Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Cinta oh cinta


__ADS_3

"Apakah ini tanda darah perawan?" Seketika melintas banyak pikiran berkecamuk dalam benaknya.


Ya... walaupun Raphael belum pernah berhubungan badan dengan wanita. Ia punya keyakinan kalau ini kali pertama juga bagi Dinda berhubungan badan. Berarti malam itu tidak terjadi apapun diantara mereka. Juga sekalipun Dinda sudah menikah, ia tidak diapa-apakan suami jahatnya itu.


Senyuman bahagia mengembang di bibir Raphael. Mendapat hadiah yang luar biasa dari Dinda adalah sebuah surprise yang tidak pernah dibayangkannya. Raphael mengetuk pintu kamar mandi.


Dinda yang kebetulan sudah menyelesaikan mandinya segera membuka pintu. Ia bergegas hendak keluar, namun Raphael menangkap tangannya dan menariknya ikut masuk kembali. "Tolong mandiin aku" bisik Raphael menggoda. Dinda dengan terpaksa menuruti kemauan Raphael.


....


"Dinda... , ayo Makan dulu!" Bisik lembut suara maskulin menerobos telinga Dinda.


Dinda mengucak mata, ia melihat pria dingin itu tersenyum lembut kepada nya. Ada sebuah troli makanan terletak di samping tempat tidur. Pria itu membelai rambutnya dengan sangat lembut. "Ayo makanlah! Supaya ada tenaga untuk lembur!" Kata-kata rayuan meluncur manis dari bibir tebal milik si pria.


Dinda bertanya-tanya dalam hati. Apakah Raphael telah berubah menjadi Ridho? Karena pria itu sekarang tampak sangat lembut padanya.


Dinda mengamati keadaannya yang masih sangat kusut. Juga badannya masih polos.


"A... aku mandi dulu." Dinda buru-buru bangkit dari tidurnya dan hendak berlari ke kamar mandi. Namun rasa nyeri seketika menyerang bagian intimnya.


"Ah .... aduh!" Dinda terhenti.


Raphael buru-buru membopongnya, membawa Dinda ke kamar mandi. Ia juga menyiapkan air hangat dalam bathtub sebelum menurunkan Dinda ke dalamnya. Perlakuan Raphael sangat lembut, membuat Dinda tersanjung.


"Apakah luka operasi mu masih sakit? Aku harus memecat dokter yang tidak becus merawat mu!"


Kata-kata Raphael membuat Dinda terkejut. Dari mana Raphael tahu ia operasi? Karena penanganan operasi sangat canggih. Bahkan tidak menimbulkan bekas yang berarti. Dinda menatap Raphael penuh tanda tanya.


"Kamu tahu kan, aku punya banyak uang. Untuk mendapat informasi seperti itu sangat mudah buat ku. Aku pun bisa dengan mudah mengganti dokter yang tidak kompeten itu!" Gerutu Raphael sambil menuangkan sabun cair ke dalam bathtub.


"Bukan bekas luka, tapi itu..." wajah Dinda bersemu merah. Ia sangat malu membayangkan kejadian tadi pagi. Pria yang dikenalnya sebagai pria aneh berkepribadian ganda, dingin dan sangat arogan, ternyata bisa lembut dan bisa memuaskannya.

__ADS_1


"Yang mana? Sini ku coba lihat! Kalau parah, biar ku panggil dokter untuk datang ke sini!" Raphael meraba kaki Dinda. Ia pikir mungkin kaki Dinda keseleo.


"Bukan! Sudah biarkan aku mandi sendiri. Aku malu diliatin terus." Dinda mengerucutkan bibirnya. Ia kesal karena Raphael tidak mengerti maksudnya. Ia kan malu kalau harus mengatakan dengan gamblang bahwa bagian intimnya yang sakit.


Raphael dengan patuh keluar dari kamar mandi. Ia menghubungi dokter pribadinya.


"Hallo bro... ku dengar kamu sudah nikah ya?" Seseorang menjawab telephon Raphael dan langsung mencecarnya dengan pertanyaan.


"Iya. Nikah sederhana saja." Jawab Raphael jengah.


"Gimana bro sudah belah duren?" Lagi-lagi pertanyaan yang bikin kepala Raphael ingin pecah. Bukannya sahabatnya itu tahu kalau ia tidak suka durian? Pastinya gak ada acara makan durian.


Pria diseberang telephon tiba-tiba tertawa.


"Hahaha bro... sorry baru inget kamu kan orang Melbourne. Jadi wajar saja gak tahu belah duren. Hahaha..."


"Rendy... aku tidak punya banyak waktu. Aku lagi ada masalah serius." Raphael menurunkan intonasi suaranya. Namun lawan bicaranya tahu kalau ini bukan waktu bercanda.


Sejenak Raphael terdiam.


"Begini, waktu aku melakukan hubungan badan dengan istri ku. Dia berdarah, terus dia mengeluh sakit. Apakah itu berbahaya?" Tanya Raphael polos.


Rendy diseberang sedang membekap mulutnya menahan tawa. Bagaimana bisa orang secerdas Raphael begitu polosnya. Rendy tidak berani terang-terangan menertawakan sahabatnya. Karena ia tahu bagaimana sadisnya pria itu saat tersinggung. Rendy menata suaranya, agar terdengar profesional. Apalagi ia tidak ingin kehilangan karirnya karena menyinggung Raphael.


"Darahnya hanya keluar sedikit, terasa sakit untuk berjalan? Dan itu setelah melakukan pertama kali hubungan badan?"


Pertanyaan Rendy membuat Raphael tercengang. Ternyata Rendy bukan hanya dokter spesialis penyakit dalam. Namun ia juga punya kemampuan meramal? Raphael sudah mulai memikirkan sebuah jabatan baru untuk sahabatnya. Ia pasti akan mempromosikan nya menjadi direktur utama rumah sakitnya.


"Ya... kamu benar." Raphael menyerah pada kemampuan hebat sahabatnya.


"Diagnosa awal, nyonya Raphael Danuarta telah kehilangan keperawanannya." Raphael sengaja menjeda perkataannya untuk membuat sahabatnya jengkel.

__ADS_1


"Trus, rasa sakit yang dirasakan itu apakah berbahaya?" Tanya Raphael penasaran.


"Tidak... itu perlahan-lahan akan hilang sendiri. Tips nya melakukannya mesti hati-hati. Sakitnya akan hilang kalau sering melakukan hubungan badan."


"Oh ok. Trimakasih infonya." Raphael segera menutup telephon saat melihat Dinda keluar dari kamar mandi.


Rendy hanya geleng-geleng kepala. Sahabatnya itu memang penuh kejutan.


"Dinda... ayo kita masuk lagi." Raphael membimbing Dinda masuk kembali ke kamar mandi.


"Aku sudah selesai" protes Dinda, menolak ajakan Raphael.


"Bayi cantik ku masih bau." Refleks Dinda mengangkat tangan mencoba mencium ketiaknya. Wangi.


"Aku mau memandikan bayi cantikku." Raphael segera membuka jubah mandi Dinda. Pemandangan menggoda segera terpampang di depan matanya.


Dinda berusaha menutupi bagian sensitif nya. Raphael hanya tersenyum melihat kelakuan Dinda. Toh ia sudah memindai semua milik Dinda dan sebentar ia akan melakukannya lagi.


"El... aku masih sakit..." desis Dinda ngeri. Ia takut membayangkan rasa sakit yang akan menyerang tubuh bagian dalamnya.


"Aku sudah konsultasi sama dokter. Ini pun cara pengobatan yang direkomendasikannya." Raphael sudah polos saat ia mendekati Dinda dengan bersemangat.


Seketika pipi Dinda dipenuhi bias merona. Pemandangan itu dilihat Raphael. Ia terpesona pada kecantikan Dinda.


Raphael menyentuh pipi merona Dinda. "Kamu cantik dan sempurna". Bisik Raphael lembut.


Sentuhan jari Raphael di permukaan tulang punggung Dinda memberikan sensasi geli. Siang itu mereka kembali bergulat menyatukan raga. Kamar mandi menjadi saksi keintiman mereka. Hingga akhirnya puncak kenikmatan berhasil mereka daki bersama. Merekapun mengakhiri dengan mandi bersama.


Acara memandikan bayi cantik ternyata menguras tenaga.


****""""""******"

__ADS_1


Happy Valentine ya. Yukk tunjukkan cintamu dengan menulis di kolom komentar ya. Kalau mau kasih hadiah buat author jangan ragu-ragu. Author akan menerimanya dengan senang hati. Di momen penuh cinta author mau kasih bocoran. "Raphael saudara kembar Ridho, ia lebih atletis, lebih kaya dari saudara kembarnya. Namun ia punya rahasia terpendam yang akan mempengaruhi hubungan percintaannya." Hadehhhh nih enaknya Dinda dijodohin sama Ridho apa Raphael ya? atau dua-duanya ya. ...


__ADS_2