
Bu Inayah segera menghampiri Riki yang terlihat ketakutan. Dadanya berdebar-debar.
"Mas Fariz? Apa yang kamu lakukan?" Tanya Bu Inayah tajam. Ia tidak menduga Fariz akan senekat ini.
"Oh... Bu Inayah? Aku cuma mau mengajak anak ini untuk menengok kakaknya yang sakit? Apakah ini salah? Soalnya Dinda sampai mengigau memanggil-manggil adiknya." Kata Fariz seraya menyeringai masam.
"Mas Fariz, tadi ibu sudah katakan, kalau nanti malam saya akan datang ke rumah. Mbak Dinda pasti memaklumi nya. Siang ini masih banyak kerjaan yang harus saya selesaikan." Kata Bu Inayah tegas.
Riki yang merasa pegangan tangan Fariz kendor, ia segera melepaskan diri. Riki berlari menuju ibunya.
"Hei... Bu Inayah! Dinda sudah baik-baik mengangkat mu menjadi keluarga. Apakah ini balasan mu? Saat Dinda memerlukan kedatangan kalian, kalian tidak memperdulikannya? Dasar tak tahu diuntung!" Sumpah serapah keluar dari mulut Fariz.
Banyak orang yang mulai mengerumuni Fariz dan Bu Inayah. Penasaran pada keributan yang mereka lakukan, tanpa ada keinginan untuk menengahi.
"Mas Fariz... bukannya saya tidak perduli pada mbak Dinda. Ada tanggung jawab pekerjaan yang harus saya kerjakan. Kalau sampai saya tinggalkan, saya pun tidak enak dengan mbak Dinda. Kalaupun menunggu pekerjaan saya selesai bukankah itu lebih bagus. Saya bisa merawat mbak Dinda dengan leluasa."
Elak Bu Inayah. Ia harus pintar-pintar mencari alasan menghindari Fariz.
"Bu.... bukannya..." Riki membuka suara. Ia ingin mengingatkan ibunya, kalau mbak Dinda aman di rumah. Namun tangan ibunya membekap mulutnya. Seketika membuat Riki ingat nasehat ibunya beberapa hari ini untuk merahasiakan keberadaan mbak Dinda.
Riki menatap tajam pria yang duduk di kursi roda. Ia mulai menyadari, pria itu adalah orang yang selama ini menyakiti kakaknya. Ia ingin melampiaskan marah pada pria itu. Namun tangan ibunya mengetat menahan agar ia tidak berbuat konyol.
"Nah kan... ibu-ibu, benarkan yang saya bilang tadi. Bu Inayah itu benar-benar menjijikkan. Hanya disuruh mengunjungi Dinda yang sakit ia tidak mau." Seketika bisik-bisik mulai merebak diantara kerumunan orang.
Bu Inayah seketika mukanya pias. Ia merasa sangat malu. Ia hanya tertunduk, tidak berani mengangkat wajahnya.
"Ibu... Riki... kenapa di sini?" Niki menyibak kerumunan orang untuk mendekati ibunya.
__ADS_1
"Mas Fariz... kita bicarakan di rumah saja. Mari". Ajak Bu Inayah untuk menghindari dirinya semakin dipermalukan.
"Ton... pegang dua anak itu!" Perintah Fariz tiba-tiba saat melihat sepupunya datang mendekat. Dengan sigap Toni merengkuh Riki dan Niki di kedua tangannya. Ia menyeret kedua anak itu menuju ke mobil.
"Aku bawa dua anak itu, kalau kamu masih memandang Dinda datanglah ke rumah!" Seru Fariz sambil menjalankan kursi rodanya menuju ke mobil.
Bu Inayah berdiri termangu. Ia bingung harus berbuat apa. Kalau ia berusaha menahan anak-anaknya, Fariz pasti akan mencurigainya. Kalau ia membiarkan anak-anaknya dibawa Fariz, Dinda pasti tidak akan membiarkan nya. Ia sangat takut kalau Dinda nanti akan lebih memilih mengorbankan diri nya agar Riki dan Niki selamat.
Bu Inayah memandang kepergian mobil Faris dengan tatapan tak berdaya. Ia melangkah gontai pulang ke rumah. Fikiran nya benar-benar kusut. ini bukan sebuah pilihan yang mudah baginya. Ia sangat menyayangi Dinda juga dua orang anak kandungnya. iya tidak akan memilih salah satu untuk dikurbankan demi menyelamatkan anak yang lain.
Sebuah keputusan diambil nya. Ia tidak akan mengatakan perihal Riky dan Niki. Ia bertekad akan mencari solusi sendiri.
Saat ia sampai di depan rumah. Ia melihat seorang pria gagah dengan setelan jas mahal menuntun dua orang anak di kanan, kirinya.
Bu Inayah mengenali dua anak itu. Seketika hatinya bergolak bahagia.
"Riki... Niki" panggil Bu Inayah diliputi kebahagiaan.
"Syukurlah... kalian tidak jadi dibawa orang jahat itu." Bu Inayah memeluk anaknya dengan sangat erat, seakan takut anak-anaknya dipisahkan lagi darinya.
Setelah puas memeluk anak-anaknya, Bu Inayah berpaling pada pria berjas yang tadi membawa anak-anak nya.
"Tuan... apakah tuan yang menolong anak-anak ku? Terimakasih banyak tuan. Sungguh saya tidak bisa membalas kebaikan Tuan." Kata Bu Inayah tulus.
Namun tidak ada senyum di wajah pria tampan itu. Tatapan dingin yang membuat bulu tengkuk Bu Inayah meremang.
"Kamu bisa melakukan sesuatu untuk balas Budi." Pria dingin itu melemparkan pandangan menusuk. Terasa seperti meremehkan Bu Inayah. Membuat Bu Inayah gugup hingga sulit saat menelan Saliva.
__ADS_1
"Apa yang bisa saya lakukan Tuan?" tanya Bu Inayah pasrah.
"Sangat mudah. Kamu bisa melakukannya." Senyuman sinis membingkai wajah tampan namun dingin itu.
Tiba-tiba perasaan tidak enak menyalakan alarm di perasaan Bu Inayah. Sepertinya ia mengenal pria itu namun dengan kepribadian yang sangat beda. Ya, pria itu pernah datang ke rumah dan menemui mbak Dinda. Lamat-lamat ia ingat pria itu. Ya dia adalah Ridho seorang bos besar yang selama ini perusahaannya menjadi pelanggan tetap catering nya.
"Kamu mengingat ku? Baguslah kalau begitu. Aku tidak akan berbelit-belit. Aku ingin bertemu Dinda sekarang. Panggilkan atau ku suruh bodyguard ku meratakan rumah ini, supaya Dinda keluar menemui ku!"
Tuan muda itu tidak dengan lantang mengucapkan ancamannya. Bahkan lebih seperti geraman. Namun itu sudah cukup membuat Bu Inayah gemetar. Geraman Tuan muda itu lebih mirip geraman harimau. Walaupun diucapkan datar, namun membuat orang mengkerut ketakutan. Berbeda gengan gonggongan anjing yang nyaring, bukannya membuat orang takut. Namun akan membuat orang kesal dan melemparkan batu padanya.
Seketika keringat dingin membasahi keningnya. Bu Inayah merasa gentar menghadapi pria dingin yang ia kenali sebagai Tuan Ridho.
"Ehm... mari ke dalam saja Tuan, saya akan panggilkan Mbak Dinda." Terdengar suara Bu Inayah Parau. Ia sangat bingung dan diliputi kegalauan. "Biarlah... mungkin ini cara Tuhan melindungi mbak Dinda dari bayang-bayang mas Fariz." Gumam Bu Inayah dalam hati, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Bu Inayah berjalan duluan membuka pintu warungnya. Riki dan Niki mengikuti dari belakang. Sementara pria dingin itu memilih menunggu di luar warung. Ekspresinya nampak tidak suka. Seperti nya ia merasa jijik memijak kan kaki di warung kepunyaan keluarga Dinda.
Bu Inayah sempat mengintip pria itu melalui jendela kaca. Ia tidak bisa main-main dengan pria itu. Bagaimana kalau ancaman nya benar-benar dilakukan?
Riki dan Niki yang ikut mengintip segera disuruhnya pergi.
"Kalian cepat ganti baju. Siapkan barang-barang berharga kita. Semua masukkan ke dalam tas kalian." Bisik Bu Inayah antisipasi. Bagaimanapun ia harus bersiap dengan segala kemungkinan.
Riki dan Niki langsung mengerjakan perintah ibunya tanpa banyak tanya. Sementara Bu Inayah menemui Dinda melalui pintu rahasia.
"Nak... ada orang yang mau bertemu dengan mu." Ada keraguan dalam suara Bu Inayah.
"Siapa Bu?" Tanya Dinda penuh tanda tanya. Bagaimanapun mereka telah sepakat untuk terus menyembunyikan keberadaan Dinda dan Imah sampai Dinda benar-benar pulih kesehatannya. Namun tiba-tiba Bu Inayah mengatakan kalau ada yang mencarinya? Seketika perasaan was-was memenuhi hati Dinda dan Imah.
__ADS_1
"Seperti nya yang diluar itu tuan Ridho. Tapi sikapnya hari ini sangat berbeda." Ucap Bu Inayah bergetar.
Saat nama Ridho disebut, membuat kenangan pahit melintas di fikiran Dinda.