
"Dinda maafkan Ibu." Suara pelan Bu Desy mengejutkan Dinda.
"Kenapa Bu Desy tiba-tiba bicara seperti itu? Bu Desy tidak pernah berbuat salah pada Dinda. Malah Dinda yang selama ini mendapat bantuan banyak."
Dinda menggenggam jemari Bu Desy yang terasa sangat dingin. Ia ingin sekali mencium tangan wanita itu. Bagaimanapun ia telah menjadi menantunya, meskipun pernikahannya dengan Raphael tanpa sepengetahuan Bu Desy. Ada rasa penyesalan yang menyergap hati Dinda. Apakah bu Desy akan kembali menerima kekecewaan darinya, seperti yang dialami ibunya?
"Dinda... ibu minta maaf...," lagi-lagi kata-kata permintaan maaf saja yang keluar dari bibir Bu Desy. Membuat Dinda kebingungan.
"Sudah Bu... ibu tidak sepantasnya minta maaf kepada saya." Dinda mencoba menenangkan Bu Desy yang terlihat sangat gelisah.
"Dinda... maafkan ibu...," tangisan Bu Desy akhirnya pecah. Ia tidak bisa menahan dirinya sendiri.
"Sudah Bu... Ibu jangan menangis. Nanti akan memperparah keadaan ibu," hibur Dinda.
Dinda merasa kasihan dengan keadaan Bu Desy yang terlihat kuyu. Matanya cekung. Wajahnya nampak kerutan yang dipaksa karena efek stroke yang dialaminya. Terlihat Bu Desy akan mengatakan sesuatu, namun kata-kata yang keluar hanyalah permintaan maaf nya.
"Bu... kesalahan apa yang harus saya maafkan?" Tanya Dinda mulai prihatin. Ia ingin Bu Desy bisa mengungkapkan isi hatinya agar ia merasa lebih lega.
Susah payah Bu Desy mencoba menghapus air matanya. Tangan kanannya lemah, tidak bisa digerakkan, sementara tangan kirinya terasa nyeri oleh jarum infus yang menempel. Melihat hal itu, Dinda buru-buru mengambilkan tissue dan menghapus air mata Bu Desy. Bu Desy terlihat lebih tenang.
"Dinda... ibu yang menjebak mu malam itu di hotel. Hik...hik...hik. Anak ku yang mengambil kehormatan mu. Hik..hik...hik," sedu sedan Bu Desy kembali terdengar. Nampak wanita itu sangat menyesali apa yang telah dilakukannya.
"Bu Desy, malam itu Dinda tidak kehilangan kehormatan. Mungkin Bu Desy ada alasan tertentu hingga menjebak saya. Namun itu semua hanya masa lalu dan sudah Dinda lupakan. Terlebih saat ini, Dinda sudah menikah dengan pria yang sangat mencintai saya."
Ada rasa perih dalam kata-kata Dinda. Ia tidak mau memberikan beban yang lebih berat pada Bu Desy.
__ADS_1
"Benarkah? engkau tidak marah?"
Dinda menggelengkan kepalanya. Ada perasaan sayang terselip dalam hati Dinda saat melihat Bu Desy. Ia merasa kangen pada ibunya yang telah meninggal. Kalau ada kesempatan, ia ingin sekali merawat Bu Desy.
"Dinda.... ibu ingin sekali menjadikanmu istri Ridho. Tapi anak ku... tidak mau mendengar kan ku." Bu Desy mulai berkeluh. Sebenarnya ia tidak setuju hubungan Ridho dengan Rossa. Gadis matre yang hanya mau uangnya saja. Tanpa mau menerima Ridho apa adanya. Bu Desy pun punya firasat, hancur nya perusahaan pasti karena wanita ganjen itu.
"Bu... Dinda sudah bahagia bersama suami Dinda. Jadi ibu tidak perlu lagi merasa bersalah. Sekarang ibu di sini harus lebih menenangkan diri dan cepat sembuh. Dinda ingin segera memperkenalkan Bu Desy dengan suami Dinda. Makanya Bu Desy harus cepat sembuh ya."
Dinda seketika menyesali perkataannya. Bagaimana nanti jadinya saat Bu Desy bertemu Ridho? Sementara Ridho menjadi orang dengan kepribadian lain yaitu Raphael? Dinda ingin memukul kepalanya sendiri karena kebodohannya. Seketika ingatannya terputar kembali. Pria yang dilihatnya dengan wanita lain itu bukan Raphael. Mereka memang sama persis. Namun ada sesuatu yang asing bagi Dinda.
"Drrrtttt....drrrtttt..." ponsel Dinda bergetar. Dinda buru-buru melihat ponselnya. Saat melihat nama kontak, ia jadi malas mengangkatnya.
"Siapa?" Tanya Bu Desy ingin tahu. "Kalau itu suami mu, tolong speaker. Ibu ingin mendengarnya." Pinta Bu Desy dengan sangat.
Dengan enggan Dinda mengangkat telepon Raphael. Ia harus berpura-pura bahagia, supaya Bu Desy tidak terus-terusan merasa bersalah.
"Honey kata pak Anas, honey lagi di rumah sakit ya?" Tanya Raphael khawatir. Ia takut terjadi sesuatu pada Dinda.
"Iya... tadi rencana mau periksa kehamilan. Namun setelah Dinda pikir, itu terlalu dini." Jawaban Dinda menggantung. Ia sekali lagi menyalahkan mulutnya yang tak bisa mengontrol. Kalau ia terus berbohong, ia akan mendatangkan kesulitan bagi dirinya sendiri.
"Kenapa tidak periksa saja? Siapa tahu sudah positif." Raphael semakin bersemangat. Membuat Dinda buru-buru mematikan speaker nya. Ia takut Raphael akan mengatakan sesuatu yang menjurus hal-hal pribadi.
"Honey...Maaf ya, Mas tadi buru-buru. Sampai gak sempat pamitan. Mas ke luar negeri beberapa hari, ada masalah mendesak yang harus diselesaikan. Honey mau tinggal di hotel apa pulang ke rumah?"
Dinda tercengang, begitu hebatnya Raphael berbohong? Dia bilang keluar negeri tapi ternyata sedang berduaan dengan selingkuhannya. Jangan-jangan Raphael bukan bipolar namun ia sengaja memakai penyamaran agar ia puas mendapatkan wanita yang disukainya. Identitas ganda yang dimiliki Raphael akan memudahkannya untuk dengan mudah menikah secara resmi. Seketika kemarahan Dinda kembali datang. Ia pun tidak ingin lama-lama berbicara dengan suaminya.
__ADS_1
"Mas, Dinda sudah mau pulang. Nanti telepon lagi di rumah." Dinda mengakhiri telepon nya tanpa menunggu jawaban Raphael.
Raphael dan pak Dito baru tiba di bandara Melbourne. Ia baru ingat belum berpamitan pada Dinda. Ia maklum saja kalau Dinda sampai marah. Bagaimanapun mereka masih pengantin baru. Sebenarnya ia pun merasa sangat berat meninggalkan Dinda namun ia tidak ada pilihan.
"Raphael.... apakah itu Raphael?" Tanya Bu Desy tiba-tiba mengejutkan Dinda yang masih sibuk dengan dugaannya.
"E .. itu suami saya Bu. Dia keluar negeri ada bisnis di sana. Bu Desy maaf, saya harus cepat pulang. Kalau ada waktu saya akan datang ke sini lagi."
Bu Desy mengangguk. Hatinya sudah cukup lega, telah mendapatkan maaf dari Dinda. Setelah kepergian Dinda, Bu Desy termenung. Suara suami Dinda terasa menggetarkan hati nya, Seperti ada ikatan tak terlihat. Perasaannya mengatakan itu pasti suara anak kembar yang selama ini sangat dirindukan nya.
"Raphael apakah itu benar engkau nak, yang telah menikahi Dinda?"
Hati Bu Desy menghangat. Setelah sekian lama terpisah karena keadaan, akhirnya anak itu perlahan mendekat kembali padanya. Bu Desy tersenyum bahagia. Kenangan manis kembali terlintas dalam ingatannya seperti layar LCD yang memainkan film.
Hari paling bahagia dirasakan Bu Desy bersama suami saat mereka berdua sedang memeriksakan kandungan.
"Selamat Bapak dan Ibu, bayi nya kembar."
Itulah hari paling membahagiakan yang dirasakan Bu Desy dan suami. Namun kebahagiaan mereka terusik dengan banyaknya teror dan masalah yang harus mereka hadapi. Rupanya dalam perusahaan 'Danuarta' ada penghianat yang berusaha menghancurkan perusahaan nya.
Pak Danuarta, suami Bu Desy pernah menyuruh nya untuk tinggal di luar negeri bersama bayi kembar mereka. Namun Bu Desy tidak mau meninggalkan suaminya dalam bahaya sendirian hingga ia tetap bertahan disisinya.
Dari tahun ke tahun, ia melihat Raphael tumbuh menjadi anak yang punya banyak talenta juga sangat cerdas. Berbeda sekali dengan Ridho yang lamban dan ceroboh. Pak Danuarta pernah mengatakan bahwa Raphael nanti yang akan menggantikannya sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan nya. Namun kejadian mengerikan itu merenggut suaminya.
Bu Desy sempat mengalami dilema hingga ia harus membuat sebuah keputusan yang sangat berat. Ia terpaksa mengirim Raphael pergi jauh, agar anak itu selamat tak tersentuh bahaya. Ia pun harus menahan diri untuk tidak melakukan kontak dengan Raphael kecil, semata-mata agar anak itu tak terdeteksi oleh musuh mereka. Sementara ia bertahan untuk menyelamatkan perusahaan peninggalan suaminya sambil membesarkan Ridho.
__ADS_1
Air matanya mulai mengalir deras. Sampai saat ini ia selalu merindukan Raphael. Ia sangat ingin melihat anaknya itu. Anak yang lama hilang karena keputusan nya sendiri.