Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Santai saja


__ADS_3

Hubungan Raphael dengan Dinda semakin mesra. Percikan cinta sudah menenggelamkan mereka. Sehingga tak terasa mereka telah menghabiskan waktu selama seminggu penuh tinggal di hotel.


"Honey... aku tinggal bentar ke kantor ya. Ada urusan penting yang gak bisa ditunda. Apakah gak papa ku tinggalkan sendiri?"


Raphael mengecup kening Dinda yang masih terbungkus selimut. Sebenarnya, ia masih enggan meninggalkan Dinda untuk kerja. Namun ada suatu hal yang mendesak sehingga ia dengan berat hati berangkat ke kantor.


"Mas... aku nanti pingin beli baju. Boleh ya mas?"


"Iya biar sopir nanti yang mengantar ke sana. Hati-hati dijalan ya. Jangan kemalaman pulangnya!" Raphael mencoba mencuri kecupan di bibir Dinda. Namun, Dinda berguling ke sisi yang lain. Ia belum cuci muka juga belum gosok gigi itu membuatnya tidak nyaman menerima kecupan bibir.


"Mas... Dinda belum gosok gigi. Bau...". Kata Dinda malu. Ia masih malas beranjak dari kasurnya.


"Ingat ya... Jangan terlalu malam pulangnya. Mas nanti pulang telat karena ada lembur. Jangan menungguku ya."


"Ya.. Mas."


Raphael keluar hotel dengan mode dingin seperti biasa. Senyuman nya hanya untuk Dinda seorang, ia tidak akan membagi senyuman nya pada orang lain.


Sementara itu Dinda memilih untuk melanjutkan tidurnya. Dinda kembali berguling di dalam selimutnya. Ia masih sangat lelah dan mengantuk. Suaminya tidak pernah membiarkan ia tidur malam dengan nyenyak.


Raphael selalu mengajaknya lembur katanya untuk mencapai target tahun ini yaitu seorang anak. Laki-laki ataupun perempuan tidak jadi masalah. Yang terpenting segera datang anak-anak menghibur mereka. Raphael akan membantu nya merawat anak. Kalau perlu ia akan bekerja dari rumah supaya bisa membantu Dinda.


Mengingat kata-kata manis suaminya, membuat Dinda tersanjung. Saat ini ia sudah dipenuhi rasa cinta dan bangga pada suaminya. Senyuman Dinda mengembang. Ia pun kembali memejamkan mata. Menikmati waktu istirahat yang begitu dinantikannya.


"Tringggg....tringgg..."


Suara panggilan masuk ke hp Dinda membangunkan tidur paginya. Masih dengan malas dilihatnya nama kontak sang penelepon. 'Suamiku Tercinta' Seketika mata nya berbinar.


"Hallo Mas..."


"Hon, baru bangun?" Sapa ramah Raphael.


"Hehehe, iya Mas. Soalnya Mas gak pernah membiarkanku tidur malam. Mas selalu menggangguku." Rajuk Dinda manja.


"Tapi Honey suka juga kan?" Pipi Dinda merona malu. Ia pun buru-buru mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Mas ada apa telepon?"


"Honey jadi pergi belanja gak? Dari tadi pak sopir sudah menunggu di lobby hotel."


"Oh iya, tunggu sebentar lagi." Dinda refleks menutup telepon dan berlari ke dalam kamar mandi. Ia tidak bisa berlama-lama. Hari ini kesempatan pertama nya bisa jalan-jalan sendiri.


Sebelum Dinda pergi ia pun menelepon Raphael memberi tahunya ia berangkat ke mall. Tentunya Raphael tidak diam saja, ia menyuruh anak buahnya untuk melindungi Dinda selama berada di mall. Memberikan penjagaan tanpa terlihat.


Dinda hanya memoles wajahnya tipis-tipis. Ia sangat bersemangat. Hari ini ia ingin memanjakan dirinya sendiri. Ia sudah membuat list kegiatannya hari ini. Mau mencoba perawatan tubuh di salon spa terkenal. Dinda juga ingin sedikit mengubah model rambutnya. Semua itu dilakukan untuk menyenangkan suaminya. Ia ingin tampil cantik dan menarik di depan suaminya.


Seminggu terakhir, ia tidak pernah memperhatikan penampilannya. Karena kegiatan pengantin baru itu hanya berputar kasur dan kamar mandi.


Keinginan nya merawat diri, dimulai kemarin. Setelah ia Vidio call dengan Bu Inayah dan Imah.


Sebuah kabar yang mengejutkan sekaligus membanggakan di dengar Dinda. Kalau Bu Inayah dan Imah saat ini tinggal di Melbourne dan membuka usaha kuliner di sana. Sementara Riki dan Niki juga sudah mulai sekolah di sana.


Awalnya Dinda tidak percaya, namun saat mereka menunjukkan kedai tempat kerja juga pelanggan yang mayoritas bule. Akhirnya Dinda percaya sekaligus ia sangat gembira. Raphael juga ikut dalam percakapan itu dan akan segera mengajak Dinda mengunjungi mereka. Dinda sangat senang, sampai ia membayangkan berkeliling Australia. Juga berfoto dengan Kanguru di sana.


Sebelum mereka mengakhiri Vidio call, Bu Inayah berpesan, "Nak Dinda... Mas Raphael memperlakukan kami sangat baik. Nak Dinda mesti menyayangi Mas Raphael juga berdandan untuk suami itu akan menyenangkannya."


Dinda tersenyum kembali saat ia mengingat nasehat Bu Inayah. Ia berjanji akan menyayangi suaminya dan memperlakukannya dengan sangat baik. Itu semua sebagai bentuk ungkapan cinta padanya. Itulah yang membuatnya bersemangat untuk mulai merawat tubuh.


Sejenak gadis resepsionis memandangi Dinda dari kepala hingga ujung kaki dengan sinis. Bagaimana mungkin wanita biasa seperti ini meminta pelayanan premium? Menurut penilaian nya, Dinda belum tentu bisa membayar biaya perawatan ekonomis di spa itu.


Dinda mengerti arti pandangan Resepsionis itu. Ia pun menyerahkan kartu kredit gold nya. "Saya akan membayar tagihan di awal".


Sang resepsionis itu menerima kartu kredit Dinda dengan ragu. Namun ia memeriksa nya juga. 'Tring...' pembayaran sukses.


"Silahkan menunggu diruang lobby Nona. Dona akan melayani Anda." Seketika suara resepsionis berubah sangat ramah. Dona, salah satu karyawan spa mengantarkan Dinda ke sebuah ruang tunggu yang cukup luas dan indah.


"Silahkan Nona," Dona mempersilahkan Dinda duduk di sebuah sofa.


"Anda mau minum apa?"


"Teh hangat saja." Dinda membalas senyuman ramah Dona.

__ADS_1


Terlihat Dona berjalan ke pojokan ruang lobby. Gadis itu menyeduh teh di sebuah cangkir keramik. Tak berapa lama, gadis itu membawakan teh kepada Dinda.


"Silahkan dinikmati Nona, nanti akan kami panggil kalau ruangan sudah siap."


Dinda menyesap teh hangat sambil melihat-lihat katalog yang ada di atas meja. Ia melihat penampilan model-model yang sangat memukau memperagakan produk fashion dan kosmetik. Dinda senyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana respon Raphael saat melihatnya nanti? Tak berapa lama Dona kembali mendatangi Dinda.


"Nona ruangan sudah siap". Dinda diantarkan Dona ke ruangan spa. Hari itu Dinda menghabiskan waktu 2 jam untuk mendapatkan perawatan dari ujung rambut sampai dengan ujung jari kaki. Kebetulan ditempat itu juga ada salon khusus wanita, sehingga Dinda sekalian merapikan rambutnya. Ia sangat puas dengan hasil akhir membuatnya terlihat cantik bersinar.


Dinda meninggalkan Salon Spa. Ia menuju ke sebuah butik yang menjual baju merk ternama. Ia sudah terbiasa mendapatkan barang merk dan mahal. Sebenarnya kalau ia bisa memilih ia akan membeli baju diskonan. Bisa dapat banyak baju. Namun ia tahu, suaminya bukan orang biasa. Raphael seorang pengusaha muda yang cukup berhasil. Jadi ia tidak mau mempermalukan suaminya dengan penampilan yang asal-asalan.


Tidak menunggu lama, Ketika Dinda tertarik pada sebuah gaun. Ia pun langsung mengambil dan membawanya ke kasir. Di sana sudah ada beberapa orang yang sedang mengantri.


Siluet wanita yang berdiri di depannya sangat familiar. Terlebih suara wanita itu ketika ia berbicara. 'Deg...deg...deg' jantung Dinda berdegup lebih kencang. Ia mengenal sangat baik wanita yang berdiri tepat di depannya. Seketika perutnya terasa perih. Ia sangat ketakutan.


Wanita di depan Dinda sudah menyelesaikan pembayaran. Saat ia berbalik, mata mereka bertemu. Ada suasana canggung diantara mereka. Terlebih Dinda merasa salah tingkah. Wanita itu segera memalingkan wajahnya, ia berpura-pura tidak mengenal Dinda. Wanita itu pun berlalu meninggalkan butik.


Dinda seketika mengusap keningnya yang berkeringat. Ia sangat takut bertemu orang-orang di masa lalunya yang penuh penderitaan. Ia sedikit lega. Wanita itu tidak membuat masalah padanya hari ini di depan umum.


Dinda sedang berjalan menuju toilet, saat seorang wanita menghentikan jalannya.


"Bu Sita?" Dinda berhenti dengan rasa takut yang mencekam.


"Hebat ya kamu. Ramuan apa yang kamu pakai memikat pria kaya hingga bersedia menghidupi mu dengan sangat mewah. Sementara anak ku, kau jebloskan dalam penjara? Ingat ya.... ****** kau tidak akan bahagia. Tidak akan ada pria yang benar-benar mencintaimu. Dasar kau ****** tak tahu malu!"


Kata-kata pedas menusuk hati Dinda. Mengapa Tante Sita yang dulu sangat menyayangi nya, tidak bisa memihak pada kebenaran.


"Aku sangat senang, anak ku akhirnya bisa melihat keaslian mu dan mau menceraikan mu. Aku tidak bakalan bisa menerima wanita kotor seperti mu menjadi ibu dari cucu ku!"


Tante Sita menudingkan jari telunjuknya tepat di wajah Dinda. Seketika, kabut tipis menghalangi pandangan Dinda.


Setelah wanita itu pergi menjauh, Dinda bergegas masuk ke kamar mandi. Ia meluapkan tangisnya.


Dinda berusaha mengendalikan diri. Ia pun memperbaiki make up nya yang mulai luntur terkena air mata. Hari itu sebenarnya ia juga ingin membelikan Raphael beberapa potong kemeja. Namun kehadiran Tante Sita telah membuatnya kehilangan mood.


Dinda bergegas menuju ke parkiran. Sebenarnya bisa saja ia menunggu di lobby mall. Namun ia berusaha meminimalisir pertemuan dengan orang-orang di masa lalunya.

__ADS_1


Dinda sedang mengingat-ingat dimana tempat mobilnya terparkir. Saat matanya tidak sengaja mengenali pria yang sedang tersenyum membukakan pintu buat ke kasihnya. Hatinya seketika teriris perih.


"Raphael."


__ADS_2