
"Dinda... ada hal penting yang ingin kami bicarakan dengan mu. Mungkin ini bukan waktu yang tepat. Namun Om dan Tante tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ini menyangkut Fariz." Kata Om Rahman hati-hati, ia tidak ingin mengejutkan ataupun menyakiti hati Dinda.
Sementara Dinda terlanjur terkejut. Seketika hatinya berdesir perih. Luka-luka di hatinya kembali berdarah menyisakan rasa sakit hati yang mendalam. Ia ingin berteriak dihadapan Om Rahman dan tante Sita agar mereka tidak menyebut nama pria jahat itu. Namun Dinda terlalu segan pada mereka. Membuat Dinda menekan segala perasaannya, dan menyembunyikan rapat-rapat.
Bu Inayah pun sangat terkejut saat nama Fariz disebutkan oleh tamu yang tidak dikenalnya. Ia langsung waspada memastikan Dinda supaya baik-baik saja. Sambil menghidangkan minuman dan cemilan, bu Inayah memutuskan duduk di samping Dinda. Ia tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk pada Dinda. Membuatnya tidak sungkan mengambil tempat duduk diantara mereka.
Seketika pandangan om Rahman dan tante Sita terasa penuh tuduhan pada bu Inayah. Karena beberapa kali mereka bertemu, mereka tahunya bu Inayah adalah pembantunya Dinda. Bagaimana bisa ia berani-beraninya ikut campur masalah majikannya?
Dinda rupanya bisa mengerti arti tatapan orang tua Fariz. Ia juga paham maksud bu Inayah ikut duduk bersama dengan mereka semata-mata untuk melindunginya.
"Bu Inayah ini seperti ibu pengganti buat saya. Jadi apapun yang menyangkut tentang saya, bu Inayah pasti akan saya libatkan." Kata Dinda gamblang.
Om Rahman mengangguk. Seakan memastikan kalau ia bisa memahaminya. Om Rahman mengambil kopi dan menyesapnya sedikit sebelum melanjutkan perkataannya.
"Dinda, Om sangat mengerti kalau saat ini kamu masih berduka. Namun Om juga minta pengertianmu." Sejenak om Rahman terdiam. Ia mengambil nafas dalam-dalam seakan apa yang akan diucapkan selanjutnya adalah suatu hal yang sangat sulit.
"Engkau masih ingatkan, apa wasiat Bapakmu sebelum meninggal?" Tanya om Rahman tiba-tiba.
Dinda mengangguk, bagaimana bisa ia melupakan pesan bapaknya sebelum meninggal? Bapak nya meminta agar ia mau menikah dengan Fariz.
__ADS_1
"Deg" jantung Dinda berdegup keras. Beberapa waktu lalu, Dinda pasti akan dengan senang hati menikah dengan Fariz. Namun sekarang ia sudah tahu segala keburukan dan kejahatan Fariz. Bagaimana Fariz menjualnya dan ia juga ada wanita lain. Setelah tahu segala kejahatannya, apakah Dinda masih harus menepati wasiat bapaknya?
"Om... Dinda tidak bisa menikah dengan Fariz. Fariz... dia tidak mencintai Dinda. Kami tidak akan bahagia." Tiba-tiba meluncur kata-kata dari bibirnya. Yang jauh dari isi hatinya. Sebenarnya ia ingin membongkar semua kejahatan Fariz. Namun sekali lagi, ia tidak berdaya. Ia tidak tega mempermalukan keluarga Om Rahman. Membuat Dinda harus menekan perasaannya kuat-kuat.
Bu Inayah yang duduk di sampingnya meremas tangannya. Berusaha memberikan keberanian kepada Dinda untuk mengatakan yang sebenarnya. Namun Dinda tetap gentar. Ia tidak mau menyakiti kedua orang itu dengan membuka kebusukan anaknya. Membuat bu Inayah memberanikan diri untuk menyelamatkan Dinda.
"Maaf Tuan dan Nyonya, mbak Dinda mungkin belum siap untuk membicarakan perjodohan ini. Bagaimanapun belum genap empat puluh hari meninggal ibunya mbak Dinda. Kalau boleh tunggulah setahun dulu masa berduka. Baru kita bisa bahas hal itu." Kata bu Inayah dengan sopan.
"Fariz tidak punya waktu selama itu!" Pekik tante Sita tiba-tiba. Membuat Dinda terkejut.
"Maksud Tante ?"
Tangisan tante Sita akhirnya pecah. Ia tidak bisa menahan kesedihan hati seorang ibu. Dimana anak satu-satunya lumpuh dan beberapa kali berniat bunuh diri. Ia tidak rela kehilangan anak tunggalnya. Hanya Dinda satu-satunya harapan yang bisa diandalkannya untuk bisa kembali memberi semangat hidup.
Dinda pun terpancing ikut menangis, yang ia tangisi adalah mengapa ujian yang dibadapinya seakan tak ada habisnya? Apakah ia bisa hidup kalau ia menikahi pria yang telah menghancurkan hidupnya ?Dinda menggeleng kuat. Ia tidak mau terperangkap lagi dalam kejahatan Fariz. Dulu ia memang mencintainya namun sekarang yang tertinggal dalam hatinya hanya kebencian dan dendam.
"Tidak... aku tidak mau menikah dengannya!" Desah Dinda lirih nyaRiz seperti suara bisikan.
"Plakkkkk" Telapak tangan tante Sita mendarat di pipinya. Meninggalkan memar dan rasa sakit yang menyengat.
__ADS_1
Air mata Dinda tumpah seketika. Apa kesalahannya hingga harus menerima tamparan dari wanita yang sangat dikaguminya. Bu Inayah langsung merangkulnya mencoba melindungi agar tidak mendapat pukulan lagi.
Tante Sita menahan amarah yang meluap. Suaminya menahan tangannya agar tidak memukul kembali.
"Inikah balasanmu atas keluarga kami? Setelah kau tahu anak ku cacat dan sangat membutuhkan mu. Kamu dengan mudah membuangnya begitu saja? Tante gak nyangka, kamu begitu jahat Dinda?!!" Bu Sita menangis tersedu-sedu, wanita paruh baya itu meluapkan kekecewaannya.
"Bukan... bukan itu Tante alasan Dinda tidak mau menikah dengan Fariz. Dinda... Dinda..."
Pembelaan Dinda sia-sia. Alasan yang akan diberikan Dinda malah memancing emosi Om Rahman. Pria yang biasanya tenang dan penyabar, saat ini terlihat sangat marah. Membuat Dinda mengkerut ketakutan.
"Dinda... ingat ya, yang minta pertunangan adalah almarhum bapakmu bukan kami. Kau tahu alasannya? untuk membalas kebaikan kami terhadap keluargamu. Kalau kamu mengingkarinya, aku tidak akan menyalahkan Hasan ataupun Rahmah. Aku tahu anak muda sekarang tidak pernah mau belajar untuk balas budi. Saat ini aku hanyalah ayah dari seorang anak yang putus asa. Karena kecacatannya, ia tidak ingin hidup lagi. Apakah engkau akan menghukumnya dengan membiarkan dia mati bunuh diri? Padahal hanya kamu Dinda yang diharapkannya. Aku akan berlutut, demi Fariz."
Om Rahman menekukkan lutut di depan kursinya. Ia merosot hingga lututnya menyentuh lantai. "Tolong lah Fariz, bantulah agar ia kembali bersemangat hidup lagi!" Om Rahman meminta dengan sangat. Ia sampai bertekuk lutut di hadapan Dinda. Mengabaikan harga diri, asalkan anaknya bisa mendapatkan sedikit kebahagiaan.
"Om... jangan lakukan ini. Jangan berlutut di depan ku. Aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka." Dinda langsung membimbing Om Rahman kembali duduk di kursinya. Ada perasaan gundah gulana seketika menjerat hatinya.
Ia masih sangat menyayangi orang tua Fariz. Rasa hormat itu masih melekat pada mereka. Dinda masih mengingat perhatian mereka kepadanya selama ini. Mereka mungkin tidak tahu menahu tentang kejahatan Fariz, bagaimana ia bisa menyalahkan mereka atau bahkan membuat kedua orang tua itu bersedih?
Dinda juga tahu, kasih sayang Om Rahman dan tante Sita sangat besar padanya. Bahkan perhatian mereka selama ini kepadanya lebih besar dari pada untuk anak kandungnya sendiri. Namun disisi yang lain, ada luka hati yang menganga karena perbuatan Fariz. Apakah ia bisa dengan mudah memaafkannya begitu saja?
__ADS_1