
Ada titik-titik keringat dingin membasahi kening Dinda. Ia berusaha mengatur ritme detak jantungnya.
"Ya Tuhan, pria ini yang telah merenggut kehormatanku?" Keluhnya dalam hati. Ia tidak ada keberanian untuk mengutarakan kebenaran. Yang ada dalam hatinya adalah sebuah perasaan malu. Ia merasa malu karena kekasihnya sendiri menjual kehormatannya hanya demi mendapat uang. Dinda menundukkan wajahnya dalam-dalam.
Seakan berusaha menyembunyikan wajahnya dari pandangan dunia. Tangan Dinda gemetaran. Jari-jarinya saling memilin satu sama lain. Berusaha mendapat ketenangan.
"Gimana Mbak Dinda, apakah sudah membuat keputusan?" tanya nyonya Desy mengejutkannya.
"Ma..ma..af Nyonya, saya minta sedikit waktu untuk mempertimbangkannya." jawab Dinda lirih lebih mirip sebuah *******.
Ridho bertambah penasaran dengan gadis di depannya. Ia sudah ingat gadis itu yang di tabraknya di lobi rumah sakit. Juga gadis yang hampir ditabraknya di jalan raya beberapa hari yang lalu. Dan karena gadis itu berteriak-teriak ia terpaksa harus membawanya berkeliling. Namun ia tidak bisa mengingat namanya.
Di mata Ridho, sore ini gadis itu terlihat sangat cantik. Bahkan saat si gadis itu tiba-tiba merunduk, pipinya yang mulus seketika merona. Gadis itu telah diam-diam mencuri perhatian Ridho.
"Kita belum kenalan?" tanya Ridho tiba-tiba.
Dinda sangat terkejut. Ia hanya bisa menelan ludahnya yang seketika merasa tenggorokannya kering. Ia pun mengambil gelas air putihnya. Berusaha menutupi kegrogiannya.
"Ini Dinda Ridho.. yang nyiapin makan malam kita hari ini." Sela nyonya Desy.
Dinda mengulaskan senyum ragu. Karena saat ini ia benar-benar seakan tidak punya muka dihadapan kedua orang itu. Dirinya merasa kotor, bagaimana kalau nyonya Desy sampai tahu kalau ia telah tidur dengan anaknya. Setitik air mata merembes keluar dari tepi mata Dinda. Ia buru-buru menghapusnya takut diketahui nyonya Desy apalagi pria di depannya.
"Oh... jadi kamu koki, yang masak nasi kotak untuk perusahaan?"
Dinda menjawab pertanyaan Ridho hanya dengan anggukan kepala.
"Kalian lanjut makannya. Saya akan ambilkan dulu uang bonus buat Dinda." Nyonya Desy beranjak pergi meninggalkan anaknya bersama Dinda. Sesekali nyonya Desy menoleh ke belakang. Ia tersenyum melihat interaksi anaknya dengan Dinda.
"Tadi mama nawarin kerja sama apa?" selidik Ridho.
Dinda tergagap, lidahnya kelu. Apakah pria di depannya tidak mengenali dirinya adalah wanita yang telah ditidurinya? Dinda mengamati raut wajah Ridho yang sepertinya tidak mengenalinya. Mungkin karena malam itu Ridho mabuk sehingga tidak mengingatnya?
Ridho menatap Dinda curiga. Ada sesuatu yang disembunyikan Dinda darinya. Apakah tawaran kerja mamanya berkaitan dengan kehidupan pribadinya? Apa mungkin gadis ini dijodohkan dengannya? Kalau itu memang benar, ia tidak akan keberatan sama sekali. Ridho mengulum senyum.
__ADS_1
"Nyonya Desy menawarkan pekerjaan sebagai koki keluarga." Jawaban Dinda memupuskan harapan tersembunyi Ridho. Ia menghela nafas kecewa.
"Terus.., kamu menerimanya?" tanya Ridho penasaran. Ia mengharap bisa lebih mengenal Dinda.
"Saya belum membuat keputusan." jawab Dinda ragu.
"Kenapa? Apa gajinya kurang? Aku bisa nambahin gajimu."
Dinda tertegun, sesaat ia terdiam.
"Sepertinya saya tidak bisa menerima tawaran nyonya Desy."
"Kenapa?" tanya Ridho semakin penasaran. Ia tidak menyangka gadis polos di depannya menyia-nyiakan tawaran menggiurkan dari mamanya.
"Ehm... saya harus menjaga ibu saya, karena ibu saya sedang sakit." Jawab Dinda mencari alasan. Sebenarnya ia sangat tertarik dengan tawaran kerja dari nyonya Desy namun ia tidak bisa gegabah masuk ke dalam keluarga mereka. Apa jadinya nanti kalau sampai nyonya Desy tahu kejadian malam itu. Dia pasti akan membencinya dan mengganggapnya sebagai wanita murahan. Padahal sepeserpun ia tidak menikmati uang haram itu.
"Maaf Tuan, saya sudah terlalu lama disini. Takutnya orang rumah mencari saya." Dinda harus segera pergi dari rumah itu. Ia merasa tidak nyaman berlama-lama berdua dengan Ridho.
"Tunggulah mama sebentar. Bukankah tadi mama sudah kasih tahu akan kasih uang bonus buat mu?" Cegah Ridho.
"Dinda saya ucapkan terimakasih banyak ya. Hidangan tadi siang memuaskan tamu-tamu ku. Juga hidangan malam ini sangat lezat. Untuk tawaran saya, tolong fikirkan masak-masak ya." Nyonya Desy sangat mengharapkan kesediaan Dinda. Karena ia punya sebuah rencana untuk lebih mendekatkan Ridho dengan gadis itu.
"Iya nyonya, akan saya fikirkan. Maaf nyonya, hari sudah mulai malam. Saya pamit dulu ya."
Nyonya Desy mengangguk.
"Ma... biar Ridho antar Dinda ya. Takutnya nanti kesulitan dapat mobil online di sini." Ridho berdiri dari duduknya.
"Ehm.. Tuan, tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri. Terimakasih banyak." Tolak Dinda halus. Ia tidak ingin berlama-lama dengan Ridho.
"Jangan ditolak niatan baik orang. Biarkan Ridho mengantarmu." Nyonya Desy memaksa Dinda menerima tawaran Ridho untuk mengantarnya.
Dinda tidak berani lagi menolak kata-kata nyonya Desy yang terdengar sebagai perintah di telinganya. Ia pun mengikuti Ridho yang berjalan keluar duluan.
__ADS_1
Sesampai di samping mobilnya, Rhido membukakan pintu buat Dinda. Membuat Dinda tersanjung namun ingatannya di hotel pagi itu kembali menyiksa Dinda.
Sepanjang perjalanan Dinda terdiam. Ia hanya menjawab singkat untuk setiap pertanyaan Ridho. Membuat Ridho keheranan, setahunya Dinda yang dikenal sebelumnya adalah cewek cerewet dan sangat ceria. Namun sekarang sangat jauh berbeda.
"Beberapa waktu lalu kita tabrakan di rumah sakit. Siapa yang sakit Din?"
"Ibu." jawab singkat Dinda.
"Sakit apa?" Ridho kembali melemparkan pertanyaan, berharap dapat respon dari lawan bicaranya.
"Sakit jantung." Lagi-lagi Dinda memberi jawaban singkat.
Mobil mereka berhenti saat lampu merah menyala di perempatan jalan. Seorang wanita tiba-tiba menggedor pintu mobil dekat Dinda duduk. Dinda menurunkan sedikit kaca mobilnya, ingin tahu.
"Nyonya... tuan tolong, bawa saya ke rumah sakit. Saya mau melahirkan." Teriak wanita itu dengan ekspresi menahan rasa sakit. Dinda menolehkan kepala pada Ridho. Bagaimanapun, ia hanya seorang penumpang.
"Terserah kamu saja Din, kalau mau menolongnya suruh dia segera masuk." Ridho menyuruh Dinda membuat keputusan.
"Kasian wanita itu tuan." Kata Dinda seraya membuka pintu. Ia menolong wanita itu masuk ke kursi penumpang. Dinda melihat ada darah yang merembes di sela paha wanita itu membuatnya panik.
"Tuan Ridho, cepat tuan. Wanita ini sudah pendarahan!"
Teriak Dinda tanpa sungkan. Ia sangat takut melihat darah. Ridho pun segera melajukan mobilnya ke klinik terdekat. Sesampainya di klinik, wanita itu segera mendapat penanganan dari bidan. Dinda kebingungan, baru kali ini ia menunggui wanita yang akan melahirkan. Ada perasaan takut namun juga penasaran. Ia terus berdoa untuk keselamatan ibu dan bayi yang belum dikenalnya itu.
Ridho sepertinya mengerti perasaan Dinda. Ia tetap setia menunggui Dinda, sekalipun berkali-kali Dinda memintanya untuk pulang duluan.
"Bu... itu saudaranya sudah lahiran. Anaknya cowok, ibu dan bayi dalam keadaan sehat semua." Kata seorang perawat pada Dinda. Perawat itu menunjukkan tempat sang ibu dan bayinya ditempatkan.
"Alhamdulillah... sudah lahiran. Tuan Ridho ayo kita lihat bayinya." Dinda menggenggam tangan Ridho dan membimbingnya untuk mengikutinya.
Mereka melihat bayi mungil yang sudah di bedong dan dibaringkan di sebuah inkubator. Dinda sangat bahagia melihat bayi mungil itu. Senyuman mengembang saat melihat bayi mungil itu terlelap.
Seketika ia tersadar tangannya masih setia menggenggam erat tangan Ridho. Dinda pun reflek melepaskan pegangan tangannya.
__ADS_1
"Maaf." katanya lirih. Dinda benar-benar malu pada apa yang baru saja dilakukannya. Bagaimana kalau tuan Ridho sampai marah?