
Siang hari yang telah ditentukan. Dinda sudah didandani dengan kebaya putih dan sanggul berhias untaian melati putih. Wajahnya pun dipoles dengan riasan natural membuatnya terlihat semakin cantik.
Hanya beberapa orang saja yang terlihat hadir. Ruang tamu keluarga pak Rahman sedikit dihiasi rangkaian bunga. Di tengah-tengah ruangan disiapkan sebuah meja dengan berbagai bingkisan tergeletak di atasnya.
Pak Rahman tersenyum lebar menyambut kedatangan Dinda yang dituntun bu Sita. Dinda menguatkan hati, untuk menerima pernikahan ini dengan lapang dada. Ia bertekat tidak akan ada air mata yang menetes.
Seorang penghulu sudah menunggu. Dia tampak sedikit bingung, bagaimana tidak? Pak Rahman seorang ASN juga istrinya seorang guru SMA negeri tervaforit di Jakarta. Bagaimana bisa mereka menggelar pernikahan anaknya hanya dengan acara sesederhana ini?
Saat Fariz sang pengantin pria masuk ke ruangan dengan sebuah kursi roda dan dibantu Toni saudaranya. Tahulah penghulu itu, kalau acara pernikahan sederhana ini mungkin karena keadaan putra pak Rahman yang cacat.
Fariz nampak pucat. Ketampanannya tak berkurang sedikitpun. Tidak ada bekas luka di wajah ataupun tangannya. Membuat Dinda meragukan apakah benar Fariz lumpuh? Ataukah jangan-jangan ini sandiwara Fariz?
Dinda tertunduk, ia hanya bisa berdoa dalam hati. Berharap keputusannya menikah dengan Fariz bukanlah sebuah kesalahan. Harapannya, Fariz akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan mencintainya.
"Saya terima nikahnya Dinda Maharani binti almarhum Hasan dengan mas kawin dua puluh juta rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Sah.."
"Sah !" sahut tamu undangan yang menjadi saksi ijab kabul Fariz dan Dinda.
Tamu undangan yang tidak lebih dari dua puluh orang dan merupakan keluarga dekat Om Rahman dan tante Sita. Mereka memberi ucapan selamat kepada Fariz dan Dinda.
Ini bukan pernikahan impian Dinda. Ia pernah membayangkan sebuah pernikahan yang ramai dan dihadiri seluruh keluarganya. Sebuah pernikahan dengan pria yang dicintainya. Namun, ini semua sudah terlanjur terjadi. Ini juga keputusannya. Ia telah menyiapkan diri menerima resiko dari keputusannya ini.
"Bantu aku kembali ke kamar. Aku capek !" Bisik Fariz memberitahu Dinda.
__ADS_1
Sesaat Dinda tergagap. Apakah ia harus melakukan ini? Menghabiskan banyak waktu untuk melayani segala keperluan Fariz? Dinda tersadar, ia telah sah menjadi istri Fariz. Ia harus mengabdi dan menjadi istri yang baik bagi Fariz.
Dinda berpamitan pada tante Sita yang saat itu duduk tidak jauh darinya. Ia pun mendorong kursi roda Fariz dan mengarahkannya ke kamar Fariz yang juga sebentar akan menjadi kamarnya juga.
Dinda sedikit bingung, saat mereka telah berdua saja di dalam kamar. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Kalaupun ia keluar, ia takut ditanya macam-macam oleh kerabat Fariz yang belum juga pulang.
Dengan serba salah, Dinda memilih duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tak disangka siaran televisi menampilkan adegan dewasa. Buru-buru ia ganti ke chanel yang lain. Namun sepertinya sebagian besar siaran tv kabel itu memang hanya berisikan adegan-adegan dewasa. Dinda memilih mematikan tv dan duduk dengan serba salah.
Fariz rupanya memperhatikan tingkah Dinda. Ia menahan senyum.
"Dinda... bantu aku ganti baju. Ambilkan kaos dan celana pendek di lemari." Perintah Fariz lantang.
Dinda melangkah dengan enggan, namun ia melakukan juga perintah Fariz. Baju itu ditaruhnya di pangkuan Fariz.
"Cacat ku ini membuat gerakanku lambat. Bantu aku ganti baju. Aku sudah sah jadi suamimu jadi kau harus menuruti perintah suamimu ini!" Kata Fariz dengan intonasi tegas. Ia tidak mau ada penolakan dari Dinda.
"Sini !!! Syukur-syukur aku masih sudi menikahimu. Kamu sebaiknya berkaca, sadar diri. Kamu seorang wanita murahan yang mau ditiduri pria manapun. Kalau aku berbaik hati menikahimu dan memberikan status terhormat, harusnya kamu berterimakasih pada ku." Teriak Fariz emosi.
Dinda tidak bisa menahan diri. Air matanya seketika tumpah. Dinda bergegas keluar dari kamar Fariz, ia berlari ke halaman belakang. Ia menemukan sebuah semak bunga yang bisa sedikit memberikan privasi baginya.
Dinda merosot dan terduduk di lantai. Hatinya terasa sangat sakit saat mengingat kata-kata Fariz barusan. Ia tidak menyangka kalau ternyata Fariz tidak ada niat baik dalam membuat ikatan pernikahan sakral ini.
Harusnya sepasang pengantin baru sedang dalam masa bahagia. Saling mencurahkan kasih dan cinta pada pasangan. Namun yang dirasakan Dinda saat ini, seakan ia baru menyadari sedang berada dipinggiran lautan api yang siap sedia membakarnya.
Harusnya Dinda tidak menerima ikatan yang dipaksakan ini apapun alasannya. Namun Dinda selalu diingatkan nasehat ibunya. Suami adalah imam yang akan membawanya ke surga. Tidak ada sebuah alasan apapun yang membenarkan saat seorang istri melawan suaminya. Apalagi bermaksud untuk bercerai.
__ADS_1
Air mata Dinda semakin deras mengalir. Inilah awal pembuka dari segala penderitaan yang akan segera dirasakannya. Namun setidaknya ia bisa membalas kebaikan Om Rahman dan tante Sita. Ia pun membuang harapan dan mimpinya untuk bisa bahagia.
"Bapak... Ibu... aku hanya mau jadi anak yang berbakti. Doa kan aku Pak, Bu agar aku kuat menjalani segala cobaan ini." Isakan Dinda semakin memilukan. Ia tidak tahu kemana lagi ia mengadu. Ia hanya ingin melepaskan semua amarah dalam tangisannya.
"Mbak Dinda... kenapa menangis?" Sapa seorang pria yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Dinda.
Dinda mendongakkan kepalanya, memeriksa siapa yang telah menegurnya. Seorang pria tampan berkulit putih menyunggingkan senyum padanya. Ia mengenali pria itu sebagai saudara Fariz. Pria yang mendampingi Fariz saat akad nikah tadi siang.
Dinda hanya menggeleng. Ia tidak ingin berbagi perasaannya pada siapa pun.
"Bisakah membiarkan aku sendiri?" usir Dinda halus. Bagaimana pun pria itu keluarga Fariz.
"Supaya kamu mau lanjutin nangis?" Ledek Toni sarkas. Seketika membuat Dinda mengingat pahitnya kata-kata Fariz padanya barusan.
Dinda tidak ingin memperpanjang obrolannya dengan pria yang dinilainya tidak sopan. Ia bangkit dari duduknya berniat pergi dari tempat itu. Namun Toni menangkap tangannya dan menggenggam jemarinya. Membuat Dinda tergagap dan berusaha melepaskan genggaman tangan Toni. Namun ia kalah kuat, tangan Toni mengenggam erat menahan langkah Dinda.
"Dinda... kamu cantik. Kenapa kamu menikahi pria cacat seperti Fariz?"
"Apa maksudmu?" Tanya Dinda tak habis pikir. Bagaimana bisa Toni menjelekkan saudaranya sendiri?
"Aku tahu kamu terpaksa menikahi Fariz. Apa kamu nanti bisa bahagia menikah pria cacat sepertinya? Aku kawatir kamu akan menyesal seumur hidup. Mungkin kecelakaannya selain membuat kedua kakinya cacat, bisa-bisa anu nya Fariz juga cacat alias impotent..."
Sebelum Toni melanjutkan kata-kata provokasinya, sekuat tenaga Dinda menghempaskan tangannya hingga ia berhasil melepaskan genggaman tangannya. Dinda segera berlari masuk kembali ke dalam rumah. Tak sengaja ia menyenggol pundak seseorang.
"Aduh..." seru seorang gadis.
__ADS_1
Suaranya sangat dikenal Dinda, ia pun memastikan wajah gadis yang barusan ditabraknya. Seketika ia terperangah dalam kejutnya.