
Memasuki ruang kerja suaminya. Ia mengedarkan pandangnya ke sekeliling ruangan, mengagumi interior ruangan mewah dan elegan.
Tidak ada sebuah foto pun yang tertempel di dinding ataupun di atas meja kerja. Sebuah lap top mahal tergeletak manis di atas meja. Dinda iseng membukanya. Ternyata tidak ada sandi untuk membuka. Pertama kali Dinda memeriksa galeri foto. Di sana banyak sekali foto masa remaja Raphael bersama keluarganya.
Dari banyaknya foto ada sebuah foto yang menarik perhatian nya. Raphael dengan seorang gadis cantik bermata hijau jernih. "Deg..." sebuah ingatan samar mulai melintas. Wajah gadis itu pernah dilihatnya di suatu tempat. Dinda fokus mengamati foto gadis cantik itu, hingga ia mulai mengingat mimpinya semalam. Ya gadis di foto itu yang membuatnya tadi pagi bangun dengan peluh membasahi dahinya.
Dinda mengambil foto dengan kamera ponsel nya. Mungkin nanti ia perlu menanyakan mengenai gadis itu pada Raphael.
Dinda menggulir layar monitor dan mulai memeriksa dokumen. Ada banyak folder di sana. Setiap folder diberikan nama-nama sebuah perusahaan. Total folder bernama perusahaan ada dua puluh. Salah satunya cukup dikenalnya 'Perusahaan Danuarta'.
Perusahaan yang pernah memakai jasa catering nya.
Dinda membuka folder itu. Semua laporan detail perusahaan ada di sana. Dinda mulai was-was. Siapa sebenarnya suaminya? Bagaimana bisa ia memiliki laporan itu? Apakah benar suaminya pemilik semua perusahaan ataukah jangan-jangan suaminya hanya seorang hacker?
Dinda mengambil foto sekali lagi. Siapa tahu itu akan berguna nantinya. Namun ia menghentikan aktivitas nya. Ia merasa, apa yang dilakukannya sudah keterlaluan. Mengapa ia harus menyelidiki suaminya sendiri? Bukankah ini sebuah tanda kalau ia tidak percaya pada Raphael?
Dinda segera mematikan laptop, sebuah tayangan sekilas mengejutkannya 'Arta Samudra' tulisan itu menghiasi layar, sesaat sebelum monitor mati.
Dinda sangat terkejut ia sering mendengar tentang 'Arta Samudra' yang melegenda. Seorang pengusaha sukses dengan banyaknya aset perusahaan merajai benua Australia dan Asia. Salah satu perusahaan di Indonesia yang juga miliknya adalah Excellent group. Sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang entertainment. Salah satu perusahaan yang pernah diimpikan Dinda untuk bisa magang di sana.
Dinda melangkah keluar dari ruang kerja suaminya. Pikirannya diliputi banyaknya tanda tanya. Ia semakin dibuat penasaran dengan siapa sebenarnya Raphael. Apa hubungannya dengan pengusaha sukses Arta Samudra?
Saat Dinda menutup pintu ruang kerja, Reni sang pelayan sudah menunggunya di depan pintu. "Nyonya belum sarapan tadi. Ini sudah hampir jam makan siang. Makanan sudah saya siapkan di meja makan." Tegur Reni ramah. Ia pun mengunci ruang kerja kembali.
"Ya Trimakasih." Saat ini Dinda malas makan. Penemuannya di ruang kerja Raphael membuatnya kehilangan nafsu makannya. Di meja makan, sudah tersedia beraneka ragam makanan. Namun semuanya tidak menarik hatinya. Ia mengambil nasi sedikit dan beberapa lauk. Satu suapan akan segera masuk ke mulutnya saat tiba-tiba sebuah panggilan masuk menghentikannya.
__ADS_1
"Hallo selamat siang" Sapanya membalas saat terdengar sapaan dari lawan bicara.
"Apakah ini benar Saudari Dinda?" tanya suara wanita di seberang memastikan.
"Ya benar," jawab Dinda penuh tanda tanya, siapa orang yang menghubunginya padahal hanya Raphael dan keluarganya yang tahu nomor hp nya.
"Saya dari Universitas Nusantara secara khusus memberitahukan bahwa seluruh biaya kuliah Anda telah lunas di bayar. Hari ini saudara sudah bisa masuk kuliah. Untuk lebih jelasnya silahkan datang ke kampus."
"Oh... benarkah. Baik, saya akan segera berangkat ke sana," jawab Dinda gembira. Ia tidak menyangka kalau pak Dito benar-benar membantunya untuk bisa kuliah lagi. Nanti kalau Raphael pulang, ia akan berterima kasih pada nya. Tanpa membuang waktu, Dinda segera bersiap dan berangkat ke kampus diantar sopirnya.
Tempat pertama yang ditujunya, adalah kantor administrasi. Ia menemui Bu Ida.
"Selamat siang Bu, saya Dinda yang tadi ibu telepon." Sapa Dinda ramah saat ia mengambil tempat duduk di depan meja petugas administrasi.
"Oh iya, silakan duduk. Sebentar, saya Carikan surat rekomendasi magang." Bu Ida membongkar tumpukan berkas di atas meja. Dinda hanya mengamati ekspresi serius wanita paruh baya berkaca mata itu.
"Bu... saya hampir empat bulan tidak mengikuti kuliah. Apakah tidak masalah?" Tanya Dinda ragu.
"Oh.. kalau untuk itu langsung tanyakan ke dosen saja. Kalau urusan administrasi semua aman. Kalau boleh tahu dari mana Dinda bisa mengenal pimpinan Excellent group?" Bu Ida berusaha mendapatkan informasi tentang sponsor Dinda. Karena Excellent group juga salah satu pemegang saham terbesar di Universitas Nusantara. Kalau Dinda dapat sponsor pribadi, pasti gadis itu ada hubungan khusus dengan pemilik Excellent group.
Dinda tergagap, ia kebingungan memberikan jawaban. Kalau ia jujur mendapatkan sponsor dari asisten suaminya, ia takut timbul masalah baru.
"Ehm... sponsor itu saya terima setelah mengirimkan proposal ke perusahaan. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau langsung di respon." Dinda terpaksa berbohong.
"Oooooh .. ." Ada nada kecewa dalam suara Bu Ida. Semula ia berfikir Dinda punya koneksi kuat sehingga mendapatkan sponsor kuliah. Ternyata hanya karena ia mengirim proposal. Pandangan Bu Ida kembali seperti semula. Ia tidak akan respect kepada mahasiswa biasa. Baginya tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa. Berbeda kalau mahasiswa itu seorang yang kaya ataupun punya pengaruh. Ia sering mendapat Vee dari mahasiswa seperti itu.
__ADS_1
Melihat Bu Ida yang mengacuhkannya, Dinda merasa tidak enak hati. Ia pun permisi pergi.
Sekarang tinggal menemui dosen pengajar. Ia harus memastikan apakah perlu mengerjakan tugas atau apa pun untuk melengkapi nilai mata kuliahnya. Dinda bersemangat untuk menyelesaikan kuliahnya. Ia berharap bisa menjadi pendamping yang bisa menjadi kebanggaan suaminya.
Dinda bergegas menuju ruang dosen. Jaraknya tidak terlalu jauh, namun karena koridornya harus mengelilingi lapangan. Ia pun terpaksa sedikit bergegas supaya cepat sampai. Takutnya para dosen sudah pada pergi makan siang.
Melewati lapangan basket, nampak beberapa mahasiswa sedang panas-panasan bermain bola. Ada beberapa mahasiswa yang adalah teman seangkatannya. Sementara di pinggir lapangan berjajar mahasiswi yang memberikan support kepada idolanya. Di antara mahasiswi itu nampak Dina, mantan sahabatnya.
Dina sudah berniat menyapa, namun saat ia sudah dekat dengan gerombolan gadis-gadis, terdengar kasak-kusuk menjelekkan namanya.
"Hati-hati memilih teman, jangan sampai memelihara ular menjadi teman. Bisa mematuk dan membinasakan orang. Di depan terlihat seperti bidadari namun hatinya penuh duri." Suara Dina nyaring, sengaja menyindir Dinda.
Seketika hati Dinda teriris perih. Setelah beberapa bulan berlalu, namun Dina masih menyimpan kemarahan padanya?
"Wanita tidak tahu malu, masak pacar temannya diembat juga," timpal yang lain.
"Hei... dia kan wanita serakah, hati-hati jaga pacar kalian sendiri agar tidak dicolong olehnya!" Wanita berkuncir kuda semakin memanas-manasi.
"Hei aku dengar dia yang menjebloskan suaminya ke penjara. Padahal suaminya, orang yang selama ini membayar kuliahnya." Hujaman sinis semakin memojokkan Dinda.
Air mata Dinda tak tertahan lagi. Kedua matanya berlinang air mata. Namun ia bersikeras agar bisa berbicara pada Dina. Ia ingin agar sahabatnya kembali lagi.
"Dina.... bisakah kita bicara?" pinta Dinda dengan menahan pilu.
'plakkkk'
__ADS_1
Sebuah tamparan keras menjawab permintaan Dina. Kerasnya pukulan Dina membuat Dinda terhuyung hampir jatuh. Beruntung sepasang lengan kokoh menahannya.