


"Mama makan ini saja, kelihatannya enak sekali." Kata nyonya Desy ia langsung membuka nasi kotak di tangannya. Nyonya Desy tampak lahap menikmati nasi kotak yang cukup sederhana.


"Ayo makan Dho... enak banget lho. Gak kalah sama masakan restoran mewah." Kata nyonya Desy masih dengan asyik menikmati makanannya.


Ridho memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat terhenti karena kedatangan mamanya.

__ADS_1


"Hemmm... Mama gak nyangka warung kecil bisa membuat masakan selezat ini. Minggu depan, mama bakalan pesan lagi untuk acara aRizan di rumah. Mama pergi dulu ya Dho..." Kata nyonya Desy setelah ia menghabiskan makanannya. Ia ada acara pameran perhiasan di Mall Dinty.


Ridho geleng-geleng kepala. Ia merasa ada yang tidak beres dengan mama nya. Mana mungkin ia memesan catering dari warung kecil. Biasanya, mamanya paling pemilih dalam hal makanan. Bahkan mamanya sering komplain dengan masakan dari chef terkenal. Sekarang ia bisa puas dengan masakan catering biasa?


Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Ridho memeriksa bekas nasi kotak mamanya yang masih tergeletak di atas meja. Ia tercengang melihat makanan di dalam kotak nasi itu telah habis tandas.


Ridho menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kebingungan, apakah memang masakan itu yang sangat enak, atau jangan-jangan mama nya telah menurunkan standart selera makannya?


Ridho mengambil nasi kotak yang disisakan untuknya. Ia mulai mencoba merasai ayam bumbu kecap. Ia sangat terkejut saat mendapati rasa masakannya sangat enak. Membuatnya teringat pada masakan mendiang neneknya saat ia masih kecil. Ridho pun melahap nasi kotaknya hingga tak tersisa.


"Hemmm... pantas, enak banget... kalau makanannya seperti ini. Dimana Valentina memesannya?" Ridho segera membuat panggilan interkom menyuruh sekretaRiznya ke ruangannya.


"Valen... aku mau setiap hari pesankan makanan seperti ini ya, untuk makan siang ku." Kata Ridho saat Valentina masuk ke dalam ruangannya.


"Maaf tuan sebelumnya, sebenarnya tempat saya memesan nasi kotak itu tidak buka setiap hari. Jadi hanya melayani pesanan nasi kotak. E..." Kata Valentina ragu.


"Ya udah pesan aja lima puluh box setiap hari. Aku mau menunya ganti setiap hari. Untuk pembayaran bayar sekaligus untuk satu minggu." Kata Ridho to the point. Ia langsung jatuh cinta pada masakan Dinda. Sepertinya tidak ada lagi masakan yang lebih lezat dari masakan catering nasi box itu.


Valentina segera keluar ruangan, setelah menerima intruksi dari bos nya. Ia geleng-geleng kepala tidak percaya pada kedua bosnya itu yang suka pada makanan sederhana. Bahkan sepertinya mereka berlomba-lomba memesan makanan yang cukup banyak. Apalagi barusan nyonya Desi juga menyuruhnya memesan masakan catering untuk makan malam besok.


Valentina tidak habis pikir, bagaimana mungkin dua orang bosnya yang biasanya makan makanan restoran mahal. Kali ini memilih masakan sederhana dengan harga sangat murah. Apakah selezat itu masakan yang diolah warung Maharani.


Valentina sangat penasaran, dia segera membawa nasi kotak bagiannya dan menikmatinya di pantry. Saat membuka kotak, sudah langsung tercium aroma nikmatnya.


Valentina sedikit ragu, karena dia tahu bagaimana sederhananya warung tempat dia membeli nasi kotak itu. Namun saat aroma nikmat langsung menguar, ia tidak bisa menahan liurnya yang menetes.

__ADS_1


"Hemmm... emang enak masakannya. Coba kalau setiap hari aku makan kayak ini." Gumam valentina sambil terus menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya. Ia baru berhenti saat makanannya habis tak tersisa.


__ADS_2