Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Persembunyian


__ADS_3

Jalan ini arah menuju rumahnya. Membuat Dinda tidak bisa menyembunyikan rasa kejut dan bahagianya. " Kita mau ke mana?"


"Kita akan bersembunyi sementara dari mas Fariz mbak. Saya juga akan bekerja di sini." Jawaban Imah penuh misteri.


Dinda tersenyum senang. Ada sebuah harapan besar ia bisa bertemu Bu Inayah dan adik-adiknya. Terlebih dengan tinggal dekat keluarga nya. Mobil mereka berhenti tepat di depan warung Maharani. Tempat yang sangat dirindukan Dinda saat ini.


"Ayo mbak, kita sudah sampai." Imah membantu Dinda turun dari mobil. Sementara Dinda masih bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana bisa Imah mengenal Bu Inayah?


Imah mengetuk pintu. Tak berapa lama muncul kepala seorang anak laki-laki. Anak itu memandangi dua orang tamunya dengan tatapan penasaran.


Dinda membuka kaca matanya. Seketika Riki yang melihatnya langsung menghambur memeluk kakak yang dirindukannya.


"Mbak Dinda..." Riki sangat gembira mendapati kakaknya telah pulang.


Imah memandang dua orang itu dengan tanda tanya besar. Bagaimana bisa Dinda mengenal bos barunya?


"Apakah mbak Dinda tidak boleh masuk nih?" Tanda Dinda menyadarkan Riki yang sedari tadi memeluk kaki Dinda.


"Ayo... masuk mbak. Ibu sama kak Niki di dalam." Riki menarik tangan Dinda mengajaknya masuk ke rumah.


Imah mengikuti dari belakang. Ia menahan diri untuk tidak bertanya. Mungkin bisa saja ia salah alamat.


"Buk.... Mbak Dinda pulang!" Seru Riki dengan kegirangan. Ia terus menarik tangan Dinda agar mengikuti nya. Tidak disangka Dinda menahan tangan Riki. Dinda merasa dadanya terasa nyeri. Ia tidak ingin adiknya kuatir, jadi ia menutupnya dengan senyum tipis.


"Riki... mbak Dinda capek. Mbak duduk dulu ya. Panggil ibu ke sini ya." Dinda menjangkau kursi terdekat dan segera duduk. Ia berusaha mengatur nafas agar rasa nyeri itu segera hilang.

__ADS_1


"Mbak Dinda tunggu di sini. Jangan pergi lagi ya! Riki panggil Ibu." Riki berlari ke halaman belakang.


Imah melihat ekspresi Dinda seperti menahan kesakitan, ia pun segera mendekatinya.


"Mbak Dinda apa merasa sakit?" Setelah mendapat jawaban anggukan, Imah menyerahkan obat yang telah disimpannya dalam tas. Ia juga mengambilkan segelas air putih. Dengan sekali teguk, Dinda meminum semua obatnya.


"Imah... bisakah bantu aku ke kamar?" Dinda merasa sangat lelah, ia ingin beristirahat sebentar. Imah memapah Dinda menuju kamarnya. Dinda berbaring di kamarnya. Sebelum ia memejamkan mata, ia mengamati kamarnya yang kecil masih terlihat sama saat ia meninggalkannya. Tumpukan novel koleksinya masih tertata rapi di rak buku.


Hanya ada sebuah perbedaan. Perbedaan itu yang membuat hatinya kembali perih. Karena mengingatkan nya pada orang tua yang sangat disayanginya. Namun sekarang telah meninggalkan dirinya sendiri di dunia ini.


Dinda menatap sendu foto keluarga nya yang dicetak perbesar dengan berbingkai emas. Foto itu ditempel di dinding. Persis tepat. Saat ia berbaring, ia bisa melihatnya. Tak terasa sebulir air mata mengalir di sudut matanya.


"Mbak... mbak Dinda kenapa menangis? Apakah terasa sakit? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?" Ada rasa bersalah dalam nada Imah.


"Nggak... aku hanya perlu istirahat sebentar. Pasti nanti akan baikan." Dinda berusaha mengatur suaranya agar Imah tidak kawatir. Dinda berusaha memejamkan mata, namun terganggu suara berisik di luar.


"Riki... jangan suka bohong ya nak. Gak baik." Bu Inayah mengelus rambut Riki. Sebenarnya ia sangat kecewa. Saat Riki mengatakan kalau Dinda pulang, ia sangat senang. Namun ternyata di rumah tidak ada siapapun, membuat Bu Inayah merasa dipermainkan.


"Bu... tadi mbak Dinda benaran pulang. Mbak Dinda datang sama mbak-mbak yang jaga di rumah sakit. Bu... apa mbak Dinda di bawa pergi lagi... Bu... mbak Dinda mana? Riki mau sama mbak Dinda." Rengek Riki. Membuat Bu Inayah ikut sedih. Apakah anaknya sudah berkhayal tentang mbak Dinda?


Untunglah bersamaan keluarlah Imah dari kamar. "Permisi Bu. ibu masih ingat saya? Kita pernah ketemu di rumah sakit beberapa hari yang lalu. saya yang yang mencari pekerjaan."


"Oh iya ya. Mbaknya yang menjaga Mbak Dinda kan?" Tanya Bu Inayah gembira. "Mbak Dinda sekarang di mana?"


"Sudah tidur di dalam kamar Bu."

__ADS_1


Seketika Bu Inayah bergegas ingin menemui Dinda. "Mbak Dinda..."


Bu Inayah buru-buru ke kamar Dinda dan melihat gadis itu berbaring di ranjangnya. Seketika hati ibu Inayah diserang perasaan bahagia.


"Bu... Dinda sudah pulang." Dinda masih tetap berbaring karena rasa nyeri masih terasa di dadanya.


"Hik... hik... Nak akhirnya engkau pulang." Bu Inayah menggenggam jemari Dinda.


"Iya Bu, Dinda akan tetap bersama ibu di sini." Ucap Dinda lemah. Obat yang diminumnya telah mempengaruhi tubuhnya yang jadi lemas dan mengantuk.


"Nak istirahatlah." Bu Inayah merasa tidak tega melihat keadaan Dinda. Ia pun mengajak Imah dan Ricky keluar supaya Dinda bisa beristirahat.


"Bu Inayah kenapa tidak bilang kalau mengenal Mbak Dinda?" Tanya Imah saat mereka duduk di ruang tamu.


"Maaf Mbak, Saya takut Mbak Imah melaporkan saya pada Pak Rahman. Mbak terima kasih ya sudah membawa Mbak Dinda pulang ke rumah."


"Iya Bu, saya gak tega melihat penderitaan Mbak Dinda di rumah Mas Faris. Itulah sebabnya saya membantu Mbak Dinda untuk melarikan diri. Bu apakah keluarga Mas Faris tahu rumah ini?" tanya Imah khawatir.


Bu Inayah menganggukkan kepalanya. "mereka sering datang ke sini dulu."


Seketika Imah diliputi kecemasan. "Bu kalau begitu kami tidak bisa tinggal di sini. takutnya kalau Mas Faris sampai nyusul ke sini dan memaksa Mbak Dinda untuk kembali ke sana. Bu Inayah adakah tempat yang bisa kita pakai untuk bersembunyi sementara waktu?"


"Ya tidak aman kalau kalian tinggal di sini. Tapi saya tidak mau Mbak Dinda pergi jauh." Bu Inayah mulai berpikir. Mungkin sebaiknya ia membeli rumah itu. Pastinya lebih aman untuk menyembunyikan Dinda dari niat buruk Fariz dan keluarga nya.


Bu Inayah menggambil handphone nya dan membuat panggilan. Ia membuat janji bertemu dengan pemilik rumah. Bu Inayah sudah memutuskan untuk membeli rumah tepat di samping rumah Dinda. Sebuah tempat persembunyian yang tak terlalu jauh. Namun tidak akan ada yang menduganya.

__ADS_1


Sore itu juga Bu Inayah membuat kesepakatan membeli rumah. Ia mengatakan kalau saudaranya yang kerja jadi TKW di Malaysia yang minta dibelikan rumah. Bahkan Imah ikut-ikutan dalam sandiwaranya. Imah berpura-pura jadi saudara Bu Inayah yang membeli rumah melalui sambungan telepon.


Setelah proses jual beli selesai, Bu Inayah dan Niki membersihkan rumah baru. Rumah untuk Dinda dari hasil bisnis catering. Bu Inayah juga membongkar tembok rumah yang menghubungkan dengan rumah Dinda. Sebuah pintu tak terpakai dibuat sebagai penutup lobang itu. Menjadi sebuah pintu rahasia yang menghubungkannya dengan rumah tempat Dinda bersembunyi.


__ADS_2