Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Terjebak


__ADS_3

Seorang waiters dengan pakaian terbuka mengantarkan pesanan minum mereka. Dua buah gelas wine diletakkan di meja depan mereka.


Dinda sibuk mengamati sekeliling. Belum terlalu banyak tamu yang datang. Merekapun hanya duduk-duduk mengobrol dengan pasangannya. Pakaian merekapun masih dibilang cukup sopan.


Dinda mengalihkan perhatian pada lampu gemerlap yang menyilaukan mata. Musik romantis mengalun sahdu. tidak seperti club malam yang diketahuinya dari teman di kampus. Katanya club malam biasanya menyalakan musik keras memekakkan telinga. "Kalau club nya seperti ini aku tidak masalah bekerja di sini." Bisiknya pada Fariz.


Fariz tersenyum lebar mendengar perkataan Dinda. Ia tidak menyangka, begitu mudahnya menggiring gadis polos itu masuk ke dalam jebakannya. Tak berapa lama ia akan memuaskan kebenciannya dengan melihat kehancuran Dinda.


Sementara hati Dinda mulai berbunga, setidaknya ia akan segera mendapat uang untuk biaya operasi ibunya. Ia tidak menyadari akan niat busuk Fariz yang berusaha menjebaknya.


"Dinda... cepat minum." Kata Fariz, seraya menyodorkan segelas wine merah pada Dinda. Tanpa Curiga Dinda segera meneguknya sampai habis karena ia sangat kehausan dari tadi.


"Uhuk... uhuk" Dinda terbatuk kaget dengan minuman yang diteguknya. Rasanya panas membakar tenggorokannya.


"Riz... minuman apa ini? Rasanya panas banget." Dinda memegangi lehernya, berusaha menetralkan rasa panas yang menyiksa di tenggorokannya.


"Minuman soda biasa. Sebentar ku pesanin air mineral." Fariz memanggil pelayan yang kebetulan berjalan di dekat meja mereka.


"Riz... mana pemilik club nya? Katanya mau wawancara?" Tanya Dinda tidak sabar. Sesekali ia melirik ke arah jam tangannya sudah hampir jam sepuluh.


"Riz... udah malam ini. Gak enak sama tetangga kalau aku pulang kemalaman." Dinda mulai tidak tenang.


"Tenang aja Din... kamu kan bareng sama aku." Fariz berusaha menenangkan Dinda yang sudah tidak sabar ingin pulang.


"Riz... kepala ku mulai pusing. Badan ku panas sekali. Ayo kita pulang Riz." Dinda beranjak berdiri, namun pandangannya menjadi buram. Ia pun jatuh terhuyung. Tepat pada waktunya, Fariz menangkap tubuh Dinda yang limbung. Dinda jatuh pingsan.


Fariz membaringkan Dinda di sofa. Ia merapikan rambut Dinda yang menutupi wajahnya. Dan juga merapikan baju Dinda yang tersingkap.


Fariz tersenyum puas. Hari inilah hari bersejarah bagi Fariz karena kehancuran Dinda sudah di depan matanya.


Ia membuat panggilan telephon. Fariz bernegosiasi dengan lawan bicaranya, hingga mendapatkan nilai cukup besar. Ia menjual keperawanan Dinda dengan harga ratusan juta. Fariz menyeringai puas. Selain dendamnya pada Dinda terbalas, ia juga dapat keuntungan sangat besar darinya.


Tak berapa lama, seorang pria berperawakan besar datang membawa sebuah koper. Ia menyerahkan koper itu kepada Fariz. Fariz tidak buru-buru, ia memeriksa isi koper. Bertumpuk-tumpuk uang kertas ratusan ribu memenuhi koper itu. Senyuman puas menghiasi wajah Fariz.

__ADS_1


"Ini gadis mu. Bawa dan nikmati sepuasnya." Kata Fariz seraya bangkit dari tempat duduknya. Dengan langkah riang ia meninggalkan Club. Beberapa kali ia mengagumi koper yang dibawanya.


"Benar-benar keberuntungan double." Kekehnya saat melajukan mobil di jalan raya. Ia akan bersenang-senang menghabiskan uangnya bersama kekasih-kekasih barunya.


***


Pria berbadan besar itu membopong Dinda dan membawanya pergi. Ia memasuki lift dan menuju ke lantai tiga. Sebuah kamar paling ujung. Dengan sedikit kesulitan, ia memencet bel. Tak berapa lama seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuknya.


"Letakkan di tempat tidur!" Perintahnya pada pria bertubuh tegap itu.


Pria itu menurut dan meletakkan tubuh Dinda di atas tempat tidur.


"Ini bayaranmu!" Kata sang wanita sambil menyodorkan sebuah amplop berisi uang. Setelah pria yang membawa Dinda pergi. Wanita paruh baya itu segera mendekati Dinda. Ia tersenyum puas.


"Gadis cantik dan polos." Gumamnya lirih.


Wanita paruh baya dengan busana elegan dan nampak berkelas itu segera bergerak cepat melepaskan seluruh pakaian Dinda. Tanpa meninggalkan sehelai benang pun. Ia melemparkan pakaian Dinda hingga berserak di lantai kamar hotel.


Setelah meneliti keseluruh tubuh Dinda. Senyuman kembali tersungging dibibir wanita paruh baya itu. Ia benar-benar puas. Wanita itu membiarkan tubuh Dinda terekspos. Memperlihatkan kulit tubuhnya yang mulus.


Sang Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Dinda.


Tak berapa lama seorang pria memasuki kamar tempat Dinda terbaring. Pria itu nampak sempoyongan seperti habis mabuk. Ia segera melepas bajunya. Sepertinya hatinya sedang tidak enak. Karena setelah ia melepaskan bajunya, ia mengobrak-abrik baju yang tertata rapi di lemari. Pria itu juga berteriak-teriak frustasi.


Suara gaduh menyadarkan Dinda dari pingsannya. Ia bergerak bangun untuk melihat sumber kegaduhan.


"Si-si-apa?" Tanyanya seraya berusaha bangkit. Kepalanya terasa berat. Dan ada sesuatu yang salah pada tubuhnya. Ia merasa tubuhnya panas, padahal ac di kamar besar itu sudah di stel suhu terendah.


Dinda terengah kepanasan. ******* Dinda memancing perhatian sang pria.


Dengan badan terhuyung si pria menghampiri Dinda yang terduduk di atas ranjang.


Mata si pria menyorotkan kebencian. Serta merta ia mendorong tubuh polos Dinda hingga jatuh terlentang.

__ADS_1


"Dasar penghianat... untuk apa kau kembali?" Kata si pria menunjuk-nunjuk pada Dinda.


Dinda belum benar-benar sadar. Matanya masih berkabut dan kepalanya berdenyut nyeri ditambah rasa panas membakar dari dalam tubuhnya. Dinda telah dikuasai sepenuhnya oleh obat perangsang yang dimasukkan Fariz dalam minumannya tadi.


Pria itu menarik tangan Dinda. "Kau Penghianat ! Pergi dari sini!". Pria itu menarik kuat tangan Dinda dan menyeretnya menuju pintu.


"Lepas .. lepas!" Ronta Dinda tak berdaya. Fikirannya benar-benar buntu tak bisa berbuat apa-apa. Ada dorongan dalam dirinya untuk memeluk pria arogan itu. Namun ia tak berdaya.


Sang pria cukup kuat meskipun badannya sempat sempoyongan, sudah berhasil menarik tubuh Dinda hampir ke dekat pintu. Namun tak sengaja kakinya terantuk karpet membuat pria itu kehilangan keseimbangan.


Pria itu terjatuh, kepalanya membentur pintu saat ia tersungkur dilantai kepalanya kembali membentur lantai dan membuatnya langsung pingsan. Dinda juga tersentak dan jatuh menimpa sang pria.


"Kenapa selalu bertemu kamu ?". Dinda mengenali pria itu. Ia berusaha duduk dan menegakkan punggung nya. Ia memandang pria yang terbaring di lantai.


Dinda kebingungan, Ia mencoba membangunkan pria itu, namun tidak berhasil. Dinda mulai memukul dan menggoncang tubuh pria itu. Namun tak kunjung bangun juga. Dinda memukul kepalanya sendiri yang seakan tumpul dan tidak bisa berfikir. Ia kemudian berjalan hilir mudik menunggu si pria sadar.


Tubuh Dinda diluar kendali, terasa semakin panas dan tidak nyaman. Sebuah perasaan aneh yang tidak pernah dibayangkannya.


Dinda gelisah, dengan tubuh yang semakin bergetar ia masuk ke kamar mandi. Dinyalakannya shower air dingin dan membiarkan air itu mendinginkan kepalanya. Ia terduduk lemas. Hasratnya mulai mereda. Dinda mulai merasa nyaman dan tak berapa lama ia pun tertidur dibawah guyuran air dingin.


Pagi harinya, Dinda terbangun dengan kondisi tubuh yang remuk redam. Kepalanya masih terasa berdenyut sakit. Ia mulai mengumpulkan ingatannya yang samar-samar. Ia melemparkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Sebuah ruangan yang tidak dikenalnya sama sekali.


Pandangannya tertumbuk pada sesosok tubuh di sebelahnya. Tubuh seorang pria. Ia refleks memeriksa tubuhnya yang ternyata tak ada sehelai benangpun yang menempel.


"A-a-apa yang terjadi pada ku?" Desisnya pilu. Ia menyambar selimut yang tergeletak di bawah kakinya dan menutupkannya pada tubuhnya yang polos.


"Riz... kenapa kamu tega melakukannya? Bahkan saat aku tidak sadar? Kalaupun kamu minta baik-baik pasti aku akan memberikan kehormatanku dengan suka rela." Isak Dinda tertahan.


"Riz... bangun!" Teriak Dinda marah. Ia mengguncang tubuh pria di sampingnya. Yang tak juga bergeming dari posisi tubuh tertelungkup.


Sekuat tenaga Dinda berusaha membalikkan tubuh pria yang disangkanya Fariz. Saat tubuh itu terlentang, Dinda sangat terkejut. Pria yang bersamanya bukan Fariz kekasihnya. Tetapi Ridho, pria yang beberapa waktu lalu nyaRiz menabraknya.


"A-a-apa ini? Kenapa pria ini? Kenapa aku bersamanya?" Dinda kalut. Jantungnya berdegup kencang. Pikiran buruk seketika menghinggapi pikirannya yang kacau.

__ADS_1


Dinda melihat ada bercak darah dan cairan seperti lendir berceceran di permukaan sprei yang kusut. Air matanya menggenangi pelupuk mata. Tangisnya semakin keras saat ia beringsut menjauh memunguti bajunya yang terserak di lantai.


__ADS_2