Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Ban Serep


__ADS_3

Fariz mengingat setengah tahun yang lalu saat ia berhasil memikat hati primadona kampus, Selena Rosalyn. Gadis cantik berkulit putih mulus, langsing dan tinggi semampai.


Keluarganya kaya raya namun sangat ketat dan kolot hingga tidak mengijinkan Selena berteman dengan cowok apalagi sampai pacaran. Bukan Fariz Rahman namanya kalau tidak bisa memikat Selena. Gadis itu telah menyerahkan kesuciannya dan berakhir di ranjang kamar kontrakan Fariz.


Fariz mulai membandingkan Selena dengan Dinda. Mereka berdua seperti bumi dengan langit. Body Dinda kaya batang bambu, lempeng tak berlekuk. Sementara body Selena sangat menawan terlebih bagian dadanya membuat Fariz mabuk kepayang.


Kalau disuruh memilih antara Selena atau Dinda, Fariz pasti akan memilih Selena. Selena sangat cantik, dia juga kaya raya.


Dinda dimata Fariz hanyalah mainan baginya. Gadis miskin dengan fisik yang biasa saja. Jauh dari kriterianya. Kalau dibandingkan dengan wanita - wanita lainnya yang telah dikencaninya perbandingannya dua banding delapan. Baik secara fisik atau materi.


Selama ini ia terpaksa berpura-pura berpacaran dengannya untuk menutupi skandal cintanya dengan banyak wanita.


Keluarganya Fariz hanya tahu kalau ia berpacaran dengan Dinda saja.


Saat ia keluar rumah bahkan sampai pulang larut malam kalau alasannya ia pergi ke rumah Dinda, papa dan mamanya tidak pernah marah. Namun berbeda kalau alasan Fariz untuk keperluan yang lain, ia pasti dapat omelan dan kemarahan dari papa dan mamanya. Membuat Fariz lambat laun menjadi benci pada Dinda.


Seringkali papa dan mamanya memuji - muji Dinda, hingga membuat Fariz merasa sesak. Ia menjadi semakin benci dan ingin melampiaskan kekesalannya pada gadis itu.


Satu - satunya balas dendam yang akan dilakukannya dengan mengambil kehormatan gadis itu. Namun pendirian Dinda yang kekeh membuat hal itu sulit dilakukan. Baru hari ini ia berhasil mencecap bibir Dinda dan malah akan segera merenggut kehormatannya kalau tidak dihentikan panggilan Selena.


"Ah gapapa.. masih ada lain waktu." gumam Fariz dalam hati. Toh sebentar lagi ia akan menikmati tubuh Selena. Fariz sangat diuntungkan melalui hubungannya dengan Selena. Sebuah hubungan rahasia.


Secara finansial Fariz seringkali menerima uang ataupun hadiah mahal dari kekasihnya. Dan tidak terhitung berapa kali ia menikmati kehangatan tubuh Selena tanpa modal. Mengingat nya saja membuat Fariz berbunga - bunga.


Sementara Dinda yang lugu itu, tidak akan kemana - mana, ia hanyalah ban serep yang selalu siap saat dibutuhkannya. Menjadi hiburan saat ia kesepian. Menjadi penyedia makan gratis, diantar langsung bahkan sampai dihidangkannya di atas meja makan. pastinya sebuah layanan yang tidak akan disia - siakan Fariz.


Seketika lamunan Fariz buyar saat Dinda mengetuk pintu kamarnya.


"Riz.. kamu ngapain lama di kamar?" Tanya Dinda penasaran melihat tingkah aneh Fariz yang langsung pergi saat menerima telephon dan sekarang malah mengunci diri di kamar.


"Ya bentar." Fariz pun segera membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Di depan pintu kamar, Dinda sudah menunggu dengan senyuman lebar dan penuh harap.


"Riz... makan siang dulu yuk." ajak Dinda.


"Maaf ... tadi dosen pembimbing skripsi telephon nyuruh aku ke kampus sekarang." Bohong Fariz.


"Ya udah kalau gitu makanannya dibawa aja buat bekal." Kata Dinda memberi solusi.


"Ribet yank.. takutnya kotak makan ketinggalan, nti aku makan di kantin saja." Fariz mencari alasan menolak Dinda. Buat apa dia repot - repot bawa bekal, karena di rumah Selena ia pasti dijamu makanan mewah dari koki handal.


" Oh ya sudah, mau ku bantu siap - siap?" Dinda menawarkan diri.


"Nggak usah yank... lebih baik kamu cepat pulang mungkin bantuanmu diperlukan ibu di warung."


Usir Fariz halus, ia agak was - was kalau saat Selena datang, ia bertemu Dinda di rumahnya. Malas kalau harus membuat alasan macam - macam.


"Kalau gitu aku pulang dulu ya Riz..." pamit Dinda sambil membawa rantang beRizi makanan. Saat Dinda melangkah hendak keluar dari rumah Fariz, saat ia menarik hendle pintu, Fariz tiba-tiba memeluk perutnya dari belakang. Ia menghentikan langkah Dinda dan berbisik padanya.


"Tadi kan aku sudah pamit?" jawab Dinda heran padahal ia merasa sudah pamit tadi, apa mungkin tadi suaranya terlalu pelan hingga Fariz tidak mendengarnya?


"Itu bukan pamitan. Pamitan itu seperti ini!"


Fariz langsung menyantap bibir mungil Dinda yang ternganga tidak menyangka pada kelakuan Fariz yang tiba - tiba. Sebuah kiss panjang dan dalam kembali membakar hasrat Dinda. Tautan bibir itu dimulai Fariz tanpa aba-aba dan diakhirinya juga dengan mendadak. Apalagi kalau bukan karena takut Selena datang tiba - tiba. Membuat Dinda tersenyum pias. Fariz benar - benar seperti mempermainkannya.


"Heheheh maaf, sebenarnya belum puas tapi takutnya dosen marah karena menunggu ku lama." Bohong Fariz sambil membuka pintu rumahnya.


"Ya udah kalau gitu, aku pulang dulu." Kata Dinda sedikit dongkol. Ia dengan cepat keluar dari kontrakan Fariz..


"Yank...... muachhhh...." Fariz memberikan kissbay nya menggoda Dinda.


Dengan pura - pura jutek, Dinda berlalu meneruskan langkahnya. Ia tidak pernah bisa marah terlalu lama kalau menghadapi Fariz. Sekalipun Fariz lebih tua tiga tahun dari dirinya, namun Fariz telah menjadi seperti teman seumuran, apalagi Fariz tidak pernah mau dipanggil kakak. Itu membuatnya merasa sangat dekat dengan Fariz.

__ADS_1


Dinda pulang dengan hati yang berbunga - bunga melamunkan pengalaman kiss pertamanya bersama Fariz. Hingga tanpa sadar ia berjalan sampai ketengah jalan raya.


Tiiiiiiiiiin........nnnn.....tiiiiinnnnnn


Suara klakson mengagetkannya. Saat ia menoleh ke belakang sebuah mobil BMW hitam melaju cepat hendak menabraknya. Seketika ia terduduk, menutup mata dan telinganya.


Ciiiitttt....


DeDinan ban mobil terdengar mengiRiz hati saat rem ditekan paksa. Seorang pria berjas hitam keluar dari mobil. Dengan kesal dan penuh kemarahan ia berjalan mendekati Dinda.


"Dasar bodoh.....! Kalau bosan hidup jangan bunuh diri di jalan, Kau bisa bikin orang lain kesulitan!" Teriak pria itu marah - marah.


Dinda mendengar teriakan keras itu, ia membuka mata dan mengelus dada, "Untunglah aku tidak ketabrak." Dilihatnya rantang makanannya terhambur di jalan raya. Dengan tanpa menghiraukan pria pengendara mobil yang ngomel tidak jelas, Dinda berusaha membereskan rantang makanannya. "Ya sudah biarlah makanannya jatuh semua, sudah tidak bisa di makan lagi." gumamnya.


Ternyata kejadian itu menarik perhatian banyak orang yang datang. pria itu menjadi gugup dan segera menarik tangan Dinda dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Sementara di dalam mobil sport yang berhenti tepat dibelakangnya ada hati yang sedang marah membara. Fariz yang saat itu berpenampialan perempuan mengetatkan rahangnya saat melihat Dinda ditarik pria berjas mahal masuk ke dalam mobil BMW hitam. "Siapa pria yang berani - beraninya memegang tangan Dinda?" Geram nya dalam hati. Kalau ia tidak berkostum seperti saat ini, Fariz pasti turun dan menghajar pria itu.


Mobil BMW hitam di depannya sudah mulai jalan dan melaju. Fariz berusaha mengikuti, namun dipersimpangan jalan ia kehilangan jejak.


Sementara di dalam mobil BMW hitam, Dinda berteriak - teriak sambil memukul - mukul kaca mobil.


"Tolong..... tolong... ada orang yang menculik ku...!" Teriakan Dinda sia-sia karena kaca mobil itu gelap, juga suaranya teredam.


Pria yang duduk dibangku kemudi menghardiknya.


"Kalau tidak bisa diam ku perawani kau, biar tahu rasa!!!" Gertak pria itu dengan rahang yang mengerat. Ekspresinya yang garang seketika menghadirkan suasana membeku dalam mobil.


Dinda langsung terdiam, mukanya pucat pasi, tubuhnya gemetaran. Sementara pria itu hanya tersenyum miring sambil meliriknya. Mobil BMW hitam itu menuju keluar kota. Di tempat sepi ia menghentikan mobilnya.


Pria itu memandang Dinda dengan tatapan misterius. Dinda salah tingkah dibuatnya. Jantungnya berdegup kencang. Terlebih saat pria itu menjulurkan tangannya hendak menyentuh Dinda. Gadis itu beringsut menjauh. Keringat dingin menitik di dahi Dinda. Ia merasa ketakutan setengah mati.

__ADS_1


__ADS_2