
Pagi hari Dinda bangun dengan was-was. Ia memeriksa bajunya. Juga ia melihat ranjang yang ditiduri semalam. Seketika hatinya lega. Bajunya masih melekat utuh, juga tempat tidurnya terlihat cukup rapi. Seperti nya pria itu tidak tidur disampingnya semalam.
Ia pun bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian. Sebenarnya ia sangat tidak nyaman memakai gaun pendek yang menonjolkan bagian-bagian tubuh tertentu. Ia lebih suka pakai celana jeans dan kaos oblong. Namun karena di lemari hanya ada jenis itu, terpaksa ia memakainya.
Dinda mematut diri di cermin. Membubuhkan sedikit bedak dan memakai lip gloss agar bibirnya tidak terlihat pucat. Ia mengikat rambut panjangnya membentuk ekor kuda. Memperlihatkan tengkuknya yang putih mulus. Hari ini Dinda harus mengetahui kabar tentang keluarganya. Memastikan mereka baik-baik saja. Dinda berharap agar hari ini yang dihadapinya Ridho bukan Raphael.
Dinda dengan hati-hati berjalan menuju ruang makan mengharap ia bisa bertemu dengan Raphael di sana. Namun harapannya pupus. meja makan nampak kosong, tidak ada makanan apa pun di atasnya. Ridho juga tidak tidak nampak.
Dinda sedang menimbang-nimbang, apakah ia perlu mencari nya ke ruang kerja. Tapi ia bimbang melangkah ke sana takut mengalami kejadian seperti kemarin. Ia takut menerima kemarahan Raphael. Ia tertegun cukup lama, sampai seorang pelayan menyadarkan lamunannya.
"Selamat pagi nyonya besar. Apakah nyonya ingin sarapan? Kami siapkan makanan nya. Maaf menunggu sebentar ya nyonya." Pelayan itu sangat sopan kepada Dinda. Perkataan dan sikap si pelayan lebih mirip pelayan di kerajaan Disney.
"Tunggu sebentar, apakah kamu tahu dimana Tuan Ridho?" Tanya Dinda berusaha mencari tahu.
"Nyonya ... tolong jangan sebutkan nama itu di rumah ini. Tuan Raphael akan sangat marah bila mendengarnya. Tolong jangan persulit kami Nyonya..."
Sang pelayan nampak ketakutan. Bagaimanapun nama itu terlarang untuk diperdengarkan di rumah itu. Banyak kejadian tidak mengenakkan saat Tuan Raphael marah hanya gara-gara nama itu disebut tak sengaja. Itulah yang membuat sang pelayan memilih menegur Dinda dari pada dia kena getahnya.
"Maaf aku tidak tahu," Dinda sangat menyesal. Ia tidak ingin membuat pelayan terimbas karena ketidaktahuannya.
"Tadi saya hanya ingin menanyakan keberadaan tuan Raphael." Dinda mengoreksi perkataannya. Kenyataan ini membuatnya seketika sakit kepala. Apakah mungkin kalau di rumah ini Ridho bertransformasi menjadi Raphael pria yang dingin dan sangat arogan?
__ADS_1
"Tuan sudah berangkat pagi-pagi sekali." Pelayan itu sudah kembali ramah pada Dinda. Ia juga sudah tersenyum.
"Oooo... Apakah semalam Tuan pergi? Karena tidak terlihat dimanapun?" Dinda tidak mungkin menanyakan mengapa Raphael tidak tidur di kamarnya? Karena sama halnya ia mempermalukan diri sendiri. Ia tidak ingin jadi bahan pembicaraan para pelayan di rumah itu.
"Seperti nya tuan lembur di ruang kerja nya. Karena sampai hampir pagi ruang kerja Tuan Raphael menyala lampunya." Pelayan itu menjawab apa yang dia ketahui saja. Karena selama ini tuan Raphael sangat tertutup. Dia tidak mengijinkan para pelayan merepotkan nya atau sampai berusaha mengatur nya. Seperti menanyakan keadaannya, mau makan, atau apapun kebutuhan pribadinya. Kalau Raphael tidak minta para pelayan dilarang bertanya.
"Baiklah... bisa minta tolong disiapkan sarapan saya?" Dinda menyerah. Ia tidak mungkin bisa memaksa pelayan untuk memberikan informasi yang lebih. Mungkin ia bisa bertanya pada pak Dito. Seperti nya pak Dito orang kepercayaan Raphael dan pastinya tahu apa saja yang dilakukan Raphael.
Dinda sedang duduk melamun di ruang tamu. Selesai sarapan tadi ia malas kembali ke kamar. Karena setiap ia masuk kamar bawaannya ingin tidur terus. Ia ingin sekali keluar dan jalan-jalan. Siapa tahu nanti ketemu Bu Inayah dan adik-adiknya di luar. Saat tadi ia sudah sampai pintu gerbang, penjaga gerbang melarangnya keluar. Pasti itu atas perintah Raphael.
Dirinya sekarang lebih seperti seorang tawanan terkurung di istana. Pepatah yang bisa menggambarkan keadaan nya adalah seperti burung dalam sangkar emas. Sebagus-bagusnya sangkar, masih lebih enak hidup bebas tanpa ada yang mengekang.
Apa gunanya semua fasilitas yang didapatkan nya sekarang. Semua itu tidak bisa menyentuh hatinya. Terlebih ini semua bukan benar-benar miliknya. Bukankah pada waktunya nanti ia akan dibuang Raphael? Yang ia inginkan saat ini berkumpul dengan keluarganya.
Nampak pak Dito masuk ke rumah dengan tergesa-gesa. Belum sempat Dinda memanggilnya, pak Dito sudah menghilang ke dalam ruang kerja Raphael. Dinda segera beranjak dari duduknya. Ia menunggu pak Dito di depan pintu ruang kerja.
Tak berapa lama, pak Dito keluar dari ruang kerja bosnya. Ia tampak sangat terkejut saat melihat Dinda ada di depan pintu.
"Nyonya menungguku?" tanya Pak Tito dalam keterkejutan nya.
"Iya Pak, saya bermaksud untuk pergi ke kampus hari ini. Untuk mengurus sesuatu. Jadi saya minta ijin untuk keluar sebentar." Dinda mengamati ekspresi Pak Dito. Ia sangat berharap cepat pergi keluar hari ini. kalau memungkinkan ia ingin sekali melarikan diri.
__ADS_1
Pak Tito menampilkan senyuman ramahnya. "Nyonya besar, saya tidak berhak memberikan izin apapun kepada nyonya. hanya Tuan Raphael yang berhak."
"E... apakah bisa Pak Dito membantuku untuk menyampaikannya kepada Raphael?" Kata Dinda penuh harap.
"Tuan Raphael sudah memberikan pesan bahwa Nyonya besar tidak diperbolehkan keluar rumah. Kalau untuk masalah kampus nanti akan saya bantu. Maaf saya buru-buru." Pak Dito berlalu tanpa menghiraukan Dinda yang masih ingin mengatakan sesuatu.
Dinda sangat kesal. Kalau ia tidak diperbolehkan kemana-mana? Apa yang harus dilakukannya untuk mengusir kejenuhan? Ia menatap kesal kepergian pak Dito.
Akhirnya Dinda memilih masuk kamar. Karena di ruang tamu pun ia sendirian. Tidak ada seorang pelayan pun yang mau bicara dengan nya. Ia seolah pajangan yang terabaikan.
Tok...tok...tok..
Terdengar suara ketukan pintu kamar. Dengan enggan dibukakannya pintu kamar.
"Ada apa pak Dito?" Tanya Dinda heran. bukankah tadi Pak Dito tampak sangat terburu-buru. Kenapa ia kembali dan menemuinya?
"ini handphone dari Tuan, tolong segera hubungi tuan. Jangan buat Tuan menunggu karena ia akan sangat marah!" Dinda tercengang keheranan. Raphael memberinya handphone?
Pak Dito langsung berbalik pergi saat paper bag nya diterima Dinda. Membuat Dinda kesal. Karena ia masih ingin mengorek informasi darinya. Dinda meletakkan paper bag di atas tempat tidur, ia hanya memandangi paper bag itu dengan malas.
Tiba-tiba terdengar deringan hp. Dinda mencari sumber suara. Ternyata suara deringan hp berasal dari paper bag yang tadi diserahkan pak Dito. Buru-buru diambilnya handphone nya. Ia menyentuh tombol hijau menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
__ADS_1
"Hallo..." Dinda menjawab telepon dengan ragu-ragu.
"Apa kau sudah bosan hidup?"