Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Bukan Ridho


__ADS_3

Dinda tidak menyangka Ridho akan setega itu. Matanya berkaca-kaca. "Kenapa kau lakukan ini padaku? Kejadian kita malam itu aku anggap hanya sebagai kesalahan. Aku tidak pernah meminta pertanggungjawaban mu. buat apa surat nikah ini?"


Dinda melampiaskan uneg-uneg nya. mungkin setelah ini ia tidak akan punya kesempatan lagi. Pria di depannya nampak tersenyum mengejek. "Harusnya kamu senang sekarang kamu sah jadi istri seorang bos kaya raya."


Ada nada merendahkan dalam kata-kata Ridho membuat Dinda merasa sangat terpukul.


"Kamu sangat berbeda dari Rodho yang aku kenal." Desah Dinda putus asa.


Tiba-tiba Ridho sudah berdiri di depan Dinda dan mencekik lehernya. Matanya nampak berkilat tajam. Ridho mengeluarkan aura membunuh.


"Jangan pernah sebut nama itu. Aku bukan Ridho pria yang lemah yang selalu sembunyi di bawah ketiak ibunya." Ancaman Ridho membuat tubuh Dinda menggigil. pria ini benar-benar mengalami masalah gangguan jiwa bipolar. Dan sepertinya pribadinya yang kedua seorang psychopath.


"A... a...aku harus memanggilmu siapa?" Dinda berusaha menenangkan diri dan ikut permainan Ridho. Ia tidak ingin mati sia-sia di tangan pria aneh itu. Apalagi keluarganya ada di bawah kekuasaannya.


"Ra-pha-el.... aku Raphael. sekali kau salah sebut namaku, aku akan membuatmu menyesal." Raphael melonggarkan tangannya dan melepaskan cekikan nya pada Dinda.


"Tunggu aku di kamar! malam ini kau telah sah Jadi milikku. dan kupastikan kamu akan segera mengandung anakku!" Raphael memberi tanda agar Dinda meninggalkan ruang kerjanya.


Tanpa menyia-nyiakan waktu, Dinda segera berlari keluar dari ruang kerja Raphael. Namun di tengah perjalanan ia merasakan rasa nyeri di dadanya. Ia benar-benar lupa, kalau beberapa waktu lalu baru menjalankan operasi tulang rusuknya yang patah.


Dinda menekan bagian dadanya yang sakit berusaha mengurangi rasa nyeri yang tiba-tiba menyerangnya. Setelah rasa nyeri mulai hilang ya pun mulai meneruskan langkahnya menuju ke kamar.

__ADS_1


Dinda tidak bisa menahan air matanya, saat ia sudah berada di kamarnya sendiri. Kesedihan dirasanya menyayat hati. Mengapa penderitaannya tak juga berakhir? Kepedihan yang dia peroleh dari Fariz telah membuatnya trauma dengan sebuah hubungan. namun sekarang ia dihadapkan pada sosok pria yang lebih mengerikan daripada Fariz. Baru saja ia keluar dari gigitan anjing, ia masuk dalam terkaman singa. Ia jatuh dalam penderitaan yang lebih mengerikan.


Dinda merasa sangat lelah setelah menangis cukup lama. Ia pun membaringkan tubuhnya di ranjang yang cukup luas. Dinda menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Menariknya sampai menutup kepalanya. Dinda seperti membuat perisai untuk dirinya. Berusaha melindungi tubuhnya dari pandangan jahat Raphael yang mungkin akan memaksanya melayani malam ini.


Dinda mulai memejamkan mata, namun Ia memasang telinganya untuk mendengar gerakan sekecil apapun. Berantisipasi saat Raphael masuk ke dalam kamarnya. Cukup lama Dinda berusaha menjaga kesadarannya. Raphael tak kunjung masuk ke dalam kamarnya.


Saat tengah malam, Dinda sudah tidak bisa menahan kantuk. Ia pun jatuh terlelap. Ia tidak menyadari seorang pria masuk ke dalam kamarnya. Pria itu melihat Dinda sekilas. Nampak sorot keraguan di kedua netra nya. Senyuman asing terbentuk di bibirnya yang pucat.


Tak berapa lama, pria itu keluar. Raphael memilih pergi. Ia tidak mau mengusik Dinda yang sudah tidur lelap.


Baru saja Raphael keluar dari kamar, Pak Dito bergegas menghampiri nya.


"Baik.... aku akan memeriksanya!" Raphael menerima flashdisk dan berjalan tenang menuju ruang kerjanya.


Pak Dito merasa tidak enak, ia pun mengikuti Raphael dari belakang. Ia tidak mungkin membiarkan bosnya melakukan pekerjaannya sendiri. Menyadari ada orang yang membuntuti nya, Raphael menghentikan langkahnya dan menoleh. Ia melihat pak Dito yang seperti nya siap menerima perintah. Meskipun nampak mata merah dibalik kaca mata yang tak bisa menyembunyikan kantuk.


"Aku bisa melakukannya sendiri, sebaiknya pak Dito pergi tidur. Mungkin besok kita akan sedikit sibuk!"


"Kalau begitu saya permisi Tuan." Pak Dito segera berlalu meninggalkan Raphael yang masih menatap punggungnya sampai menghilang di balik tembok.


Raphael menimang flashdisk ditangannya. Sebenarnya ia cukup lelah. Namun ia tahu, kalau pak Dito menyerahkan flashdisk itu semalam ini. Pasti ada masalah penting yang tidak bisa ditunda. Ia pun kembali berjalan menuju ke ruang kerjanya.

__ADS_1


Ridho mulai membenamkan diri di depan laptopnya memeriksa semua file yang ada di flash disk yang baru diberikan Pak Dito. Benar saja, ada masalah genting di perusahaan Danuarta.


"Benar-benar anak manja, bagaimana ia bisa membiarkan perusahaannya di ambang kehancuran." Raphael menghembuskan nafas berat. Untung ia tadi memeriksa flashdisk, setidaknya ia masih ada waktu untuk memperbaiki keadaan perusahaan keluarganya.


Raphael mulai mengotak-atik laptopnya. Mengirim beberapa email ke alamat kantor perusahaannya. Mungkin bantuan kecilnya kali ini bisa menjaga kestabilan perusahaan Danuarta. Setelah menyelesaikan beberapa hal. Raphael bernafas lega. Ia pun mengambil rokok elektrik nya yang tersimpan di laci mejanya.


Ia mengubeg-ubeg lacinya. Namun barang yang dicari tidak ada. Kejengkelannya nyaris naik ke ubun-ubun. Ia berniat mengobrak-abrik lacinya namun tangannya tertahan saat menyentuh sebuah bingkai foto. Ia menarik keluar bingkai foto kecil itu.


Mata Ridho dipenuhi kabut saat melihat gambar yang tercetak di hadapannya. Gambar seorang pria menggendong anak kecil. Anak kecil itu adalah dirinya. Pria yang menggendongnya adalah papa yang sangat dia cintai namun telah meninggal karena kecelakaan mobil.


Ia mengingat kejadian naas itu. Saat itu ia masih kelas dua SD. Ada tugas dari gurunya yaitu melukis dengan cat air. Ia tidak punya cat air. Ibunya menyuruhnya untuk memakai cat air milik Ridho adik kembarnya. Namun ia bersikeras minta dibelikan. Papanya yang sangat menyayangi Raphael berniat membelikannya. Saat itu Raphael ikut dalam mobil. Karena ini kesempatan langka, naik mobil berdua saja bersama papanya.


Sepanjang perjalanan mereka banyak bercerita. Papanya menceritakan kisah-kisah lucu sehingga tawa ayah dan anak terus mewarnai sepanjang perjalanan mereka. Tiba di Bookstore, Raphael disuruh membeli apa saja yang dibutuhkan. Itu membuat Raphael kecil begitu bersemangat, ia mengambil buku tulis, alat tulis dan berbagai jenis alat gambar. Karena semasa kecil Raphael sangat gemar melukis.


Kejadian tak terduga terjadi saat mereka dalam perjalanan pulang. Di tengah jalan tiba-tiba mobil mereka kehilangan kendali. Rem mendadak blong, sehingga tidak bisa menghindari mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya. Saat itu papanya terlihat sangat panik dan membating stir kearah pohon. Benturan keras tak dapat terelakkan. Dalam insiden itu, papanya meninggal, sementara dirinya hanya mengalami lecet-lecet ringan.


Luka fisiknya mungkin terlihat remeh. Namun luka psikologis nya sangat dalam. Papanya adalah sosok superhero nya selama ini. Sementara ibunya lebih menyayangi adik kembarnya. Bahkan pernah sekali ketika saat dua anak kembarnya bermain sepeda dan sama-sama terjatuh dari sepeda, ibunya lebih memilih menolong adiknya. Dan membiarkan dirinya dibantu pembantunya.


Lebih parahnya, saat ia syok dengan kecelakaan yang baru dialami bersama ayahnya. Sang ibu bukannya memeluk dan menghiburnya, namun malah meneriaki dengan kata-kata kejam yang menyakiti hatinya. Ibunya menyalahkan dirinya atas kematian papa nya. Tidak berhenti disitu saja, ibunya mengirim Raphael kecil ke Australia ke tempat kerabat jauhnya untuk dirawat.


Sebulir air mata menitik diujung kelopak mata Raphael. Ia pasti akan membalas semua sakit hati yang ditorehkan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2