
"Kenapa... kenapa, aku mau sama ibu...!" kata Dinda panik. Badannya tiba-tiba lemas hingga ia ambruk pingsan. Beberapa orang yang penasaran dengan adanya ambulan di rumah Dinda berkerumun. Mereka membantu membopong Dinda masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di dipan. Salah satu perawat segera membersihkan luka di kening Dinda dan membebatnya dengan kasa.
Bu Inayah diliputi kebingungan, Bu Rahmah pingsan, Dinda pun demikian, apalagi ditambah Riki dan Niki yang menangis ketakutan. Terpaksa bu Inayah menenangkan dulu anak-anaknya dan memberi pengertian ke pada mereka.
Akhirnya Riki dan Niki mengerti penjelasan ibunya. Merekapun menuruti perintah ibunya untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
Bu Inayah berlari menuju mobil ambulan yang belum juga berangkat. Seorang dokter berjubah putih keluar dari mobil ambulan dan menemui bu Inayah.
"Maaf ibu ini siapa pasien?" Tanya sang dokter.
"Saya pembantu mereka. Bagaimana keadaan bu Rahmah dok?" Tanya bu Inayah panik.
"Bisakah dipanggilkan anak atau anggota keluarga yang lain?" Tanya dokter itu lagi.
"Putri tunggalnya sedang pingsan di dalam rumah. Bagaimana keadaan bu Rahmah? Mengapa ambulan, tidak juga berangkat?" Bu Inayah semakin panik. Ia merasa ada sesuatu terjadi pada bu Rahmah.
"Bu... kami ikut berduka, ibu Rahmah tidak bisa kami selamatkan. Bu Rahmah telah meninggal. Bagaimana, apakah jenasah kita bawa ke rumah sakit untuk di autopsi?"
"Inalillahi wainailaihi Rajiun..." Air mata menetes, Bu Rahmah hanya bisa menggeleng. Sesungguhnya ia tidak tahu keputusan apa yang harus ia buat. Karena Dinda pun saat ini tidak bisa ditanyai. Ia kemudian teringat pada pak RT.
"Saya musyawarahkan dulu dengan pak RT." Kata bu Inayah, seraya ia bermaksud akan pergi ke rumah pak RT. Namun ia mengurungkan niatnya saat melihat pak RT datang bersama beberapa warga.
"Pak RT, bagaimana ini? Bu Rahmah meninggal dan mbak Dinda sedang pingsan." Bu Inayah meminta pertimbangan pak RT.
__ADS_1
"Begini saja, warga kampung akan mengurus jenasah bu Rahmah. Sebaiknya Dinda di bawa ke klinik terdekat takutnya ada gegar otak dari luka di kepalanya." Pak RT kemudian mengatur warganya dan diberikan perintah masing-masing.
Dinda yang belum juga sadar di bawa ke klinik terdekat yang jaraknya tidak lebih satu kilo meter dari rumah mereka. Sementara jenasah bu Rahmah segera dimandikan dan dikafani. Hari sudah mulai menjelang malam, Dinda belum juga siuman. Pak Ustad juga memberikan usulan untuk segera menguburkan jenasah. Karena tidak baik kalau jenasah sampai diinapkan.
Salah satu warga juga melaporkan kalau pekuburan juga sudah siap.
Malam itu penguburan bu Rahmah tanpa dihadiri oleh putri tunggalnya. Banyak warga komplek yang mengikuti acara pemakaman ikut meneteskan air mata. Mereka ikut merasa kehilangan. Bu Rahmah sekalipun orang yang cukup sederhana namun sangat murah hati. Seringkali ia akan membagikan nasi bungkus pada orang yang membutuhkan.
Pusara bu Rahmah dipenuhi taburan bunga dari pelayat. Setelah acara penguburan selesai, bu Inayah segera mendatangi klinik tempat Dinda di rawat. Namun belum ada tanda-tanda kalau Dinda akan segera sadar. Membuat bu Inayah semakin cemas pada keadaan Dinda.
Bu Inayah sangat terharu melihat keadaan Dinda yang belum juga sadar dari pingsannya. Seorang perawat memberitahunya kalau tensi Dinda sangat rendah. Sehingga Dinda diberikan infus. Bu Inayah menitipkan Dinda pada salah satu perawat. Ia pun pulang kerumah dengan naik ojek online.
Bu Inayah buru-buru pulang ke rumah karena ada pengajian mengirim doa untuk almarhum bu Rahmah. Di rumah Dinda, sudah banyak orang berkumpul.
Pagi hari bu Inayah terbangun oleh suara gedoran pintu. Ia segera bergegas membukakan pintu, betapa kagetnya bu Inayah melihat Dinda sudah berdiri di depan pintu.
"Bu Inayah, Ibu dirawat di rumah sakit mana?" Tanya Dinda parau.
"Mbak yang sabar... bu Rahmah tidak tertolong. Bu Rahmah meninggal." Bisik bu Inayah. Ia sangat takut membuat Dinda terkejut. Namun respon Dinda membuat bu Inayah kebingungan.
"Bu Inayah bohong!!! Ibu ku baik-baik saja, dimana ibu??" Dinda melepaskan diri dari pelukan bu Inayah. Ia meringsek masuk ke dalam rumah sambil memanggil-manggil ibunya.
"Ibu... ibu... ibu dimana?" Dinda mencari ibunya dengan panik. Dicarinya ke kamarnya, kamar mandi, ke semua ruangan rumah dan warungnya yang tidak terlalu luas. Ia semakin panik saat melihat hamparan tikar di dalam warung.
__ADS_1
"Dimana ibu... dimana ibu ku?" Teriak Dinda panik.
Bu Inayah mengambil sebungkus bunga yang sengaja disimpannya. Jika sewaktu-waktu Dinda berziarah ke makam ibunya.
"Ayo mbak Dinda, ibu antarkan." Kata bu Inayah. Bagaimanapun Dinda harus segera menerima kematian ibunya agar bisa merelakan kepergiannya.
Dinda mengikuti bu Inayah dari belakang. Ia tidak mengerti mengapa bu Inayah mengajaknya jalan kaki. Terlebih saat mereka sampai di jalan sepi. Dinda mengenalinya, ini jalan menuju makam bapaknya.
"Bu Inayah mau mengajak saya kemana? Ini jalan ke makam kan?" Dinda menolak pikiran buruknya. Ia mematung di tempatnya berdiri.
Saat menyadari Dinda tidak lagi mengikutinya, bu Inayah berhenti. Ia menoleh ke belakang.
"Mbak Dinda... ayo... katanya mencari bu Rahmah?" Bu Inayah menegur Dinda dengan tegas. Padahal hatinya terkoyak perih melihat kepedihan di mata Dinda. Ia tidak tega, namun bagaimanapun Dinda harus bisa menerima kenyataan yang sebenarnya. Ia ingin segera memeluk Dinda menguatkannya dan menghibur kesedihannya. Namun bu Inayah menahan diri.
Beberapa saat bu Inayah ikut terdiam. Setelah beberapa lama menunggu Dinda yang tak juga beranjak. Bu Inayah memutuskan menghampiri Dinda. Ia memapah Dinda yang lunglai.
"Ibu... ibu... aku tidak mau ibu meninggalkanku." Desah Dinda putus asa.
"Ayo mbak Dinda, kuat kan diri mu. Bu Rahmah pasti tidak mau kalau mbak Dinda bersedih seperti ini." Kata Bu Inayah menghibur Dinda. Merekapun berjalan perlahan menuju pusara baru. Tempat jenasah bu Rahmah terbaring damai.
Dinda menghambur dan memeluk nisan kayu bertulis nama ibunya. Ia menangis teRizak.
"Ibu... ibu.. sudah janji tidak akan meninggalkan ku. Apakah ini hukuman untuk ku Bu karena engkau marah dan kecewa pada Dinda. Ibu... maafkan anak mu ini yang tidak bisa membahagiakanmu dihari-hari terakhirmu. Ibu... hik...hik..hik"
__ADS_1
Dinda menangis meraung. Ia merasa sangat kehilangan atas kepergian ibunya. Mengapa takdir yang harus dijalani begitu kelam. Masalah yang satu belum selesai malah ditambah kepergian ibu yang dicintainya.
Berjam-jam Dinda menangis di pusara ibunya. Meluapkan semua perasaan dukanya. Ia seakan tidak ada lagi semangat untuk menjalani kehidupannya. Kalau saat ia terpuruk di waktu yang lalu, saat Fariz menghianati dan menjual kehormatannya ia bisa bertahan karena ada harapan untuk ibunya. Namun sekarang sudah tidak ada lagi penyemangat untuknya.