
"Nama ku Ridho, kamu siapa?" Ternyata pria itu menjulurkan tangan hanya mengajaknya kenalan. Dinda dengan takut - takut menyambut tangan Ridho.
"Aku Dinda... please antar aku ke rumah, kasihan ibu ku sering sakit - sakitan aku takut ia kenapa - napa karena dari tadi aku belum mengabarinya." Kata Dinda memelas.
"Enak saja. Kamu tahu telah buat aku bermasalah hari ini? Pekerjaan ku jadi terbengkalai gara-gara ulahmu berlenggak-lenggok di tengah jalan. Kau kira jalan raya catwalk. Bisa kau pakai seenaknya?" Tuduh Ridho pada Dinda.
Dinda hanya memandang Ridho dengan kebingungan.
"Apa maksud mu? Kamu yang hampir menabrak ku, trus kamu juga menculik ku dan membawa ku sejauh ini. Kamu yang bikin masalah buat aku." Dinda ngegas tidak mau kalah.
"Dasar cewek saraf, terus ngapain tadi berjalan di tengah jalan? Mau bunuh diri? Apa cari sensasi?" Geram Ridho emosi tinggi.
"Gak sengaja, lagi ngelamun." Dinda bergumam lirih, takut - takut kena bentakan lagi dari Ridho.
"Hmmmm hmmm"
Ridho geleng - geleng kepala.
"Ampun deh... dasar cewek labil. Kuantar pulang sekarang, tunjukkan jalannya!" Ridho segera menjalankan mesin mobilnya dan mengikuti arahan yang diberikan Dinda. Sepanjang perjalanan mereka terdiam. Sesekali Dinda menoleh ke arah Ridho, mencuri - curi pandang.
"Kenapa lihat - lihat?" Ridho menegur Dinda ketus.
"Ng....gak siapa yang lihatin kamu? dasar ke GR an." Dinda mengelak.
Sejenak hanya kebisuan diantara Ridho dan Dinda. Beberapa saat kemudian Dinda kembali mencuri - curi pandang ke arah Ridho. Cowok disampingnya terlihat ganteng juga berwibawa.
Coba kalau mau sedikit senyum pasti banyak cewek yang tertarik padanya. Tapi galak, jutek, cuek dan dingin kayak kulkas bikin Dinda merinding ngeri. Tubuhnya reflek bergidig membayangkan Ridho yang galak memarahinya.
Ridho tiba - tiba mencengkeram kepala Dinda dengan tangan kirinya. pandangan matanya masih fokus ke jalan.
"Ketahuan... masih mau ngeles?!!" Hardik Ridho.
"Ampun.... tolong lepas!" Ronta Dinda, membuat Ridho kelabakan dan langsung melepaskan cengkramannya. Bagaimana cewek seimut ini kalau teriak seperti petasan. Ridho pilih kembali memfokuskan diri menyetir mobilnya.
"Jadi cewek tu... yang Punya harga diri, masak ngliatin cowok cakep segitunya? Sampai ngiler. Emang belum pernah lihat cowok ganteng kayak aku?" Kata Ridho membanggakan diri.
"Ih amit - amit narsis banget, cowok ku lebih ganteng."
__ADS_1
Senyum Dinda mengembang, membayangkan kiss pertamanya dengan Fariz. Seganteng apapun cowok disamping nya tidak akan bisa mengubah hatinya. Ia telah jatuh hati pada Fariz Dialah satu - satunya pria yang dicintainya. Baginya, Fariz adalah pria tertampan di dunia, pria baik hati dan sempurna.
Dinda sangat bersyukur mendapatkan kekasih seperti Fariz. Memikirkan Fariz saja membuatnya Dinda senyum - senyum sendiri.
Ridho yang melihat gelagat aneh Dinda yang senyum - senyum sendiri, mendadak illfill. "Jangan -jangan benaran saraf nih anak" gumam Ridho dalam hati.
"Di mana rumah kamu? Dari tadi gak sampai - sampai? Jangan - jangan kamu cuma manfaatin aku buat muter - muter gak jelas?" Protes Ridho gak sabar.
"Dikit lagi, depan Alfin mini market." Tunjuk Dinda pada papan nama toko yang sudah mulai terlihat. Beberapa saat kemudian mobil sudah mulai dekat rumah Dinda. Dinda segera memberi tahu agar Ridho memelankan laju mobilnya.
"Nah di depan Warung Maharani stop!!."
"Udah berhenti didepan warung itu!" Kata Dinda sambil menunjuk sebuah warung sederhana di pinggir jalan.
Dinda langsung keluar saat mobil sudah berhenti tepat di depan warung makan ibunya. Ia bergegas tanpa menoleh ke belakang. Ia tidak perduli lagi pada Ridho yang melotot gemas saat melihatnya pergi begitu saja.
Ridho gak habis pikir sudah diantar sampai rumah bukannya bilang terimakasih malah ngeloyor pergi bahkan menoleh sebentarpun tidak. Sambil menggelengkan kepala, ia pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Dinda merasa ada yang janggal. Tidak biasanya warung ibunya tutup sesore ini. Lampu teras dan rumah semuanya mati, belum dinyalakan padahal hari sudah mulai gelap. Apalagi etalase tempat memajang masakan masih penuh lauk pauk. Tanpa pikir panjang iapun langsung masuk ke dalam warung ibunya.
Saat ia mencoba mendorong pintu warung, ternyata tidak terkunci. Semua piring, gelas kotor dan sisa- sisa makanan masih teronggok belum dibereskan. Dinda semakin panik, air matanya menetes.
"Ibu.... ibu... !"
Diperiksanya seluruh bagian rumahnya yang kecil. Dua bilik kamar miliknya dan milik ibunya diperiksanya, masih rapi dan ibunya tidak ada. Kamar mandi, dapur dan halaman belakang ditelusurinya namun ibunya tidak diketemukannya.
Dinda putus asa, diliputi kekalutan. Sesaat ia tersadar, ia segera berlari menuju rumah pak RT.
Tok...tok....tok...
"permisi.... pak RT.....!" Dinda berteriak - teriak kalut. Dikejutkan sebuah tangan yang menepuknya lembut. Seketika ia terjengit kaget.
"Dek.... ada apa?" Tanya bu RT lembut.
Dinda menghambur ke dalam pelukan bu RT.
"Bu RT, Ibu saya hilang. Ibu saya mungkin diculik."
__ADS_1
Dinda menumpahkan kecemasannya pada bu RT. Tak kuasa air mata mengalir deras, ibunya yang sangat disayangi tiba - tiba menghilang.
"Dek.... coba tenang, ibumu sudah coba ditelephon?" Tanya bu RT menenagkan Dinda.
Dinda segera merogoh kantong celana jeans nya. Namun hp nya tidak ada.
"Jangan - jangan jatuh waktu aku hampir tertabrak mobil." Gumam Dinda pelan.
Bu RT menyodorkan hp kepada Dinda. "Coba hubungi pakai hp ibu saja."
Sedikit segan, Dinda pun mengambil hp dari tangan bu RT dan melakukan panggilan ke no hp ibunya. Beberapa saat lamanya ia menunggu, akhirnya terdengar suara jawaban dari seberang. Suara wanita yang tidak dikenalnya.
"Halo.... bisa bicara dengan ibu?" Tanya Dinda was - was.
"Halo,.. bu Rahmah saya bawa ke RS Fatmawati......." panggilan terputus.
Dinda berusaha menelephon lagi namun tidak tersambung.
"Gimana dek..?" Tanya bu RT penasaran.
"Tadi dikasih tahu kalau ibu dibawa ke RS Fatmawati." Jawab Dinda gamang karena mendapat informasi yang tidak jelas. Banyak pertanyaan yang membuatnya semakin kalut. Siapa wanita yang menerima telephonnya. Mengapa ibunya dibawa ke rumah sakit. Jangan - jangan ibunya kena serangan jantung. Saat memikirkannya membuat Dinda deg - degan ia tidak mau kehilangan lagi orang yang disayanginya. "Ibu... engkau harus bertahan untuk ku. Jangan tinggalkan aku ibu." Gumamnya dalam hati. Air mata kembali mengalir.
"Bu RT terimakasih atas bantuannya. Saya akan menyusul ibu ke Rumah Sakit." Kata Dinda pamit.
"Tunggu sebentar, Dinda ke sana mau naik apa? Biar pak Tono supir ibu yang antar. Dek Dinda tunggu bentar ya, ibu mau kasih sesuatu."
Bu RT masuk kerumah, dan tidak berapa lama dia kembali membawa sebuah amplop.
"Ini hanya sedikit untuk bantu perawatan bu Rahmah semoga cepat sembuh." Kata bu RT sambil menyodorkan amplop coklat itu pada Dinda.
"Bu, makasih banyak atas bantuannya. Saya mau siap - siap dulu, nanti saya ke sini lagi."
"Tunggu di rumah saja, biar pak Tono nanti jemput di rumah!"
"Iya Bu trimakasih sekali lagi." Dinda pun pulang dengan hati yang mulai tenang. Bersyukur, sekalipun tidak ada hubungan kekeluargaan dengan pak RT dan bu RT namun mereka sangat baik kepadanya melebihi keluarga. Ia menyiapkan baju - baju ibunya dan keperluan yang lain.
Air mata Dinda meleleh, membayangkan keadaan ibunya di rumah sakit. Cepat - cepat ia bereskan segala keperluan yang akan dibawa ke rumah sakit. Ia mengunci pintu dan menunggu pak Tono di teras depan rumah.
__ADS_1