
Mata Dinda berlinang air mata. Ia tidak mempercayai yang dilihatnya. Bagaimana bisa suami yang sangat dicintainya punya wanita lain?
"Nyonya... maaf saya tidak tahu kalau nyonya sudah selesai belanja."
Sang sopir tergopoh-gopoh membukakan pintu mobil untuk Dinda. Dinda menghapus air matanya, ia tidak ingin orang lain melihat kesedihannya. Ia buru-buru masuk ke dalam mobil. Berusaha meredam hatinya yang menjerit sakit. Penghianatan Raphael melukainya hingga relung terdalam.
Sang sopir sudah melajukan mobilnya keluar dari mall. Di tengah kegundahan hatinya, Dinda membulatkan tekad untuk memastikan apa yang dilihatnya tadi. ia berharap yang dilihatnya tadi orang lain, bukan suaminya.
Mobil yang ditumpangi Dinda berhenti di loket parkir. Ada beberapa mobil yang sudah mengantri di depannya. Saat Dinda menoleh ke kanan jendela ia melihat suaminya sedang menyodorkan uang elektronik kepada kasir. Di samping Raphael nampak siluet seorang wanita yang bergelayut manja di lengannya. Seketika hawa panas menyelimuti wajah Dinda. Ia cemburu.
"Pak ikuti mobil di depan itu. Jangan sampai kehilangan jejak!" Dinda belum bisa percaya pada apa yang dilihatnya barusan. Suaminya dengan patuh membukakan pintu mobil untuk wanita lain. Juga senyuman Raphael pada wanita itu sangat menyakiti hati Dinda sampai ke dasar.
Setelah hampir satu jam perjalanan karena terkena macet di jam pulang kerja, mobil yang mereka buntuti akhirnya berbelok. Mobil itu menuju parkiran rumah sakit.
Dinda menyuruh sopirnya, untuk mencari tempat parkir. Sementara dirinya segera turun dan membuntuti Raphael yang menggandeng tangan wanita dengan sangat mesra. Dinda berusaha mencuri-curi dengar pembicaraan dua orang penghianat cinta itu.
"Ros... nanti kalau di depan mama ku, jangan banyak bicara ya. Biar aku saja yang memberi pengertian padanya."
"Tapi yank.... bagaimana pernikahan kita? Terakhir kali mama terus memaksamu menikahi Dinda? Kalau kali ini ia tetap memaksamu bagaimana?"
Sipelakor terdengar membuat-buat suaranya agar terdengar merdu merayu di telinga Raphael.
"Tenang sayang, kita pasti akan dapat restunya." Raphael menghibur wanita yang terus melilitnya seperti benalu.
Melihat tingkah Raphael dan wanita genit itu, membuat Dinda ingin melampiaskan kemarahannya. Namun ia sekuat tenaga menahan kemarahan yang sudah hampir meledak. Ia tidak boleh sembrono kalau ingin menyelamatkan pernikahannya.
__ADS_1
Dua orang itu berjalan menuju ke ruang perawatan. Dinda terus saja mengekori di belakangnya ia terus mempertahankan agar tetap di jarak dengar. Karena ia ingin mendengar apa saja yang dikatakan suaminya tentangnya. Mungkin pernikahannya yang baru sepuluh hari tidak ada artinya bagi Raphael? Kalau ternyata Raphael menikahinya hanya karena kertas kontrak, ia harus mulai mengatur langkah. Memikirkan hal itu membuat hatinya berdesir nyeri.
Dinda telah memberikan jiwa dan raganya untuk Raphael. Ia sudah mulai egois. Cinta telah membuatnya ingin mempertahankan apa yang dia punya. Terlepas dari apapun, Raphael adalah suaminya. Ia tidak akan membiarkan wanita manapun merebut tempatnya.
Tiba di sebuah ruang VVIP, Raphael dan sipelakor masuk ke dalam. Tak lupa menutup rapat pintu dibelakangnya. Seketika membuat Dinda kelabakan. Bagaimana ini? Ia tidak bisa mendengar apapun yang dikatakan mereka di dalam kamar.
Dinda kebingungan di depan ruang perawatan. Harusnya ia dengan berani melabrak Raphael dan sipelakor. Namun Dinda tidak ingin secara frontal menuduh mereka, ia takut Raphael akan benar-benar menceraikan nya.
Seorang perawat nampak berjalan kearahnya membawa troli makanan. Dinda memanggilnya. Ia juga mengotak-atik hp nya. menyetel mode silent dan menyalakan perekam suara dan Vidio.
"Tolong rekam pembicaraan orang di dalam kamar. Aku akan kasih uang cukup besar untuk mu."
Dinda menunjukkan lembaran uang yang cukup banyak di dalam tas nya. Sang perawat nampak berbinar matanya. Siapa yang tidak tergoda dengan uang banyak?
Si perawat dengan patuh mengerjakan perintah Dinda. Seperti nya gadis perawat itu punya talenta akting yang bagus karena orang-orang di ruangan itu tidak mempersoalkan keberadaan nya.
Tak lama Raphael dan sipelakor keluar kamar perawatan mamanya. Nampak si wanita manyun menunjukkan kekesalannya.
"Benarkan apa yang ku perkirakan? Mama mu tetap saja menolak ku. Sebenarnya apa hebatnya si Dinda itu?" Si wanita meluapkan kemarahannya.
"Rossa, dimata ku kamulah wanita yang paling sempurna. Tidak ada yang bisa menandingi kamu. Sekalipun itu Dinda."
Tangan Raphael meraih jemari Rossa membawanya lebih mendekat ke arahnya. Raphael tidak segan-segan mencecap bibir si wanita di depannya. Tangannya pun membelai punggung wanita itu kemudian turun ke pantat. Tangan itu tak malu-malu meremas pantat padat si wanita.
Dinda yang sedari tadi berdiri merapat di tembok dipaksa melihat adegan yang mematahkan hatinya. Selama seminggu ini ia merasa bahwa dialah sang ratu dari Raphael. Wanita beruntung yang dicintai dan dimanjakan seorang Raphael. Namun ia tidak menyangka kalau di luar, suaminya berlaku seperti itu.
__ADS_1
Matanya mulai dipenuhi kabut, hingga air mata seketika tumpah membasahi pipi nya. Ia tidak tahan melihat adegan di depannya. Dinda menyerah dan memilih menyingkir dari tempat itu.
Sebuah suara menghentikan langkahnya. "Mbak... "
Dinda menoleh mencari sumber suara.
"Mbak ini hp nya, saya sudah menyelesaikan tugas. Bisakah saya mendapatkan upah?" Tanya sang perawat tanpa malu-malu. Ia saat ini memang sangat memerlukan uang. Jadi saat ada kesempatan ia bisa menghasilkan uang dengan mudah, ia serta merta menerimanya.
Dinda mengeluarkan segepok uang dan menyerahkannya pada gadis perawat. Gadis itu tersenyum ceria, "Trimakasih banyak ya mbak, ku anggap ini sebuah bantuan. Kalau lain kali ada sesuatu yang mbak perlukan. Cari saya, Della."
Gadis perawat itu meninggalkan Dinda sendiri. Dinda memandangi ponselnya. Ia tidak lagi memerlukan rekaman Vidio itu. Ia sudah bisa menebak isinya dari apa yang dikatakan si wanita itu dengan Raphael tadi.
Dinda terdiam cukup lama, meskipun ia penasaran akan apa yang dilakukan suaminya dengan wanita itu, ia memilih untuk membiarkannya. Saat ini Dinda ingin melihat keadaan Bu Desy. Mengapa mama Ridho sampai masuk rumah sakit? Bagaimana pun, Bu Desy adalah mertuanya.
Dinda perlahan-lahan membuka pintu kamar Bu Desy. Ruang VVIP rumah sakit cukup besar dan penataannya sangat elegan. Ada sofa sudut di pojokan. Beberapa lukisan terpajang elegan di dinding, juga dilengkapi pendingin ruangan.
Di ujung ruangan nampak sesosok tubuh nampak terbaring di ranjang. Tubuh itu terlihat lemah tak berdaya. Ada beberapa selang menghubungkan tubuh lemah itu dengan beberapa alat medis.
Wanita lemah yang terbaring itu menyadari kedatangan Dinda. Tatapan penasaran menyorot di matanya. Agak lama, barulah wanita itu mengenali Dinda.
"Dinda..." panggilnya lemah. Nampak bibirnya miring saat menyebutkan namanya.
"Bu Desy.... ibu sakit apa?" Dinda menghampiri ranjang mertuanya. Ia tidak menyangka, pertemuan ke dua dengan Bu Desy dalam keadaan sangat mengenaskan. Sebulan lalu ia melihat sosok wanita paruh baya dengan semua kemewahan dan kecantikan. Namun saat ini ia melihat wanita tua dengan keadaan tanpa daya. Setitik air mata haru mengalir di pelupuk Dinda.
"Dinda.... maafkan ibu."
__ADS_1