
Raphael menggandeng tangan Dinda dengan tidak sabar. Ia sudah berusaha menahan diri, namun wanita itu telah menggodanya. Nampak mata Raphael berkilat penuh rencana.
Dinda hanya menuruti Raphael. Ia sangat senang akhirnya ia akan segera bertemu dengan Bu Inayah, Riki dan Niki. Semoga keadaan mereka baik-baik saja. Sudah beberapa hari semenjak mereka dipaksa keluar dari rumah. Dinda belum sekalipun mendengar kabar keluarga nya.
Raphael membuka lift dan menekan tombol lantai paling atas yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja. Semalam setelah melampiaskan amarah ia merasa enggan untuk pulang, sehingga ia memutuskan untuk menginap di hotel.
Hotel bintang lima dipusat kota ini juga merupakan salah satu asetnya. Namun Raphael bukan orang yang suka mengumbar harta kekayaannya. Sehingga ia menutup identitas nya dengan sebuah nama samaran "Arta Samudra". Salah satu pengusaha lima besar se-Asia yang menaungi banyak perusahaan besar di bawahnya. Kekayaan dan asetnya sangat banyak tersebar di beberapa negara besar.
Raphael belajar bisnis mulai dari ia duduk di sekolah menengah. Saat itu, keluarga angkatnya sedang mengalami masalah keuangan. Karena Daddy sang tulang punggung keluarga yaitu ayah angkat Raphael dipecat dari pekerjaannya. Mereka terpaksa harus menghemat selama Daddy nya menganggur.
Saat itu Raphael muda mulai mencoba bisnis online. Menawarkan berbagai produk di sosial media. Berbagai jenis produk mulai dari fashion, cosmetics, alat masak, bahan makanan juga mobil berhasil dijualnya. Saat itu ia memakai samaran "Arta Samudra". Kegagalan sering menghampirinya, namun karena kegigihan juga kecerdasan nya, Raphael berhasil mendirikan sebuah CV yang bergerak di bidang penjualan on line.
Semakin lama usaha Raphael semakin berkembang. Hingga usahanya menjadi sebuah perusahaan besar. Karena waktu itu usianya masih sangat belia ia mengandalkan tim pengacara untuk mengurus legalitas hukum. Juga ia merekrut Daddy nya menjadi tangan kanannya di perusahaan itu. Yang pastinya, sampai saat ini Daddy nya tidak tahu kalau owner tempat kerjanya ternyata anak angkatnya sendiri.
Keberhasilannya mendirikan sebuah perusahaan, membuat Raphael semakin ketagihan. Ia mencoba keberuntungan nya di bidang pialang saham dan benar, Dewi Fortuna menghampirinya. Dalam waktu sekejap ia telah melipat gandakan kekayaannya.
Di luar, Raphael hanya seorang anak biasa, yang pulang-pergi ke sekolah naik sepeda di jalanan Melbourne. Namun disisi yang lain ia juga seorang bisnisman muda yang mulai diperhitungkan di negeri Kanguru itu.
Raphael mencengkeram kuat tangan Dinda. Membuat Dinda meringis kesakitan. Setelah mereka sampai ke dalam kamar. Raphael mengunci pintu. Dinda seketika diliputi rasa was-was.
"Mana keluarga ku?" Tanya Dinda cemas.
"Sebentar lagi kamu akan melihatnya!"
__ADS_1
Raphael mendorong Dinda hingga terjajar ke tembok. Mata Dinda berkaca-kaca. Ia takut.
"A... A... apa yang kamu lakukan?"
Cicit Dinda, seperti tikus yang jatuh dalam jebakan. Ia putus asa.
Raphael mendekatkan mukanya hingga kening mereka bersentuhan. Ia pun berbisik lirih.
"Aku suami mu. Aku keluargamu. Dan calon anak kita." Raphael membelai perut Dinda yang datar.
Detak jantung Dinda berdegup kencang. Ia takut. Sekaligus ia mengharapkan kedekatan ini. Jemari Raphael menyentuh bibir Dinda. Kemudian turun ke leher, membuat desiran hangat merambat di wajahnya. Semburat merah seketika menghiasi kedua pipi Dinda.
Jemari Raphael bergerilya memeriksa lekukan-lekukan tubuh Dinda, Ia mendekatkan bibirnya. Mengecup bibir tipis nan ranum milik Dinda. Sentuhan ringan namun seketika mengirimkan senyar ke seluruh tubuh nya.
"Kamu istri ku." Bisik Raphael parau. Ia sudah terbakar nafsu.
Raphael tidak sabar ingin mengulang adegan pagi tadi. Kali ini ia ingin melihat secara langsung. Perlahan ditariknya resleting gaun Dinda. Dengan sekali sentakan gaun itu sudah jatuh di lantai. Tinggal dua potong kain senada yang menutup bagian intim Dinda.
Raphael sengaja melakukan setahap demi setahap. Ia ingin memuaskan rasa dahaganya.
Raphael mencumbui Dinda dengan sangat bernafsu. Seluruh permukaan kulitnya tak ada sejengkal pun yang dilewati nya. Ia menyesap kulit putih Dinda, meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
Dinda ingin berontak namun tubuhnya tidak sinkron. Kedekatan fisik nya dengan Raphael membuatnya menjadi semakin ingin yang lebih.
__ADS_1
Raphael sudah tidak bisa menahan lebih lama. Ia segera menangkup tubuh Dinda dan membaringkannya ke atas ranjang king size yang bernuansa monokrom.
Aroma harum sabun mahal membuat Raphael semakin melayang dalam imajinasi. Bibir dan lidah Raphael menyapu daerah rentan itu, Dinda mendesah kuat. Ia sudah tidak bisa menahan diri. Ia telah tenggelam dalam permainan manis Raphael.
Dinda yang terbaring di bawah tubuh Raphael tak henti-hentinya merintih dan mendesah. Suara-suara itu semakin membuat Raphael kalap. Dengan sekuat tenaga ia memompa ke dalam tubuh Dinda. Merasakan getaran kenikmatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Sampai di satu titik, Raphael tidak bisa menahannya. Ia telah mencapai puncak tertinggi. Ia akhirnya memuntahkan cairan hangat di dalam tubuh Dinda. Peluh membanjiri tubuh kedua pasangan itu padahal suhu ruangan sudah dipasang di suhu yang cukup dingin.
Raphael jatuh terkapar di sebelah Dinda. Seringai puas tergambar diwajahnya. Ia menarik ujung selimut menutupi tubuh mereka.
Sementara di ujung ranjang, Dinda tidur menggelung membelakangi Raphael. Seperti seekor trenggiling menggulungkan badannya untuk melindungi diri.
Air mata mengalir tanpa disadarinya. Rasa perih di bagian intinya membuatnya tersiksa. Namun ada hal lain yang ia sesali. Pria di sebelahnya yang adalah suaminya di atas kertas, apakah mungkin akan benar-benar mencintainya? Dan menganggapnya sebagai benar-benar istrinya, bukan sekedar istri kontrak.
Dinda menggapai bajunya yang terserak di lantai. Dengan tertatih ia melangkah ke toilet, meninggalkan Rhapael yang tertidur.
Dinda mengguyur tubuhnya dengan shower. Mencoba meredakan perasaan hatinya yang tak menentu. Di satu sisi ia ingin mempercayakan hatinya pada Raphael namun ada ketakutan besar yang masih ia rasakan. Apakah Pria itu benar-benar suaminya, ataukah ia akan dicampakkan begitu saja saat ia tidak berarti bagi nya.
Raphael mengerjapkan matanya. Ia merasa segar, setelah beberapa menit tertidur. Ada perasaan puas yang tak terlukiskan. Semua itu berkat Dinda. Ia memalingkan wajahnya mencari keberadaan Dinda.
Sesaat sempat khawatir, namun setelah mendengar suara shower di kamar mandi. Ia pun tersenyum. Raphael menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terekspos.
Seketika pandangannya tertuju pada sesuatu di atas seprei putih. Ia mendekatinya untuk memastikan. Ada setitik bercak darah segar.
__ADS_1
"Apakah ini tanda darah perawan?"