
Dinda menekan dadanya. Rasa nyeri semakin membuatnya tidak nyaman. Rasa sakit yang terasa menyengat membuatnya kehilangan kesadaran.
Imah yang melihatnya menjadi kebingungan. Ia memanggil-manggil nama Dinda.
"Mbak Dinda.... Mbak Dinda... sadar Mbak...."
Imah berusaha menyadarkan Dinda dari pingsannya. Ia memegang dahi Dinda. Demamnya cukup tinggi. Imah menggambil kain dan membasahinya dengan air. Segera ditempelkannya ke dahi Dinda.
Dalam pingsannya, Dinda terus mengigau dan mengaduh. Imah tidak bisa menahan air matanya, yang segera dihapusnya dengan ujung lengan bajunya. Dengan mengandalkan kemampuannya memijat. Imah segera melumuri tangan dan kaki majikan barunya dan memijatnya dengan sangat hati-hati.
Ada bagian kaki Dinda yang terasa hangat. Mungkin ada yang keseleo. Imah memberikan pijatan ekstra di bagian kaki yang terasa lebih hangat.
Imah membuka gaun tidur Dinda dengan hati-hati. Ia merasa ada yang tidak beres pada tulang dada Dinda. Dengan ekstra hati-hati ia mulai mengurutnya. Benar saja, ia mendapati ada sebuah tulang rusuk yang menonjol.
Kondisi seperti itu diluar kemampuannya. Mesti dioperasi agar tulang rusuk Dinda bisa disembuhkan. Dinda memutuskan untuk mengompresnya. Seandainya ia bisa ke dapur tentunya ia akan mengambil es batu. Namun karena aksesnya dibatasi dan tidak boleh berkomunikasi dengan pembantu yang lain, terpaksa hanya memakai air kran.
Beberapa kali Imah mesti membasahi kain kompres karena sudah terlalu panas. Imah jadi kuatir kalau-kalau keadaan Dinda makin memburuk.
Beberapa kali ia melihat ke arah jam. Baru jam sebelas. Masih sangat lama menunggu nyonya Sita kembali dari kantor. Ia pun sengaja mengeluh, supaya majikannya bisa mendengarnya.
"Ya Tuhan, bagaimana ini. Mbak Dinda tidak kunjung siuman. Bagaimana kalau sampai mati? Pasti aku yang disalahkan."
Imah pun berjalan hilir mudik. Menunjukkan kekuatirannya. Saat ini yang bisa dilakukannya hanya mengganti kompres dan terus berusaha membangunkan Dinda.
Di tempat lain, tante Sita sedang mengamati CCTV melalui layar handphonenya. Ia pun menjadi cemas. Pada saat jam makan siang ia memutuskan untuk pulang ke rumah.
Saat Nyonya Sita sampai di rumah, ia disambut oleh dua orang pembantunya.
"Selamat siang nyonya, apakah ada yang tertinggal? Apakah Nyonya akan makan siang di rumah? kami akan segera siapkan makanannya."
__ADS_1
Tanya Bik Darmi kelabakan. Tidak biasanya Nyonya Sita ataupun tuan Rahman pulang siang. Apalagi tadi, ia hanya masak sedikit dan itupun telah dihabiskan oleh Toni dan Faris sebelum mereka pergi.
"Tidak Bik, aku hanya mau lihat keadaan Dinda." Kata nyonya Sita tergesa-gesa dan segera meninggalkan Bik Darmi dan pak Min yang saling pandang kebingungan.
Nyonya Sita bergegas menuju kamar Dinda.
Kedatangannya membuat Imah sangat lega.
"Bantu aku membopongnya keluar!" Perintah nyonya Sita pada Imah. Tanpa bertanya, Imah melakukan perintah nyonya Sita.
Mereka membopong tubuh Dinda yang kurus tanpa kesulitan. Dinda dinaikkan ke dalam mobil.
"Imah, kamu ikut. Kamu yang menjaga Dinda di rumah sakit nanti!"
Nyonya Sita segera melajukan mobilnya ke rumah sakit.
"Di rumah sakit, kamu harus bilang kalau Dinda temanmu dan dia adalah seorang pembantu . Dia terluka saat terpeleset dari tangga rumah majikannya yang kosong dan meminta pertolongan mu. Kamu meminta ijin padaku untuk membawa Dinda ke rumah sakit dan aku menawarkan diri untuk membantu kalian. Ingat, jangan buat kesalahan. Kalau sampai rumah sakit curiga dan melibatkan polisi, kamu yang akan dipenjara. Imah... kamu mengerti?"
"Iya nyonya, saya akan melakukannya." Kata Imah pelan.
Imah membelai rambut Dinda, ada kelegaan yang ia rasakan. Akhirnya Dinda bisa dibawa kerumah sakit untuk berobat. Ada harapan Dinda bisa cepat sembuh.
"Mbak Dinda pasti cepat sembuh. Dan setelah sembuh nanti segera balas perbuatan mas Fariz," bisik nya dalam hati.
Dinda dibawa ke UGD, setelah beberapa pemeriksaan dan hasil rontgen didapati sebuah tulang rusuk Dinda patah dan harus operasi. Nyonya Sita menandatangani persetujuan operasi.
Operasi baru bisa dilaksanakan dua jam lagi. Setelah nyonya Sita menyelesaikan administrasi rumah sakit, ia segera kembali ke kantor. Dan menyuruh Imah menjaga Dinda dengan baik.
Beberapa saat setelah kepergian nyonya Sita. Datang seorang pasien anak kecil yang diantarkan ibunya.
__ADS_1
"Dokter... dokter tolong anak saya. Kakinya tersiram air panas."
Teriak seorang ibu sambil menggendong anak laki-lakinya yang tidak berhenti menangis.
Dokter jaga segera membantu ibu itu menurunkan anaknya, dan membaringkannya ke ranjang. Namun anak itu langsung bangkit dari tidurnya. Ia berlari menjauhi dokter yang membantunya.
"Aku tidak mau disuntik... jangan suntik aku. Aku sudah sembuh. Kaki ku sudah sembuh..!" Kata si anak kecil sambil terus menangis menahan rasa sakit.
Anak kecil itu terus menghindari kejaran sang ibu dan dua orang dokter. UGD seketika menjadi seperti taman bermain. Dimana seorang anak kecil dikejar-kejar oleh tiga orang dewasa.
"Dokter hanya mau kasih air dingin, supaya lukanya tidak sakit." Bujuk sang dokter.
"Riki... kamu sudah janji sama mbak Dinda mau jadi anak yang penurut. Bagaimana kalau mbak Dinda liat kamu seperti ini?" Kata sang ibu.
"Mbak Dinda tidak sayang Riki, ia pergi ninggalin Riki." Kata anak kecil itu penuh kekecewaan.
"Siapa bilang mbak Dinda gak sayang sama Riki, nanti kalau mbak Dinda pulang, ia pasti bawain mainan yang sangat banyak buat Riki. Asal Riki mau cepat diobati sama pak dokter. Riki cepat sembuh dan cepat bertemu mbak Dinda." Bujuk sang ibu.
Riki kelihatan mengendorkan kewaspadaannya. Dua orang dokter segera mendekatinya dan berniat menangkapnya. Namun Riki segera menyadari kedatangan dokter itu dan segera berlari menjauh. Hingga ia berlari dekat Imah.
Riki mengenali orang yang terbaring di ranjang. "Mbak Dinda... " bisik nya dalam hati. Ia segera memperhatikan Imah yang juga memperhatikan nya. Dalam pikiran Riki, apakah wanita seumuran mbak Dinda ini yang selama ini membawa kakaknya pergi. Ia pun terdiam tanpa ekspresi.
Imah jadi kebingungan melihat anak kecil di depannya. Ada keinginan hatinya untuk membantu menangkapnya. Namun melihat ekspresi aneh saat anak kecil itu memandangnya ia jadi ragu.
"Hah... akhirnya ketangkap juga." Kata salah satu dokter dengan perasaan lega. Riki tertangkap tanpa perlawanan, bahkan saat ia dibopong menuju bangsalnya Riki terdiam seperti patung. Sesekali ia mencuri pandang pada Imah dan gadis yang terbaring di ranjang.
Tidak memerlukan waktu lama, dokter telah selesai merawat luka Riki.
"Lukanya tidak terlalu serius, untuk sementara jangan kena air supaya lukanya tidak infeksi. Ini saya resep kan obat salep, nanti ditebus di apotik." Kata dokter sambil menyerahkan selembar kertas pada Bu Inayah.
__ADS_1
"Trimakasih dok... maaf anak saya telah merepotkan." Bu Inayah menggandeng tangan Riki. Belum sempat mereka keluar dari ruang UGD, tiba-tiba Riki jatuh pingsan.