Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Saldo


__ADS_3

Dinda tidak percaya pada penglihatannya. Beberapa kali ia mengucak matanya. Memastikan bahwa ia tidak salah menghitung jumlah angka nolnya. Saldo nya sekarang membengkak menjadi seratus juta. Itulah sebabnya Dinda sampai beberapa kali menghitung jumlah angka nolnya.


Tak berapa lama ada pesan WA masuk. Pesan dari valentina, ia menyertakan bukti transferan yang baru dilakukannya. Dan mengatakan kalau uang yang dikirimnya sebagai tanda jadi kerjasama. Perusahaan tempat Valentina bekerja memutuskan untuk memakai jasa catering Maharani selama satu bulan berjalan.


Dinda menangis bahagia, uang yang diperoleh akan segera dipakainya untuk biaya operasi dan pengobatan ibunya. Juga untuk membeli berbagai alat masak dan perlengkapannya.


Dinda keluar dari kamarnya. Ia menemui bu Inayah yang kebetulan sedang mengambil air minum di dapur. Bu Inayah menyapanya "Belum tidur kah mbak Dinda?"


"Belum Bu Inayah, saya ada yang perlu saya sampaikan pada ibu." Kata Dinda sambil mengajak bu Inayah duduk di kursi ruang tamu yang sudah mulai usang.


"Bu Inayah... besok ibu saya operasi. Dinda bingung Bu... pingin mendampingi ibu. Tapi besok ada orderan nasi kotak untuk siang dan sore hari. Dinda minta tolong untuk bu Inayah yang akan menghendel orderan itu apa bisa?" Tanya Dinda ragu.


"Mbak Dinda... Ibu mau aja. Tapi mbak, kalau rasa masakan berbeda bisa membuat pelanggan jera. Kalau untuk packing ibu bisa dibantu sama anak-anak. Tapi kalau untuk masak, sebaiknya tetap mbak Dinda. Kalau sekedar menggoreng atau memanggang, saya bisa." Jujur bu Inayah.


"Oh begitu ya?" Sejenak Dinda terdiam. Ia beranjak, mengambil bolpoint dan selembar kertas. Ia menuliskan menu nasi kotak untuk siang dan sore harinya.


Ia menyerahkan pada bu Inayah. "Ini menu untuk besok Bu." Sesaat bu Inayah membacanya dengan teliti.


"Kita belanjanya mesti pagi-pagi sekali mbak, supaya dapat barang bagus dan gak kesiangan." Usul bu Inayah.

__ADS_1


"Untuk belanja saya sudah order, jam tiga pagi besok sudah pada ngantar. Kita gak perlu lagi belanja ke pasar, jadi kita bisa kerja lebih awal. Saya yang akan memasak sayur dan lauknya. Bu Inayah masakin nasinya ya..?" Kata Dinda menjelaskan.


"Baik mbak, sebaiknya cepat istirahat. Supaya besok kita bisa bangun lebih cepat." Kata Bu Inayah mengingatkan.


Aroma gurih masakan sudah menguar memenuhi seisi warung yang sempit. Dari pagi Dinda dan bu Inayah sudah berkutat memasak di dapur. Menu nasi kotak yang Dinda pilih untuk makan siang, Ayam goreng kremes, sayur urap dan lodeh nangka. Sementara untuk menu makan malam Rendang daging, oseng buncis dan mie goreng kecap.


Dinda sudah memasak semua lauk dan sayur. Dinda juga sudah menuliskan jadwal kerja bu Inayah, supaya nanti bisa selesai tepat waktu dan makanannya pun masih fresh.


Sebelum berangkat ke rumah sakit, ia sempatkan sarapan beberapa sendok nasi. "Bu Inayah, nanti ajak anak-anak makan ya! Saya mungkin baru malam pulang ke rumah. Bantu doa ya Bu, supaya operasi ibu saya lancar." Pamit Dinda sebelum ia berangkat ke Rumah Sakit.


"Iya mbak Dinda, saya akan mendoakan bu Rahmah. Semoga operasinya lancar ya mbak." Kata bu Inayah seraya menghampiri Dinda.


"Ini gaji saya satu bulan ya Mbak? Trimasih banyak." Kata bu Inayah terharu.


"Nanti kalau ada rezeki lagi, saya tambahi Bu Inayah." Kata Dinda berjanji.


"Mbak Dinda baik sekali, semoga rejekinya lancar terus ya Mbak. Usahanya semakin berkembang." Bu Inayah sangat terharu dengan kebaikan Dinda. Ia pun berjanji dalam hati untuk membantu usaha Dinda dengan sebaik-baiknya.


"Bu Inayah, saya berangkat ya." Kata Dinda, ia refleks meraih tangan bu Inayah dan menempelkannya di dahinya. Membuat bu Inayah tertegun, hatinya seketika berdesir penuh haru. Ya hati nya yang keibuan langsung tersentuh. Sebulir air bening lolos dari tepi matanya.

__ADS_1


"Bu... ada apa? kenapa ibu menangis?" Tanya Riki, anak laki-laki bu Inayah saat mendapati ibunya berdiri di ambang pintu sambil mengusap mata.


"Enggak... ibu enggak nangis. Ayo masuk, kakak mu sudah bangun? Bantu ibu di dapur." Kata bu Inayah mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin repot-repot memberi penjelasan pada Riki yang tidak akan pernah puas kalau belum mendapatkan jawaban semua pertanyaannya.


Dinda berangkat ke rumah sakit naik mobil on line yang sudah dipesan sebelumnya. Jantungnya mulai berdebar. Ia merasa ngeri dan takut, sebentar lagi ibunya akan di bawa ke meja operasi.


Sepanjang jalan ia berdoa minta perlindungan Tuhan agar operasi ibunya nanti bisa berjalan dengan lancar.


Empat puluh menit kemudian, ia telah sampai di rumah sakit tempat ibunya di rawat. Ia segera berjalan menuju ruang icu. Di sana para perawat sedang menyeka badan bu Rahmah. Badan ibunya terlihat lebih kurus dan pucat. Ibunya pun belum juga tersadar.


Dinda sangat sedih melihat keadaan ibunya. Ia sangat merindukan ibunya yang dulu. Ibunya yang sangat senang memberikan petuah berharga juga sangat suka mengajarinya mengenai resep masakan. Memperkenalkan berbagai macam bumbu, bagaimana cara mengolah ayam, ikan dan aneka seafood. Dinda sering pura-pura tertarik saat mendengarnya. Walaupun kenyataannya, ia sama sekali tidak tertarik.


Sekarang ia berharap ibunya segera sehat dan kembali pulih supaya ia bisa belajar berbagai resep dari masakan ibunya. "Bu... Dinda pingin ibu bangga, sekarang Dinda sudah mulai melanjutkan bisnis kuliner ibu. Nanti Dinda akan masakin ibu setiap hari." Gumam Dinda dalam hati. Air mata menetes membasahi pipinya. Ada rasa perih yang menghinggapi hatinya, saat melihat keadaan ibunya yang mengkhawatirkan.


Ibunya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Saat ini ibunya terbaring lemah, penyumbatan di jantungnya telah menghilangkan kesadarannya. Apakah ia harus kehilangan juga, satu-satunya orang yang disayanginya? Dinda mengingat pengalaman buruknya beberapa hari yang lalu. Ia telah mengecewakan ibunya.


Bagaimana ia akan menceritakan hal itu pada ibunya? Apakah ia sanggup berterus terang, bahwa Fariz lah yang telah menjualnya pada pria asing? Kalaupun ia sanggup mengatakannya pada ibunya, bagaimana kalau membuat keadaan Bu Romlah memburuk? Seperti peringatan dokter yang menangani ibunya, kalau ia harus menjaga benar-benar kondisi emosi ibunya nanti.


Dinda hanya menangis, menumpahkan semua rasa sesak yang sejak tadi menghimpit hatinya. Perlahan dihapus air matanya dengan tissue yang selalu dibawa dalam tasnya. Saat ini ia hanya bisa berdoa untuk keberhasilan operasi ibunya nanti yang dijadwalkan jam sembilan pagi.

__ADS_1


Suster yang tadi mengelap tubuh ibunya, telah menyelesaikan tugasnya. Tinggallah ia terpaku sendiri, ia hanya berani memandangi ibunya dari jauh. Ia cukup senang bisa memandangi ibunya walau terhalangi selembar kaca bening yang tebal.


__ADS_2