
Pagi itu Dinda bangun dengan perasaan happy. Semalam ia tidur ditemani video call suaminya. Yang jelas, Raphael tidak bersama wanita ganjen bernama Rossa itu.
Hari Ini Dinda berencana mengunjungi Bu Desy. Bagaimanapun juga, Bu Desy adalah mertuanya. Meskipun Raphael belum mengatakan kepada mama nya, Dinda akan memperlakukan Bu Desy sebagai orang tuanya juga. Mungkin Raphael punya alasan kuat sehingga belum memperkenalkan dirinya dengan Bu Desy.
Dinda menulis pesan pada Raphael memberi tahunya bahwa ia akan pergi mengunjungi seseorang di rumah sakit. Ia pun bersiap dan meminta sopir mengantarkan nya. Tak lupa Dinda singgah ke toko buah dan membeli sebuah parsel.
Hari ini ia ingin sekali menemani Bu Desy. Sebuah kunjungan yang ia sengaja untuk lebih mengenal mertuanya itu. Ia berharap kedepannya, Bu Desy menyukainya sebagai bagian dari keluarga mereka. Dinda menantikan saat itu, ketika Raphael dengan bangga memperkenalkannya dengan mertuanya.
Dinda mengetuk pintu sebelum membukanya dengan perlahan. Sebuah senyuman menyambut kedatangannya.
"Selamat pagi Bu Desy," sapa Dinda ramah. Ia pun meletakkan parsel buah ke atas nakas.
"Trimakasih Dinda, engkau benar-benar menepati janji untuk kembali mengunjungi ku." Ada nada gembira saat kata-kata itu diucapkan Bu Desy, namun setitik air mata meleleh membasahi pipinya.
"Bu Desy.... kenapa menangis?" Tanya Dinda khawatir.
Bu Desy berusaha membentuk sebuah senyuman. Namun hasilnya nampak senyuman kepedihan. Bagaimana ia tidak sedih, dalam keadaannya saat ini ia hanyalah seorang ibu yang gagal. Dua orang putranya tidak menunjukkan kasih padanya. Ridho yang selalu berada di sisinya telah melukai hatinya karena ceroboh menjual perusahaan satu-satunya peninggalan suaminya. Sementara Raphael, anak itu telah menghilang entah kemana. Bu Desy telah kehilangan kontak sepuluh tahun lalu. Bahkan orang yang disuruh mencari Raphael ke Melbourne tidak menemukan nya.
__ADS_1
Bu Desy tidak tahu kalau kegagalannya mencari informasi tentang Raphael karena kemarahan putranya itu. Raphael dengan koneksi dan kekayaannya memblokir akses informasi mengenai dirinya dan orang tua angkatnya di Melbourne.
Bu Desy malah menyalahkan dirinya, karena ia begitu lamban untuk mencari Raphael. Sebenarnya itu ia lakukan agar anaknya tidak terkena masalah. Bu Desy masih yakin kalau musuh keluarganya tidak pernah berhenti menghancurkan mereka. Sekalipun suaminya sudah meninggal karena kecelakaan, anggota keluarga lainnya juga terancam.
Sampai saat ini ia tidak bisa menemukan, siapa musuh keluarganya ataupun motivasinya. Terlebih saat ini keadaan ekonomi keluarga nya yang terpuruk. Semua ini karena kecerobohan Ridho dalam mengelola perusahaan. Beberapa waktu lalu ia telah menyerahkan perusahaannya ke tangan Ridho. Alasannya ingin fokus mencari Raphael. Ia tidak ingin masa tuanya terus dihantui penyesalan karena kehilangan anak kandungnya. Baru dua bulan Ridho memegang perusahaan, kekacauan segera terjadi hingga keputusan Ridho menjual perusahaan mengejutkan Bu Desy. Itulah kenapa ia harus masuk rumah sakit ini, ia mengalami serangan stroke.
Seandainya Ridho mengikuti skenario yang dia buat dengan menikahi Dinda, mungkin ia tidak harus mengalami kesengsaraan pada masa tuanya. Dinda adalah gadis kuat dan mandiri. Sangat bisa diandalkan menjadi seorang istri ideal.
Bu Desy melihat Dinda pertama kalinya, saat Dinda masih duduk di SMA. Waktu itu Dinda menolongnya dari seorang penjambret. Dengan kecerdikannya, Dinda berhasil mengalahkan penjambret, seorang preman bertubuh kekar. Sejak itu, Bu Desy mencari tahu semua tentang Dinda. Keyakinannya bulat, bahwa Dinda adalah gadis yang sangat tepat untuk anaknya.
Bu Desy sangat menyesali sikap Ridho yang memilih tidak mengikuti perintahnya. Ya... bagaimanapun ia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada anaknya. Ia tidak ingin ke kehilangan anaknya lagi. Sekalipun banyak masalah yang harus ia pikul sendiri, ia masih bisa bersyukur. Setidaknya saat ini Ridho masih memprioritaskan nya. Memberikan pengobatan terbaik untuk dirinya. Lagi-lagi Bu Desy tidak tahu kalau semua itu berkat campur tangan Raphael.
Bu Desy menggenggam jemari Dinda. Ia berusaha merelakan untuk melepas calon menantu idamannya. Bagaimanapun Dinda telah mendapatkan suami yang terbaik. Juga melihat Ridho yang cinta mati dengan kekasihnya sangat tidak mungkin mengubah keputusan nya.
"Dinda... sekali-kali ajak suami mu berkunjung ke sini!" pinta Bu Desy lemah. Ia ingin mengenal suami Dinda, memastikan bahwa Dinda telah menemukan suami yang benar-benar tepat.
Dinda hanya bisa mengangguk. Ada kemelut dalam hatinya. "Bu... aku menantu mu." Kata-kata itu ingin sekali dilontarkannya. Namun Dinda harus bisa menahan diri. Untuk saat ini ia tidak boleh mengejutkan mertuanya yang akan memperburuk kesehatan nya. Dinda akan menjadi menantu yang baik baginya.
__ADS_1
"Bu Desy sudah makan?" Dinda melihat rantang makan Bu Desy masih tertutup rapat di atas meja.
"Bisakah engkau memanggilku mama?" pinta Bu Desy dengan sangat. Meskipun ia tidak berhasil menjadikan menantu, masih ada kesempatan menjadikan Dinda sebagai anaknya. Meskipun hanya menjadi anak angkat, Bu Desy akan sangat senang. Apalagi Dinda wanita yang ulet dan penuh perhatian.
"Iya Ma.... mama mau Dinda yang menyuapi?" Dinda mengambil rantang makan dan membukanya. Menu bubur ayam masih utuh belum tersentuh. Dinda menyuapi Bu Desy dengan telaten. Ia mengingat ibunya yang sudah tiada. Seandainya waktu bisa diputar ulang. Namun hal itu mustahil. Dinda bertekad akan mencurahkan kasih sayangnya pada ibu mertua satu-satunya.
"Seandainya, mama punya anak perempuan. Mama pasti bahagia ada yang mengurus di masa tua." Kata-kata penuh kesedihan terucap dari bibir Bu Desy yang tertarik miring karena stroke nya. Sebenarnya Bu Desy bukan orang yang sembrono dengan kesehatan nya. Ia sangat menjaga diet sehari-hari nya. Bu Desy juga rajin ikut senam di sanggar. Namun karena banyak nya masalah yang di hadapi membuatnya stress dan tensi nya melonjak naik. Hingga tubuhnya tidak bisa mentolerir, bagian tubuh kanannya mengalami kelumpuhan.
"Mama makan yang banyak ya." Dinda terus menyuapkan makanan pada Bu Desy. Sampai wanita itu menolaknya.
"Cukup... Mama sudah terlalu kenyang." Bu Desy sangat senang. Dinda telah memperlakukan nya dengan sangat baik. Andaikan Ridho, bisa jatuh cinta pada Dinda. Namun sudah terlambat, karena Dinda sudah menemukan pria yang dicintainya.
Setelah menyuapi Bu Desy, Dinda merasa sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Ia berfikir akan segera pergi.
"Dinda... bisakah engkau menemani mama dulu? " Pinta Bu Desy hati-hati. Ia takut Dinda tidak mendapatkan ijin dari suaminya.
"Iya ma.... Dinda bisa menemani mama." Dinda merasa dibutuhkan, ia sangat bahagia.
__ADS_1
"Mama sangat sedih..." curhat Bu Desy lirih.
"Ma... kenapa? Kalau dengan bercerita, mama bisa merasa lega. Dinda akan mendengar kan nya." Dinda menarik sebuah kursi mendekati bangsal Bu Desy.