Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Jadi Keluarga


__ADS_3

"Mari mbak silahkan duduk." Dinda mempersilahkan Valentina untuk duduk di kursi sederhana dalam warung. Lampu-lampu sudah mulai dinyalakan, karena hari sudah mulai remang.


"Sebelumnya saya mau menyampaikan, kalau atasan saya sangat puas dengan masakan mbak Dinda. Jadi beliau mengutus saya memesankan nasi kotak lagi untuk satu minggu ini. Pesanannya untuk siang dan sore seperti hari ini, masing-masing lima puluh kotak. Jadi akan dibayar di muka." Kata Valentina memberi penjelasan.


Dinda sangat bahagia, mendengar kabar yang disampaikan Valentina. Ia tidak pernah menduga kalau kemampuan memasaknya yang hanya di dapatnya dari melihat you tube membuahkan hasil seperti saat ini.


"Silakan diminum mbak." Bu Inayah menyajikan dua cangkir teh dan secangkir kopi.


"Trimakasih Bu... ini kenapa saya diberi dua cangkir?" Valentina kebingungan saat disodorkan dua cangkir untuknya.


"Biasanya kalau gadis cantik lebih suka teh tawar. Ini kopi spesial buatan ibunya mbak Dinda. Sangat legendaris. Menjadi kegemaran para pelanggan, saya buatkan satu cangkir. Siapa tahu mbak Valentina suka." Bu Inayah promosi kopi hitam, minuman khas warung Maharani yang sangat disukai pelanggan.


Dinda tersenyum melihat keberanian Bu Inayah berpromosi. Padahal ia saja sebagai anak kandung pemilik warung Maharani tidak terlalu faham mengenai barang-barang jualan ibunya. Ia juga kurang suka kopi hitam.


"Kebetulan, saya penyuka kopi. Trimakasih Bu." Kata Valentina sembari memperhatikan kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Aroma gurih kopi seketika menyeruak dalam penciumannya.


Valentina pun mencicipi kopi panas buatan bu Inayah. Ia sangat terkejut, rasa kopinya melebihi ekspektasinya, dengan rasanya yang khas dan terasa nikmat. Kopi dengan sedikit gula, namun terasa manis dalam sesapannya.


"Ini benar-benar kopi yang sangat nikmat. Bisakah saya pesan satu termos? Tadi dapat kabar kalau akan ada meeting sampai malam di kantor." Kata Valentina berharap bisa menikmati kopi buatan bu Inayah saat ia terpaksa ikut meeting malam ini.


Rencananya rapat hanya dihadiri CEO, dan Dewan Direksi. Mau gak mau, Valentina sebagai sekretaris pribadi Ridho ia pasti diikut sertakan. Padahal kalau boleh tidak ikut, ia akan memilih pulang kerumah, istirahat dan nonton sinetron.


"Bagaimana non Dinda? Apakah saya buatkan kopinya?" Bisik bu Inayah di telinga Dinda.


Dinda hanya menjawab dengan anggukan kepala. Ia juga telah menyelesaikan nota yang ditulisnya tadi. Tagihan nasi kotak pesanan Valentina terhitung Selasa sampai dengan Sabtu berkisar diangka lima belas juta.

__ADS_1


Saat Dinda menyodorkan kertas nota itu kepada Valentina, ia memperhatikan perubahan mimik wanita pemesan itu. Valentina terlihat sedikit terkejut. Dinda yang melihat perubahan mimik Valentina, sedikit takut. Mungkinkah ia memberikan harga yang terlalu mahal?


Padahal dalam hati Valentina, ia cukup terkejut kalau ternyata ia mendapat harga catering yang cukup murah. Dan untuk rasanya pun sangat enak. Membuat Bosnya langsung suka dan memutuskan berlangganan catering.


Dinda menahan diri untuk tidak meresponi keterkejutan Valentina. Karena saat ini ia sangat memerlukan uang.


"Oh iya, hampir saja saya lupa. Ibu bos juga memesan catering untuk hari Kamis. Beliau akan ada acara aRizan di rumahnya. Jadi beliau akan memesan empat macam lauk protein, tiga macam olahan daging, tumisan atau sayuran, aneka cake dan buah potong. Apakah bisa? Bu Bos tidak mempermasalahkan berapapun harganya. Beliau oke saja. Sebelum hari Rabu, bu Bos minta daftar menunya. Juga pesan bu Bos, mbak Dinda diminta untuk mengatur penyajiannya nanti." Valentina memberikan penjelasan panjang lebar, berharap Dinda bisa paham dan tidak melakukan kesalahan.


Dinda yang sangat mengharapkan mendapatkan uang dengan cepat. Ia pun menyanggupinya. Bagaimanapun caranya, ia akan berusaha sekuat tenaganya, demi kesembuhan ibu.


"Catering nya yang untuk hari kamis, berapa orang undangannya?" Tanya Dinda berusaha mendapatkan info sejelas-jelasnya.


"Kurang lebih lima puluhan orang." Jawab Valentina spontan.


Dinda menuliskan nomer rekening dan menyerahkannya pada Valentina. Wanita itu segera menyimpan nomer rekening di ponselnya.


"Mbak sudah saya kirim dp nya. tiga puluh juta ya...?" Kata Valentina ringan.


Dinda langsung memeriksa saldo rekeningnya, dan benar saja saldonya telah bertambah, seperti jumlah yang ditransfer Valentina.


"Iya mbak sudah masuk." Jawab Dinda lega. Ini berarti, Dinda bisa segera minta operasi ibunya dilaksanakan. Ia sudah memegang uang yang cukup untuk operasi ibunya.


"Mbak Dinda, saya pamit dulu. Terimakasih, semoga kerja sama kita bisa berjalan dengan lancar ya?" Valentina menyalami Dinda tanda kesepakatan baru mereka telah disyah kan.


Dinda mengantarkan Valentina sampai ke dalam mobilnya. Hari ini Dinda telah mendapatkan uang yang cukup untuk segera melaksanakan operasi untuk ibunya.

__ADS_1


Dinda kembali ke warung kecilnya yang menyatu dengan rumah yang tak kalah sederhana. Di sana bu Inayah sedang memeluk dua orang anaknya sambil bertangis-tangisan. Seketika hati Dinda trenyuh melihat pemandangan di depannya.


"Bu Inayah ada apa?" tanya Dinda seraya mendekati ketiga orang yang masih bertangis-tangisan itu.


"Mbak Dinda, kami diusir dari kontrakan karena bulan ini belum bayar." Kata bu Inayah dengan menahan kepedihan hatinya. Ia tidak tahu, kemana lagi ia membawa anak-anaknya. Tidak ada tempat tujuan bagi mereka saat ini.


Dinda terdiam, ia sibuk menyusun kata-kata. "Bu Inayah, kalian akan tinggal bersama ku disini. Jadi jangan bersedih lagi ya." Kata Dinda menghibur bu Inayah dan dua orang anaknya yang masih berumur sepuluh dan delapan tahun.


"Tapi mbak Dinda, apakah kami tidak merepotkan?" tanya bu Inayah merasa tidak enak.


"Saya akan senang karena ada yang menemani ku di sini. Bu Inayah juga bisa bantu-bantu saya." Dinda menyuruh bu Inayah untuk merapikan kamar yang sebelumnya ditempati ibunya. Ia akan mengatur lagi nanti, saat ibunya sudah pulang dari Rumah Sakit.


Malam itu Dinda merasakan kehangatan sebuah keluarga. Bagaimana Niki dan Riki yang sangat senang tertawa. Bahkan Riki yang masih kelas dua SD sangat suka memberikan tebak-tebakan yang membuat orang lain tidak bisa menahan tawa. Melihat kebahagiaan dalam keluarga barunya menghadirkan kerinduan pada sosok ibu kandungnya. Ia sudah tidak sabar menantikan ibunya bisa bersama-sama dengan mereka berkumpul di sini.


Jam baru menunjukkan pukul delapan, Dinda sudah masuk ke dalam kamarnya. Ia segera menghubungi dokter spesialis jantung yang menangani ibunya.


"Dokter saya sudah ada dana untuk operasi ibu" Kata Dinda setelah beberapa saat berbasa-basi memperkenalkan dirinya.


"Benarkah Dok... jadi besok ibu ku sudah bisa operasi?"


"Ya... saya akan segera mengurus administrasinya. Trimakasih ya Dok. Selamat malam."


Dinda menutup telephonnya dengan hati riang. Besok ibunya sudah bisa operasi dan peluang ibunya akan sembuh sangat besar. Dinda mengecek kembali saldo tabungannya. Ia terbelalak melihat angka nominal yang tertera di layar handphone nya.


"Ha... kok bisa?" Tanyanya kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2