
Hampir seminggu Dinda benar-benar mengambil waktu untuk beristirahat. Ia hanya mengisi waktu dengan tiduran sepanjang hari di dalam kamarnya. Bukan hanya karena itu anjuran dokter namun karena ia juga merasa kurang vit. Keadaan Dinda membuat Bu Inayah dan Imah sangat mengkawatirkan nya. Beberapa kali mereka mengajak Dinda cek up ke rumah Sakit. Namun Dinda menolaknya.
Dinda merasa takut, kalau-kalau ia bertemu keluarga Fariz dan memaksanya kembali ke rumah mereka. Ia trauma mendapatkan perlakuan kejam dari keluarga itu. Terlebih ia di keluarga Fariz tidak ada seorang pun yang mengerti dirinya.
Beruntung selama seminggu pelariannya, belum ada keluarga Fariz yang mencarinya ke rumah. Namun mereka harus tetap berhati-hati. Kalau sampai lengah, Dinda akan terperangkap kembali dalam penderitaan pria jahat itu.
"Mbak... ku pijat ya... supaya badannya lebih enakan." Imah meraih kaki Dinda dan mulai mengurutnya. Dinda tidak memprotes nya, karena ia memerlukan perhatian keluarga nya. Ya Imah sekarang sudah dianggapnya sebagai bagian dari keluarga nya yang baru.
"Imah... apakah kamu masih membenci Fariz?"
Pertanyaan Dinda seketika membuat Imah tergagap. Ia bingung harus menjawab apa. Pada kenyataannya, meskipun ia sangat membenci Fariz, namun di relung hatinya yang terdalam ada keinginan kecil. Ada harapan yang ditutupnya rapat-rapat. Ia mengharapkan Fariz mempertanggungjawabkan perbuatannya. Setidaknya Fariz bisa menikahinya setelah ia membuat Imah tidak berani menatap masa depan.
Imah terdiam cukup lama. Tangannya pun yang tadi sibuk memijit kaki Dinda, seakan membeku tak bergerak.
Dinda yang melihat sikap Imah, seketika menyimpulkan sesuatu. Mungkinkah Imah telah mengalami hal buruk yang telah dilakukan oleh Fariz?
"Enggak mbak. Aku cuma nggak suka dengan kelakuan Mas Fariz." Imah mengelak. Masa lalunya sangat memalukan, ia tidak ingin mengingat nya apalagi membicarakannya.
"Mbak Dinda pengen makan apa siang ini? supaya ku beritahukan pada Bu Inayah. tadi bu Inayah pesan untuk menanyakannya pada Mbak Dinda." Imah mengalihkan topik pembicaraan.
Sebenarnya Dinda masih penasaran dengan masa lalu Imah. mungkin Imah salah satu korban juga dari kejahatan Fariz. namun Dinda tidak ingin memaksa Imah. bagaimanapun itu masa lalu Imah. kalau ia tidak mau bercerita itu haknya.
"Sepertinya aku lagi pengen makan rujak cingur yang di depan Sekolahan. Kalau boleh minta dibelikan saja. Pakai cabai sepuluh biji." Dinda tersenyum lebar membayangkan rujak cingur buatan Mak Rah favoritnya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya bilang dulu sama Bu Inayah." Imah bergegas menuju ke warung tempat Bu Inayah sedang membereskan catering pesanan pelanggan.
Beberapa saat hikmah mencari-cari keberadaan Bu Inayah. ternyata wanita paruh baya itu sedang mengobrol dengan seseorang di teras. Imah berfikir mungkin itu pelanggan. Imah memilih untuk menunggu, ia takut mengganggu Bu Inayah.
Tak berapa lama Bu Inayah masuk ke dalam warung. saat ia melihat keberadaan Imah ia sangat terkejut. Bu Inayah buru-buru menutup pintu rapat-rapat. "Semoga saja Mas Faris tadi tidak melihat keberadaan Imah." Batin Bu Inayah.
"Kenapa Bu?" pertanyaan spontan dilemparkan Imah melihat Bu Inayah yang panik.
"Mas Fariz tadi datang, bilang kalau mbak Dinda sedang sakit dan mengharapkan kedatangan kami. Tapi ku rasa itu hanya akal-akalannya saja untuk mencari tahu keberadaan mbak Dinda." Jawab lirih Bu Inayah. Ia sangat berhati-hati. Ia takut Fariz masih ada disekitar rumah mereka dan mendengar perkataan nya.
"Terus ibu bilang apa?" Tanya Imah penasaran.
"Aku akan datang ke rumah mereka nanti malam." Jawab Bu Inayah bimbang. Bagaimanapun ia tidak boleh mengungkap keberadaan Dinda. Dengan berpura-pura mengikuti skenario Fariz, mungkin pria itu tidak akan curiga padanya.
Bu Inayah mulai larut dalam fikirannya. Kata-kata Imah ada benarnya. Ia harus sangat hati-hati dalam membuat langkah.
"Ya... terlalu beresiko kalau kami ke sana. Apalagi adanya Niki dan Riki yang masih sangat polos. Mungkin saja mereka akan membuka keberadaan Dinda. Seketika hati Bu Inayah menjadi was-was. Bagaimana kalau Fariz menjemput Niki dan Riki di sekolahan? Bisa-bisa akan timbul masalah lebih besar.
"Mbak Imah, Ibu mau ke sekolahan jemput Niki dan Riki. Baik-baik di rumah ya. Jaga mbak Dinda." Bu Inayah bergegas menyambar dompetnya. Sebelum ia berjalan mencapai pintu, Imah mengejarnya.
"Bu, tadi mbak Dinda pingin rujak cingur dekat sekolahan." Kata Imah.
"Oh... iyakah? Ya sudah kalau begitu sekalian nanti saya belikan. Apakah mbak Imah juga mau?"
__ADS_1
Imah mengangguk. "Samakan aja Bu, cabenya sepuluh."
"Oh... iya, saya tinggal dulu mbak." Bu Inayah meninggalkan warung tidak lupa mengunci rapat pintunya sebelum pergi. Sementara Imah berjalan kembali ke rumah persembunyian Dinda, melalui pintu rahasia.
Bu Inayah tidak bisa mengatur debaran jantungnya yang bertalu-talu. Ia sangat takut kalau Fariz menculik anak-anaknya untuk memaksa Dinda kembali padanya. Ia tidak rela kalau sampai Dinda mengalami penderitaan lagi.
Baru beberapa hari di rumah Fariz, Dinda sudah mengalami penganiyaan yang sangat kejam. Ia tidak sanggup membayangkan akan apa yang terjadi di masa depan pada Dinda kalau sampai kembali ke sana.
Tanpa terasa, Bu Inayah sudah sampai di depan Sekolahan. Ada beberapa ibu-ibu yang menyapanya.
"Tumben jemput anak Bu? Biasanya Niki dan Riki bisa pulang sendiri?" Tanya Bu Nita penasaran.
"Sekalian pingin beli rujak cingur Bu." Bu Inayah segera memesan rujak. Ia sebenarnya tidak nyaman bertemu dengan ibu-ibu yang suka menggosip. Apalagi melihat keberadaan Bu Retno yang sedang asyik menikmati rujak cingurnya. Ia merasa tidak nyaman dengannya. Selama ini ia sering mendapat cemooh dan kata-kata pedas Bu Retno.
"Inikan si kere yang naik pangkat. Baru kerja di warung aja sudah sombongnya minta ampun. Tidak ada yang tahu kan kalau ia dulunya mengemis pada Bu Rahmah. Setelah meninggal, si kere ini seperti kacang lupa pada kulitnya. Ia bertingkah seperti tuan rumah. Bagaimana kalau mbak Dinda nanti tahu keburukan nya? Ia pasti diusir dari rumah."
Celetuk Bu Retno menyayat hati Bu Rahmah. Ia tersinggung mendengar perkataan Bu Retno. Namun ia diam saja. Karena kalaupun ia membalas maka akan semakin runyam. Ia berharap rujak pesanannya segera selesai dibuat supaya ia bisa segera pergi dari situ.
"Jangan begitu Bu Retno, roda pasti akan terus berputar. Tidak selamanya orang akan kesusahan tapi ada saatnya ia akan hidup senang." Mak Rah si pemilik warung berusaha membela Bu Inayah. Karena ia mengenal baik Bu Inayah.
Bu Inayah hanya menghela nafas dalam-dalam. Berusaha meredakan amarahnya. Ia tidak menyangka kalau Bu Retno berkata sejahat itu padanya. Bagaimana saat dibelakangnya? Pasti lebih parah. Mungkinkah ini karena beberapa waktu yang lalu, ia tidak memberikan pinjaman uang padanya?
"Bu Inayah... ini rujaknya sudah selesai." Mak Rah menyerahkan bungkusan kresek hitam pada Bu Inayah. Setelah membayar, Bu Inayah buru-buru pergi. Ia tidak mau mendengar kata-kata tajam Bu Retno yang menggosipkan nya. Ingin rasanya ia segera berlari pulang ke rumah. Namun ia mengurungkan niatnya. Ia harus memastikan Niki dan Riki pulang dengan selamat.
__ADS_1
"Bu..." Sebuah suara mengejutkannya. Saat Bu Inayah mencari sumber suara, ia melihat Riki sedang berusaha melepaskan tangannya dari pegangan pria di kursi roda.