
Dinda mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempangnya. Ia melihat jam dan mulai mengetikkan sesuatu di aplikasi note nya. Ia mulai mengetikkan berbagai macam menu yang layak untuk disajikan diacara arisan bos dari Valentina.
Memang cuma lima puluh porsi, namun Dinda tahu kalau yang datang diacara arisan itu bukan orang sembarangan. Pastinya orang-orang kaya yang biasa makan-makanan mewah. Dinda mulai browsing, aneka macam makanan mewah untuk kalangan atas. Ia sangat terkejut saat melihat harga makanan yang begitu mahal hanya untuk satu porsi makanan.
Dinda menemukan bahwa makanan-makanan mewah dari berbagai negara mempunyai satu kesamaan. Yaitu bukan banyaknya porsi yang ditunjukkan, melainkan penampilannya yang menggiurkan. Membuatnya sesekali meneguk air liurnya membayangkan kenikmatan dari hanya memandang foto-foto makanan yang dilihatnya.
Semua macam masakan itu, belum pernah sekalipun ia cicipi. Bagaimana bisa ia memasaknya, kalau ia belum pernah merasakannya? Dinda berniat, nanti setelah operasi ibunya berhasil ia akan mencoba untuk makan di salah satu restoran mewah yang kebetulan tidak jauh dari rumah sakit.
Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Ada dua orang suster yang memindahkan ibunya ke ruangan operasi. Dinda mengikutinya dengan hati was-was. Dalam hati ia berdoa untuk kelancaran operasi ibunya. Urusan administrasi, sudah diselesaikannya tadi. Sekarang ia bisa lebih fokus menunggu operasi ibunya.
Sambil menunggu, Dinda menyelesaikan menyeleksi aneka menu makanan yang dipesan atasan Valentina. Sepertinya ia tidak jadi keluar untuk membeli makanan di restoran mewah. Ia memutuskan memesannya saja lewat layanan delivery. Saat ini ia tidak ingin meninggalkan ibunya sedetik pun. Ia ingin saat ibunya sadar setelah operasi, ia berada di dekat ibunya. Melihat senyum ibunya kembali.
Operasi sudah berjalan satu jam, namun belum ada tanda-tanda kalau operasi segera selesai. Setengah jam kemudian pesanan makanannya sudah sampai. Ia segera membuka bungkusan, ada tiga menu yang ia pesan. Steak tanderloin dengan saos mashroom, bebek dan sup asparagus. Tiga menu ini akan dijadikannya menu andalan. Dinda sudah mempelajari resep dan cara masaknya. Dan kini ia tinggal mencicipinya supaya tahu rasa aslinya.
Saat ia memesan tadi, ia sangat terkejut karena untuk tiga jenis menu yang dipesannya ia harus mengeluarkan uang hampir delapan ratus ribu rupiah. Harga yang sangat fantastis menurut Dinda. Namun untuk menambah pengalaman rasa dalam bisnis kuliner ia terpaksa harus membelinya.
Dengan hati-hati Dinda membuka kemasan makanan yang dipesannya. Sebuah cup besar berisi sup asparagus. Dinda mulai dengan menciumi aroma sup yang sangat menonjolkan aroma jahe dan sedikit bau amis kepiting.
__ADS_1
Disendokkannya sup itu kemulutnya. Rasanya lembut dan hangat, rasa jahe dan merica mendominasi. Rasa yang cukup aneh menurut Dinda, karena ini pengalaman pertama memakannya.
Dinda kurang puas dengan menu sup asparagus ini, ia menghitung harga bahan yang sangat mahal. Dinda juga kurang puas dengan penampilannya yang kurang menarik. Ia teringat pada sup matahari buatan ibunya lebih berwarna dan segar. Dan yang pasti bahan-bahannya tidak terlalu mahal. Ia mulai mempertimbangkan untuk mengganti menu sup asparagus dengan sup matahari kas Solo tempat lahir ibunya.
Dinda pun merasai dua menu yang lain. Ia kesulitan saat mencicipi steaknya. Saat ia harus memotong- motong daging panggang yang cukup besar. Dinda berfikir, kalau acara arisan atasan Valentina konsepnya prasmanan akan merepotkan dalam penyajian maupun menyantapnya. Ia pun memikirkan alternatif olahan daging yang lain.
Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka. Dinda buru-buru merapikan semua makanan ke dalam kemasannya semula. Jantungnya berdebar cemas. Operasi ibunya hampir dua jam, apakah ibunya baik-baik saja? Saat dokter Toni keluar dari ruang operasi, Dinda segera menghampirinya.
"Dokter.... bagaimana ibu saya?" tanya Dinda kawatir.
Dinda menghela nafas lega. Ia segera berdoa dan bersyukur dalam hatinya. Lima belas menit kemudian brankar yang membawa ibunya di dorong keluar oleh dua orang perawat. Dinda mengikuti nya dari belakang menuju ruang observasi.
Ibunya masih belum bangun. Namun Dinda yakin, ibunya akan segera siuman. Kembali tersenyum dan akan banyak berpetuah untuknya. Ada senyuman bahagia membentuk garis sudut bibir Dinda. Ada rasa syukur yang tidak bisa di katakan dalam sebuah kata. Satu hal yang merebak dalam hatinya yaitu sebuah kepuasan karena punya kesempatan untuk mengobati ibunya.
Di ruang observasi pasca operasi, bankar ibunya di dorong ke bagian ujung ruangan. Di dekat sebuah jendela kaca yang langsung dapat memandang ke taman rumah sakit. Beberapa waktu Dinda membelai tangan ibunya yang sangat dingin. Ia pun menggosokkan minyak kayu putih, di telapak tangan dan kaki ibunya.
Satu jam kemudian tangan ibunya mulai bergerak. Dinda berlari memanggil suster jaga yang dengan cepat mengikutinya ke dalam ruangan. Saat Dinda datang, ia melihat kelopak mata ibunya tampak bergerak-gerak berusaha membuka.
__ADS_1
"Ibu... sadarlah Bu. Dinda di sini." Bisik Dinda perlahan tepat di telinga ibunya. Suaranya bergetar penuh dengan kebahagiaan dan kerinduan. Hampir seminggu ibunya tidak sadarkan diri. Inilah kesempatan pertamanya melihat ibunya sadar.
"Ibu..." bisik Dinda kembali.
Ibunya telah membuka mata, senyuman hangat langsung dilemparkannya untuk anak gadisnya yang berada di sampingnya.
"Dinda.... a...ir.." Bisik bu Rahmah. Suaranya sangat lemah, hingga memaksa Dinda untuk mendekatkan telinganya.
Dinda mengambilkan air mineral. Ia hanya membasahi bibir ibunya dengan air mineral. "Ibu... kata dokter, tahan dulu ya hausnya. Ibu belum boleh minum air dulu."
Meskipun bu Rahmah kehausan dan tenggorokannya terasa kering, ia tetap menuruti kata-kata Dinda. Dari sudut matanya mengalir buliran bening. Bu Rahmah bangga pada anak gadisnya. Bagaimana perhatiannya padanya, juga usaha anaknya mendapatkan biaya untuk operasi yang pastinya tidak sedikit.
"Ibu... jaga kesehatan ya, supaya cepat pulih dan ibu bisa pulang ke rumah. Dinda buka catering Bu, ibu pasti bangga karena Dinda sudah pintar masak sekarang." Kata Dinda menghibur ibunya. Saat ini ia ingin menyenangkan ibunya.
Sementara bu Rahmah sedang hanyut dalam fikirannya sendiri. Ia ingin sekali mengatakan penyebabnya mengalami serangan jantung. Ini mengenai kelakuan Fariz dibelakang Dinda. Laki-laki itu bukan orang yang pantas buat putrinya. Bu Rahmah ingin agar Dinda mengakhiri hubungannya dengan nya. Namun saat ini bu Rahmah belum pulih benar, bahkan tenggorokannya yang kering tidak mungkin untuk dipaksa berkata-kata.
Bu Rahmah juga tidak mau anaknya sampai patah hati. Ia ingin agar Dinda mengetahui sendiri, sehingga ia bisa membuat keputusan yang terbaik. Setetes bening menitik kembali, saat bu Rahmah mengingat kelakuan Fariz di rumah kontrakan bersama wanita lain.
__ADS_1