
Bu Inayah mengenali orang yang berjalan menuju ke arah mereka adalah nyonya Sita. Ia harus segera menghindar. Kalau nyonya Sita mengenalinya, pasti akan menyulitkan buatnya nanti.
"Mbak Imah... maaf saya harus pergi, ini Riki minta dibelikan jajan." Bohong Bu Inayah. Ia pun segera meninggalkan Imah. Ia sengaja berbelok ke lorong yang lain untuk menghindari pertemuan nya dengan nyonya Sita.
"Imah... sudah lama kah operasinya?" Tanya Nyonya Sita sesaat saat ia mendatangi Imah pembantu nya.
"Sudah cukup lama nyonya." Jawab Imah.
"Kamu sudah makan?" Tanya Nyonya Sita kembali.
"Belum nyonya." Imah seketika ingat kalau dari pagi dia belum sempat makan apa-apa.
"Sudah pergi sana cari makan! Biar saya yang menunggu Dinda."
"Baik nyonya, apakah nyonya perlu saya belikan sesuatu?"
"Tidak usah, kamu cepat makannya. Karena saya tidak bisa berlama-lama di sini."
Nyonya Sita menjawab ketus. Sebenarnya ia seorang yang sabar dan ramah. Namun karena masalah Dinda, membuatnya sangat mudah tersulut emosi.
"Hhhh... Dinda... Dinda, mengapa engkau mengecewakan kami?" Desah nyonya Sita penuh kemarahan.
Nyonya Sita teringat saat Fariz dan Dinda masih kecil, mereka saling menyayangi tak ubahnya seperti saudara kandung. Sifat Dinda yang polos dan pemalu membuatnya jatuh hati saat pandangan pertama.
Dinda bertumbuh menjadi anak gadis cantik yang sangat sopan pada orang yang lebih tua, berbakti dan lemah lembut. Bila dibandingkan Fariz saat dewasa sangat jauh beda. Fariz cenderung lebih sekehendak hati. Susah diatur. Dan seringkali berkata kasar. Namun nyonya Sita tidak menyangka kalau ternyata Dinda yang terlihat polos malah jadi wanita nakal.
Nyonya Sita menghapus air matanya. Ia benar-benar sedih mengingat bagaimana Dinda telah mengecewakannya.
Apalagi keputusan nya menikahkan Dinda dengan anaknya, seperti nya sebuah kesalahan. Pasti tindakan kekerasan yang dilakukan Fariz adalah bentuk kekecewaannya pada Dinda. Kalau kejadian ini sampai dilaporkan polisi, bagaimana nasib Fariz? Terlebih bagaimana nanti nama baik keluarganya pasti tercoreng.
Seandainya waktu bisa diputar kembali, ia tidak akan memaksa suaminya untuk menikahkan Fariz dan Dinda. Lebih baik mereka menjauh dari gadis pembawa aib itu.
Nyonya Sita memeriksa hp nya. Ada sebuah pesan dari suaminya yang menyuruh nya cepat pulang. Nyonya Sita segera menelepon Imah agar cepat kembali ke Rumah Sakit.
__ADS_1
Imah yang baru menerima pesanannya, segera meminta agar nasinya dibungkus saja.
***
"Ibu... ayo kita ke rumah sakit. Riki pingin ketemu mbak Dinda." Rengek Riki pada ibunya.
Bu Inayah hanya bisa berdiam diri. Ia tidak berani menjanjikan apa pun. Karena ia sangat mengenal anak bungsunya. Ia sedang memikirkan bagaimana agar ia bisa ke rumah sakit tanpa takut ketahuan nyonya Sita.
Kalau boleh jujur, ia sangat merindukan Dinda. Dinda sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Apalagi keadaan ekonomi mereka cukup baik berkat pertolongan Dinda. Ia harus membebaskan Dinda dari belenggu keluarga Fariz.
Bu Inayah merasakan rasa sesak dalam dadanya saat mengingat keadaan Dinda tadi sore. Bagaimana bisa Dinda diperlakukan seburuk itu oleh keluarga Fariz. Dinda telah menerima siksaan secara mental dan fisik.
"Ibu.... ayo kita jemput mbak Dinda!" Rengekan Riki kembali menyayat hati. Namun lagi-lagi ibunya tidak menggubris nya.
Niki yang sedari tadi sibuk mengerjakan PR, jadi terganggu pada rengekan adiknya.
"Dik... jangan ganggu ibu. Mungkin ibu lagi banyak pikiran. Dek Riki mau beli jajan ya? Ayo kakak antar beli di warung Bu Danu."
Niki berusaha merayu adiknya supaya tidak mengganggu ibunya.
Jawaban Riki membuat Niki seketika melongo. Benarkah Riki baru bertemu mbak Dinda?
Niki menyeret tangan adiknya, mengajaknya ke kamar.
"Dek... kamu beneran ketemu mbak Dinda? Dimana? Bagaimana kabarnya? Kapan mbak Dinda pulang?"
Niki begitu antusias bertanya pada adiknya. Karena ia pun sangat kangen dan mengkawatirkan keadaan mbak Dinda.
"Aku sama ibu ketemu di rumah sakit. Mbak Dinda tidur terus jadi gak melihat aku. Tadi mbak Dinda dibawa pergi katanya mau dioperasi." Informasi mengalir deras dari mulut Riki.
Sejenak Niki terdiam memikirkan perkataan adiknya. Kalau benar ibu dan Riki baru bertemu mbak Dinda, mengapa ibunya tadi terlihat sedih dan bingung?
"Mbak... ibu gak mau ku ajak melihat mbak Dinda. Ayo kita saja yang ke sana. Nanti ku kasih tahu tempatnya." Dengan percaya diri, Riki meyakinkan kakaknya.
__ADS_1
"Dek... kita gak bisa ke sana tanpa ijin ibu. Kita tunggu sampai ibu mengajak kita menemui mbak Dinda. Mungkin ibu masih sibuk sekarang, tadi siang kan sudah ke sana? Mungkin besok, ibu akan mengajak kita bertemu mbak Dinda."
Niki menyimpan sebuah rencana. Ia mengambil beberapa buku dan memasukkannya ke dalam tas sekolah. Setelah menyampaikan tali tasnya di bahu, Niki bergegas menemui ibunya yang sedang sibuk di dapur.
"Ibu... Niki ijin mau belajar di tempat Nia. Ada catatan yang tadi siang belum Niki selesaikan."
"Jangan terlalu malam ya pulangnya." Nasehat Bu Inayah saat menyambut tangan Niki yang segera mencium tangannya yang mulai berkerut.
Riki mendengar kakaknya yang akan pergi keluar. Ia pun segera menemui ibunya.
"Bu... Riki ikut mbak Niki ya?" Riki sudah berniat lari menyusul kakaknya. Namun Bu Inayah segera menghentikan nya.
"Riki... lukamu belum sembuh." Bu Inayah berusaha memberikan pengertian pada anak bungsunya.
"Bu... kaki ku sudah tidak sakit lagi. Aku bisa lari dan melompat." Riki melompat-lompat meyakinkan ibunya. Efeknya ia harus menahan sakit karena luka bakar kakinya tergesek.
Ibunya cukup peka sehingga ia menghentikan nya.
"Sudah... sudah... iya besok kita akan pergi menjenguk mbak Dinda. Tapi syaratnya, Riki harus tidur lebih awal malam ini. Supaya besok, kakinya sudah sembuh."
Riki kegirangan mendengar janji ibunya.
"Hore... besok ketemu mbak Dinda...!" Serunya bersemangat.
****
"Niki... ngapain kita ke rumah sakit?" Bisik seorang gadis pada temannya.
"Nanti kamu tahu." Niki tidak memberikan penjelasan apapun pada sahabat nya. Bagaimana Nia tidak penasaran. Saat di rumah tadi, Niki minta ijin pada ibu Nia akan mengajak Nia jalan-jalan ke pasar senggol dekat rumahnya. Kenyataannya mereka naik ojek dan pergi ke rumah sakit.
Bapak tukang ojek menurunkan mereka tepat di depan gerbang rumah sakit.
Dua anak perempuan itu terbengong melihat besarnya rumah sakit di depan mereka. Ini baru pertama kali mereka mengunjungi rumah sakit.
__ADS_1
Niki mengerutkan keningnya berpikir keras. Bagaimana ia bisa menemukan mbak Dinda di rumah sakit sebesar ini? Ia mengira, rumah sakit hanya kecil saja, terdiri dari beberapa kamar. Rencananya tadi ia akan mengelilingi rumah sakit dan mencari mbak Dinda di rawat.
Niki menggandeng tangan sahabatnya. Mereka berjalan dengan kebingungan.