Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Salah Paham


__ADS_3

Nggak apa-apa. Itu tidak jadi masalah buat ku. Oh ya Din, panggil aku Ridho saja. Aku merasa tidak nyaman kalau kamu memanggil dengan embel-embel tuan." Tegas Ridho pada Dinda. Dinda pun mengangguk.


"Sebaiknya kita cepat pulang. Hari sudah semakin larut." Kata Dinda mengingatkan Ridho.


Setelah Ridho membayarkan biaya persalinan di klinik itu merekapun pergi. Ridho mengantarkan Dinda pulang ke rumahnya. Ia masih ingat jalan menuju rumah Dinda. Hingga sebentar saja mereka telah sampai di jalan depan warung Maharani.


"Ini rumah kamu Din? Maharani nama siapa?" Tanya Ridho penasaran.


"Nama belakang saya." Jawab Dinda singkat. Ia berusaha membuka pintu mobil. Namun tak juga terbuka. Dinda tidak tahu kalau pintu mobil masih dalam kondisi terkunci.


"Tunggu, ku buka pintunya dari luar." Kata Ridho seraya berlari turun dan membukakan pintu untuk Dinda. Saat Dinda turun, kaki kirinya tergelincir. Beruntung Ridho sigap menangkapnya.


"Trimakasih banyak."


"Sama-sama, langsung istirahat ya. Have a nice dream." Kata Ridho seraya kembali ke bangku sopir. Ia sempatkan melambaikan tangannya dan melajukan mobilnya pelan meninggalkan Dinda.


Di balik kaca, sepasang mata mengawasinya. Sepasang mata itu adalah milik bu Rahmah. Wanita itu menghela nafas dalam. Ia merasa kecewa pada apa yang barusan dilihatnya. Hatinya merasa nelangsa, apakah pendidikan yang diberikan untuk putri semata wayangnya selama ini sia-sia? Mengapa putrinya memilih jalan ini untuk mendapat uang?


Bu Rahmah menangis, ia menyalahkan kondisinya yang menjadi penyebab semua ini terjadi. Kalau saja ia tidak kena serangan jantung, pasti putrinya tidak perlu menjadi wanita malam. Prasangka itu terus berkecamuk dalam benaknya. Hanya itu satu-satunya jawaban atas uang banyak yang didapatkan Dinda untuk pengobatannya. Uang banyak yang didapatkan dalam waktu singkat.


"Kriekkk..." suara pintu terbuka. Dinda membuka pintu dengan kunci cadangannya. Ia bersyukur tidak membangunkan bu Inayah. Namun seketika langkahnya terhenti, saat menyadari ada sesosok wanita duduk di sebuah kursi roda. Dinda menajamkan matanya berusaha meyakinkan pada apa yang dilihatnya.


Hingga sebuah panggilan meyakinkan penglihatannya.


"Dinda... baru pulang nak?"


"Ibu sudah pulang? Bagaimana bisa?" Tanya Dinda tidak percaya. Ia segera menghambur dan memeluk ibunya.

__ADS_1


"Ibu sudah terlalu lama di rumah sakit. Ibu bosan." canda bu Rahmah.


"Ibu baru saja menjalani operasi, harusnya menunggu beberapa hari lagi. Setidaknya sampai ibu pulih dulu baru pulang." Dinda mengungkapkan kekawatirannya.


"Ibu sudah pulih. Bahkan dokter mengijinkan ibu untuk rawat jalan saja. Oh ya Nak, dari mana kenapa pulangnya malam sekali?" Bu Rahmah tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Ibu ini sudah malam, sebaiknya ibu beristirahat. Besok, Dinda ceritain semua. Ayo Dinda antar ke kamar!"


Dinda meraih kursi roda ibunya, dan mendorongnya ke kamar. Ia tidak ingin memperpanjang obrolan mereka malam ini, ibunya perlu istirahat. Juga dirinya sudah sangat kelelahan dengan segala persiapan catering siang tadi.


Sesampainya di kamar, Dinda segera membantu ibunya berbaring di ranjang. Ia pun segera merebahkan diri di samping ibunya. Tak berapa lama mereka lelap dalam tidurnya.


Tidur nyenyak Dinda yang hanya sebentar terusik dengan suara panggilan dari ponselnya. Ia bergegas menerima panggilan telephon. Rupanya dari pedagang ikan yang mengantarkan pesanan. Dinda bergegas membukakan pintu. Di dapur, bu Inayah sedang meracik bumbu-bumbu.


"Met pagi bu Inayah. Ibu pagi benar sudah mulai kerja?" Sapa Dinda saat ia membawa sekantung plastik ikan segar.


"Gak papa Bu, saya baru pulang tengah malam. Nyonya Desy menahan saya untuk membantu saat acara arisan, juga menyuruh saya memasakkan makan malam untuk keluarganya. Waktu pulang ada ibu hamil mau melahirkan minta diantar ke klinik. Jadi saya mengantarnya ke klinik dan memastikan wanita itu melahirkan dengan selamat. Anaknya cowok, ganteng banget. Bersyukur sekali kami mengantarkannya tepat waktu. Ibu itu sudah pendarahan waktu menghentikan mobil kami. Sepertinya sakit sekali ya Bu melahirkan?"


"Dinda ngeri mengingat kejadian semalam. Apalagi saat melihat darah.... hoek....hoek"


Dinda berlari ke kamar mandi, menumpahkan semua isi perutnya. Saat ia mengingat kejadian semalam tiba-tiba rasa mual menyerangnya. Bayangan wanita yang mau melahirkan dengan darah mengalir dikakinya membuat perutnya seketika mual. Bu Inayah berlari ke kamar mengambilkan minyak kayu putih.


Ia pun mengurut tengkuk Dinda sekaligus mengusapkan minyak kayu putih.


"Waduh Mbak Dinda pasti masuk angin karena kecapekan. Oh ya mbak Dinda sudah periksa ke dokter kandungan?" Tanya bu Inayah mengingatkan Dinda.


Dinda tergagap. Ia benar-benar lupa sama sekali. Kesibukannya mengurus catering membuatnya lupa pada keadaan fisiknya.

__ADS_1


"Sebaiknya beli tes pack untuk memastikan apakah mbak Dinda hamil atau tidak. Supaya mbak Dinda bisa lebih memperhatikan kesehatan." Nasehat bu Inayah sambil terus memijat tengkuk Dinda.


"Iya Bu, nanti siang aku akan ke apotik."


Baik Dinda maupun bu Inayah tidak menyadari ada seseorang mendengar percakapan mereka. Bu Rahmah rupanya terbangun. Dan saat ia ingin ke kamar mandi, tak sengaja ia mendengar percakapan Dinda dan bu Inayah. Ia sangat syok. Tubuhnya mendadak lemas. Sekuat tenaga ia kembali masuk ke dalam kamarnya.


Bu Rahmah terduduk lemas di pinggir ranjang. Ia tidak menduga harus mendengar berita yang mengguncang hatinya. Air matanya menetes. Lagi-lagi ia tidak bisa menyalahkan putrinya. Ini semua karena sakitnya. Dinda dihadapkan pada masalah yang sangat berat.


Bu Rahmah menekan dadanya yang terasa mulai sesak. Memikirkan Dinda yang terjerumus di dunia malam. Menjual kehormatan demi untuk mengobatinya. Ada penyesalan yang menyelusup dalam hatinya. Untuk apa ia hidup kalau toh menyulitkan anaknya. Bahkan Dinda telah kehilangan masa depannya.


Ia telah melihat bagaimana Dinda pulang tengah malam diantarkan seorang pria berpakaian kantoran dengan naik mobil mewah. Bu Rahmah bertekat untuk menghentikan pekerjaan kotor anaknya. Setidaknya Dinda bisa berhenti dan tidak semakin dalam terjerumus.


Bu Rahmah tertatih berjalan keluar kamar.


"Bu... sudah bangun?" Sapa Dinda saat melihat ibunya berjalan menuju ke dapur.


"Lagi apa Nak?"


"Persiapan untuk pesanan nasi kotak makan siang." Jawab Dinda dengan senyuman. Ia berusaha menyamarkan kegalauan hatinya. Saat ini yang ada di fikirannya, bagaimana kalau ia benar-benar hamil? Apakah ia bisa minta pertanggung jawaban Ridho? Semalam saja Ridho sama sekali tidak mengingat kejadian di kamar hotel.


"Pagi-pagi kok sudah melamun." Teguran bu Rahmah membuat Dinda tergagap.


Dinda segera mengalihkan pembicaraan.


"Ibu pingin makan apa? Nanti Dinda masakin spesial buat ibu." Tanya Dinda menawarkan diri.


"Ibu pingin makan nasi kotak buatan anak ibu yang cantik ini." Jawab bu Rahmah berpura-pura tersenyum. Padahal dalam hatinya bergelut berbagai kegalauan yang menyita perasaannya.

__ADS_1


"Oke, sebaiknya ibu duduk manis dan biarkan Dinda yang memasak." Dinda menggandeng tangan ibunya dan memapah menuju sebuah dipan.


__ADS_2