Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Pusing


__ADS_3

Tak berapa lama pak Tono datang mengendarai mobil Avansa silver milik pak RT. pak Tono turun dari mobil dan membantu Dinda membawakan tas yang cukup besar dan berat. pak Tono memasukkan barang bawaan Dinda ke dalam bagasi mobil.


"Kita berangkat sekarang ya Non Dinda?" Tanya pak Tono memastikan.


"Iya pak, mari kita berangkat sekarang." Dinda segera membuka pintu depan mobil dan duduk di sebelah pak Tono.


Mereka melaju menuju Rumah Sakit Fatmawati. Disepanjang jalan mereka terdiam, terhanyut dalam pikiran masing - masing. Sampai di simpang tiga, dekat Rumah Sakit laju mobil tidak stabil. Pak Tono segera menepikan mobilnya.


"Sepertinya ban mobil bocor, saya periksa dulu ya non Dinda." pak Tono keluar dari mobil dan memeriksa keadaan ban mobil. Rupanya ban mobil belakang sebelah kanan bocor. Dinda pun menyusul ikut ke luar.


"Bagai mana ya non, mobil bocor. Saya akan panggil mekanik bengkel untuk mengganti ban yang bocor. Apa non Dinda mau menunggu? mungkin sekitar setengah jam." Kata pak Tono menjelaskan.


"Rumah sakit sudah dekat dari sini pak. Saya sangat kawatir dengan keadaan ibu. Gak papa ya pak Tono saya tinggal sendiri?"


"Iya non gak papa." Kata pak Tono makhlum. Sebenarnya ia tidak tega membiarkan Dinda jalan kaki. Namun karena ia juga harus menjaga mobil bosnya, ia pun melepaskan kepergian Dinda.


"Saya tinggal dulu ya pak." pamit Dinda.


"Iya non, hati - hati di jalan." Pak Tono merasakan haru dalam hatinya. Ia merasa simpati dengan musibah yang dialami Dinda. Ayahnya yang telah meninggal dan sekarang menghadapi ujian dengan penyakit ibunya. Dalam hati Pak Tono mendoakan kesembuhan untuk Bu Rahmah.


Dinda mengambil barang - barangnya dari bagasi mobil. Ia segera melangkah menuju Rumah sakit yang berjarak tidak lebih lima ratus meter lagi. Ia menenteng tas di bahu kanannya. Bawaannya cukup banyak dan berat, membuat Dinda kerepotan. Sesekali ia berhenti untuk melepas lelah dan mengatur bawaannya. Nafasnya mulai tersengal, kaki dan bahunya terasa pegal. Tekatnya untuk menemui ibu nya di rumah sakit menjadi cambuk hingga ia terus melangkah.


Saat ia sampai di lobi rumah sakit, ada seseorang berlari dari arah samping. Mungkin sedang buru - buru, hingga keberadaan Dinda dan barang bawaannya tak terlihat.


"Brukkkk"

__ADS_1


Tabrakan tak terelakkan. Dinda yang tidak siap, jatuh telentang. Terbanting dengan keras di lantai dingin rumah sakit. Kepalanya membentur lantai. pria yang menabraknya seketika berhenti.


"Maaf kan saya Nona. Saya benar - benar tidak sengaja. Adakah yang terluka?" Tanya pria itu sambil menawarkan bantuan mengulurkan tangannya.


Dinda merasa familier dengan suara pria itu, ia segera mendongak. "Ya ampun apes benar nasibku. Sudah dua kali tertabrak oleh orang yang sama." Sungut Dinda sambil bergegas bangkit dan merapikan tas bawaannya.


"Maaf nona bilang apa?" Tanya si pria dengan sopan.


"Udah pergi saja, jangan dekat - dekat nanti aku bisa sial." Usir Dinda. Si pemuda yang tidak habis pikir dengan sikap galak perempuan yang baru ditabraknya memilih untuk segera pergi. Si pria mulai menjauh, namun masih ada rasa kawatir. Tadi ia mendengar suara benturan cukup keras. Ia takut benturan itu berefek buruk, meninggalkan luka. Beberapa kali ia menoleh memastikan keadaan Dinda yang baru ditabraknya itu.


Dinda melangkahkan kakinya berniat sesegera mungkin menemui ibunya, namun kepala bagian belakangnya terasa perih. Ia meraba bagian kepalanya yang sakit, ada sesuatu yang basah di sana. Ia menarik tangannya dan memastikan benda apa yang menempel di tangannya. Jari - jari tangannya berlumuran darah. Bau amis menyengat penciumannya. Seketika lantai serasa bergoyang. Tembok dan segala furniture yang ada di lobi seperti menari - nari. Kegelapan membungkus pandangannya. Seketika Dinda jatuh kembali dan tak sadarkan diri.


Rupanya pria yang baru menabrak Dinda belum terlalu jauh. Ia segera berlari dan menangkap gadis itu. Kemudian segera membopong Dinda ke ruang UGD. perawat dan dokter jaga segera menangani Dinda. Mereka membersihkan luka di kepala Dinda dan memberikan beberapa jahitan.


Saat perawatan selesai dilakukan, Dinda terbangun. Ia sangat terkejut sudah terbaring di tempat tidur rumah sakit, dan ada dua perawat merubungnya. "Kenapa saya di bawa ke sini?" Tanya Dinda kebingungan.


"Enggak... Enggak sakit. Kenapa saya dibawa ke sini?" Tanya Dinda heran. Ia berharap tidak terjadi apa - apa pada nya. Ia tidak habis pikir mengapa tiba - tiba ada darah di kepalanya? Hanya jatuh seperti itu saja bisa membuat kepalanya berdarah. Memikirkan dan membayangkan darah, membuat Dinda bergidik ngeri dan perutnya mual serasa ingin muntah.


"Tadi mbak nya pingsan habis terjatuh dan ada benturan dikepala sehingga perlu secepatnya mendapat perawatan." Kata perawat menjelaskan.


Dinda merasa sangat risau, ia tidak menyangka akan mengalami kejadian seperti ini. Menambahi beban biaya rumah sakit. Sementara ia belum tahu seperti apa keadaan ibunya. Ia tidak bisa memikirkan dari mana ia bisa mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit? Tabungan uang sakunya juga belum seberapa. Namun ia bertekat akan berusaha sekuatnya asal ibunya tercinta sembuh. Dia tidak mau ditinggalkan lagi.


"Mbak suster, saya tidak apa - apa. Saya memang sangat takut melihat darah, itulah sebabnya saya pingsan." Dinda takut kalau sampai disuruh opname.


"Iya mbak tenang saja. Luka robeknya tidak terlalu dalam. Nanti kalau ada keluhan pusing atau mual segera cek kembali ya mbak." salah satu perawat mengambil formulir dan mengisi data Dinda.

__ADS_1


"Apakah saya boleh pergi?" Tanya Dinda dengan sedikit Risau.


"Iya mbak. Hati - hati di jalan." Kata dua orang perawat hampir bersamaan.


"Ehmmm untuk administrasi mengurusnya dimana ya?" Tanya Dinda sebelum meninggalkan ruang UGD.


"Tenang mbak, tadi cowoknya mbak sudah menyelesaikan adminnya." Jawab salah satu perawat dengan senyuman.


Dinda mengingat-ingat. Ya tadi ia ditabrak seorang cowok. Si Ridho orang aneh yang tadi siang nyaris menabraknya dengan mobil dan sempat menculiknya. Tapi cowok tadi mengapa tidak mengenalinya dan terlihat sangat berbeda. Yang barusan menabraknya di rumah sakit orangnya sangat ramah.


Dinda menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau memikirkan pria aneh itu, yang terpenting biaya perawatan nya sudah dibayar. Itu cukup melegakannya.


"Oh... kalau begitu terimakasih banyak atas perawatannya."


Dinda menoleh ke kanan dan kekiri mencari - cari barang bawaannya. Juga memastikan kalau pria itu tidak ada di ruangan itu.


"Mbak.... ini barang bawaannya." Kata salah satu perawat menyerahkan sebuah tas besar kepada Dinda.


"Terimakasih banyak." Dinda menerima dengan sangat senang. Ia mencoba mengecek amlop pemberian bu RT, rupanya masih utuh. Ia pun bisa bernafas lega.


Dinda segera berjalan menuju ruang informasi untuk mengetahui di mana ibunya dirawat. Seorang penjaga segera membantu mengecek melalui layar komputer.


"Ibu ....di ruang ICU". Dinda melangkah dengan gontai menuju ICU tempat ibunya dirawat. Melalui dinding kaca bening, ia melihat ibunya sedang terbaring lemah. Ada selang oksigen di hidungnya dan kabel - kabel penghubung ke monitor. menunjukkan sebuah pola detak jantung yang tidak dipahaminya.


Air mata kembali mengalir dari ujung matanya. Hatinya teriris sedih. Mengapa ibunya harus mengalami ini? Saat ia belum bekerja. Bagaimana ia bisa mengusahakan pengobatan yang terbaik padahal ia belum menghasilkan uang sendiri? Bagaimana caranya mendapat uang banyak agar ibunya dapat tertolong dan segera sembuh.

__ADS_1


Sebuah tepukan lembut menyadarkannya.


__ADS_2