Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Terobosan


__ADS_3

Dinda mengantarkan wanita muda itu hingga ke depan pintu. Dinda menghela nafas dalam-dalam, ia tidak percaya ada orang yang mengorder nasi kotak padanya bahkan dalam jumlah yang cukup besar. Ia menunggu hingga wanita muda itu melajukan mobil meninggalkan warungnya.


Dinda menutup kembali warungnya. Ia sejenak duduk termenung. Ia sedikit ragu, karena sebenarnya ia tidak tahu menahu tentang bisnis kuliner juga tentang nasi kotak. Ia bermaksud shercing di internet. Namun sayang ponselnya hilang beberapa hari yang lalu. Sementara ponsel ibunya tidak ada fitur internetnya. Hanya bisa untuk telephon dan sms.


Dinda memutuskan mencari hp second yang bisa buat browshing internet. Ia mengambil uang lima ratus ribu dan menyimpan sisanya di tumpukan baju dalam lemari. Dinda berjalan tergesa-gesa menuju toko phonsel langganannya. Namun saat ia mulai memilih dan menawar, tidak ada handphone dengan harga dibawah lima ratus ribu. Ia berpindah ke toko phonsel yang lain. Empat buah toko phonsel didatanginya, namun belum juga ia mendapat ponsel second seperti yang diinginkankanya. Murah namun memiliki fitur dan spesifikasi lengkap juga masih cukup bagus.


Hampir saja ia putus asa. Saat ia keluar dari toko phonsel keempat, ada seorang bapak-bapak terlihat berjalan tergesa-gesa dan hampir menabraknya.


"Mbak... perlu ponsel ya?" Tanya bapak itu tiba-tiba, membuat Dinda terperangah tidak percaya.


"Iya pak. Saya cari hp second." Jawab Dinda terus terang.


Bapak itu mengajak Dinda berjalan ke parkiran.


"Gini mbak, Kemarin anak saya berulang tahun. Ia minta hadiah dibelikan handphone. Saya membelikannya ini. (Bapak itu menunjukkan kotak handphone yang dibawanya sedari tadi) Tapi anak saya gak mau hadiah saya, katanya ponsel ini tidak seperti yang ia inginkan. Tadi saya mau jual kembali ke toko itu, tapi terus terang saya malu. Kalau mbak yang beli gimana? Ini masih baru dan bahkan segelnya belum dibuka." Kata bapak itu seraya mengeluarkan handphone baru dari kotaknya.


"Bapak mau jual berapa?" Tanya Dinda sambil mengamat-amati phonsel baru ditangannya.


"Terserah mbak aja." Kata bapak itu terlihat pasrah.


"Pak, saya hanya punya uang lima ratus saja. Kalau bapak jual ke toko bisa dapat harga lebih dari dua juta lho pak?" Kata Dinda jujur. Ia tahu, harga handphone baru ditangannya itu berkisar tiga jutaan.

__ADS_1


"Gak papa mbak kalau mbak mau, ambil saja." Kata si bapak bersemangat.


"Tapi pak? Apa Bapak tidak rugi?" Tanya Dinda memastikan.


"Oh... nggak, saya bisa rugi kalau hp itu dibuang anak saya. Hahaha" Katanya sambil terkekeh.


"Ini Pak." Dinda menyodorkan uang lima ratus ribu pada si bapak. Dan mungucapkan terimakasih dengan tulus padanya.


"Sudah ada sim card juga pulsanya!" Kata si bapak sebelum ia berlalu masuk ke dalam toko gadget.


Pria itu tersenyum puas. Hari ini ia menjual sebuah handphone dengan ekstra bayaran lima ratus ribu. Sebuah transaksi yang belum pernah terjadi semasa ia mengelola toko ponselnya. Beberapa menit yang lalu ada sebuah panggilan dari orang yang tidak dikenalnya. Orang itu memberikan instruksi persis seperti yang barusan dilakukannya. Pria itu segera mengetikkan laporan bahwa ia telah menyelesaikan tugas pada orang yang telah menyuruhnya.


Dinda melangkahkan kakinya kembali ke rumah. Ia rela berpanas-panasan berjalan hampir dua kilometer. Karena sudah tidak ada lagi uang yang dipegangnya. Meskipun jalan berpanas-panasan hatinya riang gembira.


Ia ingin segera sampai di rumah untuk segera mempelajari tentang usaha nasi kotak. Hampir dua jam ia berbaring di kamarnya sambil browshing internet. Banyak pelajaran yang di dapatnya, membuatnya optimis bisa mengerjakan pesanan catering itu.


Dinda memesan ojek on line untuk mengantarkan belanja ke pasar. Ia berniat saat pulang, ia akan naik mobil on line karena pastinya akan banyak barang yang dibelinya.


Sambil naik ojek on line, Dinda kembali membaca daftar belanjaannya untuk menentukan mana-mana yang harus dibeli terlebih dahulu.


Berdasar pengalamannya pernah diajak ibunya belanja ke pasar, memudahkan Dinda menemukan tempat-tempat belanjaannya dengan cepat. Dua jam semua belanjaan sudah lengkap. Ia pun pulang dengan mobil on line dengan belanjaan hampir memenuhi seluruh mobil.

__ADS_1


Badan Dinda terasa pegal-pegal, sementara perutnya sudah protes dari tadi minta diisi. Dinda mengambil sebungkus nasi dari kantong plastik. Dengan lahap ia segera menghabiskannya. Dinda bertekat akan segera mempersiapkan segala sesuatunya supaya besok ia tidak kelabakan.


Ia mulai mengupas aneka bahan bumbu. Hari sudah mulai sore namun Dinda masih berkutat di dapur. Ia bertekat menyelesaikan membuat kotak nasi. Setelah semua bahan dan bumbu sudah tersimpan dengan baik, ia pun mandi sore dan segera merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia perlu istirahat, agar besok ia bisa bangun pagi dan segera menyelesaikan pesanan nasi kotaknya.


Alarm ponsel berbunyi nyaring. Membangunkan Dinda yang masih enggan meninggalkan kasurnya yang nyaman. Namun ia memaksa diri untuk segera bangun.


Hari masih gelap saat Dinda mulai aktifitasnya memasak di dapur. Ia mengelompokkan bahan-bahan masakan sesuai menu yang akan dimasaknya. Ayam bumbu kecap, cap cay, mihun goreng, krupuk, sambal dan nasi putih.


Dinda dengan lues memasak aneka masakan. Ia cukup terbantu karena hobi melihat acara Masterchef di sebuah stasiun tv swasta. Ia sudah memperhitungkan managemen waktu agar semua masakan bisa siap di waktu yang sudah ditentukan.


Dinda cukup kewalahan saat menata masakannya dalam kotak nasi. Seharusnya ada orang yang bisa membantunya. Namun ia tidak mengenal orang yang bisa membantunya. Selama ini ibunya bisa menghendel semua sendiri. Paling-paling Dinda hanya membantu mencucikan peralatan bekas masaknya.


Jam sebelas tepat nasi kotak telah diselesaikannya. Semua disusunnya dalam kantung-kantung kresek besar. Dinda segera menghubungi mbak Valentina. Sambil menanti kedatangan mobil yang akan mengambil pesanannya, Dinda mulai mencuci perkakas bekas memasaknya. Tumpukan panci dan alat masak begitu banyak. Satu persatu dicucinya peralatan masak. Sekalipun lelah, ia terus memotivasi dirinya untuk tetap semangat bekerja.


Badan Dinda terasa remuk redam. Namun ia berusaha tidak memperdulikannya. Ini demi mengumpulkan uang buat operasi ibu. Dinda berharap pelanggannya puas dan memesan lagi.


Saat Dinda menyelesaikan membilas cuciannya terakhir, terdengar suara klakson mobil di depan rumah. Ia pun bergegas membukakan pintu. Benar saja, itu mobil pemesan catering nasi kotaknya.


Seorang wanita berbusana kantoran dengan anggun turun dari mobil, ia menyuruh sopirnya mengambil semua nasi kotak. Sementara wanita itu kembali dan mendekati Dinda. Ia mengajak Dinda untuk duduk untuk mendiskusikan sesuatu.


"Mbak, saya mau pesan lagi untuk nanti sore. Lima puluh nasi kotak apa bisa?" Tanya Valentina sedikit ragu.

__ADS_1


__ADS_2