Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Cinta Lama


__ADS_3

Gadis dari masa lalunya telah bertransformasi menjadi wanita dewasa dan anggun.


"Cloe..." Raphael tercengang melihat wanita yang dulu sangat dicintainya. Seketika detak jantungnya terpacu keras.


Wanita yang dipanggil Cloe mengacuhkan Raphael. Ia melewati pria itu dengan raut datar, seolah tidak mengenal pria yang baru memanggil namanya. Cloe menggendong putrinya menuju ke ranjang pak Dolvie.


"Grandfa..." panggil anak gadis itu, yang langsung mendapat balasan kecupan dari kakek nya. Cloe tersenyum hangat pada Daddy nya. Ia benar-benar mengacuhkan Raphael yang masih tertegun di tempatnya berdiri.


Pak Dolvie melihat tingkah putrinya yang mengacuhkan Raphael. Ia merasa Cloe harus lebih ramah padanya, apalagi kejadian lima tahun yang lalu bukan kesalahan Raphael. Ia pun berbisik pada putrinya.


"Cloe... tidak kah engkau bisa lebih ramah padanya? Engkau juga sudah tahu kebenaran nya. Kalau ternyata kejadian yang lalu hanyalah sebuah kesalahpahaman." Kata-kata pak Dolvie menggerakkan hati Cloe. Ya tidak seharusnya ia bersikap buruk pada Raphael. Cloe menitipkan putrinya, baru ia bergegas menyusul Raphael.


"El...!" panggil Cloe saat melihat Raphael berjalan menjauh.


Raphael berhenti, panggilan khusus itu membuatnya teringat masa lalu. Masa-masa indah bersama Cloe. Sampai saat ini panggilan itu selalu berhasil membuat hatinya hangat. Seandainya Cloe minta untuk kembali padanya, ia akan dengan mudah menerimanya. Raphael tidak bisa memungkiri hatinya, ia masih ada rasa cinta pada Cloe.


Tanpa sadar Raphael melemparkan senyum penuh harap padanya. Cloe tidak mengacuhkannya. Ia menemui Raphael hanya karena menuruti kata-kata Daddy nya.


"El... maaf, selama ini kami salah paham terhadapmu!" Cloe dengan tulus meminta maaf pada saudara angkat yang sekaligus mantan pacarnya.


Sebelum menjawab, lagi-lagi Raphael tersenyum. "Itu bukan masalah besar bagi ku." Jawab Raphael tenang. "Bagaimana kalau kita berbincang di cafe, kita sudah sangat lama tidak bertemu."


Cloe mengangguk. Mereka pun berjalan beriringan menuju cafe di samping rumah sakit. Setelah memesan dua gelas cappucino dan roti bakar keju, Raphael mulai memancing pembicaraan.

__ADS_1


"Bagaimana rumah tangga mu? Apakah kamu bahagia?" tanya Raphael menyelidik.


Cloe di seberang meja mulai merona. Wanita itu merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Raphael yang mau tahu masalah pribadinya. Terus terang pertanyaan Raphael menyinggungnya.


"Aku sangat bahagia. Rumah tangga ku cukup harmonis. Tahun ini kami berencana memberikan adik buat Emma." Cloe sengaja menekankan kalau ia sangat bahagia dalam rumah tangganya. Walaupun sebenarnya, tahun-tahun pernikahannya dengan Edmund jauh dari kebahagiaan yang dulu pernah diimpikan. Kenyataannya Edmund bukan seorang suami yang bertanggung jawab. Ia hanya seorang karyawan biasa dengan gaji sedikit. Parahnya Edmund seorang penjudi dan pemabuk.


Di hadapan Raphael yang adalah mantan pacar yang dibuangnya ia tidak mungkin mengatakannya. Ia cukup malu untuk sekedar membuka penyesalannya.


"Ehm... aku ikut senang mendengarnya." Raphael pura-pura biasa, padahal dalam hatinya sangat kecewa mendengar jawaban Cloe. Ia sangat tahu bagaimana keadaan Cloe saat ini. Ia sudah mendapatkan informasi dari sumber terpercaya. Kalau kehidupan Cloe sekarang sangat berat. Suaminya penjudi dan pemabuk, bahkan beberapa waktu lalu Edmund di pecat gara-gara kinerja yang buruk. Tapi mengapa Cloe menutupi semua darinya? Apakah itu berarti Cloe sudah tidak punya perasaan terhadapnya lagi?


"Bagaimana kabarmu El...?" tanya Cloe membelokkan pembicaraan. Ia ingin memendam masalah nya sendiri. Ia tidak bisa mengatakannya pada Daddy nya apalagi dengan Raphael.


"Oh... aku baik. Aku buka usaha di Indonesia dan cukup berhasil. Kalau engkau ingin berkunjung ke negara ku, katakan saja. Aku akan mengatur segalanya buat mu."


Raphael memandang Cloe, wanita itu terlihat lebih matang sekarang dan pandai merias. Pakaiannya juga sangat serasi. Meskipun bukan dari merk terkenal. Cloe masih sangat menarik di matanya.


Raphael bermaksud untuk tidak mengatakan pernikahannya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Panggilan dari Dinda.


"Mas.... mas dimana? Pak Dito baru menelephon katanya mas Raphael tidak bisa dihubungi. Pesawat sudah akan segera berangkat. Apa mas Rapha baik-baik saja?" tanya Dinda khawatir.


Raphael serba salah, namun di depan Cloe ia tidak boleh kalah. Ya ia mau buktikan kalau ia sudah move on sepenuhnya darinya. Ia pun menjawab Dinda dengan bahasa Inggris agar Cloe bisa tahu pembicaraan nya.


"Ya Honey... aku sedang bertemu dengan teman lama. Sebentar aku akan berangkat ke air port. I love you honey. Sampai jumpa di rumah. Muach." Raphael menutup teleponnya dengan puas. Setidaknya saat ini ia bisa menyamakan skor dengan Cloe.

__ADS_1


Sementara perasaan Cloe tercabik-cabik. Harapan yang mulai tumbuh seketika hancur. Raphael sudah tidak ada perasaan untuk nya lagi. Sudah ada orang lain yang mengisi hati Raphael.


"Cloe, maaf aku harus segera mengejar pesawat. Aku harap kamu tidak sungkan menghubungi ku kalau ada masalah apa pun." Raphael memberikan nomor teleponnya untuk di salin ke hp Cloe. Raphael berjalan meninggalkan Cloe yang masih termenung.


Cloe hanyut dalam lamunan dan penyesalan. Secangkir cappucino yang belum tersentuh Raphael diambilnya. Ia menyesap nya dengan nikmat. Tiba-tiba kenangan indah saat bersama Raphael mulai terlintas.


Sebulir air mata jatuh tanpa bisa dibendung nya. Sesal itu baru datang menghampiri Cloe. Seandainya ia tidak mengkhianati Raphael mungkin merekalah satu-satunya pasangan paling bahagia di muka bumi. Selama masa pacaran Raphael selalu menunjukkan perhatian lebih padanya. Bahkan Raphael seringkali memanjakannya.


Cloe merasa cemburu saat mendengar bagaimana Raphael tidak segan menunjukkan kemesraannya pada istrinya. Pastilah wanita itu sangat bahagia karena mendapatkan Raphael. Secara tak sadar Cloe iri.


***


Dinda mondar-mandir di dalam kamarnya. Hatinya gelisah sejak semalam. Ia mimpi buruk, namun ia lupa detail mimpinya. Sepenggal potongan mimpinya adalah tentang Raphael yang direbut wanita lain.


Waktu bangun tidur tadi pagi ia sudah hampir melupakan mimpinya sama sekali. Namun saat pak Dito menelepon nya dan memberi tahu kalau Raphael tidak bisa dihubungi, seketika membuat hatinya resah. Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi pada suaminya. Terlebih ketika Dinda ingat kalau semalam waktu mereka vc, Raphael mengeluhkan perusahaannya yang terancam bangkrut.


Dinda merasa kecil hati. Ia tidak tahu menahu dengan pekerjaan suaminya. Walaupun ia ingin sekali membantu, tentunya ia tidak bisa melakukan apapun. Dinda berfikir keras. Saat ini suaminya dalam perjalanan pulang ke tanah air. Ia harus berbuat sesuatu, supaya saat suaminya nanti tiba di rumah ia bisa membantu suaminya.


Dinda memutuskan untuk mencari tahu mengenai pekerjaan suaminya. Ya ia harus tahu perusahaan apa yang dikelola suaminya. Setidaknya dengan ia tahu sedikit informasi mengenai perusahaan Raphael, mungkin ada solusi yang bisa didapatnya.


Dinda mencoba membuka pintu kerja suaminya. Pintunya terkunci rapat.


"Ada apa nyonya?" Reni sang pelayan datang mengejutkan Dinda.

__ADS_1


"Bisakah engkau membukakan pintu ini?" Tanya Dinda sekaligus perintah untuk nya.


Tanpa menunggu dua kali, Reni langsung membukakan pintu untuk Dinda. Gadis pelayan itu pergi dengan mengulum senyum penuh rencana.


__ADS_2