
Tok... tok.. tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dinda. Ia belum menyelesaikan packing nasi kotak untuk sore. Hari ini ia merasa ketiban rezeki. Setelah dapat pesanan seratus kotak nasi untuk makan siang tadi, ia juga langsung dapat pesanan nasi kotak untuk sore ini.
Saat pintu warungnya diketuk, Dinda masih menyelesaikan memotong- motong lalapan sebagai pelengkap sambil sesekali terhanyut dalam lamunan. Ia bergegas meninggalkan pekerjaannya, karena ketukan pintu itu tak berhenti juga.
"Mbak Dinda, maaf saya mengganggu." Kata seorang wanita seumuran ibu nya.
"Bu Inayah, ada apa Bu?" Tanya Dinda tidak sabar. Ia tidak mungkin meladeni wanita paruh baya itu lama-lama, karena pekerjaannya belum rampung. Dinda kawatir pekerjaannya tidak kelar tepat waktu.
"Mbak Dinda sedang sibuk ya?" Tanya bu Inayah sungkan.
"Iya Buk, Alhamdulillah lagi ada orderan nasi kotak untuk sore ini." Jawab Dinda terus terang, ia berharap bu Inayah tahu diri dan tidak mengganggunya.
"Mbak Dinda, saya bawain nasi kotak. Tadi saya kira mbak Dinda belum makan." Kata bu Inayah ragu-ragu sambil menyodorkan bungkusan plastik hitam pada Dinda.
"Mbak maaf ya... saat bu Rahmah sakit, saya tidak bisa bantu apa-apa. Padahal selama ini bu Rahmah sangat baik pada keluarga kami. Mbak, kalau perlu bantuan tenaga saya siap membantu." Kata bu Inayah menawarkan diri.
Dinda terdiam sesaat. Kalau ia dapat bantuan bu Inayah, tentunya ia tidak terlalu capek. Lagian ibunya juga sering memakai tenaga bu Inayah membantu di warung.
"Bu Inayah bisa bantu saya sekarang?" Tanya Dinda penuh harap.
"Bisa mbak, apa yang bisa saya bantu?" tanya bu Inayah bersemangat.
"Ayo masuk dulu Bu. Bantu saya menyelesaikan bikin nasi kotak!" Kata Dinda seraya mempersilahkan bu Inayah masuk ke dalam warung tempat Dinda mengerjakan orderan nasi kotaknya.
Bu Inayah ternyata sangat cekatan. Membuat Dinda sangat terbantu, apalagi kerjaan bu Inayah sangat rapi.
"Bu Inayah, temani saya makan ya? Sedari pagi saya belum makan dengan benar." Kata Dinda sambil mempersiapkan makanan untuk mereka berdua.
__ADS_1
Bu Inayah duduk di kursi di samping Dinda. Ada perasaan kagum melihat Dinda, meskipun kuliah tapi sangat rendah hati, persis seperti bu Rahmah. Kehidupannya dengan bu Rahmah hampir sama. Mereka sama-sama menjanda. Dan dengan ekonomi pas-pasan. Namun bedanya, bu Rahmah lebih beruntung karena ia telah berhasil menguliahkan anaknya. Sementara dirinya hampir-hampir tidak ada biaya untuk menyekolahkan dua orang anaknya yang masih SD.
"Mbak Dinda maaf ibu mau tanya..." Kata bu Inayah ragu.
"Tanya apa Bu? Tanya saja." Kata Dinda meyakinkan.
"Maaf mbak Dinda apa masih pacaran dengan mas Fariz?" Tanya bu Inayah pelan. Ia sebenarnya tidak berani ikut campur urusan Dinda. Namun ia merasa harus memberitahukan suatu kebenaran pada Dinda.
Pertanyaan bu Inayah seperti sengatan kalajengking, membuat Dinda seketika terdiam. Ada rasa perih saat mengingat kejahatan Fariz padanya.
Dinda menggeleng.
"Syukurlah mbak... Lebih baik putus sekarang dari pada nantinya menyesal." Kata bu Inayah penuh kelegaan.
"Kenapa Bu ?" tanya Dinda heran. Apakah ada yang diketahui bu Inayah tentang Fariz?
"Mas Fariz itu suka gonta-ganti cewek, dia juga suka ke diskotik. Untunglah mbak Dinda sudah putus, setidaknya terbebas dari pria jahat itu." Bu Inayah menepuk bahu Dinda. Ia sangat lega, setidaknya Dinda yang baik itu tidak terjatuh dalam perangkap Fariz. Ia telah lama mendengar sepak terjang Fariz yang sangat buruk. Namun ia tidak berani mengatakan pada Dinda ataupun bu Rahmah.
Bu Inayah yang melihat Dinda menangis, seketika menghentikan makannya. Ia menghampiri Dinda dan memeluknya. "Mbak.. sudah jangan bersedih..." Kata bu Inayah mencoba menghibur Dinda.
"Hik...hik.. hik... Bu Inayah... Dinda sudah ternoda, Fariz menjual keperawananku pada pria asing Bu... hik..hik...hik..." Dinda meluapkan kegetirannya. Ia sudah tidak bisa menahan diri. Kepahitannya yang telah coba dilupakan seketika muncul dipermukaan.
Bu Inayah ikut meneteskan air mata, ia tidak mengira kalau gadis cantik di depannya harus mengalami masalah bertubi-tubi.
"Kok bisa mbak?" tanya bu Inah tidak percaya.
"Fariz menjebakku Bu. Saat aku bilang perlu uang buat operasi ibu, Fariz menawarkan pekerjaan di sebuah bar. Ia mencampurkan sesuatu dalam minuman ku, membuatku tak sadarkan diri. Saat bangun, aku sudah di kamar hotel bersama seorang pria." Dinda tak ragu menceritakan kisah buruk yang telah dialaminya.
"Sabar ya mbak Dinda, Allah tidak akan tinggal diam. Suatu saat nanti, pria itu akan mendapatkan karmanya." Kata bu Inayah sambil mengelus rambut Dinda, mencoba memberikan ketenangan pada gadis yang terluka itu.
__ADS_1
"Mbak, apa tidak sebaiknya meminta pertanggungjawaban dari pria itu?" tanya bu Inayah hati-hati.
"Fariz? Tidak bu Inayah, aku tidak mau lagi berhubungan apapun dengannya. Lebih baik aku menganggapnya sudah mati." Jawab Dinda penuh tekat. Ia terlanjur terluka.
"Maksud ibu, pria asing itu." Jelas bu Inayah.
"Apa yang bisa ku tuntut darinya? Fariz sudah menerima bayaran besar dari pria itu. Jadi kalau Dinda sampai minta pertanggung jawaban dari pria itu, bagaimana kalau ia menuntut balik? Bisa-bisa Dinda mempermalukan diri sendiri." Kata Dinda Rizau, ia menghela nafas dalam-dalam.
Bu Inayah manggut-manggut, ia ikut merasakan posisi Dinda yang sangat sulit.
"Mbak Dinda sudah periksa ke dokter?" tanya bu Inayah hati-hati.
Dinda menggeleng. Kesibukannya hari-hari ini tidak memberi kesempatan baginya untuk memperhatikan keadaannya sendiri. Sekarang yang terpenting baginya bisa mengumpulkan uang untuk biaya operasi ibunya.
"Mbak Dinda sekarang mesti periksa ke dokter. Nanti akan diberikan solusi supaya mbak Dinda tidak sampai mengandung." Kata bu Inayah penuh perhatian. Ia ikut merasa iba. Dalam keadaan terpuruk seperti ini Dinda tidak ada tempat berbagi.
"Besok siang, apakah bu Inayah bisa menemani saya periksa ke dokter?" Tanya Dinda penuh harap. Saat ini ia sangat percaya pada bu Inayah.
"Ya mbak... saya bisa." Jawab bu Inayah. "Mbak sudah jam lima. Pesanan nasi kotaknya belum diambil juga?" Tanya bu Inayah.
"Ya ampun... saya lupa mengabari mbak Valentina." Dinda langsung menggapai ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan.
Tak berapa lama sebuah mobil berhenti di depan warung. Dinda mengenalinya sebagai mobil Valentina pelanggannya. "Bu Inayah.. itu mobilnya sudah datang." Dinda mengajak bu Inayah mengangkat nasi kotak pesanan ke dalam mobil.
"Selamat sore Mbak Dinda." Sapa Valentina ramah.
"Mbak Valentina... selamat sore." Jawab Dinda dengan senyuman ceria nya.
"Wah sudah ada yang bantu ya..." tanya Valentina sambil memperhatikan bi Inayah yang dengan cekatan mengangkat nasi kotak ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Mbak Dinda saya ada orderan lagi." Kata Valentina dengan senyuman manisnya. Sebuah kabar yang membuat Dinda tak bisa menahan senyuman bahagianya.