
Dinda menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Imah. Dinda memandang Imah. Dengan penuh keyakinan dia berkata.
"Sebelum aku tahu keburukan Fariz, aku sangat mencintainya. Sekarang tidak penting apakah aku mencintainya atau tidak. Aku sudah menjadi istrinya yang sah. jadi aku harus mengabdikan diri kepada Fariz."
"Seharusnya Mbak Dinda tidak perlu menikahi Mas Fariz. Sudah sepantasnya Mas Fariz menerima hukuman Tuhan." Imah menumpahkan kejengkelannya.
Dinda merasa ada sesuatu yang telah dialami Imah. "Apakah Mas Fariz pernah berlaku jahat kepadamu?" Dinda mencoba mencari informasi dari Imah.
Mata Imah berkaca-kaca, sebulir air mata mengalir di pipinya.
"Mas Fariz jahat Mbak....."
Imah tidak melanjutkan kata-katanya. Sepertinya ada beban yang sangat berat disimpannya. Mungkin Imah ragu mengatakan apa yang telah dialaminya kepada Dinda. Karena mereka baru saja kenal dan belum terlalu dekat.
Dinda menepuk bahu Imah. "Aku tidak tahu apa yang telah Imah alami. Jadilah berani supaya engkau mendapatkan keadilan."
Dinda berusaha menghibur Imah. Walaupun sebenarnya kata-kata motivasi itu ditujukan untuk dirinya sendiri. Ia masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya dialaminya. Semua terasa begitu tiba-tiba dan sampai saat ini ia belum bisa menerima kenyataan yang begitu pahit.
"Mbak Dinda, apalah daya ku. Aku hanya seorang pembantu. Pendidikan pun aku tidak lulus SD. Bagaimana aku bisa mendapat keadilan. Aku masih dipekerjakan di rumah ini sudah sangat beruntung." Imah menjalin jemarinya.
Dinda semakin yakin kalau Imah mendapat perlakuan buruk dari Fariz. Ia sangat ingin tahu, namun disisi hatinya yang lain ia takut mendengar kebusukan Fariz yang akan lebih melukainya.
Dinda diam termenung teringat Dina sahabat baiknya. Mengapa persahabatan yang sangat erat, terputus dengan begitu mudahnya karena seorang pria? Dina seperti seorang saudara baginya. Tiba-tiba membencinya karena hanya sebuah kesalahpahaman.
Dinda sangat menyesal, mengenal Fariz ataupun Toni. Kedua pria itu sama-sama buruknya. Ia tidak menyangka dua pria itu telah menghancurkan hidupnya.
Dinda juga teringat pada Ridho, pria yang telah merenggut kehormatannya. Kalau ia bandingkan, pria itu lebih baik daripada Fariz. Kalau ia punya kesempatan memilih, ia lebih senang memilih Ridho menjadi suaminya.
Ridho lebih menghargai nya. Dan ia yakin perbuatan Ridho padanya bukan suatu kesengajaan. Ridho juga seorang pria yang tulus.
Dinda menghela nafas panjang. Mengapa jalan hidupnya begitu buruk. Seakan Tuhan tidak puas melihat kesedihan hatinya setelah kehilangan ayah, ibu, ia juga kehilangan kebebasannya selamanya.
Mengapa Tuhan mengijinkan dirinya difitnah atas keburukan yang tidak pernah dilakukannya?
__ADS_1
Mengapa Tuhan tidak menghukum Fariz ataupun Toni saja?
Dinda mengingat keadaan Fariz yang sekarang, kecacatannya paska kecelakaan membuat Fariz sangat bergantung pada kursi roda. Ada perasaan kasihan pada nya. Ia tidak bisa mengingkari, kalau di lubuk hatinya yang terdalam, masih ada perasaan cinta pada Fariz.
Seandainya mas Fariz meminta maaf dan memperlakukannya dengan baik, tentunya ia akan mengabdi sepenuhnya sebagai seorang istri yang baik buat suaminya.
"Mbak ... Mas Fariz punya banyak pacar dibelakang mbak Dinda." Kata Imah tiba-tiba.
Dinda langsung menoleh melihat raut muka Imah. Ia mencoba melihat kejujuran Imah. Apakah Imah jujur padanya atau hanya menyiram bensin dihatinya yang telah terluka.
"Iya Mbak, Mas Fariz punya beberapa pacar. Bahkan ada yang pernah dibawa pulang saat Tuan dan nyonya pergi dinas ke luar kota." Imah mencoba meyakinkan Dinda yang terlihat meragukannya.
"Aku memergoki mereka melakukan hubungan di dalam kamar mas Fariz." Kata Imah lagi dengan suara pelan, seakan takut di dengar orang di balik tembok.
"Imah... itu mungkin bagian masa lalu mas Fariz. Aku percaya mas Fariz cepat atau lambat pasti berubah menjadi seorang suami yang bertanggung jawab." Dinda mencoba mempercayai perkataannya sendiri.
"Mbak Dinda... Mas Fariz lebih jahat dari pada mas Toni." Imah mendesah marah dalam keputusasaan nya.
Kata Dinda kehilangan kesabaran. Ia yakin Imah menyimpan rahasia besar.
"Mbak... jangan tertipu dengan mas Fariz. Ia pria yang sangat jahat dan licik." Imah meluapkan kebenciannya.
Dinda benar-benar kehilangan kesabaran nya. Ia segera bangun dari tempat tidur dan mendekati Imah.
"Katakan sejujurnya Imah, apa yang sudah mas Fariz lakukan pada mu?" Dinda melemparkan pandangan mata penuh ancaman pada Imah.
Seketika Imah merasa ngeri melihat perubahan sikap Dinda. Ia jadi ragu untuk menceritakan kejahatan Fariz padanya.
Imah hanya menggeleng. "Mbak Dinda... suatu saat nanti, Mbak pasti akan tahu. Kalaupun aku katakan sekarang, mbak Dinda pasti tidak percaya pada ku." Kata Imah sedih.
"Baik... kalau tidak mau mengatakannya. Sekarang kamu juga jangan mengatakan apapun yang memburukkan mas Fariz!" Ancam Dinda tegas pada Imah.
Imah mengangguk samar. Ia tidak menyangka kalau Dinda ternyata tidak mempercayainya. Ia hanya ingin menolong agar Dinda tidak dipermainkan oleh Fariz. Ia kecewa dengan sikap Dinda. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan Dinda.
__ADS_1
"Mbak saya kembali ke kamar, kalau ada sesuatu yang anda perlukan panggil saya."
Tanpa menunggu jawaban, Imah pun pergi meninggalkan Dinda sendiri di kamar.
Dinda kembali termenung, apakah ia berlebihan? Mungkin Imah bermaksud baik untuk memperingatinya. Namun, keadaan Fariz saat ini yang lumpuh pasti telah membuatnya menyadari kesalahannya.
"Semoga saja Fariz bisa menjadi suami yang baik." Harap Dinda.
Dinda juga sudah bertekad akan melupakan kekhilafan Fariz padanya. Ia ingin menata hidupnya yang baru. Menyandang status sebagai seorang istri.
Dinda segera beranjak dari tempat tidurnya. Ia harus menemui Fariz, karena pria itu adalah suami sahnya yang harus ia layani. Juga ia akan menjelaskan mengenai kesalahpahaman yang terjadi siang tadi.
Dinda beranjak pergi meninggalkan kamar pembantu. Ia berniat menemui Fariz di kamarnya.
Dinda mengetuk kamar Fariz, namun tidak ada jawaban. Ia pun memberanikan diri membuka pintu kamar dengan perlahan. Kamar Fariz gelap gulita.
"Fariz.... Fariz.... " Panggil nya pelan. Sambil ia mencari stopkontak. Tak berapa lama ia menemukan stopkontak dan segera menyalakan lampu.
Kamar Fariz kosong dan masih dalam keadaan rapi. Dinda mencari Fariz di kamar mandi, tempat itu juga kosong.
"Fariz... kamu di mana?" Seketika ada perasaan was-was dalam hatinya. Takut sesuatu terjadi pada suaminya.
Dinda ingin mencari Fariz ke seluruh bagian rumah. Namun ia merasa tidak enak kalau nanti bertemu mertuanya. Ia akhirnya memutuskan untuk menunggu Fariz di kamar sampai suaminya kembali.
Dinda memilih duduk di sofa. Ia berniat menyalakan televisi, namun kejadian kemarin membuatnya mengurungkan niat menonton televisi.
Dinda mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kamar Fariz. Disalah satu sudut terdapat sebuah rak buku, penuh susunan buku yang tertata rapi.
Dinda mengambil sebuah novel, ia membawanya ke sofa bermaksud membacanya sambil menunggu kedatangan Fariz.
Selembar kertas terjatuh. Dinda segera memungut nya. Ternyata itu sebuah foto.
Dinda sangat terkejut melihat gambar di foto itu.
__ADS_1