
Raphael sudah memutuskan untuk memberikan tes cinta pada Dinda, istrinya. Harusnya ia melakukan hal itu lebih awal. Namun baginya lebih baik terlambat dari pada penyesalan nanti yang datang. Ia tidak ingin gegabah jatuh cinta pada seorang wanita. Apalagi pada sosok seperti Dinda. Wanita yang terlihat lugu namun dibaliknya ada intrik tersembunyi.
Raphael merasa perasaannya pada wanita itu adalah sebuah kesalahan. Ia hanya terperdaya pada kepolosan wajah Dinda. Bukankah jelas bahwa wanita itu telah menjual kehormatan nya pada orang kaya. Kalau ternyata ia yang memetik keperawanan nya, jangan-jangan itu tidak asli. Jaman sekarang sangat gampang mendapatkan operasi keperawanan.
Raphael tidur dengan segala rencana yang akan dilakukannya pada Dinda. Membuat pria itu tidur tanpa mimpi. Ia gelisah menantikan datangnya pagi yang seakan malas berganti. Raphael terus melihat ke arah jam alarm yang terletak di atas nakas samping ranjangnya. Ia menghela nafas bosan. melihat lambatnya detakan jam, hingga akhirnya ia terlelap.
Pagi itu Raphael bergegas bangun dan segera mempersiapkan diri. Ia sudah menghubungi pak Dito untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan pulang ke Jakarta siang nanti.
Setelah semalaman mempertimbangkan banyak hal. Raphael memutuskan untuk mengunjungi ayah angkatnya di rumah sakit. Setelah sepuluh menit perjalanan dengan taxi, Raphael tiba di rumah sakit tempat Daddy nya di rawat. Ia berjalan cepat menuju ruang rawat yang di dapatnya dari informasi Resepsionis.
Raphael mengetuk pintu perlahan. Ada perasaan was-was mulai menyerang hatinya. Ia belum yakin apakah pertemuannya dengan Daddy akan baik-baik saja atau ia hanya mendapatkan kemarahan ayah angkatnya itu. Raphael menunggu sejenak, namun tak juga ada jawaban dari dalam. Ia pun berinisiatif membuka pintu sendiri.
Tubuh seorang pria gemuk terbaring di ranjang rumah sakit. Tampak kaki dan tangannya dibalut perban. Raphael tanpa melihat wajah pasien, sudah mengenali bahwa itu Pak Dolvie. Ayah angkat Raphael yang biasa dipanggilnya dengan sebutan Daddy.
Melihat Daddy nya terbaring lemah. Seketika membuat hati Raphael sedih. Lima tahun mereka berpisah namun saat jumpa Daddy nya sedang tidak baik.
Raphael melangkah mendekati daddy nya. Pria berumur lima puluhan tahun itu membuka matanya. Mungkin ia menyadari ada orang yang masuk ke dalam ruangan nya. Sesaat pria itu terdiam, setelah beberapa waktu akhirnya ia mengenali orang yang masuk ke ruangannya. Pria itu adalah Raphael anak angkatnya, ia pun berusaha bangun. Namun tulang-tulang nya yang terasa remuk menahan nya.
"Aduh..." seru pak Dolvie mengeluh sakit.
__ADS_1
"Sudah Daddy, berbaring saja." Raphael menahan tubuh ayahnya agar tetap berbaring.
"Raphael.. Daddy minta maaf pada mu nak. Daddy begitu bodoh mengusir mu dari rumah. Daddy tidak mendengarkan penjelasan mu. Sekarang Daddy hanya bisa menyesali nya," kata pak Dolvie penuh penyesalan. Setitik air mata gagal ditahannya hingga mengalir di pelupuk matanya.
Raphael hanya terdiam, ia masih menilai situasi.
"Daddy gak menyangka sama sekali kalau Karen anak kandung Daddy melakukan hal yang sangat memalukan itu." Pak Dolvie lagi-lagi tidak ragu menunjukkan penyesalannya pada Raphael.
"Ya Daddy, semua sudah berlalu."
Raphael menelan ludah yang terasa pahit. Seandainya Daddy nya tidak menuduhnya sesuka hati dan tidak mengusirnya saat itu, tentu sekarang Raphael akan senang hati memeluk ayah angkatnya. Namun sakit hati yang dibuat Daddy juga dua orang Putri kandungnya telah terlanjur menyakiti hatinya terlalu dalam.
Pak Dolvie ikut terdiam, ia menyadari apa yang telah diperbuatnya dulu sangat keterlaluan. Bagaimana ia bisa meragukan ketulusan dan kejujuran Raphael selama bertahun-tahun tinggal bersamanya. Seandainya Jasmin waktu itu masih hidup, tentu tidak akan membiarkan nya membuat keputusan impulsif. Hingga pada akhirnya ia memetik buahnya dengan sebuah penyesalan.
Raphael membalikkan tubuh bermaksud segera meninggalkan tempat perawatan pak Dolvie. Sementara pria tengah baya itu berusaha menahannya.
"Raphael.... Nak ijin kan aku memberikan sesuatu untuk mu."
Pak Dolvie mengeluarkan sesuatu dari bawah bantalnya. sebuah kartu debit berwarna perak. "Mungkin ini isinya tidak terlalu banyak. Daddy harap bisa sedikit membantu mu. Mungkin bisa untuk memulai investasi." Pak Dolvie menggenggam kan kartu itu ke tangan Raphael.
__ADS_1
"Apakah ini berarti Daddy menyogok ku?" tuduh Raphael tidak senang. Apa artinya kartu silver buat nya. Ia bisa memperkirakan isi kartu itu paling banyak sepuluh ribuan dolar. Buat apa uang sekecil itu? Bahkan dari perusahaannya yang baru dirintis bisa menghasilkan ratusan ribu dolar untuk nya. Sementara uang itu pasti hasil ayahnya mengumpulkan bertahun-tahun. Mengetahui hal itu seketika membuat hati Raphael hangat .
"Raphael, tolong terimalah. Ini sebagai tanda ketulusan permintaan maaf ku pada mu." Pak Dolvie terus menjejalkan kartu silver itu ke genggaman tangan Raphael.
"Daddy aku tidak memerlukan nya. Uang itu pasti akan sangat diperlukan Karen untuk acara pernikahan nya nanti." Raphael tidak mau menerima pemberian Daddy nya.
Saat pak Dolvie mendengar nama Karen disebut, Seketika hatinya perih. Karen yang lari dari rumah, bertunangan tanpa melibatkannya. Membuat pak Dolvie sangat kecewa. Karen memiliki wajah mirip Jasmin, istrinya yang telah meninggal. Itu lah sebabnya saat ia memergoki Karen dan Raphael dalam kamar. Dimana Karen nyaris tak tertutup selembar kain pun, membuat pak Dolvie langsung murka dan mengusir Raphael dari rumah. Ia tidak ingin anak bungsu yang selalu mengingatkannya pada Jasmin disakiti orang.
"Raphael.. Karen juga ikut pergi, sesaat setelah kamu meninggalkan rumah lima tahun lalu. Tidak seharusnya aku memanjakan Karen. Karena itu malah membuatnya tidak terkontrol. Bahkan sekarang ku dengar pria tunangannya bukan orang baik-baik," sesal pak Dolvie.
Raphael hanya menelan kata-kata Daddy nya dengan rasa pahit. Ia sudah tahu dari awal kalau Karen bertumbuh menjadi anak manja dan sekehendak nya sendiri. Semua itu karena salah asuh dari Daddy nya. Bahkan sering kali ia melihat Daddy tidak adil terhadap kedua putri kandungnya. Cleo lah yang selalu menjadi korban. Orang yang selalu disalahkan dan pelampiasan kemarahan Daddy nya.
Dari rasa kasihan menjadi rasa cinta dan ingin melindungi. Itulah kisah cinta Raphael dan Cleo.
"Raphael, kamulah yang berhak menerima ini. Ini sengaja ku tabung kan untuk mu," Pak Dolvie terus berusaha memberikan kartu debit itu pada Raphael.
"Daddy aku sudah bilang tidak memerlukan nya. Aku pamit!" Raphael berjalan mantap hendak keluar dari kamar rawat pak Dolvie.
Saat ia membuka pintu seketika jantungnya nyaris berhenti. Sosok wanita yang telah menghancurkan hatinya sampai berkeping-keping berdiri anggun di depannya. Ada seorang gadis kecil bergelayut di gendongannya.
__ADS_1
Gadis dari masa lalunya telah bertransformasi menjadi wanita dewasa dan anggun.
"Cloe..."