
Dinda dan Dina akhirnya setuju untuk tinggal lebih lama. Menunggu ibu-ibu sosialita yang bergaya elegan. Bagaimana cara mereka berdandan dan perhiasan mewah yang dipakai menarik perhatian Dinda dan Dina.
Dua gadis itu saling berpandangan penuh arti. Mereka mulai berbisik-bisik saling melemparkan gurauan.
"Din... kalau kamu dijodohkan sama anak nyonya Desy, kamu akan jadi seperti salah satu dari mereka." Dina memberi kode dengan lirikan matanya.
"Hahaha... kalau aku mau saja. Tapi gimana anak nyonya Desy pasti kabur menjauhiku." Bisik Dinda pelan takut terdengar orang lain. Hati Dinda sudah beku, bagaimana penghianatan Fariz telah membuatnya menutup hati untuk pria mana pun. Lebih-lebih saat ingatannya kembali di pagi itu. Ia terbangun di kamar hotel bersama seorang pria. Dinda menghela nafas dalam, mencoba melepaskan kegalauan hatinya.
Ia bertekat akan menghadapi semua kepahitan hidupnya dengan iklas.
Dina dan Dinda, kompak melemparkan senyum. Acara arisan nyonya Desy, tidak seperti arisan ibu-ibu komplek. Dimana uang tarikan hanya berkisar satu atau dua juta rupiah. Arisan ibu-ibu sosialita mencapai milyaran rupiah. Dan pembicaraan mereka seputar investasi usaha juga permata ataupun berlian yang mereka punya.
Dinda merasa jengah, mendengar perkataan seorang ibu sosialita yang duduk di dekat mejanya. Bagi Dinda wanita itu sangat sombong dan sok pamer. Sangat berbeda dengan nyonya Desy yang terlihat tenang dan bersahaja. Nyonya Desy yang nyata-nyata kaya raya bersikap biasa-biasa saja, tidak menyombongkan hartanya sama sekali. Muncul perasaan kagum pada sosok nyonya Desy.
Setelah hampir satu jam acara ngobrol ibu-ibu sosialita. Waktunya dilanjut acara makan siang. Dinda lumayan berdebar-debar. Ada perasaan takut dan minder, bagaimana kalau ibu-ibu sosialita itu tidak menyukai masakannya. Kalau sampai mereka tidak mau menyentuh makanannya, bisa-bisa nyonya Desy dipermalukan.
Untunglah, ketakutannya tak terjadi. Semua masakannya diserbu hingga hampir tandas.
"Wah... Jeng dari restoran mana ini? Masakannya semua benar-benar enak." Ucap salah satu ibu-ibu sosialita mendekati nyonya Desy.
"Koki rumah kami." jawaban singkat nyonya Desy mengagetkanku. Seketika rasa kagum Dinda pada nyonya Desy perlahan menguap. "Padahal tadi aku menyangka kalau nyonya Desy akan mempromosikan masakan ku karena dia menahan ku di sini." Keluhnya dalam hati.
Nyonya Desy sepertinya tahu isi hati Dinda. Ia melemparkan pandangan dan gestur bibir seperti permakluman. Dinda tidak terlalu paham maksud nyonya Desy, namun ia mencoba untuk memakhlumi niat bu Desy.
__ADS_1
Jam tiga sore, arisan sosialita nyonya Desy selesai. Dinda dan Dina pamit untuk pulang. Namun lagi-lagi nyonya Desy menahan Dinda untuk tidak pulang dulu. Nyonya Desy menyuruh Dinda untuk memasak makan malam untuk keluarganya.
Sebenarnya Dinda ingin cepat pulang. Ia ingin menjenguk ibunya di rumah sakit. Seharian ini ia belum mendapat kabar apapun dari ibunya. Ia berharap ibunya baik-baik saja, juga bu Inayah yang saat ini dirumah mengerjakan pesanan nasi kotak bisa menyelesaikan tanpa kendala.
"Mbak, apa yang bisa saya bantu?" Tanya seorang pelayan menawarkan bantuan. Sebenarnya Dinda bisa mengerjakan sendiri. Toh menu yang diminta nyonya Desy cukup sederhana. Bu Desy hanya minta soto daging dan bergedel kentang. Dinda sudah akan menolak tawaran bantuan si pelayan. Namun akhirnya ia mengangguk juga, sembari berharap pekerjaannya ini bisa cepat selesai.
Dinda menyodorkan bumbu- bumbu yang sedang dikupasnya. Tanpa banyak tanya, si pelayan langsung membantu Dinda mengupas bumbu-bumbu yang sudah disiapkannya.
Pukul setengah lima sore, masakan sudah siap. Dinda dibantu seorang pelayan, menyiapkan makanan di meja makan. Semua hidangan sudah tersaji di meja makan. Bersamaan nyonya Desy menghampiri Dinda. Sebelum Dinda mengatakan keinginannya untuk segera pamit pulang. Nyonya Desy mendahului berkata padanya.
"Mbak Dinda, kita makan malam bersama ya. Soalnya ibu gak ada teman makan malam." Kata nyonya Desy dengan ramah.
"Tapi Nyonya,..." penolakan Dinda segera dipotong.
Mereka duduk di kursi berhadapan. Nyonya Desy terlihat sangat hangat. Beberapa kali ia sengaja menambahkan lauk di piring Dinda.
"Trimakasih nyonya, ini sudah terlalu banyak. Takutnya tidak habis nanti." Nyonya Desy hanya membalasnya dengan senyuman.
Mereka berbincang cukup akrab. Nyonya Desy ternyata cukup humoris membuat Dinda merasa nyaman.
Nyonya Desy sudah menyelesaikan makannya. Sementara Dinda merasa tidak nyaman karena masih terlalu banyak daging soto dan paru goreng dipiringnya. Membuatnya masih berkutat untuk menghabiskannya.
"Tadi saya sudah bilang kalau ada hal penting yang ingin saya bicarakan." Kata nyonya Desy serius.
__ADS_1
Dinda menghentikan suapannya. Ia mengalihkan perhatiannya pada nyonya Desy.
"Saya sangat kagum dengan masakan mu yang sangat lezat. Saya ingin menawarkan sebuah pekerjaan khusus untukmu. Menjadi koki keluarga. Anak tunggalku sangat pemilih makanan. Bahkan kalau ia tidak selera makan, bisa seharian ia tidak makan. Beberapa waktu ini ia hanya makan nasi kotak buatanmu. Aku akan kasih gaji cukup besar kalau Mbak Dinda mau jadi koki kami." Tawaran nyonya Desy sangat menggiurkan.
Namun Dinda ragu, bagaimana ia bisa mengatur waktunya apalagi usaha cateringnya baru saja dirintis. Juga ibunya masih dalam pemulihan pasca operasi. Dinda menimbang-nimbang, ia harus hati-hati dalam membuat keputusan.
Saat Dinda terdiam. Nyonya Desy sengaja membiarkan Dinda untuk berfikir. Ia juga tidak mau memaksakan kehendaknya.
Dari arah depan terdengar suara sebuah mobil memasuki halaman. Tak berapa lama seorang pria masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur. Kebiasaan Ridho setiap pulang kerja ia pasti nyamperin mamanya di ruang makan.
Saat Ridho sudah sampai di ruang makan, ia sempat berhenti. Karena tidak biasa, mamanya ada yang menemani makan. Ia penasaran, siapa gerangan tamu mamanya.
"Met sore maa..." Sapa Ridho seraya mengambil tempat duduk di samping mama nya. Ia mulai memperhatikan gadis cantik yang duduk di seberang mejanya. Ridho mengagumi kepolosan wajah gadis itu. Ia baru kali ini melihat seorang gadis yang terlihat tulus. Gadis di depannya, seperti nya ia pernah melihatnya.
"Ridho... makan dulu. Hari ini menunya soto daging. Kamu pasti suka." Kata sang mama seraya mengambilkan anaknya makanan.
Ada banyak pertanyaan berkelebat dalam pikiran Ridho. Selama ini, mamanya tidak pernah sekalipun membiarkan hidangan soto daging di rumah. Alasan mamanya, ia akan teringat pada papa nya yang telah meninggal. Karena ini adalah makanan favoritnya.
"Makasih ya Ma..." Ridho segera menyendokkan suapan demi suapan. Benar-benar terasa nikmat di mulutnya. Perhatiannya kembali tertuju pada gadis di seberang meja. Lamat-lamat ia mengingat, sepertinya gadis itu tidak asing baginya. Beberapa bayangan mulai terlintas di memorinya.
Dinda yang sedari tadi terdiam, ia juga mencuri-curi pandang pada putra tunggal nyonya Desy. Jantungnya berdebar-debar. Ia ingat saat pagi itu. Saat ia terbangun di sebuah kamar hotel. Pria itu yang terbaring di sampingnya. Ada ceceran darah dan cairan lendir mengotori sepreinya.
Seketika rasa panas merambat di permukaan wajahnya.
__ADS_1
Pria itu... pria itu yang telah menodainya.