Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Pengintip


__ADS_3

Pemilik sepasang mata yang penuh kebencian itu adalah Reni seorang pelayan yang bekerja di tempat Raphael. Reni seorang gadis yang sangat cantik. Tubuhnya yang semampai, rambut panjangnya yang selalu tersanggul rapi dan kulit tubuhnya yang putih mulus menjadikannya sangat menarik. Meskipun hanya dibalut seragam pelayan, ia sangat menggoda. Banyak pria di istana Raphael yang selalu menggoda dan merayunya. Namun tak satupun pria-pria itu yang menarik hatinya. Karena ia telah menetapkan standard tinggi untuk pria nya.


Reni telah menyukai Raphael sejak pertama kali ia bekerja di sana. Selama ini ia sudah berusaha mendekati pria dingin itu, namun sepertinya Raphael tak sedikitpun meliriknya. Bahkan sepertinya pria itu tak pernah menyadari kehadiran Reni yang sangat memujanya.


Reni mulai diam-diam menyelidiki Raphael. Ia mendapati Raphael tidak pernah ada hubungan dengan wanita di luar. Sampai-sampai Reni berkesimpulan kalau Raphael seorang penyuka sejenis. Hatinya mulai bisa menerima ketidak-berdayaan nya memikat Raphael. Namun tiba-tiba ada wanita masuk dalam kehidupan Raphael. Dinda seorang yang terlihat sederhana telah dijadikan istri oleh Raphael. Saat itu hatinya sangat cemburu.


Reni sering memikirkan apa kelebihan wanita itu yang membuat Raphael menikahinya? Setiap mematut dirinya di cermin, ia merasa dirinya lebih cantik dari Dinda. Mengapa Raphael lebih tertarik pada gadis itu?


Bagaimanapun juga Raphael adalah tujuannya saat ini. Tidak ada yang boleh merebut Raphael darinya. Apapun juga akan ia lakukan untuk mengusir wanita itu dari kehidupan Raphael. Senyuman sinis terbayang diujung bibir penuhnya.


Reni mengambil sebuah pajangan kayu dan sengaja menjatuhkannya.


"Pletakkkk..."


Suara benda jatuh menyadarkan Dinda dari tidur pulas nya. Ia mengucak mata dan mengamati keadaan sekitar. Nampak beberapa pelayan sedang sibuk membersihkan rumah. Setelah kesadaran Dinda terkumpul, ia baru ingat semalam ia menunggu Raphael. Apakah pria itu belum pulang? Ataukah sengaja membiarkan ia tertidur di sofa tamu?


Dinda beranjak dari sofa. Sebenarnya ia sangat malu terlihat menyedihkan dihadapan para pelayan Raphael. Saat melangkah, Dinda meminta salah satu orang mengantarkan susu hangat dan roti bakar ke kamarnya.


"Biar aku saja yang menyiapkan sarapan nyonya besar." Reni meminta menggantikan pekerjaan temannya. Walaupun enggan, akhirnya temannya mengijinkan Reni menggantikannya.


Tak berapa lama, Reni sudah selesai menyiapkan sarapan untuk Dinda ada senyuman licik membayang. "Wanita itu akan menerima akibatnya karena telah mengusikku!" geramnya dalam hati.


Reni berjalan dengan percaya diri mengantar makanan itu ke kamar Dinda. Reni mengetuk berkali-kali namun tidak ada jawaban dari dalam. Ia pun membuka pintu kamar Dinda. Tak terlihat Dinda dimanapun. Ia memutuskan meletakkan sarapan di atas meja.


Dengan kesal Reni keluar dari kamar. Ia tidak mungkin berlama-lama menunggu di sana. Bisa-bisa Bu Susi sang kepala pelayan memarahinya. Ia cukup takut dengan wanita paruh baya itu yang tak segan-segan memukuli para pelayan dengan tongkat rotan bila melakukan kesalahan.


Dinda sedang mandi saat Reni mengantarkan sarapannya ke kamar. Dinda buru-buru menyelesaikan mandinya. Ia hanya memakai sepotong handuk menutup tubuhnya. Ia berharap bisa bertemu Raphael untuk mengetahui keadaan keluarga nya. Bagaimanapun hanya mereka yang dia miliki.

__ADS_1


Melihat susu hangat telah diantarkan ke kamar, membuat Dinda bersemangat. Ia meraih gelas dan berniat segera meminumnya. Namun ia dikejutkan dengan deringan hp yang tiba-tiba berbunyi.


Dinda tahu itu pasti telepon dari Raphael. Ia pun buru-buru mencari hp nya. Tanpa sengaja susu hangat di tangannya tumpah membasahi handuknya. Ia kelabakan antara menyelamatkan kulitnya dari sengatan panas atau handuk yang menutupi badannya.


Tak sengaja lilitan handuknya terlepas memperlihatkan tubuhnya yang polos. Membuat mata orang yang sedang mengawasinya melalui kamera CCTV terbelalak. Degup jantung pria itu memicu dua kali lebih cepat. Tanpa sadar pria itu menelan ludahnya yang terasa kering.


Dinda sangat gugup. Ia buru-buru menarik selimut. Ia sangat malu. Wajahnya seketika bersemu merah.


Akhirnya ia bisa meraih hp nya. Panggilan masuk itu ternyata dari Raphael. Buru-buru ia mengangkatnya.


"Hallo..." jawab Dinda.


Beberapa saat tidak terdengar jawaban dari seberang. Dinda masih sabar menunggu. Mungkin Raphael masih sibuk. Padahal di seberang sana Raphael masih berusaha menenangkan dirinya. Setelah melihat kejadian di kamar Dinda, emosi Raphael tak terkontrol. Bagaimanapun ia hanyalah pria biasa. Saat melihat pemandangan indah pasti membangkitkan hayalan aneh.


"Dinda, sekarang juga kamu ke sini. Kita makan bersama. Aku harap kamu tidak makan apapun supaya kamu bisa menghabiskan makanan yang ku pesan!" Panggilan telepon tiba-tiba terputus. Dinda gelagapan. Bagaimana ia bisa menemui Raphael yang tidak ia ketahui di mana. Bahkan pria itu tidak mengatakan apa pun.


"Sopir sudah menunggu di bawah!"


Sekali lagi Dinda tergagap. Ia belum berganti baju, bahkan rambut dan wajahnya belum diapa-apakan. Tanpa pikir panjang, Dinda segera membuka selimut yang menutupi badannya. Ia harus bergegas ganti baju, kalau tidak ingin membuat pria dingin dan arogan itu murka.


Sekali lagi Raphael terbelalak. Ia tidak menyangka pagi-pagi mendapat suguhan pemandangan segar. Dilayar monitor cctv memperlihatkan tubuh Dinda yang polos terbentuk sempurna. Gunung kembar dengan manik merah muda menantang, membuatnya ingin melahapnya. Terlebih diantara sepasang kaki jenjang ada gundukan subur yang ingin sekali dijelajahinya.


Raphael mengucak kepalanya. Ia sudah tidak bisa menahan hasrat nya. Ia segera masuk ke kamar mandi. Menyalakan shower dan membiarkan kepalanya diguyur angin dingin. Padahal tadi ia barusan mandi. Gara-gara pemandangan indah tak terduga, membuatnya harus mendinginkan kepala. Supaya senjatanya yang terkokang bisa terkendali.


Raphael mungkin dikenal sebagai seorang pengusaha muda dengan sikap dingin dan arogan. Bahkan dilingkungan perusahaannya ia dikenal sebagai bos galak. Meskipun ia sangat tampan, dan sering kali menjadi pujaan para wanita ia sangat tertutup. Bahkan sampai menginjak usianya tiga puluh tahun belum pernah sekalipun bercinta. Demikian juga dengan mantan kekasih yang telah mengkhianatinya.


Mungkin baru dengan Dinda ia melakukannya, itupun dilakukannya saat Ia dalam keadaan mabuk.

__ADS_1


Raphael menyelesaikan mandinya saat di rasa senjata pribadinya sudah kembali tertidur.


Ia bergegas berganti baju. Setelah menyisir rambutnya. Ia pun mengambil hp nya dan membuat sebuah panggilan.


"Ambil sampel makanan di kamar nyonya!" Panggilan diakhiri. Nampak dilayar monitor cctv seorang pria berpakaian seragam penjaga memasuki kamar Dinda. Ia mengambil sedikit susu dan sepotong roti, memasukkannya dengan hati-hati ke dalam plastik klip yang sudah disiapkannya.


Setelah pria itu pergi tak berapa lama seorang pelayan mengambil sisa makanan Dinda. Melihat gelas yang berkurang setengah membuat Reni sang pelayan segera mengembangkan senyum puas.


Raphael di depan monitor merasa kesal. Ada penjahat di dalam rumahnya. Namun ia harus memastikan, apakah Reni datang sendiri ataukah ia adalah suruhan musuh-musuh nya? Setelah semua nanti terbukti, ia pasti memberikan hukuman yang pantas.


Sebuah notifikasi pesan masuk di hp Raphael.


"Aku sudah sampai di restoran." Sebuah pesan dari Dinda.


Raphael bergegas turun menuju ke restoran. Di sana nampak Dinda sudah tidak sabar menunggu nya.


Sebuah senyuman kaku menyambut Raphael. Pria itu tidak membalas senyumnya. Kesan dingin dan cuek menguar dari penampilannya yang elegan. Dinda mengerucutkan bibirnya. Apakah pria itu benar-benar suaminya? Bagaimana ia bisa menikahi pahatan es? Seketika berdesir angin dingin di dalam hatinya.


Saat Raphael menghenyakkan pantatnya di kursi. Dua orang pelayan sedang menghidangkan berbagai jenis makanan di meja mereka.


Dinda heran dibuatnya. Bagaimana bisa ia sarapan dengan berbagai menu komplit di depannya. Namun Ia sedikit lega. Untungnya tadi ia tidak minum susu dan makan rotinya, sehingga masih ada cukup ruang untuk makanan yang akan segera dinikmatinya.


Dua orang itu makan dalam diam. Terhanyut dengan fikirannya masing-masing. Raphael kurang minat dengan makanannya. Karena di depannya ada santapan yang lebih memikat. Setiap ia mencuri pandang pada Dinda yang sedang sibuk dengan pikiran sendiri, seketika berkelebat bayangan tubuh polos Dinda.


Raphael terus menggelengkan kepala berusaha mengusir bayangan Dinda yang menggoda. Sampai ia terjaga oleh suara Dinda.


"Maaf kapan aku bisa menemui keluarga ku?" Suara Dinda terdengar sangat hati-hati.

__ADS_1


"Ayo ikut aku, akan ku antar ke keluarga mu!"


__ADS_2