Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Perjanjian


__ADS_3

Dinda mencuri pandang ke arah Ridho yang masih asyik menikmati makanannya. "Ridho... apakah kamu tidak ingat kalau engkau yang telah merenggut kesucian ku malam itu?" Dinda mencuri pandang ke arah Ridho yang masih asyik menikmati makanannya.


"Ridho... apakah kamu tidak ingat kalau engkau yang telah merenggut kesucian ku malam itu?" Pertanyaan itu hanya mampu Dinda ucapkan dalam hati. Ia merasa sangat malu pada kejadian yang tidak pernah diingatnya sama sekali. Ingatan pada pagi hari yang telah menghancurkan nya sampai berkeping-keping seketika terlintas di kepalanya. Bagaimana ia bangun tanpa sehelai benang pun juga pria itu. Terlebih jejak-jejak percintaan yang tergambar jelas di atas sprei yang kusut.


"Kamu tidak suka makanannya? Sebaiknya aku memecat saja kokinya!" Ucap Ridho sarkas.


"E.... em... jangan. Makanannya sangat enak. cuma aku merasa sudah sangat kenyang. Tolong Tuan... jangan memecat siapa pun!" Dinda memohon. Ia akan sangat menyesal kalau keberadaannya membuat orang lain mendapat kesulitan.


"Kalau sudah kenyang, ikuti aku!" Ridho beranjak dari duduknya. Dinda buru-buru mengikuti Ridho.


Pria itu berjalan dengan tegap. Bahunya terangkat begitu rupa, membuatnya nampak seperti ayam jago. Hayalan Dinda seketika membuatnya tersenyum sendiri. Ya... Ridho yang saat ini bersamanya terlihat dingin dan sombong. Apakah mungkin Ridho menderita penyakit bipolar? Yaitu penyakit mental yang membuat penderitanya mempunyai sifat dan karakter yang sangat berbeda?


Tanpa sadar Dinda terus berjalan, padahal Ridho sudah berhenti dan membuka pintu. Membuat Dinda menabrak tubuh belakang Ridho.


"E...e... maaf, tidak sengaja." Dinda tersipu malu. Ia mengutuki kekonyolannya. Bagaimana bisa ia melamun dan tidak melihat tubuh tinggi tegap Ridho yang sedang membuka pintu? Rasanya Dinda ingin berlari dan menangis ke kamarnya karena rasa malu yang seketika menoreh wajahnya. Hingga ia menundukkan kepala tidak berani memandang mata Ridho.


Namun respon Ridho membuat Dinda kelabakan. Karena Ridho cuek saja tidak terlihat kesal ataupun marah. Ekspresinya sedatar lantai marmer di bawah kakinya. Ya Pria di depannya mungkin bongkahan es yang dipahat menyerupai manusia.


"Cepat masuk!" Ridho tidak sabar melihat Dinda yang masih terpaku di depan pintu. Mendengar perintah Ridho, Dinda pun bergegas masuk ke ruang kerja Ridho. Ia duduk di kursi seberang meja kerja Ridho. Dinda menerima sebuah map berisi beberapa dokumen. Juga buku nikah.


Alangkah terkejutnya Dinda saat melihat foto yang tertera di dalam buku nikah. Itu fotonya bersama Ridho si pria es yang angkuh. Dinda sangat terkejut, bagaimana bisa ada buku nikah ini? Jangan-jangan ini hanya sebuah buku nikah palsu?

__ADS_1


"Tanda tangani semua dokumen itu!" Perintah Ridho tidak sabar.


"Tuan... status ku masih istri orang. Aku tidak bisa menikah dengan mu?" Protes Dinda tanpa daya.


"Setelah diperlakukan sedemikian, kamu masih bangga menyandang status sebagai istri bajingan itu?" Kata-kata sarkas keluar dari mulut pria dingin nan angkuh itu. Membuat Dinda bergidik ngeri.


"Aku belum bercerai." Desah Dinda putus asa.


"Siapa bilang kamu belum cerai? Saat kamu masuk ke rumah ku. Saat itu juga putusan hakim telah menetapkan perceraian mu. Bahkan saat kamu menikmati makam malam tadi, mantan suami gila mu sedang mengais sisa-sisa makanan di penjara."


Dinda tercengang tak percaya pada apa yang di dengarnya. Benarkah yang telah dikatakan Ridho?


Dinda membaca dengan seksama isi perjanjian pranikah yang sudah ditandatangani Ridho. Dalam beberapa pasal menyebutkan tugas tanggung jawabnya selama menjadi istri. Pernikahan itu hanya sampai saat ia melahirkan anak, ia menyatakan setuju dan menerima perceraian. Hak Asuh anak diberikan pada Ridho sang suami. Sementara ia akan mendapat kompensasi yang sangat besar. Juga beberapa aset akan diberikan sebagai hadiah.


"Ini sebuah perjanjian yang tidak masuk akal. Aku tidak menyetujui pernikahan ini." Dinda mendorong map itu menjauh darinya.


"Apakah kompensasinya terlalu sedikit?" Aku akan membulatkan nya sepuluh Milyar, apa masih kurang? Bukankah waktu kamu menjebak ku kamu sudah menerima uang yang sangat banyak?" Sindiran Ridho sukses membuat air mata Dinda mengalir deras.


"Tuan Ridho yang terhormat, aku tidak pernah sekalipun menjebak mu. Memang Fariz yang sudah menjual ku, namun serupiah pun tidak ku terima. Aku juga korban. Pernikahan ini tidak perlu dilakukan. Aku akan baik-baik saja tanpa mu." Dinda beranjak dari duduknya, ia bermaksud meninggalkan rumah Ridho malam itu juga.


"Kalau kamu sudah mengandung benih ku, aku tidak akan melepas mu. Bagaimana pun bayi itu calon penerus ku." Kata-kata tegas Ridho membuat Dinda merinding.

__ADS_1


"Ya... setelah kau mendapatkan ahli waris mu apa yang terjadi pada ku? Kau berniat membuang ku seperti sampah. Sebelum itu terjadi, kalau aku benar hamil anak mu, aku akan menggugurkannya." Ancam Dinda dengan bibir bergetar.


Seketika ada perasaan sedih yang melingkupi hati Dinda. Ia bukan wanita kejam yang akan tega membunuh darah dagingnya sendiri. Itu hanyalah ancaman kosong agar ia tidak perlu menikah dengan Ridho.


Rupanya ucapan Dinda memprovokasi Ridho. Pria itu beranjak dari duduknya, ia menjangkau Dinda. Jemari Ridho menempel kuat mencekik Dinda. "Jangan pernah berani berniat membunuh darah daging ku. Sebelum kamu melakukannya, aku akan membuatmu lebih menderita dari yang dibuat Fariz kepada mu!" Geram Ridho tepat ditelinga Dinda. Membuatnya ketakutan setengah mati.


Dinda nyaris kehabisan nafas. Namun untungnya suara ketukan pintu menjadi alasan Ridho melepaskan Dinda.


Seorang pria paruh baya masuk ke ruangan membawa sebuah amplop. "Permisi Tuan Raphael, ini hasil pemeriksaan yang Tuan minta." Pria dengan rambut nyaris putih semua namun badannya masih terlihat tegap dan gagah, menyerahkan amplop dengan takzim.


"Terimakasih pak Dito. Aku akan memanggilmu nanti kalau aku memerlukan mu." Nada datar Ridho terasa keras mengusir pak Dito seakan menyuruh nya tidak ikut campur pada urusannya dengan Dinda. Pak Dito pun memahami situasinya, ia pun meninggalkan ruang kerja Ridho tanpa memperdulikan tatapan Dinda yang mengharapkan pertolongan darinya.


Ridho sekilas melupakan Dinda yang masih berdiri mematung di depan mejanya. Ia mulai konsentrasi memeriksa lembaran kertas di dalam amplop. Ia membaca dengan seksama hasil pemeriksaan itu dengan harap-harap cemas. Kertas yang berisi laporan pemeriksaan kehamilan milik Dinda menyatakan negatif. Ridho menyobek kertas itu menjadi serpihan kecil. Ia sangat murka saat ini.


Bagaimana mungkin Dinda tidak hamil? Apakah jangan-jangan gadis itu telah sengaja menggugurkan kandungannya? Atau mungkin Dinda kehilangan bayinya saat disiksa Fariz?


"Cepat tanda tangani surat-surat itu, kalau tidak kamu akan melihat keluarga angkat mu itu akan menjadi pengemis menyedihkan!" Ancaman Ridho membuat Dinda gentar, ia pun membubuhkan tanda tangannya.


"Jangan kau hukum keluarga ku. Kalau kau mau bunuh saja aku. Tapi jangan kau apa- apakan keluargaku!" Protes Dinda tak lebih hanya seperti cicitan di telinga Ridho.


"Kamu tidak berhak sedikitpun melarang ku. Peraturan ada ditangan ku. Hahaha... kamu hanya jadi boneka ku! Kamu mengerti?!" Gertakan Ridho membuat Dinda terjajar ke belakang beberapa langkah.

__ADS_1


__ADS_2