Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Lihatlah


__ADS_3

"Dinda... sekali lagi om dan tante memohon padamu. Kasihanilah Fariz. Berikan ia kesempatan dan kebahagiaan. Menikahlah dengannya. Ingatlah masa-masa kalian saling mencintai. Om berjanji akan terus mengusahakan kesembuhan kaki nya." Tante Sita menggenggam tangan suaminya. Sepasang suami istri itu saling mendukung.


Sesaat Dinda terdiam, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ini sebuah keputusan yang sangat sulit baginya. "Om berikan Dinda waktu untuk mempertimbangkannya." Desah Dinda.


Tante Sita tidak puas dengan jawaban Dinda. Saat ini ia harus egois demi keselamatan anak semata wayangnya.


"Dinda, kalau kamu melihat keadaan Fariz saat ini kamu pasti mengerti. Om dan Tante tidak bisa kasih kamu pilihan. Kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Besok kalian akan menikah."


Kata-kata tante Sita mengejutkan Dinda. Bagaimana mungkin ia menikah secepat ini?


"Maaf Tuan, Nyonya, janganlah menekan mbak Dinda sedemikian. Ia masih dalam masa berduka. Tidakkah sebaiknya menunggu ia pulih dari kesedihannya dulu?" Bela bu Inayah.


Ada sebuah rencana dalam hatinya. Ia akan mencari kesempatan untuk membawa Dinda pergi jauh dari Jakarta. Setidaknya menghindari perjodohan yang mengerikan ini. Ia tidak ingin melihat Dinda menikah dengan pria jahat yang telah menghancurkan kehidupannya.


Tante Sita seperti tahu maksud bu Inayah. Ia pun melemparkan ancaman pada Dinda.


"Dinda, ikutlah dengan kami. Kalau tidak, semua orang yang menumpang di rumahmu akan kami usir. Kami bisa dengan mudah menyulitkan mereka. Ayo cepat ikut kami!" tante Sita langsung menarik tangan Dinda. Pak Rahman rupanya mendukung upaya istrinya karena ini satu-satunya cara agar Fariz bersemangat menjalani kehidupannya kembali.


Bu Inayah segera berlari menghadang di pintu. "Mbak Dinda tidak akan keluar dari rumah ini !" teriak bu Inayah putus asa.


Pak Rahman segera menggandeng pergelangan tangan Dinda yang bebas. "Dinda, kamu tidak ada pilihan. Maafkan om dan tante." Bisik pak Rahman sambil mengetatkan pegangannya.

__ADS_1


Dinda terpaksa menuruti kemauan orang tua Fariz. Ia tahu tidak ada gunanya ia melawan. Bisa saja tante Sita melaksanakan ancamannya.


"Bu Inayah, kelola catering ini dengan baik ya. Maafkan semua kesalahan Dinda Bu." Pamit Dinda, ia berusaha melepaskan diri agar bisa memeluk bu Inayah. Apa daya, pegangan tangan tante Sita dan Om Rahman menjerat ketat di kedua lengannya.


Dinda tak kuasa meneteskan air mata perpisahan pada bu Inayah dan adik-adik barunya. Yang saat ini mereka sedang mengintip dari celah-celah pintu kamar. Riki dan Niki ikut menangis melihat ibunya tak berhasil menghalangi kepergian Dinda.


Terlebih bu Inayah, ia begitu terpukul melihat kepergian Dinda. Ia tidak bisa berdiam diri. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak rela kalau Dinda yang baik hati itu harus menderita karena dipaksa nikah dengan pria jahat seperti Fariz.


Bu Inayah segera berlari ke kamar, ia pamit kepada anak-anaknya untuk melihat kemana orang tua Fariz membawa Dinda pergi. Bu Inayah berlari mencoba mengejar mobil yang melaju.


"Bu Inayah, ngapain lari-lari Bu?" panggil seorang pemuda yang mengkawatirkannya.


"Mas Andi, tolong ibu... susulin mobil inova putih itu!" jawab bu Inayah tersengal.


"Berhenti... berhenti di sini!" Bu Inayah mendekati gerbang dan memastikan kalau Dinda benar-benar di bawa ke rumah itu.


Mobil inova diparkir dekat pintu masuk. Tampak bu Sita masih menggandeng Dinda dengan erat. Menariknya masuk ke dalam rumah. Bu Inayah tampak mondar-mandir, ia tidak tahu apa lagi yang bisa dilakukannya?


Hendphone Dinda yang tertinggal adalah salah satu alasan dia berdiri di depan gerbang. Setidaknya ada alat komunikasi, agar Dinda bisa menghubunginya untuk membuat sebuah rencana melarikan diri.


Bu Inayah cepat-cepat masuk ke halaman. Ia melihat sebuah kamar baru dinyalakan lampunya. Mungkin itu kamar tempat Dinda disekap. Bu Inayah segera menghampiri jendela kaca. Ia berusaha mengintip ke dalam namun terhalang horden yang cukup tebal.

__ADS_1


Lamat-lamat ia mendengar suara bu Sita yang membentak Dinda. Dan suara pintu dibanting dengan keras. Bu Inayah mengetuk jendela dengan perlahan. Ada suara kuncian dibuka dari dalam. Pelan-pelan jendela itu terbuka dan ia dapat melihat Dinda dengan air mata terurai di pipinya.


"Bu..." panggil Dinda. Suaranya serak menahan haru.


"Mbak, ini hp nya. Semoga bisa Mbak Dinda pakai untuk melarikan diri dari nikah paksaan ini." Bu Inayah berusaha menguatkan hati Dinda.


"Bu... mungkin ini sudah takdirku. Aku akan belajar iklas menerimanya. Semoga Allah melihat keiklasan ku."


Bu Inayah menggapai tangan Dinda. Mereka terhalang teralis, membuatnya tak bisa memeluknya. Bu Inayah tak kuasa menahan tangis. Ia tidak bisa mengerti bagaimana orang sebaik Dinda harus menjalani banyak cobaan berat seperti ini.


"Mbak Dinda, tidakkah sebaiknya mbak pergi dari sini?" Tanya ragu bu Inayah.


Dinda menggeleng. "Bu... biar ku jalani semua ini. Mungkin ini sebuah ujian buat ku. Bu Inayah titip usaha kita, kembangkan supaya Niki dan Riki nanti bisa lanjut kuliah dan menjadi orang-orang yang sukses. Dan doakan saya ya Bu, agar bisa lulus ujian ini. Dan Tuhan memberikan kebahagiaan untuk ku."


Bu Inayah mengangguk, walaupun ini sebuah keputusan yang berat, ia akan mendukung Dinda. "Mbak Dinda kabari ibu kalau ada apa-apa. Ibu pulang dulu ya." Pamit bu Inayah. Untuk terakhir kalinya ia menggenggam erat tangan Dinda.


Setelah kepergian bu Inayah. Dinda menumpahkan tangisnya. Sebenarnya ia tidak ingin pernikahan ini sampai terjadi. Namun saat melihat tidak ada sebuah celahpun untuk ia bisa kabur membuatnya memutuskan untuk menerima perjodohan paksa ini.


Apalagi saat ia dikejutkan dengan kedatangan bu Inayah, dan bagaimana wanita paruh baya itu sangat mengkawatirkannya. Membuat Dinda tidak tega melibatkan wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai pengganti ibu kandungnya. Ia tidak mau keluarga Fariz akan mendatangkan kesulitan pada bu Inayah juga Niki dan Riki.


Dinda menelungkupkan wajahnya di punggiran ranjang. Saat ini ia hanya ingin menangis dan menangis. Ingatan pada kematian ibunya sesaat setelah kedatangan Fariz yang saat itu membuat keributan dengan tuduhan menyakitkan. Farizlah penyebab kematian ibunya. Kenyataan itu yang sekarang membuat hatinya merintih sakit.

__ADS_1


Pembicaraan bu Sita dimobil tadi, besok siang ia akan dinikahkan siri dengan Fariz. Ia masih sanksi apakah benar Fariz mencintainya seperti yang di ceritakan bu Sita tadi? Itu sebuah berita yang tidak masuk di akal. Fariz tidak pernah mencintainya. Kalau ia cinta padanya, tentunya Fariz tidak akan menjual kehormatannya pada pria asing.


Saat ini yang diyakini Dinda, Fariz memaksa menikahinya semata-mata hanya dia yang berhutang budi pada keluarganya. Fariz menikahinya hanya untuk menjadikannya pembantunya. Dinda kembali menangis meluapkan rasa marah, kebencian dan sakit hatinya.


__ADS_2