Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Kesal


__ADS_3

Dinda memutuskan pulang ke rumah. Ia tidak nyaman kembali ke hotel, karena banyak kenangan manisnya bersama Raphael. Hatinya masih dalam kondisi marah. Mengapa Raphael membohonginya? Berpura-pura sebagai orang dengan penyakit mental Bipolar. Namun ternyata ia punya identitas ganda, semua itu pasti hanya untuk memuaskan keinginan batinnya. Menikahi dua orang tanpa kesulitan.


Dinda bergegas masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Ia benar-benar kesal. Bagaimana bisa pria itu membohongi nya? Apakah cintanya belum cukup untuk memuaskan Raphael? Mengingat penghianatan suaminya, membuat Dinda kesal setengah mati. Ia mulai mengambil sebuah bantal dan memukulinya. Ia membayangkan bantal itu adalah wajah Raphael.


Setelah puas melampiaskan kekesalannya, Dinda pun tidur telentang. Ia mulai mengingat kembali perjalanan hidupnya. Saat ia kehilangan ayahnya kemudian ibunya menyusul. Ia juga mengingat bagaimana Fariz mengkhianati bahkan setelah mereka menikah, Fariz menyiksanya hingga tulang rusuk nya patah. Belum puas takdir mempermainkannya. Pernikahannya dengan Raphael sebuah pernikahan karena terpaksa. Namun saat ia telah benar-benar jatuh cinta padanya, sekali lagi ia kecewa karena dibohongi.


Raphael sangat marah saat nama Ridho disebut itu hanya sebuah taktiknya saja, agar penyamarannya tidak terbongkar. Memikirkan semua itu membuat Dinda sangat lelah. Perutnya yang seharian tak terisi juga menuntut. Dinda kelaparan setelah meluapkan kemarahannya.


Dinda bangkit dari tempat tidur, ia melangkah ke dapur. Ia merasa segan kalau merepotkan pelayan. Ia bermaksud mengambil makanannya sendiri.


Dinda berjalan ke dapur. Ia melihat tak seorangpun nampak di sana. Ia melihat ada sisa nasi putih. Ia pun membuat nasi goreng dan segelas teh hangat. Semula Dinda berencana makan di dapur, namun karena keadaan yang sunyi mencekam. Ia memilih untuk membawa makanan nya ke dalam kamar.


Didorong rasa lapar, Dinda pun dengan cepat menghabiskan sepiring nasi goreng.


Selesai makan ia bersantai di sofa. Ia memeriksa ponselnya yang sengaja dimatikannya saat ia tadi pulang dari rumah sakit. Dinda mulai mempertimbangkan, apakah ia perlu menyalakan ponselnya atau tidak. Akhirnya ia memilih untuk membiarkannya saja. Karena ia sedang kesal dengan Raphael, ia tidak ingin melihat fotonya di layar ponselnya ataupun menerima panggilan teleponnya.


Dinda mengganti bajunya dengan baju tidur. Ia berencana untuk segera tidur. Setidaknya ia bisa melupakan kebohongan suaminya. Kalaupun ia benar-benar mencintainya, Raphael harus nya dengan gampang datang mencarinya. Bukannya enak-enak kan berduaan terus bersama Rossa, si wanita genit itu.


Dinda sudah merebahkan tubuhnya hendak tidur, saat pintu kamarnya diketuk dari luar. Seketika perasaan bahagia menyusup dalam hatinya. Ia sudah membayangkan bahwa Raphael merasa tidak nyaman dan memilih untuk pulang menemuinya.

__ADS_1


Dinda seketika kecewa saat membukakan pintu, di depannya berdiri seorang pelayan. "Nyonya, ada telephon dari Tuan." Sang pelayan menyodorkan ponsel padanya. Dengan terpaksa Dinda mengambilnya.


"Hallo. ..," jawab Dinda dengan kesal. Saat ini yang diinginkan nya, Raphael pulang menemuinya.


"Honey ... kenapa hp mu tidak bisa dihubungi?" Tanya Raphael dengan nada cemas.


"Tadi lowbat, ya udah telephon ke nomor ku saja." Dinda segera mematikan panggilan telepon suaminya. Ia merasa tidak nyaman memakai hp pelayan yang belum dikenalnya. Pelayan itupun dengan setia menungguinya dari tadi.


Setelah berbasa-basi mengucapkan terimakasih, Dinda masuk ke dalam kamarnya. Dinda mengambil Hp dari atas malas dan segera menyalakannya. Ia menghela nafas dalam-dalam. Tak berapa lama sebuah panggilan masuk dari suami tercintanya.


"Honey kenapa tidak menghubungiku sama sekali? Bahkan hp sampai kamu matikan?" Pertanyaan menuntut Raphael membangkitkan kekesalan Dinda.


"Buat apa aku menghubungimu Mas? Bukankah Mas lagi di luar negeri dan sangat sibuk?" Dinda berusaha menyindir Raphael. Ya bagaiman ia tidak kesal? Raphael membohonginya. Ia bilang pergi keluar negeri karena ada masalah mendesak, padahal ia sibuk dengan wanita lain yang saat ini diperjuangkan untuk mendapat restu dari ibunya. Sementara dirinya hanyalah wanita simpanan yang bahkan tidak pernah diperkenalkan dengan mertuanya. Dinda mendesah miris.


"Cepat pulang!"


Hanya kata itu yang berhasil Dinda ucapkan. Ia masih sangat kesal. Bagaimana malam ini ia bisa tidur tenang, sementara suaminya dalam pelukan wanita lain?


"Honey kita vc ya... aku kangen." Raphael mengganti mode telepon menjadi Vidio call. Dinda sudah deg-degan bagaimana kalau wanita itu sedang bersama Raphael.

__ADS_1


Terpaksa Dinda menerima permintaan panggilan Vidio Raphael. Ia berusaha memindai keberadaan wanita ganjen di kamar Raphael.


"Hon... mau lihat kamar ku ya. Ini....," Raphael mengarah kan kameranya keseluruhan penjuru kamarnya. Akhirnya Dinda bisa bernafas lega. Setidaknya pria disampingnya aman, terjauh dari wanita itu. Dinda pun tersenyum puas.


"Mas... kamarnya besar ya," Dinda menyalurkan kelegaannya dengan senyuman termanisnya.


"Ya... kamarnya besar tapi dingin," kerling Raphael menggoda Dinda. Jujur Raphael merasa kesepian tanpa Dinda di sampingnya. Ia ingin selalu berada di dekat Dinda. Raphael ingin memeluk Dinda dan mengajak lembur istrinya semalaman. Seringaian penuh arti tersungging di bibir Raphael. Ia membulatkan tekad segera menyelesaikan masalahnya di negeri kanguru itu lebih cepat.


"Kenapa Mas gak ajak aku ke sana?" Tanya Dinda manja. Sejak ia mendapatkan perlakuan manja Raphael Dinda kehilangan sikapnya yang dahulu. Ia bukan lagi wanita yang berfikir rasional dan tenang. Namun sebaliknya ia sekarang kekanak-kanakan, posesif, cemburuan dan bertindak sembrono. Ia tidak bisa lagi mengontrol perkataannya sehingga ia terkesan genit kepada suaminya.


"Mas di sini sebentar saja. Setelah urusan selesai, mas langsung pulang. Honey dah kangen mas ya? Kangen apanya?"


Raphael sengaja menggoda istrinya. Ia senang melihat pipi Dinda yang mulai merona.


"Udah malam, Mas gak ngantuk ya?" Dinda mengalihkan pembicaraan. Saat ia melihat suaminya yang tidur bertelanjang dada. Seketika ia merasakan rindu untuk merasakan pelukan dada bidang itu.


"Di sini sudah lewat tengah malam, ehmm... jam 2. Mas perlu olah raga supaya lelah dan mengantuk." Raphael mengucak rambutnya yang tercukur rapi.


"Malam-malam kok olah raga. Gak sehat," celetuk Dinda spontan.

__ADS_1


"Olah raga itu Hon.... yang menguras keringat tapi bikin ketagihan." Lagi-lagi Raphael menggoda istrinya. Ia pun merasakan perubahan dalam dirinya. Sejak penyatuan tubuh mereka di malam pertama dan mendapati kalau istrinya masih perawan telah mengubahnya. Cara pandang nya terhadap wanita sangat berbeda. Dinda adalah satu-satunya wanita yang sangat dicintainya. Ia jadi bucin karena Dinda.


"Honey.... Mas ingin sekali cepat pulang dan memelukmu. Nanti saat pulang, Mas pingin langsung tiga ronde, Honey gak keberatan kan?" Tanya Raphael merayu..


__ADS_2