Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Tinggal kenangan


__ADS_3

Dinda memandangi foto ditangannya dengan perasaan tak percaya.


Dalam foto itu tergambar dua orang anak kecil yang sedang bermain sepeda. Dua orang anak kecil itu adalah dirinya dan Fariz sewaktu masih kecil.


"Fariz masih menyimpan foto ini?" Perasaan Dinda menjadi menghangat.


Dinda menjadi teringat masa kecilnya dulu. Waktu ia dan Fariz masih kecil. Mereka dulu bertetangga. Banyak waktu mereka lalui bersama. Apalagi Fariz dianggapnya sebagai seorang kakak.


Fariz sangat perhatian padanya. Ia selalu menjaganya. Fariz adalah pangeran impian Dinda sejak mereka masih kecil.


"Dinda... aku akan selalu menjaga mu. Kalau ada anak yang nakal pada mu, bilang sama aku ya. Biar aku yang pukul dia." Hibur Fariz saat ada anak yang usil padanya.


"Iya Kak Fariz, aku akan langsung bilang. Biar anak yang nakal takut dan tidak akan mengolok-olok ku lagi." Dinda sangat percaya pada kemampuan Fariz dalam melindunginya.


Kilasan masa lalu berkelebat dalam ingatan Dinda. Membuat air mata haru menitik dari ujung pelupuk matanya. Mengapa waktu begitu cepat berlalu? Fariz yang dulu sebagai pahlawan buat Dinda, sekarang menjadi jahat kepadanya.


"Seandainya waktu bisa diputar ulang, aku ingin Fariz yang seperti dulu. Begitu mengasihi dan memperhatikan ku. Menjadi seorang pahlawan buat ku. Tidak membiarkan aku menangis, ia selalu siap menghiburku."


Dinda memandangi foto di tangannya dengan penuh haru. Banyak kenangan indah yang terjadi diantara mereka.


Pernah suatu kali Dinda terjatuh saat bermain sepeda. Fariz yang melihatnya langsung menolongnya. Meniup kakinya yang luka. Walaupun masih terasa sakit, Dinda merasakan rasa nyaman diperhatikan Fariz.


Dinda juga ingat pada janji masa kecilnya. "Kak... kalau Dinda sudah besar nanti, Dinda mau menikah sama kak Fariz."


Kata Dinda polos, saat itu ia masih sangat kecil, bahkan tidak tahu arti kata itu.


Fariz kecil menggenggam jemari tangan Dinda. "Ya.. aku pasti menikahi mu." Dinda dan Fariz kecil bergandeng tangan dan bermain kembali dengan riang gembira.


"Fariz... aku akan belajar mencintai mu kembali. Sampai engkau kembali mencintai ku seperti dulu."


Dinda mendekap foto itu erat. Hingga ia tertidur.


Lewat tengah malam, ada suara orang membuka pintu. Dinda terbangun.


Ternyata Fariz yang membuka pintu. Tampak Toni membantu mendorong kursi roda Fariz.


Baik Fariz maupun Toni nampak telah mabuk berat. Mereka tertawa-tawa dan beberapa kali kursi roda Fariz menabrak perkakas dalam kamar. Mereka tambah kegirangan, dan tertawa tak terkendali.


Fariz dan Toni baru berhenti tertawa, saat melihat keberadaan Dinda di kamar itu.

__ADS_1


"Ha... si kupu-kupu malam sudah bersiap menunggu kita. Ha ha ha .."


Tawa Fariz terdengar mengerikan di telinga Dinda. Bulu kuduknya meremang. Dinda beringsut duduk menjauh di ujung sofa.


"Ha ha ha ... kucing kecil itu ketakutan. Kamu lihat Ton... ia kucing kecil yang manis. Kalau kamu mau membantu ku. Aku akan berikan bonus buat mu. Ha... ha.. ha...".


Tawa Fariz semakin membuat Dinda gemetar ketakutan.


Fariz memberi isyarat pada Toni. Toni langsung menangkap kedua tangan Dinda.


"Apa... apa yang mau kamu lakukan pada ku? Lepas... lepas !" Dinda meronta berusaha melepaskan diri.


Meskipun Toni sedang mabuk, tenaganya masih cukup kuat menyeret Dinda hingga ke ranjang.


Toni mengambil dua buah dasi, mengikatnya dipergelangan tangan dan kaki Dinda. Membuat Dinda terikat kuat, tak bisa melepaskan diri.


Dalam keputusasaan nya, Dinda memohon pada Toni.


"Ku mohon, lepaskan aku... Aku akan menyelesaikan masalah mu dengan Dina. Kalian akan bersatu lagi."


Dinda menawarkan perjanjian dengan Toni. Namun pria itu malah tertawa terbahak-bahak.


Toni menyeringai kejam.


Dinda menjadi sangat takut. Ia memutar otak agar Toni bisa melepaskannya.


"Aku juga sampah, tidak ada lagi nilainya diri ku." Dinda terbata-bata.


"Toni bantu aku, setelah ku kamu juga akan dapat giliran."


Fariz meringsek maju dengan kursi roda nya.


Toni membantunya naik keatas tempat tidur.


Fariz merangkak mendekati Dinda, hingga wajah mereka saling berdekatan. Dinda diliputi ketakutan dan kecemasan.


"Riz... jangan berlaku seperti ini, aku sudah jadi istri mu yang sah. Kita bisa melakukannya dengan baik-baik." Dinda berusaha mengingatkan Fariz.


Fariz hanya menyeringai kejam. Ia menarik paksa gaun yang dipakai Dinda. Sementara Toni menjadi penonton di sudut ruangan.

__ADS_1


Fariz mulai memaksakan hasratnya pada Dinda. Namun tak berapa lama, Fariz mengumpat kesal. Rupanya ada yang salah dengan senjata nya. Senjatanya sama sekali tidak bereaksi.


"Plakk ..." Fariz menampar pipi Dinda dengan kuat. Hingga darah segar merembes di ujung bibirnya.


Pukulan bertubi-tubi mendarat di wajah Dinda. Dinda tidak menyangka, ia akan menerima penganiayaan dari Fariz. Dinda hanya bisa merintih dan menangis menahan rasa sakit di wajah dan tubuhnya. Hingga Fariz berhenti karena kelelahan memukul Dinda.


"Ton... sekarang giliran mu." Kata Fariz puas. Toni segera membantu mengangkat Fariz dan mendudukkannya di sofa. Sementara ia bersiap akan menikmati tubuh Dinda.


Dinda merintih kesakitan. Tubuhnya lebam-lebam bekas pukulan Fariz. Terlebih wajahnya sudah membengkak akibat pukulan kejam Fariz.


Toni sudah bersiap akan melampiaskan hasratnya. Ia sudah membuka pakaiannya. Namun tak berapa lama, tubuhnya jatuh ke lantai. Dibelakangnya nampak seorang gadis memegang sebuah alat suntik.


"Imah.... tolong... aku !" Lirih suara Dinda, hingga ia pingsan tak sadarkan diri.


Beberapa saat kemudian, Dinda sadar. Ada orang yang membuka ikatan tangan dan kakinya. Namun tak berapa lama ia kembali pingsan.


Pak Rahman dan Bu Sita nampak khawatir melihat kondisi Dinda.


"Pa... bagaimana ini? Walaupun kita membenci Dinda. Namun tidak seharusnya, anak kita sampai menganiaya nya. Bagaimana kalau Dinda sampai kehilangan nyawanya? Kita panggil dokter saja!"


Bu Sita tampak ketakutan. Ia tidak ingin anaknya akan mengalami masalah hukum.


"Tenanglah dulu, kita obati saja sendiri. Kalau melibatkan dokter takutnya polisi bisa tahu. Kita tidak inginkan anak kita dipolisikan hanya gara-gara wanita ini?" Kata pak Rahman dingin.


"Panggil Imah ke sini!" Pak Rahman memberi perintah.


Bu Sita bergegas mencari Imah ke dapur. Di sana Imah sedang memasak bersama seorang asisten rumah tangga yang lain.


"Imah... antar kan bubur dan teh hangat ke kamar mbak Dinda!"


Nyonya Sita sengaja berpura-pura menyuruh Imah, supaya asisten rumah tangga yang lain tidak curiga. Semalam waktu Imah melaporkan kejadian di kamar Fariz, ia sudah berpesan agar Imah merahasiakannya.


Imah bergegas mencuci tangan dan menyiapkan permintaan Bu Sita. Imah membawa nampannya mengikuti langkah Bu Sita yang telah berjalan mendahuluinya.


"Tidak ada orang yang tahukan?" Tanya Nyonya Sita saat mereka telah sampai di ambang pintu kamar Dinda.


"Tidak ada yang tahu Nyonya." Jawab Imah pelan.


Imah tidak pernah menyangka akan menjadi saksi mata kejahatan Fariz. Meskipun majikannya itu telah lumpuh kakinya namun ia tetaplah pria jahat. Imah mengetatkan rahangnya menekan amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2