
"Selamat Malam, permisi kami akan mengecek keadaan mbak Dinda."
Seorang dokter didampingi seorang suster datang mendekati bangsal Dinda. Imah berpindah tempat memberi ruang untuk mereka. Dokter itu memeriksa catatan medis Dinda. "Apakah luka operasi terasa nyeri?" Tanya sang dokter sambil memeriksa tekanan darah Dinda.
Dinda menggeleng. Ia sedang enggan berbicara dengan dokter jaga. Ada perasaan tidak nyaman saat melihat seragam yang mereka pakai. Mengingatkan masa-masa ia kehilangan keluarganya.
"Dokter, kira-kira berapa lama masa pemulihan paska operasi?"
Imah mendekati dokter piket dan menunggu jawaban pertanyaan nya.
"Kondisi mbak Dinda sudah sangat baik. Besok sore sudah bisa keluar rumah sakit. Namun mesti istirahat total setidaknya dua Minggu. Sementara tidak boleh angkat-angkat. Juga jangan membuat gerakan tiba-tiba yang memicu pergerakan tulang rusuk. Supaya tulang rusuknya tersambung dengan baik. Perkiraan lima bulan sudah bisa untuk operasi pelepasan pen."
Imah menganggukkan kepalanya. Informasi dari dokter itu seketika membuatnya pusing. Bagaimana mbak Dinda bisa mendapatkan dana untuk operasi nanti? Setahunya dari pembicaraan majikannya, mbak Dinda anak orang tidak punya. Jadi Ia juga harus membantu mencarikan solusi untuk mencari kan biaya operasi nanti.
"Obatnya jangan lupa diminum teratur ya mbak." Pesan dokter sesaat sebelum meninggalkan ruangan rawat Dinda.
Imah masih terus berfikir. Bagaimana nasib mereka nantinya? Dinda masih membutuhkan perawatan lanjutan, operasi pengangkatan pen. Bagaimana ia bisa membantu mencari biayanya? Sementara ia tidak punya tabungan sedikit pun. Ada rasa sesal dalam hati Imah. Karena semua gajinya selama ini langsung ditransfer ke rekening ibunya di kampung.
Imah tidak memikirkan pada saat seperti ini, ia memerlukan uang. Tidak mungkin memintanya kembali dari orang tuanya.
Mungkin saja uangnya sudah terpakai untuk kebutuhan mereka di kampung.
Imah jadi teringat alasan ia mengirim semua uangnya ke kampung. Pada awalnya gaji pertama Imah, diterimanya dalam bentuk uang cash. Belum sempat ia menikmati gaji pertamanya, Imah ditipu Fariz anak majikannya. Katanya mau dipinjam sehari, dan akan segera dikembalikan sore harinya dengan janji dikembalikan dua kali lipat. Namun kenyataan pahit yang harus ditelannya.
Uang itu sama sekali tidak kembali padanya. Bahkan saat ia menagihnya setelah empat Minggu berjalan, ia mendapatkan perlakuan kejam Fariz.
Fariz menodainya. Imah sangat terpukul, namun ia tidak berdaya karena ancaman Fariz. Bahkan karena perbuatan Fariz, membuat Imah hamil. Saat itu Imah berusaha melarikan diri. Namun setiap usaha pelariannya selalu dengan mudah diketahui Fariz dan digagalkan nya.
Setelah dua bulan berlalu, Imah telah kehilangan minat untuk kabur. Apalagi ancaman Fariz tidak main-main. Imah memutuskan bertahan. Ia berharap saat kandungannya mulai membesar nanti, Fariz akan bertanggung jawab padanya.
__ADS_1
Kenyataannya Fariz dengan terang-terangan menolak mengakui bayi yang dikandung Imah. Bahkan ia menuduh Imah telah bersetubuh dengan orang lain. Sakit hati Imah semakin dalam saat Fariz memaksanya meminum obat. Obat yang ternyata membuatnya kehilangan bayinya.
Semua rasa sakit hati Imah terus terpupuk dalam diam. Mungkin selama ini ia nampak pasrah dengan segala kemauan Fariz. Padahal dalam hati dan otaknya selalu terngiang keinginan untuk melenyapkan Fariz.
Diawal pertemuan nya dengan Dinda. Imah melihat Dinda sebagai alat untuk membalas dendam pada Fariz. Namun saat dengan mata kepalanya sendiri ia melihat bagaimana Fariz dan Toni memperlakukan Dinda dengan kejam. Imah tersadar. Dia dan Dinda bernasib sama.
Bagaimana ia bisa berdiam diri ataupun pura-pura tidak tahu? Ia melihat Dinda seperti dirinya sendiri. Ia harus menolong Dinda agar ia juga bisa menyelamatkan diri nya. Satu-satunya cara yaitu dengan membantu Dinda melarikan diri. Rencana ini tidak boleh gagal.
"Imah... bisakah kita jalan-jalan ke luar?"
Suara Dinda membangunkan Imah dari lamunannya.
Dengan cekatan Imah menarik kursi roda mendekat ke bangsal Dinda. Beberapa hari ini Dinda hanya terbaring di ranjang nya. Pastinya itu membuatnya tidak nyaman. Ia ingin sedikit menghirup udara segar di luar ruangan.
Imah dengan hati-hati, membantu Dinda naik ke kursi roda. Sebelum ia membawa Dinda keluar, ia memakaikan sweeter nya.
"Mbak... pakai ya, supaya tidak kedinginan."
Beberapa waktu, Imah terus membawa Dinda jalan-jalan mengelilingi koridor rumah sakit. Imah tidak mengeluarkan sepatah katapun di sepanjang perjalanan mereka. Dinda ingin sekali diajak bicara, namun ia tidak ingin mengganggu Imah yang terlihat banyak pikiran.
"Imah... aku ingin ke kamar mandi." Kata Dinda ragu.
Namun respon Imah membuatnya tidak habis pikir. Tanpa menjawab, Imah langsung mendorong kursi roda ke arah kamar mandi umum.
Dengan tertatih-tatih Dinda berpegangan erat pada bahu Imah.
Imah memapah Dinda ke kamar mandi. Ia tidak mau sedikitpun meninggalkan Dinda yang merasa risih karena ditemani buang air kecil.
"Mbak Dinda... kalau ingin melarikan diri, inilah waktu yang tepat."
__ADS_1
Imah tiba-tiba menyuarakan pikirannya selama ini. Membuat Dinda surprise.
Dinda menyetujui rencana yang dibuat Imah. Imah menyerahkan selembar baju, yang tidak diketahui Dinda dari mana diambilnya. Seperti nya Imah sudah menyimpannya di kamar mandi itu. Dengan hati-hati Imah membantu Dinda berganti pakaian.
"Mbak Dinda, apakah tidak apa-apa kalau infusnya saya lepas?" Tanya Imah ragu. Bagaimanapun, kalau mereka keluar dari rumah sakit akan sangat menarik perhatian kalau Dinda masih memakai infus.
"Ya... gak papa. Aku sudah kuat." Dinda menyodorkan lengannya. Dengan hati-hati Imah mencabut jarum infus dari lengan Dinda.
Imah membuang selang dan larutan infus ke dalam tempat sampah. Ia juga membantu merapikan rambut Dinda. Sementara, Dinda mengoleskan lipstik di permukaan bibirnya yang masih terlihat pucat. Dinda menutup penampilannya dengan kacamata hitam. Sementara, Imah melapisi bajunya dengan sweeter yang tadi dipakai Dinda.
Tak berapa lama mereka keluar dari kamar mandi dengan bergantian.
Imah dan Dinda telah berhasil keluar dari rumah sakit tanpa menimbulkan kecurigaan. Ada sebuah mobil yang telah dipesan Imah sudah menunggu di tempat yang agak jauh dari gerbang rumah sakit.
Mereka segera masuk ke dalam mobil on line. Imah mengeluarkan sim card lama dari handphone nya. Ia mematahkan SIM card diantara jari-jari nya. Belum puas, ia pun membuang sim card melalui jendela mobil yang dibukanya sedikit.
Dinda meraih jemari Imah, dan menepuk nya perlahan. Kebaikan Imah membantu nya melarikan diri sangat berarti baginya. Ia pun menyadari bahwa dirinya tidak siap kalau harus kembali ke keluarga Fariz dan menerima kejahatan keluarga mereka.
Terlebih, kekecewaannya pada kedua orang tua Fariz yang telah menuduhnya sedemikian. Membuatnya tidak punya sedikitpun alasan untuk kembali kepada Fariz.
"Imah... bisakah engkau membantu ku agar aku bisa benar-benar lepas dari Fariz?"
"Iya mbak... kalau saya bisa pasti akan membantu." Jawab Imah mantap.
Dinda tersenyum lega.
Sepanjang perjalanan tersisa mereka tidak banyak berbincang. Masing-masing disibukkan dengan fikirannya sendiri. Dinda berniat melaporkan Fariz ke polisi. Namun ia juga mempertimbangkan banyak hal. Terutama, ia berusaha untuk tetap menjaga nama baik Om Rahman. Ia memantapkan niat, untuk menceraikan Fariz saja.
Dinda berharap, kalau Imah mau menjadi saksi atas kejahatan Fariz terhadapnya. Alasan KDRT akan mempermudah proses perceraiannya dengan Fariz.
__ADS_1
Mobil berjalan lambat. Pandangan Dinda tertuju pada tempat yang sangat familier. Bukankah ini jalan menuju rumahnya?