Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Pria Jahat


__ADS_3

Bu Rahmah duduk tenang di dipannya. Dari tempat duduknya ia mengamati Dinda dan bu Inayah yang sibuk bekerja. Ingin rasanya ia ikut membantu, namun badannya masih terasa sangat lemah. Terlebih hatinya yang sedang berduka.


Air mata menitik di sudut matanya, mewakili rasa perih hatinya. Bu Rahmah buru-buru menghapus air matanya dengan ujung lengan baju. Ia akan menunggu penjelasan Dinda. Ia tidak akan menyalahkan putrinya pada apa yang menjadi keputusannya. Namun ia akan mencari kesempatan yang baik agar putrinya tidak jatuh semakin dalam.


Bu Rahmah menghela nafas dalam, berusaha mengusir kesesakan hatinya. Ia memaksakan diri melemparkan senyum saat Dinda menghampirinya. Dinda meletakkan segelas air hangat di meja dipan.


"Ibu harus banyak minum air putih. Itu pesan dokter katanya untuk mempercepat pemulihan." Dinda menghempaskan pantatnya di samping ibunya.


"Makasih ya Nak. Engkau sangat perhatian pada ibu." Bu Rahmah membelai rambut Dinda.


"Ibu, ini sudah menjadi tugas Dinda. Kalau Dinda boleh minta, ibu harus panjang umur untuk menemani Dinda. Ibu janji ya, jangan sakit lagi. Kalau ibu merasa sedikit saja sakit, segera kasih tahu Dinda ya... supaya bisa langsung berobat ke dokter." Dinda memeluk ibunya dari samping. Ada ketakutan yang tiba-tiba menyelinap di hatinya. Ia takut ibunya tidak bisa menerima keadaan yang dialaminya.


"Ibu sayang sama kamu Dinda, apapun yang terjadi ibu sangat mencintaimu." Bu Rahmah membawa Dinda semakin mengetat dalam pelukannya.


"Sudah... sudah, pagi-pagi kok sudah melo gini. Kasihan bu Inayah gak ada yang bantuin." Bu Rahmah melonggarkan pelukannya.


Dinda mencium pipi ibunya. Ia kembali mengerjakan pekerjaan di dapur. Hari itu pesanan nasi kotak bisa selesai tepat waktu. Hal yang mengejutkan terjadi saat pengambilan nasi kotak. Karena Ridho sang Direktur sendiri yang mengambil pesanan nasi kotak. Ia beralasan pingin mencicipi kopi khas buatan warung Maharani.


Dinda mempersilahkan Ridho untuk duduk di bangku teras. Ia sedikit tidak nyaman saat harus menemani Ridho bercakap-cakap.


Tanpa Dinda sadari ada sebuah mobil berhenti di seberang jalan. Pria dalam mobil itu tampak sangat kesal. Pria itu adalah Fariz, pria yang telah menjual kehormatannya. Siang itu Fariz tidak sengaja lewat depan warung milik keluarga Dinda. Ia sangat penasaran dengan mobil mewah yang berhenti tepat di depan warung.

__ADS_1


Di dorong rasa penasaran, ia pun menghentikan mobilnya dan berusaha mengetahui siapa orang yang datang ke warung milik Dinda. Ia semakin geram saat mengenali pria yang bersama Dinda. Bagaimana seorang pengusaha sukses dan terkenal dari perusahaan Danu Arta bisa mengenal Dinda? Apakah setelah Dinda dijual keperawanannya menjadi wanita malam sehingga mengenal pengusaha kaya itu?


Ada perasaan membara dalam diri Fariz. Rasa cemburu yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Selama ini ia selalu berganti-ganti cewek sebelum ia benar-benar merasa cinta. Bahkan perasaan cinta pun tidak pernah tertulis dalam kamus hatinya. Yang ada hanyalah hasrat, hubungan intim dan kesenangan.


Namun saat ia melihat kedekatan Dinda dengan pengusaha sukses itu memancing amarahnya. Ia merasa dikalahkan, ia merasa dikhianati dan yang jelas ada rasa sakit dalam hatinya. Fariz mengepalkan tangan dan memukul-mukul jok mobilnya menyalurkan kemarahan yang tidak bisa ditahannya. Ia harus menahan diri sedikit lebih lama menunggu sampai presedir PT Danu Arta pergi.


Waktunya akhirnya tiba, saat mobil mewah itu pergi dan Dinda melambaikan tangan padanya. Fariz segera berlari dan menghampiri Dinda yang seketika terpaku di tempatnya berdiri. Dinda hanya mematung menahan emosi yang menggelegak dalam dadanya. Ia ingin sekali meninju muka tampan pria tak punya hati di depannya. Namun ia ingat kalau ada ibu Rahmah di dalam rumah. Ia tidak ingin membuat ibunya sedih. Selama ini Dinda tahu, kalau ibunya sangat menghormati keluarga Fariz.


"Dinda...! Kamu benar-benar wanita tak tahu malu! Rupanya kamu keenakan ya jadi wanita panggilan?" Fariz mencengkeram bahu Dinda kencang.


Emosi Dinda seketika meledak mendengar kata-kata kasar Fariz.


"Fariz... kamu memang jahat...! Kau jual aku, kau campak kan aku... sekarang kamu datang marah-marah. Apa hak mu? Berkacalah Riz.. kamu itu lebih buruk dari seorang mucikari Sekarang pergi... pergi dari sini!" Teriak Dinda histeris.


"Plakkkk" Sebuah tamparan keras mengenai pipi Fariz.


"Riz... aku benci kamu!!! Bahkan kalau kamu mati aku tidak akan memaafkan mu!" Dinda kembali berteriak. Ia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia ingin meluapkan semua kemarahannya pada Fariz. Andai ia tidak takut dosa, saat itu juga ia ingin membunuh pria jahat yang telah menjual kehormatannya.


"Dasar Kupu-kupu murahan!" Fariz balik menampar Dinda, membuat Dinda terhuyung terjatuh. Pelipisnya membentur bangku ada darah segar mengalir dari luka di pelipisnya. Dinda menangis, ia terisak keras.


Fariz melihat pelipis Dinda berdarah memilih pergi meninggalkan gadis itu yang menangis pilu. Ia memilih kabur, tidak mau kalau sampai dipolisikan. Fariz segera tancap gas meninggalkan Dinda yang sedang kesakitan.

__ADS_1


Dinda menangis terisak, ia tidak percaya Fariz sangat jahat padanya. Belum puas ia menjual kehormatannya, sekarang tiba-tiba datang menghina harga dirinya dan melakukan kekerasan padanya. Ia menyesali mengapa harus mengenal Fariz, pria yang tak punya hati. Bahkan lebih buruk dari binatang buas. Srigala saja masih bisa menghargai kawanannya.


Seakan Fariz diciptakan khusus untuk tidak pernah puas membuat Dinda sengsara.


"Mbak... Dinda...., Mbak...!" Teriakan bu Inayah menyadarkan Dinda. Dengan ujung lengan bajunya ia berusaha menghapus darah yang merembes hampir mengenai matanya. Ia segera bergegas masuk ke dalam rumah.


Seketika hatinya dilanda ketakutan. Di dekat jendela kaca, Bu Inayah sedang mencoba menyadarkan bu Rahmah yang pingsan di dekapannya.


"Ibu... ibu... sadar Bu... jangan tinggalkan Dinda." Teriak Dinda histeris.


"Mbak... sebaiknya panggil ambulan!" Bu Inayah mengingatkan.


Dinda segera berlari menuju ke kamarnya mengambil ponselnya. Ia segera menghubungi rumah sakit minta dikirim ambulan. Tak lupa ia juga menghubungi dr Tony yang selama ini menangani ibunya.


Dinda buru-buru mempersiapkan tas besar. Ia isi dengan baju-baju ibunya. Air mata tidak pernah berhenti mengalir membasahi pipinya.


Ia menyesali pertengkarannya dengan Fariz. Jangan-jangan ibunya mendengar perkataan mereka. Dinda menyalahkan dirinya sendiri. Ia semakin larut dalam isakan tangisnya yang penuh penyesalan.


Ambulan datang, dengan sigap paramedis membopong tubuh bu Rahmah yang nampak tak berdaya. Saat itulah Dinda melihat jejak-jejak air mata di pipi ibunya. Hatinya seketika menjerit pilu.


"Ibu... ampuni Dinda Bu... ampuni Dinda..." tangisnya dalam hati.

__ADS_1


Seorang dokter memeriksa detak jantung bu Rahmah. Seketika nampak kepanikan meliputinya.


"Dokter... ada apa? Tolong ibu ku dok... selamatkan ibu ku!" Teriak Dinda, saat ia di dorong keluar dari mobil ambulan.


__ADS_2