
"Dina ?" Dinda menyebut nama sahabatnya dengan tergagap. Mengapa sahabatnya bisa datang ke rumah Fariz? Apakah Dina saudara Fariz?
"Dinda... Kamu pakai kebaya? Jadi kamu yang menikah? Kenapa gak kasih tahu sih? Oooo... jadi nikah rahasia ya?" Cerocos Dina bertubi-tubi.
"Bukan... bukan begitu Dina. A... aku..."
"Ini kakak sepupu baru ku. Pernikahan mereka memang cukup mendadak, harap maklum. Aku baru tahu kalau kalian ternyata berteman?" Toni muncul dan langsung ikut nimbrung.
"Sayank... maaf, aku terlambat. Tadi ada orderan mendadak jadi aku mesti menyelesaikannya dulu sebelum kemari." Dina langsung menghampiri Toni. Binar mata penuh cinta membayang di wajahnya.
Dinda merasa jengah. Bagaimana bisa sahabat baiknya mencintai pria yang ganjen seperti Toni?
"Dina... bisa kita ngobrol sebentar?" Dinda meraih tangan Dina dan mengajaknya menjauh dari Toni. Pandangan Dina yang seakan minta ijin dari Toni membuat Dinda semakin jengkel. Ia menarik tangan sahabatnya itu dengan lebih kencang, membuat Dina mengaduh.
"Dinda... ngapain sih pakai tarik-tarik segala. Aku kan perlu ijin dulu sama kekasih ku. Bagaimana kalau ia merasa diacuhkan dan marah pada ku nanti?" Protes Dina kesal.
"Aku lebih senang kalau kalian putus." Kata Dinda tanpa basa-basi.
"Apa maksudmu Din?" Dina sangat tersinggung dengan kata-kata Dinda. Mereka memang bersahabat, namun apakah harus mencampuri masalah perasaan cinta?
"Toni bukan pria baik." Kata Dinda singkat.
"Oh ya? Trus... suamimu itu apa lebih baik dari Toni?" Dengus Dina tidak mau kalah.
"Sebelum terlalu jauh Din... kamu harus pikirkan hubungan mu sebelum datang penyesalan." Dinda berusaha meyakinkan sahabatnya. Ia tidak ingin sahabatnya mengalami masalah buruk seperti dirinya.
"Dinda... harusnya nasehat itu untuk diri mu sendiri. Kau tahu bagaimana tingkah Fariz. Tapi kamu tetap memutuskan menikahinya? Aku sebagai sahabat mu sudah berulang kali menasehati mu bukan? Ku kira kamu mau dengar, ternyata kamu ga nganggap aku sahabat kan? Aku menyesal datang ke sini. Lebih baik aku pulang saja." Dina beranjak pergi ia sangat terluka dengan nasehat Dinda untuk memutuskan Toni.
Hubungan Dina dengan Toni baru hitungan minggu. Ia memang belum mengenal baik pria itu. Namun ia merasa Toni adalah pria yang cukup lembut dan perhatian terhadapnya. Dina segera memesan mobil on line dan menjauh pergi dari rumah Fariz. Sampai ia lupa berpamitan pada Toni.
__ADS_1
Dina berusaha menghubungi Toni untuk sekedar minta maaf, beberapa kali ia berusaha menghubungi namun tak juga mendapatkan jawaban darinya. Dina memutuskan untuk kembali ke rumah Fariz.
"Pak putar balik ke alamat tadi. Ada yang tertinggal." Kata Dina beralasan.
"Tunggu sebentar ya pak. Saya hanya lima menit saja. Nanti saya tambahi ongkosnya." Dina masuk ke dalam rumah Fariz yang masih cukup ramai. Keluarga besar Fariz masih banyak yang belum pulang, meskipun acara mereka sudah selesai.
Dina bertanya pada salah satu asisten rumah tangga menanyakan keberadaan Toni.
"Sepertinya tadi di taman belakang." Asisten rumah tangga itu menunjuk pintu belakang.
"Oh iya. Trimakasih. Saya akan cari sendiri." Dina cepat-cepat berjalan menuju taman. Ia merasa tidak enak membiarkan sopir mobil on line menunggunya terlalu lama.
Saat ia tiba di taman belakang, alangkah terkejutnya Dina. Semula ia meragukan penglihatannya. Seketika seberkas kabut menutup matanya. Air matanya tumpah seketika.
"Dinda !!! Apa yang kamu lakukan!" Teriak Dina histeRiz. Ia sama sekali tidak menyangka sahabatnya sendiri ternyata menghianati nya.
Dinda sangat syok melihat Dina teriak-teriak histeRiz. Apa lagi mulai ada beberapa orang yang mulai berdatangan. Mencoba mencari tahu kegaduhan yang terjadi di taman belakang.
Dinda yang semula lega melihat kedatangan Dina yang telah menyelamatkannya dari tindakan buruk Toni. Namun saat melihat ekspresi marah dari sahabatnya, langsung muncul firasat buruk.
"Dina... ini, tidak seperti yang kau lihat. Aku akan jelaskan pada mu. Dina, aku masih sahabatmu seperti dulu. Dina... Dina... aku jelasin dulu!" Dinda berusaha menahan sahabatnya, namun Dina segera menepis tangan Dinda yang mencoba menahannya.
Dengan deraian air mata, Dina buru-buru pergi meninggalkan rumah Fariz. Dinda berusaha mengejar sahabatnya. Hingga mereka sampai di pintu gerbang.
"Dina... dengarkan penjelasanku !" Dinda mengiba. Ia tidak ingin sahabatnya sampai salah paham.
"Apa yang ingin kamu jelaskan? Sekarang aku tahu seperti apa kamu sebenarnya. Ini kan alasanmu menyuruhku memutuskan Toni? Supaya kamu bisa memilikinya juga kan?" Tuding Dina dengan amarah yang meluap- luap.
"Dina... Toni berusaha bertindak tak senonoh pada ku. Untung kamu datang tepat waktu menyelamatkan aku." Kata Dinda berbinar penuh rasa syukur dan trimakasih pada sahabatnya. Namun respon tak terduga ia terima dari Dina sahabatnya.
__ADS_1
"Dinda, jangan harap aku mau percaya pada mu. Kamu seperti duri dalam daging ku. Ku kira kamu sahabat terbaik ku. Ternyata kamu seperti ular, rakus. Kalau ini yang kamu mau, aku putusin Toni. Ambil untuk mu, supaya kamu puas. Aku tidak akan mengambil bekasmu!"
Dina langsung berlalu pergi. Ia pergi dengan rasa sakit hati dan kecewa pada Dinda yang sekarang menjadi mantan sahabat yang telah menusuknya dari belakang. Bagaimana bisa, Dinda yang selama ini dikenal baik telah merayu kekasihnya. Dina sangat kecewa, dia bersumpah tidak akan berteman dengan Dinda selamanya.
Dinda ditinggalkan dalam keadaan yang hancur-sehancur- hancurnya. Bagaimana bisa semua berbalik pada dirinya? Ia ingin menyelamatkan Dina dari rayuan pria tak bermoral bernama Toni. Namun malah ia kehilangan sahabat terbaiknya karena kesalah pahaman? Ia pun menangis teRizak-isak.
Dinda diajak masuk oleh kerabat dekat Pak Rahman. Saat mereka tiba di ruang tamu, nampak beberapa pria menyeret paksa Toni. Mereka mendorong Toni hingga menimpa Dinda. Membuat Dinda yang tidak siap jatuh tersungkur. Toni dan Dina segera bangkit berdiri.
"Jelaskan Toni, apa yang barusan kamu lakukan dengan mantu ku?" Teriak pak Rahman nyaring.
"Maaf Om Rahman, aku hanya merasa kasihan pada Dinda." Kata Toni pelan sambil menundukkan wajahnya. Ia takut melihat amarah pamannya yang meledak.
"Kasihan? Apa maksud mu?" Om Rahman terlihat semakin emosi.
"Dinda mengeluh pada ku. Ia merasa dipaksa menikah dengan Fariz yang cacat."
"Plakkkk"
Om Rahman menampar pipi keponakannya, melampiaskan emosi. Meninggalkan jejak merah di pipi Toni. Ia tidak rela, siapa pun mengatakan hal buruk mengenai anak satu-satunya. Apa lagi menyangkut kelumpuhannya.
"Toni... selama ini kamu sudah om anggap sebagai anak om sendiri. Inikah balasannya? Kamu menghianati kakakmu Fariz?" Om Rahman mengetatkan gerahamnya menahan emosi.
"Maafkan aku Om. Dinda merayuku. Aku pria biasa Om. Beberapa kali mungkin aku bisa menolaknya, namun ia terus saja merayu ku." Fariz tertunduk, sandiwaranya benar-benar hebat. Membuat Dinda muak mendengarnya.
"Tidak... tidak seperti itu kejadiannya Om." Dinda berusaha membela diri.
"Diam... aku tidak menanyai mu!" Hardik Om Rahman yang seketika mendirikan bulu tengkuk Dinda. Selama ini om Rahman tidak pernah sekalipun marah padanya. Ini kali pertama Dinda melihat amarah om Rahman. Hatinya langsung menjerit sakit.
"Saya minta semua pulang. Aku akan selesaikan masalah keluarga ku sendiri." Om Rahman berlalu pergi masuk ke kamarnya. Tak berapa lama, satu persatu keluarganya pulang. Mereka merasa segan pada om Rahman yang merupakan keluarga terkaya dengan jabatan dipemerintahan yang cukup berpengaruh.
__ADS_1
Saat semua keluarganya telah meninggalkan rumahnya, om Rahman dan tante Sita keluar dari kamarnya. Mereka langsung memanggil Dinda untuk masuk ke ruang kerja om Rahman.