Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Fans 1


__ADS_3

Sebuah tamparan keras menjawab permintaan Dinda. Kerasnya pukulan Dina membuat Dinda terhuyung hampir jatuh. Beruntung sepasang lengan kokoh menahannya.


"Hati-hati!"


Tangan kokoh itu segera membantu Dinda berdiri.


"Terimakasih banyak," kata Dinda pada penyelamatnya.


Pria itu hanya tersenyum dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Ayo sebaiknya pergi!" Lengan Dinda ditariknya menjauhi kelompok gadis-gadis yang mengganggunya. Dinda seperti linglung, hanya menurut saja saat tangannya ditarik. Beberapa saat tanpa bicara. Dinda hanya mengamati pria penolongnya dari belakang mencoba mengenalinya.


Pria itu memakai kaos tanpa lengan, nampak keringat membanjiri sekujur tubuhnya. Sepertinya pria itu salah satu pemain basket yang tadi dilihatnya bermain di lapangan. Refleks Dinda menoleh ke belakang ke arah lapangan basket. Nampak di sana beberapa pria terlihat kesal melihat ke arahnya. Tiba-tiba Dinda tersadar. Ia menepiskan tangannya hingga terlepas dari tangan pria itu.


"Trimakasih aku bisa jalan sendiri." Dinda bergegas meninggalkan sang pria yang terpaku ditempatnya. Dinda tidak jadi ke ruangan dosen. Ia memilih menenangkan diri di suatu tempat. Setelah menyuruh sopirnya putar-putar sekitar kampus, barulah ia menyuruhnya berhenti di depan sebuah kafe. Ia ingin mendinginkan hatinya sejenak sebelum pulang ke rumah nya.


Dinda memesan segelas jus mangga dan sepiring kentang goreng. Ia memilih bangku di pojokan tempat yang sempurna untuk menyendiri.


Air matanya berlinangan mengingat bagaimana Dina sahabatnya menamparnya. Tidakkah ia mau sedikit saja mendengar penjelasan nya? Sampai pesanannya diantar ke mejanya, Dinda sudah tidak bisa menahan isakan nya. Membuat sang pelayan merasa kasihan. Tanpa disangka gadis pelayan yang tidak dikenalnya, tiba-tiba memeluknya.


Dinda mulanya terkejut, namun ia mulai merasa nyaman. Ya saat ini memang inilah yang ia perlukan. Sebuah bahu yang memberikan dukungan. Setelah Dinda merasa lega, ia pun melepaskan pelukannya.


"Trimakasih," kata Dinda lega.


"Iya sama-sama, saya permisi kembali bekerja," kata gadis pelayan itu dengan senyum lebar. Dinda hanya tersenyum melepas kepergian gadis pelayan cafe. Hatinya mulai menghangat. Masih ada orang yang menyayangi nya, walaupun mereka tak saling mengenal.


Dinda menikmati minuman dan camilannya. Ia menghibur dirinya. Kesalahpahaman Dina kepadanya pada waktunya nanti pasti akan terurai juga. Sekarang ia hanya akan menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya.

__ADS_1


Gelas jusnya masih setengah, saat datang suara menyapanya. "Wah rupanya lagi ngadem di sini ya." Suara pria yang tidak asing ditelinga nya. Benar saja saat Dinda memastikan asal suara, pria itu berdiri di hadapannya.


Dinda takut merespon.


"Apakah engkau tidak ingin mentraktir ku sebagai ucapan terima kasih karena menolong mu tadi?" tanya sang pria dengan tatapan dinginnya.


Melihat pria dihadapannya seketika mengingatkannya pada Raphael suaminya. Seketika aura dingin menyerang nya. Dinda terpaku tanpa berani mengalihkan pandangannya.


Pria itu tanpa menunggu jawaban Dinda langsung duduk di bangku depan Dinda. Ia juga memesan minuman yang sama dengan pesanan Dinda. Mencomot kentang goreng tanpa permisi. Melihatnya membuat Dinda serba salah. Pria yang sekarang duduk di depannya belum dikenalnya. Meskipun mungkin teman kuliah beda fakultas, namun bagi Dinda pria itu tetaplah orang asing.


"Kau tidak mengenalku?" tanya pria itu menunjukkan kekagetan nya.


Dinda hanya menggeleng lemah. Selama ini matanya hanya terisi bayangan Fariz sehingga sudah tidak ada tempat untuk melihat pria lain. Bahkan saat di kampus tak pernah sekali pun ia bertegur sapa dengan teman cowok.


"Ya... aku tidak heran kalau ternyata Dinda tidak mengenalku. Bukankah Fariz sudah menutup mata mu rapat-rapat. Bagaimana kabarnya sekarang? Aku dengar dia dipenjara? Baguslah itu, biarkan ia membusuk di penjara. Ia pantas menerima nya."


"Kalau kamu ingin memberikan hukuman yang pantas buat si brengsek itu. Aku bisa membantu mu!" Kata si pria itu percaya diri.


Dinda masih diam saja, sejujurnya ia ingin sekali pergi. Ia tidak nyaman berada di dekat pria banyak omong itu.


Seorang gadis pelayan menghampiri meja mereka mengantar pesanan. Ternyata gadis pelayan yang tadi memeluk Dinda mengenal sang pria.


"Wah .. tumben nih pak pengacara mampir," sapa gadis itu riang.


Pria yang disapa gadis pelayan seketika melongo. Ia refleks bangkit dan memeluk gadis pelayan.

__ADS_1


"Ya ampun... Candy, aku nyaris tidak mengenali mu. Mengapa kamu berpakaian seperti ini? Dan kamu melayani sendiri?" tanya sang pria takjub.


"Ya itulah... karyawan ku ada yang keluar jadi aku sendiri harus turun tangan sambil menunggu ada karyawan lagi yang masuk."


Candy melirik pada Dinda yang terlihat gelisah. Ia mulai mengira-ngira apa yang mungkin terjadi pada Steven dan gadis di depannya. Apakah mungkin Steven lah alasan gadis itu menangis?


"Steven, kalian saling mengenal?" Candy tidak bisa menahan keingintahuannya.


"Ini Dinda teman kuliahku di universitas Nusantara." Jawab Steven percaya diri.


"Ya udah aku pergi dulu, kalian lanjut ngobrol nya." Kata Candy sambil berlalu. Ada seorang pengunjung cafe yang memanngilnya. Ia pun bergegas ke sana.


"Dinda .. kamu benar tidak tahu saya? Saya lulusan tahun lalu. Tiga tahun saya jadi ketua BEM. Apakah kamu tetap belum mengenali ku?" tanya Steven hampir meradang.


"Ya... maaf saya baru ingat. Berarti anda Steven Zack?" tanya Dinda mengkonfirmasi. Dinda dan mahasiswi lain sering menggosipkan tentang ketua BEM satu-satunya yang menjabat berturut-turut selama tiga periode. Ini sangat langka. Belum pernah dalam sejarah universitas Nusantara ada seorang ketua BEM yang bisa bertahan seperti Steven. Ini dikarenakan banyaknya pesaing memperebutkan posisi itu.


Steven memang beda, ia punya karisma dan kemampuan yang mendukung sehingga ia tetap terpilih selama tiga periode. Dinda hanya tahu itu, ketua BEM terlama adalah Steven Zack. Hanya itu. Mengenai seperti apa wajah, penampilan Steven tidak pernah dipikirkan Dinda. Makanya, saat ia bertemu Steven ia tidak mengenalinya sama sekali. Hanya saat Steven mengatakan kalau ia alumni dan pernah menjabat sebagai ketua BEM selama tiga tahun berturut-turut ia baru mengenalinya.


"Ya... benar." Steven nampak lega.


"Dinda... di mana kamu tinggal sekarang?" tanya Steven penasaran.


"Ehm... aku ngekos." Jawab Dinda asal. Ia tidak ingin mengekspos tentang kehidupan pribadinya. Ia belum berani membuka statusnya yang sudah menikah kembali. Ia takut pandangan teman-temannya padanya akan lebih parah.


"Di mana?" tanya Steven lagi. Ia sangat penasaran karena sebulan terakhir ia tidak bisa menemukan keberadaan Dinda di mana pun. Dan saat ini gadis itu ada di depan hidungnya, tentunya ia tidak ingin melepaskan begitu saja.

__ADS_1


"Ehm... maaf aku tidak bisa memberitahukannya," kata Dinda setengah hati. Ia sudah tidak ingin lagi melanjutkan pembicaraannya dengan Steven.


"Maaf aku harus segera pulang." Dinda meraih tasnya dan berniat segera pergi. Namun Steven meraih pergelangan tangan Dinda dan menahannya.


__ADS_2