
Riki tergeletak jatuh pingsan.
"Riki... Riki..." panggil ibunya panik. Riki segera digendongnya dan dibaringkan di ranjangnya semula.Dokter yang tadi merawat lukanya, bergegas memeriksa Riki. Dokter itu tersenyum.
Sang dokter mengajak Bu Inayah pergi menjauh dari Riki. Mereka keluar ruangan.
"Ada apa Dok... kenapa kita harus pergi meninggalkan anak saya dok? Apakah ada yang salah dengan anak saya?" Tanya Bu Inayah panik.
"Itu Bu... lihat anak ibu!" Sang dokter memberikan isyarat agar Bu Inayah melihat Riki dari balik kaca.
Riki membuka mata dan sedang memandang penuh minat ke arah Imah.
Bu Inayah kebingungan.
"Anak ibu seperti nya ingin berlama-lama di sini." Kata sang dokter sambil tertawa pelan.
"Maksud pak dokter?" Bu Inayah semakin kebingungan.
"Anak ibu tidak apa-apa, namun sepertinya ia tertarik dengan gadis itu." sang dokter sambil menunjuk Imah.
Bu Inayah mengerutkan keningnya.
"Apakah itu wajar pak dokter? Anak saya masih sangat kecil." Bu Inayah meneguk ludah dengan perasaan tidak karuan.
"Kita belum tahu alasannya. Mungkin ia mengenal gadis itu? Sebaiknya kita biarkan saja dulu. Sambil kita cari tahu." Kata dokter ikut-ikutan penasaran.
Bu Inayah dan dokter berjalan masuk kembali ke ruangan. Nampak Riki segera berpura-pura tidur saat menyadari ibu dan sang dokter mendatanginya.
"Riki biar istirahat Bu, setelah tidur satu jam bisa di bawa pulang." Sang dokter mengucak rambut Riki dengan gemas. Anak yang pintar. Bagaimana kalau sudah besar nanti? Pasti bisa jadi aktor hebat. Pikir sang dokter dalam hati.
Seorang perawat datang menyerahkan sebuah map dan menyerahkannya pada dokter Andi. Dokter Andi membacanya sesaat kemudian mendatangi Imah yang masih asyik melamun.
"Mbak, jam berapa terakhir pasien makan?" Dokter Andi memeriksa keadaan Dinda.
"Sekitar jam 6 pagi, makan bubur." Imah menjelaskan.
"Oke berarti aman saja kalau melakukan operasi sekarang. Kami akan bawa pasien ke ruang operasi." Dokter Andi memberikan isyarat pada dua orang perawat yang sedang menunggu di depan pintu.
__ADS_1
Bangsal Dinda didorong keluar ruangan. Suara berderit nya menarik perhatian Riki.
Sertamerta Riki bangun dan mengajak ibunya mengikuti perawat yang mendorong bangsal tempat Dinda terbaring.
Bu Inayah sudah dibatas kesabarannya. Ia sangat takut anaknya diluar batas. Ia menahan tangan Riki dan memarahinya.
"Riki... sudah cukup main-main nya! Kita harus pulang, kasihan mbak Niki di rumah sendirian."
Bu Inayah tidak bisa lagi mentolelir sikap Riki yang aneh.
Riki menarik tangan ibunya. Bu Inayah terpaksa jongkok dihadapan Riki.
"Ibu... yang dibawa orang itu, mbak Dinda. Ayo Bu kita lihat mbak Dinda." Riki terisak.
"Riki... benar nak kamu melihat mbak Dinda?" Tanya Bu Inayah memastikan anak nya tidak bercanda.
"Benar Bu... kalau tidak percaya lihat sendiri... itu mbak Dinda. Wajahnya penuh luka Bu."
Riki semakin terisak. Ia sangat menyayangi Dinda. Pastinya ia tidak salah mengenali kakaknya yang baik hati itu. Kebersamaannya dengan Dinda baru hitungan hari. Kebersamaan itu telah membuatnya mengenal Dinda sebagai sosok seorang kakak yang baik hati dan penuh perhatian.
Saat Riki melihat mbak Dinda beberapa waktu lalu. Dari balik jendela ia melihat kakaknya dibawa pergi dengan mobil. Ibunya tidak berhasil menghentikan orang-orang jahat yang memisahkannya dengan mbak Dinda tanpa ucapan perpisahan.
"Riki... apa benar yang kamu lihat mbak Dinda?" Tanya Bu Inayah sekali lagi. Mengharap anaknya tidak salah mengenali.
"Riki yakin, itu mbak Dinda. Walaupun mukanya luka-luka, Riki benar-benar yakin itu mbak Dinda!"
Bu Inayah segera menggendong Riki dengan tergesa mengejar bangsal Dinda. Setelah mereka cukup dekat, Bu Inayah bisa memastikan dengan jelas kalau itu benar-benar Dinda anak angkatnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Dinda? Mengapa ia terluka dan harus menjalani operasi?" Bu Inayah hanya bisa bertanya dalam hati. Ia juga mengamati Imah. Apakah wanita muda ini adalah suruhan tuan dan nyonya Rahman?
Bu Inayah memutar otak, ia harus mendapatkan informasi. Setelah Dinda dibawa masuk ke ruang operasi. Ada kesempatan, Bu Inayah mendekati Imah dengan hati-hati.
"Mbak... maaf, anak ku ini ingin sekali berkenalan."
Imah terkejut melihat ibu dan anak yang tadi membuat drama di ruang UGD. Ia pun melemparkan senyuman.
"Hai Dik... kenalkan nama saya Imah. Nama mu siapa?" Tanya Imah ramah.
__ADS_1
Riki memandang ibunya dengan ragu-ragu. Ibunya memberi isyarat agar ia menyambut tangan Imah.
Dengan takut-takut Riki menyambut jabat tangan Imah dengan tangan kecilnya.
"Kelas berapa dik?" Imah mulai menyukai anak kecil itu, meskipun sempat bandel namun ia cukup terhibur melihatnya.
"Kelas dua mbak. Mbak Imah cantik." Kata Riki asal. Ia sudah tidak takut lagi melihat Imah, sepertinya kakak itu bukan orang jahat.
Bu Inayah mengambil duduk di samping Imah.
"Maaf ya mbak... anak saya ini seringkali seperti ini kalau melihat seorang gadis yang mirip kakaknya. Ia pasti ingin mengenalnya." Bohong Bu Inayah.
"Memang kakaknya kemana Bu?" Imah penasaran.
"Kakaknya kerja keluar negeri. Beberapa waktu ini tidak memberi kabar. Karena Riki ini sangat dekat dengan kakaknya, ia jadi seperti ini."
"Oh... seperti itu. Segera lapor ke pihak penyalur tenaga kerjanya Bu. Atau langsung ke kedutaan supaya bisa ditindak lanjuti." Usul Imah. Ia ikut terharu mendengar kisah Bu Inayah.
"Oh iya,... mbak nya tadi kenapa kok dioperasi?" Tanya Bu Inayah mengalihkan topik pembicaraan.
"itu teman ku Bu, dia terpeleset dari tangga. Ada tulang rusuknya yang patah jadi harus segera dioperasi." Imah berhati-hati agar ia tidak menceritakan kejadian sebenarnya yang menimpa Dinda.
"Mbak kerja dimana?" Selidik Bu Inayah.
"Saya kerja jadi pembantu Bu di keluarga tuan Rahman." Imah malu-malu mengakui profesinya yang hanya sebagai asisten rumah tangga.
"Mbak ini terlalu merendah, banyak pembantu berhasil kalau ia bisa mengatur keuangan dengan baik. Kakak nya Riki juga jadi pembantu di luar negeri."
Bu Inayah semakin mendalami cerita palsunya. Beruntung Riki yang cerewet hanya diam saja. Anak kecil itu seperti nya tahu kalau kebohongan ibunya demi mencari informasi mengenai mbak Dinda.
"Sebenarnya saya ingin cari pekerjaan lain, tapi sayangnya saya tidak ada ijasah dan juga saya tidak punya keahlian Bu." Kata Imah jujur. Ia sudah cukup lama menahan diri tetap bekerja di rumah tuan Rahman. Majikannya sebenarnya cukup baik, namun ia tidak tahan menerima perlakuan anak majikannya juga keponakannya yang sering datang ke rumah.
"Saya punya usaha catering kecil-kecilan, selama ini saya kerjakan sendiri. Sebenarnya saya sangat memerlukan asisten, namun saya mencari orang yang serius dan bau bekerja keras." Bu Inayah mencoba peruntungan nya. Siapa tahu Imah tertarik dan akhirnya mau diajak kerja sama.
"Kalau saya yang melamar kerja apa diterima Bu?" Imah menunjukkan ketertarikan nya.
"Beneran mbak? Ini nomor hp saya. Kalau mbak Imah perlu kerjaan hubungi saya." Bu Inayah menyodorkan hp nya agar Imah mencatat nomornya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Imah segera mencatat nomor Bu Inayah dalam handphone nya.
"Ibu... ibu..." Riki menarik-narik tangan ibunya. Bu Inayah segera melihat apa yang menarik perhatian Riki. Sesosok tubuh yang dikenalnya. Nyonya Sita.