Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Kemarahan


__ADS_3

Pak Dito berlari meninggalkan ruangan bosnya. Saat ia mencapai pintu, ada sedikit kelegaan yang ia rasakan. Belum sampai ia membuka pintu, terdengar suara benda dibanting dengan sangat keras. Jantungnya terasa nyaris mau copot karena terkejut. Tanpa berani menolehkan kepala, pak Dito buru-buru membuka pintu dan melemparkan tubuhnya keluar. Setelah berhasil menutup pintu kembali, Pak Dito bisa sedikit menghela nafas lega. Setidaknya ia tidak terluka. Namun ia harus menyiapkan diri menerima konsekuensi dari kebodohannya. Yaitu menyebutkan nama terlarang itu.


Pak Dito kembali ke meja kerjanya dengan perasaan kacau balau. Ia tidak bisa membayangkan kalau bulan ini sampai tidak mendapatkan gajinya. Sebenarnya gaji yang diberikan perusahaan sangat besar. Namun ia sudah terlanjur janji pada anak bungsunya akan memberikan hadiah motor impiannya.


Pak Dito menjanjikan motor besar kalau anaknya bisa lulus kuliah dengan nilai Cumlaude. Prestasi si bungsu melebihi ekspektasi nya karena masuk Suma cumlaude. Dia jadi lulusan S1 Akuntansi terbaik di universitas nya.


Prestasi si bungsu sangat membanggakannya. Jadi kalaupun ia memberikan hadiah itu, bukan suatu yang berlebihan. Apalagi si bungsu satu-satunya anak laki-laki yang belum menikah. Dua anak gadisnya sudah berumah tangga dan punya anak.


Pak Dito teringat pada perkataan anaknya saat ia menghadiri wisudanya.


"Pak... kalau Robi lanjut kuliah, apakah bapak masih bisa membiayai kuliah Robi?" Mata Robi yang berbinar-binar membuat pak Dito tidak bisa menolaknya. Apalagi ia masih ingat benar dengan pesan almarhum istrinya sebelum meninggal.


"Pak... anak kita Robi sangat pintar dan suka belajar. Tolong sekolahkan dia sampai tinggi. Semoga dia menjadi orang yang sukses nantinya." Mengingat itu semua pak Dito seketika bersedih. Bagaimana jadinya kalau ia sampai di pecat? Ia sudah terlanjur janji pada Robi akan membiayainya sampai ia dapat menyelesaikan S2 nya. Namun sepertinya, mimpi anak bungsunya tidak mungkin terealisasi. Dari mana pak Dito dapat biaya untuk menguliahkan anaknya kalau ia dipecat?


Pak Dito mulai menyesali diri. Ia sudah bekerja dengan tuan Raphael selama kurang lebih 3 tahun. Namun belum benar-benar mengenal bosnya dengan baik. Apalagi hari ini ia melanggar aturan bosnya dengan sangat bodoh.


***

__ADS_1


Sementara itu, Raphael di ruang kerja nya masih meluapkan amarah. Semua barang-barang yang ada dalam jangkauannya telah dilemparkan nya ke segala arah.


Setelah kelelahan, ia baru berhenti. Ia berjongkok dan terduduk di lantai. Kedua telapak tangannya menutupi mukanya. Suara isakan lolos dari bibir pucat nya. Raphael menangis terisak.


"Mama... mengapa engkau menjadi wanita lemah? Bukankah dulu engkau tega membuang ku tanpa penyesalan? Kau tunjukkan dirimu hebat. Kalau sekarang aku mengambil kenang-kenangan dari papa. Mengapa engkau sampai kena stroke? Aku belum membalaskan sakit yang kau berikan selama bertahun-tahun pada ku. Aku tidak rela engkau menyerah."


Kilatan penuh dendam memancar di mata merah Raphael. Ia mengambil handphone nya yang tergeletak dilantai. Untungnya meskipun layarnya retak, namun handphone nya masih berfungsi dengan baik. Ia segera mencari nomor telepon di daftar kontaknya. Setelah menemukannya ia langsung menghubungi nomor itu.


"Cari tahu keberadaan Nyonya Desy pemilik perusahaan Danuarta dirawat saat ini. Berikan informasi pada ku secepatnya!"


Raphael merasa tidak nyaman berlama-lama di kantor nya yang porak-poranda. Ia pun bergegas pergi. Saat ia melewati meja kerja pak Dito, Raphael berhenti sejenak.


Pak Dito segera memanggil office boy untuk membereskan kekacauan ruang kerja Tuan Raphael. Pak Dito nampak menggaruk kepalanya, tidak menyangka bosnya sangat mengerikan ketika marah. Ruang kerja yang sebelumnya rapi dan terorganisir dengan baik berubah menjadi kapal pecah.


Hampir tiga jam mereka membereskan kekacauan yang dibuat Raphael. Hari sudah semakin larut. Namun pak Dito tidak lagi mau main-main. Ia memastikan dengan benar. Semua barang yang rusak telah digantikan dengan barang baru. Juga kaca jendela yang pecah sudah diganti juga. Ruangan kerja Raphael telah rapi kembali seperti semula.


Jam dua belas pak Dito baru pulang ke rumah Raphael. Karena menurut perjanjian kontrak ia harus tinggal di rumah Raphael selama ia menjadi asisten pribadinya. Meskipun rumahnya berada kurang dari lima belas menit perjalanan, ia tidak pernah ke sana tanpa seizin bos nya.

__ADS_1


Pak Dito menjaga kepercayaan bosnya. Karena baginya sangat mustahil dapat pekerjaan bagus setelah masa pensiunnya. Kesempatan itu hanya dia dapat saat mengenal Raphael dalam sebuah perjamuan perusahaan yang saat itu akan segera ditinggalkannya. Ia sudah dapat pesangon pensiun dari perusahaannya. Tiba-tiba Raphael yang tidak dikenalnya, menawarkan pekerjaan sebagai asisten pribadi. Meskipun perusahaan Raphael tidak terlalu besar, kesempatan itu langsung diambilnya. Itulah sebabnya, pak Dito sangat rajin bekerja dan selalu berusaha mengerjakan pekerjaan nya dengan sangat baik. Ia tidak ingin kehilangan pekerjaan nya.


Lewat tengah malam pak Dito baru memasuki rumah. Lampu ruang tamu masih menyala. Nampak nyonya besarnya sedang duduk sambil membaca buku. Mungkin sedang menunggu kedatangan tuan Raphael?


Pak Dito hanya melemparkan senyum ramah tanpa melemparkan basa-basi. Ia enggan berurusan dengan nyonya besar yang menurut nya cukup cerewet.


Dinda cukup lega melihat pak Dito pulang ke rumah. Ia menunggu sedikit lagi, mungkin Raphael masih di belakang. Dinda menunggu kedatangan Raphael dengan harap-harap cemas. Ia telah merencanakan sesuatu. Malam ini ia ingin menyenangkan Raphael dengan berpura-pura menjadi seorang istri yang baik. Dengan menunggu suami pulang kerja, menyiapkan minuman hangat, membantu nya ganti baju, dan lain-lain.


Semua rencana itu sudah disusunnya sedemikian rupa. Ia berfikir, kalau Raphael senang, ia pasti akan memberitahu kan keberadaan keluarga nya. Juga kalau ia beruntung bisa mendapat kepercayaan dari Raphael.


Dinda mulai tidak sabar karena Raphael tidak muncul-muncul. Ia pun bergegas keluar. Dinda berpapasan dengan security yang sedang patroli, ia pun segera menghentikan mereka.


"Pak... apakah tuan besar belum pulang?" Tanya Dinda sedikit jengah. Bagaimana bisa ia menanyakan suaminya pada orang asing? Bukankah ia punya handphone yang dengan mudah bisa bertanya langsung pada Raphael? Ia tidak punya keberanian untuk melakukannya.


"Maaf nyonya, sedari tadi kami belum melihat mobil tuan datang. Pak Dito tadi juga pulang sendiri." Jawab seorang security.


"Ya sudah. Trimakasih. Bapak silahkan kembali bekerja."

__ADS_1


Dinda sangat kecewa, rencananya gagal berantakan. Ia pun kembali ke ruang tamu, memutuskan untuk berbaring di salah satu sofa empuk. Kalaupun ia tertidur, ia berharap Raphael mau menggendongnya ke kamar. Siapa tahu dengan cara itu Raphael akan tersentuh hatinya. Senyuman terukir di wajah nya yang putih mulus hingga ia tertidur nyenyak.


Dinda masih terlelap saat para pelayan mulai mengerjakan tugas harian mereka. Nampak sepasang mata menyorotkan kebencian padanya.


__ADS_2