
Hallo..." Dinda menjawab telepon dengan ragu-ragu.
"Apa kau sudah bosan hidup?" Terdengar suara ketus. Membuat telinga Dinda seketika berdengung.
Refleks Dinda menjauh kan hp dari telinga nya. Suara di seberang terdengar melampiaskan kemarahannya. Dinda berdecak kesal pada orang yang iseng menelepon nya.
"Kalau kamu tidak bisa ngomong dengan sopan, aku akan menutup teleponnya!"
Tanpa ragu Dinda mengakhiri panggilan pria tak dikenal itu. Ia pun menarik nafas dalam-dalam. " Hmmm... kalau setiap hari seperti ini aku pasti cepat stroke. Raphael yang bipolar itu sudah sangat menakutkan ku. Dan ini Orang tak dikenal tiba-tiba marah-marah tak jelas.
"Bagaimana ia tahu nomor ku? Bukankah ini hp baru?" Dengus Dinda kesal. Ia memperhatikan hp ditangannya. Hp ini pastinya sangat mahal terlihat dari merk yang terkenal. Di dalam paper bag juga masih lengkap box hp dan bahkan kartu garansi nya masih ada. Saat Dinda memeriksa box hp, nampak selembar kuitansi pembelian di sana. Saat membacanya seketika matanya terbelalak. Bagaimana Dinda tidak kaget, harga hp di sana tertera tiga belas juta rupiah. Sebuah harga yang sangat tinggi untuk sebuah hp.
Biiiip... Suara notifikasi pesan masuk. Dinda segera memeriksanya karena penasaran. Pesan dari pria pemarah.
"Dinda... Kamu telah berani menutup telepon. Tunggu nanti malam kamu akan terima hukuman mu!"
Keringat dingin tiba-tiba merembes di keningnya. Tangannya pun reflek memukul kepalanya sendiri.
"Kenapa kepala ku buntu? Yang tahu nomor telephon ku kan pastinya hanya Raphael atau pak Dito. Bagaimana ini? Aduh... Kenapa aku memancing masalah yang tidak perlu?"
Dinda memutar otak. Ia harus berbuat sesuatu agar Raphael tidak murka. Dinda pun melakukan panggilan ke nomor Raphael, namun telepon nya tidak diangkat sama sekali. Dengan cemas, Dinda mengetikkan kata-kata permintaan maaf dan segera mengirimnya.
Namun segera ia menyesal saat membaca ulang pesan yang baru dikirimnya. Pipinya bersemu merah. Bagaimana ia bisa mengetikkan kata-kata aneh itu?
"El sayang.. maaf aku tidak tahu kalau yang telepon tadi kamu. Apakah ada yang bisa ku lakukan untuk menebus kesalahan ku?"
Dinda benar-benar kesal pada dirinya sendiri. Mengapa sebodoh itu ia melemparkan diri untuk diterkam Singa? Ia berniat menghapus pesannya. Namun suara notifikasi pesan masuk membuatnya sangat tegang. Balasan dari Raphael.
__ADS_1
"Malam ini aku mau kamu menjalankan tugas mu sebagai istri!"
Pesan teks dari Raphael membuatnya merinding. Buru-buru disembunyikan hp nya di bawah bantal. Semua hal yang berhubungan dengan Raphael benar-benar membuat nya takut sekarang.
Sepanjang hari itu Dinda hanya mondar-mandir di dalam kamar. Hatinya gelisah dan sangat ketakutan. Sampai-sampai dia melupakan waktu makan siangnya. Suara ketukan pintu, semakin membuatnya gugup. Dengan takut-takut dibukanya pintu kamar nya. Nampak dua orang pelayan membawa nampan berisi penuh makanan.
"Saya tidak minta dikirim makanan?" Dinda menggeleng.
"Ini atas perintah Tuan Raphael langsung. Tolong Nyonya Bekerjasama lah. Jangan menyulitkan kami." Kata-kata tegas si pelayan membuat Dinda tak bisa menolak. Bagaimana pun ia tahu keberadaan nya ditempat ini. Bukankah ia seorang korban penculikan yang diatasnamakan memberi perlindungan semu?
"Baiklah... tolong letakkan di atas meja!" Dinda memberikan jalan kepada kedua pelayan itu. Dengan hati-hati pelayan menata makanan di atas meja.
Setelah kepergian kedua pelayan. Dinda menatap menu makanan di atas meja dengan enggan. Bagaimana ia bisa menghabiskan makanan sebanyak itu? Dengan sedikit terpaksa Dinda mulai menyantap makan siangnya yang terlambat.
***
Raphael membuka hp nya dan kembali membaca pesan teks dari Dinda. Ada sekilas senyum di bibirnya. Hatinya terasa hangat. Hatinya yang beku mulai mencair. Mungkin baru ini ia merasa sesuatu yang asing dalam hatinya.
Sudah lima tahun, ia menutup rapat-rapat hatinya untuk seorang wanita. Hatinya sudah beku. Itu karena ada wanita yang sangat dicintai mengkhianati di belakangnya. Semenjak itu ia memutuskan tidak berhubungan dengan wanita manapun. Namun Dua bulan lalu saat ia terbangun di pagi hari setelah mabuk berat. Ia mendapati kamarnya yang sangat berantakan. Ada sepotong kain pribadi milik seorang wanita. Setelah ia selidiki, ternyata itu milik Dinda. Pencarian nya mengalami banyak kendala. Karena Dinda tidak terhubung aktif dengan sosmed apa pun.
Raphael baru dapat info dari Rumah Sakit miliknya. Itupun sangat kebetulan. Meskipun agak lambat ia menemukan Dinda, namun ia mendapat cukup bukti untuk bisa memenjarakan Fariz dan merebut Dinda darinya
Baru Dinda yang menggetarkan hatinya. Terlebih saat memikirkan bahwa Dinda mungkin hamil, ia ingin menjaga Dinda disisinya selama ia mengandung anaknya. Pada kenyataannya Dinda tidak hamil. Terlepas dari apapun penyebabnya, harusnya ia bisa melepaskan Dinda. Namun saat melihat wajah polos perempuan itu ketika tidur, ada desiran aneh dalam hatinya. Mungkinkah ia jatuh cinta? Entahlah sepertinya itu hipotesa yang terlalu dini. Yang jelas Dinda sekarang adalah mainannya. Masih terlalu sayang untuk dibuang.
"Tok...tok... tok..."
"Masuk"
__ADS_1
Pak Dito nampak gugup. "Maaf Tuan, ada berita buruk."
Raphael memandang pak Dito dengan pandangan tidak sabar. Ia paling tidak suka menunggu.
"Apa yang terjadi?" Raphael sudah nyaris kehilangan kesabaran melihat pak Dito yang sengaja mengulur waktu.
"Maaf Tuan, ini benar-benar diluar prediksi saya." Pak Dito nampak pucat. Ia berusaha mengatur deru jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat. Berita yang akan disampaikan ini pasti akan mengecewakan tuannya. Kemungkinan terberat, ia pasti akan kehilangan pekerjaan nya.
"Saya paling tidak suka dengan orang berbelat-belit." Nada datar Raphael benar-benar mencekik pak Dito.
"Em.... maaf Tuan, perusahaan Danuarta dilelang dan yang membelinya perusahaan besar." Pak Dito menghela nafas berat bersiap menerima luapan amarah bos besarnya.
"Bagaimana bisa? Bukankah sudah ku investasi kan sejumlah besar uang ke sana? Apa yang terjadi?" Tanya Raphael dengan tetap mempertahankan nada datar nya.
"Em... seperti nya ada pengkhianat dari dalam, yang sengaja mengkambinghitamkan tuan Ridho. Sehingga membuat pemegang saham kehilangan kepercayaan dan menarik saham dari perusahaan itu. Sehingga satu-satunya jalan dengan menjualnya...."
"Jangan pernah sebut nama itu pak Dito.. kalau engkau masih ingin kerja dengan ku." Ancam Raphael sungguh-sungguh.
"Maaf kan, saya tidak sengaja Tuan." Pak Dito terlihat salah tingkah. Sampai sekarang ia masih bingung untuk menyebut nama Tuan Ridho kembaran dari bosnya. Apalagi saat ia tidak sengaja bertemu dengan tuan Ridho. Ia masih sangat sulit membedakan mereka. Pernah sekali ia salah mengenali tuan Ridho sebagai tuan Raphael. Akibatnya ia harus rela kehilangan sebulan gajinya.
"Tuan, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" Tanya pak Dito minta pertimbangan Raphael. Meskipun sebenarnya ia telah diberikan wewenang untuk menangani perusahaan Danuarta.
"Biarkan saja dulu. Nanti kalau timingnya pas. Kita ambil alih kembali." Jawab Raphael tetap datar. Ada nada misterius dalam perkataannya.
Pak Dito belum bergeming dari tempatnya berdiri. Masih ada sebuah berita yang harus disampaikannya. Namun ia sangat kuatir. Ia tidak berani menyebut nama itu. Nama Bu Desy yang juga menjadi nama terlarang untuk diperdengarkan kepada Raphael. Setahunya ibu Desy telah menelantarkan nya dengan mengirimnya jauh ke luar negeri. Itulah sebabnya hubungan ibu dan anak itu tidak baik. Pak Dito menarik nafas dalam. Ia pun memberanikan diri "Oh iya tuan. Nyonya Desy terkena stroke saat ia kehilangan perusahaan Danuarta."
Mata Raphael terbeliak, giginya bergemeretuk menahan amarah.
__ADS_1
"Pergi....!" Teriaknya kuat-kuat. Pak Dito berlari menghambur keluar ruangan.