Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Persembunyian baru


__ADS_3

Dinda terdiam, saat ini ia merasa bingung. Apakah kedatangan Ridho saat ini untuk bertanggung jawab padanya? Namun Bu Inayah bilang sikap Ridho berbeda. Apakah ia marah padanya karena kejadian itu?


"Mbak... sebaiknya segera ditemui tuan Ridho." Bu Inayah mendesak Dinda yang terlihat bengong. Ia benar-benar takut kalau tuan Ridho benar-benar akan menghancurkan rumah keluarga Dinda.


"Iya Bu, ayo kita temui supaya kita tahu apa yang diinginkannya." Dinda segera bangun dari tempat tidurnya. Imah buru-buru membantu Dinda yang nampak berjalan terhuyung.


Dinda memimpin jalan. Dia berjalan terlebih dahulu menuju ke tempat Ridho menunggu. Dinda mengeryit kan dahinya, saat melihat sikap angkuh Ridho. Seketika ia tidak mengenali Ridho yang humoris dan ramah.


"Tuan... mencari ku?" tanya Dinda pada pria yang membelakangi pintu rumahnya. mendengar suara Dinda pria itu segera membalikkan badannya.


"Ya, aku akan mencarikan kan tempat aman untuk kamu berlindung dari kejaran Fariz." Nampak sekilas senyum tulus di wajah pria itu. Bu Inayah yang ikut menyertai Dinda seketika terkejut. Bagaimana bisa pria itu merubah raut wajahnya dalam waktu singkat?


Dinda pun terkejut dengan perkataan Ridho barusan. Dari mana pria itu tahu kalau dirinya sedang menghindari kejaran Fariz?


Seakan pria itu bisa membaca pikiran Dinda. Pria itu berkata, "Aku tahu apapun yang terjadi di kota ini. Bahkan aku sudah tahu rencana apa yang akan Faris lakukan pada mu. Ia tidak akan pernah melepas mu begitu saja. Bahkan hari ini ia sudah mencoba menculik adik-adikmu. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan mu kembali. Kamu tahu apa rencananya setelah mendapatkan mu? Ia akan menyiksamu sampai mati." Intonasi pria itu cukup datar. Namun mampu menggoncang kan perasaan Dinda.


Perkataan Ridho seperti pukulan telak yang mengenai hatinya. Rasa sakit yang telah ditorehkan Fariz seperti tersiram cuka. Semakin sakit dan perih. Namun Dinda pura-pura tidak bergeming.


"Bagaimana aku bisa mempercayai mu?" Tantang Dinda pada Ridho. Pria di depannya bukan pria manis yang bersamanya membantu ibu yang bersalin malam itu. Dan yang sama sama menggenggam jemari mungil bayi yang dilahirkan wanita itu. Ridho yang di depannya benar-benar pribadi berbeda dan tidak dikenalnya sama sekali.


Tuan Ridho menepuk kan tangannya memberi kode. Tiba-tiba datang sepuluh pria tegap dengan seragam hitam. Saat Ridho menjentikkan jarinya, beberapa pria masuk ke dalam rumah. Mereka menggendong Riki dan Niki yang sebelumnya sedang membereskan barang di dalam kamar.


Setelah kedua anak itu dibawa keluar, pria-pria tegap yang lain langsung menghancurkan rumah dan warung Dinda.

__ADS_1


"A.... apa yang kamu lakukan?" Seketika Dinda terduduk lemas. Bu Inayah dan anak-anak nya menangis histeris melihat rumah Dinda yang selama ini menaunginya telah dihancurkan sebegitu rupa. Kemana mereka akan berteduh nanti?


"Kamu sudah tidak punya tempat sembunyi. Sekarang kamu cuma punya satu pilihan. Ikut dengan ku dan kamu akan dapat tempat persembunyian baru yang tidak mungkin dapat dijangkau pria busuk itu. Bahkan bayangannya pun tidak akan bisa menjejak ke sana. Masuk ke mobil sekarang!"


Perintah Ridho menjadi sebuah keharusan yang mutlak. Membuat wanita-wanita itu menurut tanpa membantah. Air mata Dinda tidak berhenti menetes. Bagaimanapun rumah itu peninggalan kedua orang tua nya. Rumah itu telah memberikan banyak kenangan manis bersama ibu dan ayahnya.


Dinda diarahkan untuk masuk mobil yang berbeda dengan keluarga nya. Ia ingin membantah, namun tatapan tajam Ridho membuatnya tak berkutik.


Ia terpaksa menuruti Ridho, memasuki mobil yang sama dengan pria dingin itu. Sepanjang perjalanan mereka membisu, tak seorangpun yang sukarela mulai pembicaraan. Bahkan Sang sopir pun merasa ngeri, sehingga untuk menghela nafaspun ia harus sangat hati-hati supaya tidak menginterupsi kebisuan tuannya.


Hingga sampai tempat tujuan, tetap tidak ada percakapan sama sekali. Ridho menyuruh Dinda keluar dari mobil. Dihadapan Dinda menjulang sebuah rumah mewah tiga lantai. Rumah yang terlihat lebih seperti istana. Bukan rumah keluarga Ridho yang pernah didatangi nya.


Ada empat orang pelayan dengan seragam indah menunggu kedatangan mereka. Ridho memberi isyarat agar pelayanan-pelayan itu membantu Dinda. Dengan sangat hati-hati, para pelayan itu memapah Dinda menuju sebuah kamar tamu.


Belum puas Dinda mengamati keindahan kamarnya, saat seorang pelayan menawarkan untuk memandikannya. Hampir saja Dinda menolak bantuannya, namun saat ia mengingat bahwa dua hari ini ia tidak mandi membuatnya terpaksa menerima nya. Ia masih sangat perlu bantuan.


"Ya... minta tolong mandikan saya." Ucap Dinda lebih seperti permohonan.


Dua orang pelayan dengan cekatan dan hati-hati, membantunya mandi di bathtub yang sudah dipersiapkan air hangat dengan limpahan busa sabun mandi yang sangat harum.


Setelah mandi, Dinda didandani layaknya seorang putri. Ada berlusin-lusin gaun indah dengan merk ternama memadati dua buah lemari besar. Juga ada berbagai make up tertata rapi di atas meja rias. Salah satu pelayan membantunya memakai make up, saat melihat Dinda kebingungan dengan banyaknya kosmetik yang bahkan ada yang belum pernah dilihatnya.


"Nyonya... Tuan sudah menunggu di ruang makan." Sapa seorang pelayan yang baru memasuki kamar Dinda.

__ADS_1


"Ya... sebaiknya aku segera ke sana." Dinda butuh penjelasan dari banyaknya kejadian sepanjang hari ini yang membuatnya dipenuhi tanda tanya.


Dinda sudah merasa segar sekarang. Ia berjalan menuju ke ruang makan. Meskipun tadi ia melihat banyak pelayan dan juga penjaga, namun saat ini rumah terlihat sangat lengang. Sepertinya para pelayan bersembunyi di suatu tempat. Mereka baru akan keluar diwaktu tuannya membutuhkan.


Dinda akhirnya sampai di ruang makan. Ia mendapati hanya ada seorang pria yang duduk menghadap meja makan besar dengan berpuluh-puluh hidangan di atasnya.


"Maaf Tuan... apakah Tuan memanggil saya?" Tanya Dinda hati-hati.


"Bergabunglah makan dengan ku." Nada datar suara Ridho terdengar lebih lunak.


Dinda mengambil sup dan mulai memakannya. "Makanlah yang banyak supaya badanmu cepat sehat." Ucap Ridho penuh perhatian.


Dinda hanya mengangguk. Ia sedang menimbang-nimbang apakah ia perlu menanyakan sekarang? Namun batinnya ragu, ia takut membuat Ridho menjadi marah padanya. Dinda memilih menikmati makanannya dalam diam.


"Setelah makan, ada dokumen yang harus kamu tanda tangani." Sela Ridho ditengah kebisuan acara makan malam.


Ridho mencuri pandang pada Dinda yang terlihat enggan menghabiskan makanannya. Ia tiba-tiba merasa tidak nafsu makan saat mendengar ia harus menandatangani sebuah dokumen. Apakah ini seperti kisah di novel yang sering dibacanya? Seorang wanita lemah yang dipaksa menikah orang kaya. Kemudian seiring berjalannya waktu pria itu akan jatuh cinta dan bucin pada wanita yang dinikahinya? Seketika Dinda menghapus hayalan nya, Bagaimanapun ia masih terikat hubungan suami-isteri dengan Fariz.


Kalau saja Ridho tidak membawa paksa dirinya dan keluarganya. Ia sudah berencana akan membawa kasusnya ke polisi segera dan menuntut cerai Fariz. Namun rencananya terpaksa ditunda, sampai waktu yang tidak bisa diperkirakan nya.


Keberadaannya saat ini di rumah mewah Ridho belum ada kejelasan. Sampai saat inipun Ridho belum mengatakan apa-apa, mungkin hanya sebagai calon pelayan berikutnya untuk membalas kebaikan Ridho yang telah menyelamatkannya dari Fariz. Juga yang telah memberikan suaka untuk Bu Inayah, adik-adiknya juga Imah. Bahkan keberadaan mereka saat ini belum diketahui Dinda.


Dinda mencuri pandang ke arah Ridho yang masih asyik menikmati makanannya. "Ridho... apakah kamu tidak ingat kalau engkau yang telah merenggut kesucian ku malam itu?"

__ADS_1


__ADS_2