
Dinda tak sengaja melihat saat butiran bening menetes di pipi ibunya yang mulai keriput.
"Ibu... jangan menangis. Dinda akan menjaga ibu selalu." Kata Dinda menghibur ibunya.
Bu Rahmah membalas dengan tepukan lembut di punggung tangan Dinda. Ia tidak ingin anaknya mengetahui kesedihannya. Bu Rahmah menggeleng lemah, berusaha meyakinkan kalau ia baik-baik saja.
Seorang dokter bersama perawat, datang menghampiri brankar tempat bu Rahmah berbaring. Dokter itu langsung memeriksa catatan yang dibawanya. Kemudian menanyakan keadaan bu Rahmah. Sementara perawat mengecek tensi dan suhu tubuh bu Rahmah.
Sang dokter memberikan beberapa nasehat kepada Dinda. Bagaimana ia harus menjaga dan merawat ibunya pasca operasi besar ibunya.
"Dokter, apakah ada seorang perawat yang bisa khusus merawat dan menjaga ibu saya?" Tanya Dinda.
"Bisa, nanti saya rekomendasikan seorang perawat yang bisa menjaga dan merawat ibu Rahmah." Jawab sang Dokter.
"Kalau bisa mulai malam ini ya dok." desak Dinda. Ia sangat memerlukan bantuan seorang perawat, karena ia juga punya tanggung jawab pada cateringnya.
Setelah dokter itu berlalu pergi, bu Rahmah memanggil Dinda untuk mendekatinya.
"Ada apa Bu?" tanya Dinda cemas, ia takut kalau-kalau ibunya merasa tidak nyaman atau sakit.
"Dinda... gak usah menyewa perawat untuk menjaga ibu nak. Ibu baik-baik saja." kata bu Rahmah meyakinkan Dinda. Baginya sudah cukup ditemani putri kesayangannya. Ia juga mengkawatirkan pengeluaran perawatannya akan membengkak.
"Bu... Dinda minta maaf ya. Harusnya Dinda menjagai ibu terus, tapi Dinda terlanjur ada kontrak kerja dengan perusahaan. Satu bulan ini Dinda mendapat orderan nasi kotak. Juga besok akan sangat sibuk, karena Dinda dapat orderan catering makan siang. Jadi Dinda mungkin gak bisa menemani ibu." Kata Dinda penuh penyesalan.
"Benarkah itu?" tanya bu Rahmah ambigu. Membuat Dinda merasa sangat bersalah. Dinda merasa ibunya tidak percaya pada penjelasannya barusan.
__ADS_1
"Maafkan Dinda ya Bu." Kata Dinda sedih.
"Nak... kamu bisa masak?" tanya bu Rahmah keheranan. Dinda akhirnya tersadar, kalau pertanyaan ibunya tadi karena merasa tidak percaya kalau dia benar-benar bisa masak.
Dinda mengangguk dan tersenyum. "Benar Bu... Dinda bisa masak, bahkan dari kontrak dengan perusahaan itu bisa untuk biaya operasi dan perawatan ibu." Kata Dinda bersemangat. Ia berharap ibunya bangga padanya.
Bu Rahmah tersenyum lebar. Ia tidak menyangka kalau anaknya yang tidak pernah menyentuh kompor, ternyata punya talenta masak. Bahkan Dinda tidak pernah dilihatnya memasak mie instan. Namun memang diakui bu Rahmah, kalau indra pengecapan Dinda sangat baik. Dia juga yang sering menjadi tukang cicip saat dia masak.
Setetes air mata kebahagiaan menitik diujung mata yang mulai bergaris. Bu Rahmah sangat bangga, apa yang diajarkannya ternyata berguna. Ya... sebenarnya ia tahu, saat Dinda berpura-pura asyik mendengarkan penjelasannya tentang aneka bumbu dan resep masakan darinya. Pelajaran sederhana yang selalu diceritakannya berulang-ulang sejak Dinda masih SD. Namun siapa sangka kalau pelajaran itu sekarang berguna. Bahkan menjadi pertolongan saat mereka sedang sangat membutuhkan uang seperti saat ini.
"Nak, bagaimana kamu bisa melakukannya sendiri?" tanya bu Rahmah tidak tega melihat putrinya berjerih lelah bekerja.
"Tenang Bu. Dinda dibantu bu Inayah." Kata Dinda menenangkan ibunya.
Dinda mengangguk. "Iya Bu, kemarin mereka diusir dari kontrakan. Jadi Dinda menyuruh bu Inayah tinggal di rumah kita."
Bu Rahmah tersenyum bahagia. "Kemurahan hati yang membuat kita kaya. Jangan menunggu kaya baru mau berbagi. Karena saat berbagi rezeki kita akan Allah tambah-tambahkan." nasehat bu Rahmah pada putrinya.
"Iya Bu, Dinda selalu ingat nasehat ibu." Jawab Dinda.
"Bu.. sudah waktunya boleh minum." Kata Dinda sembari menyuapkan beberapa sendok air mineral.
"Bu, sebentar lagi ibu akan dipindah keruang perawatan. Dinda malam ini juga harus pulang menyiapkan orderan untuk besok. Dinda tinggalin hp buat ibu. Kapan pun ibu kangen sama Dinda ibu telephon ya. Ini sedikit berbeda dengan hp ibu" kata Dinda sambil menjelaskan cara vidio call pada ibunya dan menyuruh ibunya untuk mencobanya.
Bu Rahmah tertawa menahan segala perasaan yang dianggapnya lucu. Baru ini ia tahu bisa berteleponan sambil melihat lawan bicaranya. Namun seketika rasa sakit menyengat di lehernya. Luka bekas operasi mungkin tertarik saat ia tertawa tadi. Bu Rahmah mengeryit menahan nyeri. Dinda yang saat itu melihatnya seketika merasa cemas.
__ADS_1
"Bu, ada apa? Apakah ada yang sakit?" tanya Dinda kawatir.
Bu Rahmah hanya menggeleng, ia menahan rasa sakit. Ia tidak ingin Dinda mengkawatirkannya. Namun Dinda sangat mengenal ibunya. Ia pun segera memanggil suster, yang tak berapa lama segera datang menghampirinya.
"Ada apa mbak?"
"Sus... ibu saya kesakitan." Lapor Dinda.
Perawat itu pun segera mengambil ampul obat pereda nyeri dan menyuntikkannya masuk melalui selang infus.
"Ibu sudah bisa masuk ke ruang kamar inap yang sudah tersedia. Saya akan bantu mendorong brankarnya." Perawat itu mendorong brankar bu Rahmah. Sementara Dinda mengikutinya dari belakang sambil menenteng semua barang-barang bawaannya.
Bu Rahmah mendapat kamar yang cukup bagus, meskipun cuma kelas dua namun ruangan berkapasitas dua orang pasien itu dilengkapi dengan pendingin udara. Dinda segera mengatur suhu ruangan agar tidak terlalu dingin buat ibunya. Ia pun menyelimuti ibunya dengan selimut yang tadi baru dibawanya dari rumah.
Dinda menyusun beberapa botol air mineral di atas nakas. Ia pun memasukkan baju-baju bersih bu Rahmah dalam laci.
Beberapa waktu ia menunggu ibunya yang tertidur. Mungkin karena efek pereda sakit yang disuntikkan perawat tadi membuat ibunya mengantuk.
Hari sudah semakin sore, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dinda mulai gelisah, bagaimana ia bisa pulang tepat waktu? Ia juga tidak bisa menghubungi bu Inayah di rumah untuk memberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan malam ini. Untungnya tak berapa lama, seorang perawat menghampirinya.
"Selamat malam Mbak Dinda, saya Tina. Saya perawat yang di rekomendasikan dokter Toni." Sapa Tina ramah.
"Oh... iya, begini Mbak, saya cukup sibuk beberapa hari ini ada orderan catering yang tidak bisa saya tinggal. Jadi saya minta bantuan Mbak Tina menjaga ibu saya selama saya tidak di sini. Jadi malam ini Mbak Tina tolong jaga ibu saya sampai jam sembilan malam besok. Untuk pembayarannya tunggu saya datang ya." Tina mengangguk setuju.
"Saya nitip ibu ya, sebelumnya trimakasih banyak ya Mbak Tina. Ini nomer saya, kalau ada apa-apa tolong kabari saya." Kata Dinda ia pun pamit pulang meninggalkan ibunya yang sudah tertidur.
__ADS_1