
Dinda membantu mengatur posisi bantal Bu Desy. Ia memastikan mertuanya merasa nyaman saat berbaring. Dinda menantikan mertuanya bercerita. Ia berharap bisa lebih mengenal suaminya melalui cerita Bu Desy. Siapa tahu, alasan Raphael menjadi Ridho terungkap dari cerita Bu Desy nanti.
Sesekali Dinda menyuapkan anggur yang sudah dikupas dan dihilangkan bijinya. Bu Desy memulai ceritanya.
"Umurku sudah tidak muda lagi, tahun ini umurku sudah genap 50 tahun. Aku ingin sekali segera menimang cucu. namun keadaanku saat ini aku tidak tahu Apakah Tuhan masih memberi kesempatan aku melihat cucu-cucuku."
Sebulir air mata merembes di pipi Bu Desy. Dinda melihat kesedihan mertuanya. Ia pun meraih tangan Bu Desi dan menepuknya pelan.
"30 tahun lalu aku melahirkan putera ku di rumah sakit ini. Putraku Ridho besok berulang tahun tepat ke 30. Harusnya aku bisa merayakan ulang tahun nya dengan sebuah acara yang meriah. Namun lihatlah wanita tua ini, terbaring lemah tanpa daya di rumah sakit ini."
Bu Desy merasakan sesak dalam dadanya. Seketika tangisannya tertumpah.
"Hik...hik...hik... aku mungkin tidak punya waktu lagi. Aku sudah lelah. Aku berharap suami ku segera menjemput ku." Tangisan Bu Desy semakin keras.
"Ma... ma... sudah jangan dilanjutkan lagi. Mama akan segera sembuh. Mama harus semangat untuk sembuh, bukankah mama ingin segera menimang cucu? Kalau Dinda nanti punya anak, itu juga cucu mama. Jangan sedih lagi ya ma?!" Dinda berusaha menghibur mama mertua nya.
"Hik...hik... Dinda ... aku ingin sekali engkau yang jadi menantu ku. Aku gak suka sama gadis itu." Bu Desy terisak tak terkendali. Dinda kebingungan.
"Sudah ma.... sudah ma... jangan menangis lagi. Kalau mama menangis, itu akan membuat keadaan mama jadi semakin buruk. Ma... Dinda sudah jadi anak mama kan? Dinda akan berusaha menjadi seorang anak yang baik buat mama. Bahkan Dinda ingin menyayangi mama lebih dari seorang menantu."
Kata-kata menghibur yang Dinda ucapkan, berhasil menenangkan tangisan Bu Desy. Sebuah bentuk rasa sayang terjalin antara Dinda dan Bu Desy. Dinda ingin sekali memeluk wanita yang terbaring lemah di depannya. Namun ia menahan diri. Ia takut membuat Bu Desy menangis kembali.
"Ma... apa yang paling di sukai Ridho? Apakah ada makanan favoritnya semasa kecil?" Dinda bermaksud menggiring percakapan untuk mendapatkan informasi tentang suaminya.
"Ridho sangat suka gula kapas." Bu Desy tersenyum, ia mengingat bagaimana Ridho kecil putranya itu sangat menyukai segala jenis permen. Namun bertolak belakang dengan Raphael yang sangat menyukai buah-buahan. Terlebih buah anggur.
__ADS_1
"Kalau Raphael, ia sangat suka buah anggur."
Saat Bu Desy menyebutkan nama Raphael, seketika jantung Dinda berdetak lebih kencang. Bu Desy menyebutkan nama Raphael. Apakah mungkin Ridho dan Raphael kembar? Hanya itu kemungkinannya.
"Siapa Raphael Ma?" Tanya Dinda memastikan pendengarannya.
"Kembaran Ridho. Selama ini keberadaannya ku tutup rapat-rapat. Namun sekarang mama sangat ingin menemui nya. Mama menyesal telah mengirimnya jauh dan membuat mama kehilangannya." Bu Desy menghela nafas berat. Ada rasa penyesalan yang berkecamuk dalam hatinya.
Sementara itu Dinda terdiam. Ia sangat terkejut dengan informasi yang baru di dengarnya. Jadi, Raphael suaminya bukan Ridho? Berarti apa yang selama ini difikirkan nya mengenai suaminya adalah kesalahan? Kalau ternyata Raphael bukan pria dengan penyakit bipolar, bukan juga seorang pria dengan identitas ganda. Ada rasa lega seketika menyeruak dalam hatinya. Ia harus minta maaf pada suaminya karena telah mencurigainya sedemikian.
"Raphael adalah satu-satunya harapan kami. Menjadi penerus perusahaan Danuarta. Itulah sebabnya, saat ia dan ayahnya mengalami kecelakaan membuat ku membuat keputusan mengirimnya ke luar negeri. Menitipkan nya pada orang asing, agar dirawat sebagai anak angkat. Dinda.... Raphael hilang. Mama tidak bisa menemukan nya kembali. Hik...hik...hik. Mama ingin Raphael kembali. Ia sekarang pasti menjadi pria dewasa yang matang. Apalagi dulu dia anak yang cerdas. Mama sangat kangen pada nya. Kalau Tuhan tidak memberi mama umur panjang. Mama hanya ingin memeluk nya untuk terakhir kali. Mama ingin minta maaf padanya."
Bu Desy terisak sedih. Ia sangat sedih karena kehilangan anak kesayangannya. Ia tidak bisa memungkiri kalau Raphael adalah anak yang lebih diistimewakan dalam keluarga. Dia anak yang mandiri, berprestasi dan punya banyak bakat. Itulah sebabnya, pak Danu ingin agar Raphael yang akan meneruskan perusahaannya kelak. Namun saat ini semua telah berakhir. Menghilangnya Raphael dan hancurnya perusahaan Danuarta membuat Bu Desy merasa kehilangan semuanya. Tidak tersisa sedikitpun peninggalan suami tercintanya.
Dinda terdiam kehilangan kata-kata. Ia ingin sekali mengatakan kalau suaminya adalah Raphael. Namun ia ragu, bagaimana kalau ia salah? Dinda tidak ingin memberi harapan dan seketika mengecewakan Bu Desy. Ia harus memastikan dulu, kalau yang dinikahinya benar-benar adalah Raphael saudara kembar Ridho.
Dinda tidak sabar ingin pulang ke rumah. Memeriksa dokumen-dokumen milik Raphael. Ia ingin segera mengungkap kebenaran Raphael. Apalagi besok adalah hari ulang tahun suaminya, ia ingin memberikan kejutan dengan mempertemukan Raphael dengan mama Desy.
"Dinda... apakah engkau tidak apa-apa menungguiku di sini lama? Apakah suami mu tidak mencari?" tanya Bu Desy membuyarkan lamunan Dinda.
Dinda memeriksa jam, benar dia sudah terlalu lama di sini. Sudah waktunya makan siang.
"Iya Ma... Dinda pulang dulu ya. Mama baik-baik di sini dan cepat sembuh."
Dinda mencium kedua pipi mama Desy setelahnya baru pamitan pulang. Dinda mulai berdebar-debar, ia akan segera mengetahui kebenaran tentang suaminya. Ada rasa bersalah telah berpikiran buruk mengenai suaminya. Namun semuanya akan segera ia buktikan.
__ADS_1
Sebuah panggilan masuk menghentikan langkahnya. Dinda segera mengangkat telepon saat ia mengetahui kalau sang penelepon adalah suami yang sangat dirindukannya.
"Honey... besok Mas pulang. Lagi apa sekarang?" Tanya Raphael menguji kejujuran Dinda. Setelah ia mendapat laporan dari anak buahnya, kalau Dinda lagi-lagi mengunjungi rumah sakit. Membuat Raphael penasaran. Apakah ada yang disembunyikan Dinda dari nya?
"Mas... aku baru saja mengunjungi mama angkat ku di rumah sakit. Kasihan Mas, beliau terkena stroke. Nanti kalau mas sudah pulang aku ingin memperkenalkan Mas dengan beliau."
Raphael diseberang telephon tersenyum lega. Istrinya seorang yang jujur. Ia sangat menghargai itu.
"Mas... bisakah membawakan oleh-oleh buah-buahan?" Pinta Dinda penuh harap.
"Buah apa? Di sini kan semua buah-buahan ada?" Tanya Raphael bingung. Ia tidak suka direpotkan harus membawa oleh-oleh.
"Ehmmm pingin dibawain oleh-oleh dari luar negeri." Kata Dinda ragu.
"Mas gak tahu apa yang honey pingin. Bulan depan aja honey ikut ke luar negeri supaya puas belanja. Gimana?" Tawaran Raphael cukup menarik, namun Dinda ingin satu hal. Ia hanya ingin suaminya membawakan sesuatu untuk nya. Dinda memonyongkan bibirnya ingin menyuarakan isi hatinya.
"Ya udah kalau mas gak mau bawain oleh-oleh. Dinda beli aja sendiri di sini!" Dinda sangat kesal pada suaminya.
"Memangnya Honey pingin dibawain apa?" Pertanyaan Raphael membuat Dinda kesal. Ia tadi sudah ngasih tahu kalau yang dia pingin hanya buah-buahan, apakah itu terlalu sulit dicari?
"Honey... hon..."
"Brukkk....."
"Maaf..." teriak reflek Dinda, saat ia menabrak tubuh seseorang saat ia tidak memperhatikan jalannya. Dinda mengabaikan telepon Raphael. Ia merasa bersalah dan segera membantu orang itu memunguti buah yang jatuh berserak.
__ADS_1
"Maaf saya tidak sengaja. Ini buahnya..." Dinda menyodorkan beberapa buah apel yang tadi dipungutnya. Pria itu menoleh. Kedua pasang mata bersitatap penuh keterkejutan.