Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Mencari Kerja !?


__ADS_3

"Dinda..."


Suara panggilan dari seseorang yang keluar dari mobil. Dinda sangat mengenali suara itu. Seketika hatinya lega. Dinda mendongakkan kepalanya dan melihat pria tampan pujaan hatinya.


"Riz..." seru Dinda kegirangan. Ia berlari menyongsong kekasihnya.


"Din... ngapain kamu di jalanan sepi ini?" Tanya Fariz penasaran, saat Dinda tepat di depannya.


"Hiks...hiks...hiks..." Dinda menumpahkan semua kesedihannya. Fariz memeluk Dinda, memberikan dukungan dan kenyamanan.


"Din... ayo masuk dulu," Ajak Fariz sambil membimbing Dinda masuk ke dalam mobil.


Mobil pun melaju pelan di atas aspal. Fariz sengaja melambatkan laju mobilnya untuk memberi kesempatan agar mereka bisa ngobrol.


"Sekarang ceritakan, ada masalah apa?" Tanya Fariz sok peduli.


"Ibuk... Riz... ada masalah penyumbatan jantung. Perlu dana untuk segera di operasi." Keluh kesah Dinda. Ia berharap kekasihnya mau membantunya. Ia memandang Fariz yang masih berkonsentrasi dengan kemudinya.


"Tadi aku sudah suruh kamu minta bantuan papa dan mama. Kenapa tidak kau lakukan saja?" Tanya Fariz emosi.


Ia tidak suka apa pun yang menyangkut masalah Dinda. Apalagi kalau harus mengeluarkan uang untuk wanita itu. Dalam kamus Fariz tidak ada kata memberi, ia hanya tahu menerima.


Toh selama ini gadis-gadis cantik yang dikencani nya, ia tidak pernah keluar modal. Malahan merekalah yang berlomba-lomba kasih uang dan hadiah mahal padanya.


"Riz... maaf, aku tidak enak, aku merasa tidak baik kalau aku terus merepotkan keluarga mu. Mereka sudah sangat baik pada ku, udah membantu membayar uang kuliah. Lebih baik aku cari jalan lain supaya tidak merepotkan papa dan mama." Dinda menundukkan kepala. Ia menyeka air mata yang berlinang di pelupuk matanya.


Fariz terdiam mendengar kata-kata Dinda. Selintas ada pikiran jahat meracuni otaknya. "Ini kesempatan bagus untuk menghancurkan Dinda dan aku akan segera menikmati kebebasanku." Gumam Fariz dalam hati.


"Terus gimana Din, aku bisa aja kasih uang ku. Cuma uang itu untuk persiapan ujian skripsi. Emmm... temanku ada lowongan pekerjaan sebagai pelayan bar. Apa kamu mau? Kerjanya cuma beberapa jam, tapi ku dengar gajinya lumayan."


Fariz memberi penjelasan sambil menampilkan raut perhatian. Ia tahu, saat orang tua nya nanti tahu kalau Dinda kerja di bar, mereka pasti membenci Dinda. Itulah tujuan terselubung Fariz, yaitu agar Dinda terdepak dari keluarga nya.

__ADS_1


"Kerja di bar? Apakah tidak apa-apa Riz?"


Tanya Dinda ragu. Keluarga Fariz sangat mengutamakan reputasi. Apakah tidak bermasalah kalau ia bekerja di bar?


"Gak papa Din. Tidak semua orang yang kerja di bar adalah orang tidak benar. Inikan juga pekerjaan halal dengan keringat sendiri. Aku akan slalu mendukungmu. Gajinya bisa diminta di muka, jadi ibuk bisa segera dioperasi. Nanti aku bantu tambahin dananya. Banyak mahasiswi yang kerja partime di situ juga."


Fariz berusaha meyakinkan Dinda. Ini kesempatan yang tidak akan pernah dilewatkan nya. Kesempatan menghancurkan gadis yang dibencinya.


Ia sangat senang, akhirnya Dinda akan benar-benar masuk dalam perangkapnya.


"Riz... papa dan mama bagaimana? Apa mereka tidak bermasalah dengan pekerjaan ku di Bar nanti?" Tanya Dinda ragu.


"Tenang aja Din, aku sendiri yang akan jelasin ke mereka." Fariz kembali meyakinkan Dinda.


"Aku juga akan menemanimu bekerja di sana, bagaimana? Supaya kamu nanti ada yang menjaga." Fariz bersikeras meyakinkan Dinda.


"Riz... Kalau kamu yang menyarankan pekerjaan ini, aku akan lakukan. Tapi tolong ya Riz...bantu aku ngomong sama Om dan Tante. Aku takut mereka kecewa dengan pekerjaan ku ini."


Kapan kamu bisa mulai kerja? Karena biasanya lowongan kerja di bar temanku itu cepat terisi. Takutnya keburu ada yang masuk." Fariz semakin mendorong Dinda agar cepat membuat keputusan.


"Malam ini Riz... aku ingin cepat dapat uang supaya ibuk bisa cepat dioperasi." Jawab Dinda mantap.


"Oke.. kita berangkat."


Fariz segera menginjak gas mobilnya dalam-dalam, ia tidak sabar untuk segera melakukan niatan terselubungnya pada Dinda.


Di depan sebuah Klub Malam yang cukup besar dan megah, Fariz menghentikan mobilnya. Ia segera memarkirkan mobilnya dan menggandeng Dinda. Sepanjang jalan menuju ke Klub, Fariz memeluk erat dan beberapa kali mendaratkan bibirnya di pipi Dinda. Membuat gadis itu tersipu malu.


"Riz... Malu, ada banyak orang." Dinda menghindari kecupan Fariz yang mulai tidak terkontrol.


"Kenapa mesti malu? Orang-orang itu sibuk dengan urusan nya sendiri. Mereka tidak mungkin memperhatikan kita." Pelukan Fariz semakin mengetat di tubuh Dinda. Membuat gadis itu hanya bisa pasrah menerima.

__ADS_1


Dalam hati Dinda, ia sangat bersyukur mempunyai kekasih sebaik Fariz. Meskipun dalam keterbatasan keuangan dan waktu, Fariz masih mau membantu kesulitan Dinda. Tanpa diketahui nya kalau ternyata Fariz punya niat buruk dibalik senyuman manisnya.


"Riz... Makasih ya, sudah mendukung ku. Aku akan membalas kebaikan mu dengan ketulusan cinta ku." Bisik lembut Dinda di telinga Fariz. Seketika senyum miring terbit di ujung bibir Fariz.


"Oh honey.. aku suka kamu jadi pintar gombal. Hehehe.."


Fariz tidak ragu mendaratkan kecupan-kecupannya di bibir Dinda. Sementara Dinda mulai siaga, ia tidak mau terbawa suasana sahdu ruangan Bar. Sebuah suasana yang membangkitkan gairah romantis.


Suara musik mengalun lembut memanjakan kalbu yang rindu sentuhan. Suasana lighting remang-remang semakin menambah suasana magic. Beberapa pasangan nampak sedang bercengkrama mesra.


Dinda mulai terhanyut dalam fikirannya sendiri. Kalau Fariz tahu tempat asyik untuk pacaran seperti ini, mengapa ia sekalipun tidak pernah diajak ketempat ini?


Selama mereka berpacaran, Dinda baru beberapa kali diajak makan dipinggir jalan. Itupun hanya sekedar jajan bakso. Tidak pernah seperti pasangan-pasangan yang ia lihat barusan. Bisa dengan leluasa bercanda dan berbincang mesra. Saat ia flashback perjalanan cintanya dengan Fariz, ada sesuatu yang janggal ia rasakan.


"Riz... Kamu sering ke sini?"


"Ya...setiap malam Minggu aku pasti ke sini. Opss.." Fariz seketika mengerem kata-katanya.


Dinda seketika memandang Fariz dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Honey.. aku ke sini karena pemilik Bar ini teman ku. Kami hanya ngobrol dan ngumpul sama teman-teman kuliah juga. Apa kamu mengira, aku ke sini bersama cewek lain?"


Fariz menggoda Dinda dan menjawil dagu gadis itu. Namun respon Dinda tidak seperti yang ia harapkan.


"Kalaupun ke sini sama cewek lain, aku gak masalah." Dinda memalingkan muka dan memberengut kesal. Ia merasa Fariz telah menggodanya dan itu membuatnya tidak nyaman. Apakah ini sebuah bentuk kecemburuan?


"Honey... Aku pria yang setia. Aku tidak akan pernah menduakanmu."


Fariz nampak serius dengan ucapannya. Padahal dalam hatinya ia menertawakan Dinda, yang begitu mudah dibohongi nya. Gadis itu memang kelewat polos.


"Sebaiknya kita ke sana, sambil menunggu orang yang akan mewawancarai kita."

__ADS_1


Fariz mengajak Dinda menuju ke sebuah sofa di pojokan ruangan yang diterangi lampu remang-remang. Fariz memesankan minum untuk Dinda.


__ADS_2